
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Satria, Dinda, Reno dan yang lainnya mengantarkan Ibu Rahayu, Pak Karim dan nenek Murni kebandara untuk berangkat umroh. Ketiganya berangkat umroh satu rombongan terdiri dari 10 orang, 1diantaranya adalah pemandu rombongan selama berada di tanah suci.
Kesepuluh orang itu juga ada teman-teman nenek Murni. Mereka memang sengaja berangkat bersama-sama.
"Alhamdulillah, Bapak, Ibu dan Nenek sudah berangkat. Lebih baik sekarang kita pulang saja, atau kita makan siang di Caffe Dinda saja yuk. Sudah lama kita tidak makan bersama disana."Seru Satria mengajak saudaranya untuk makan siang terlebih dahulu.
"Ide yang bagus itu, Mas." Seru Dinda setuju dengan ide suaminya.
Mereka semua akhirnya setuju ikut ke cafe Dinda untuk makan siang. Reno dan Beni mengendarai mobilnya masing-masing dengan para keluarganya. Setelah satu jam perjalanan akhirnya mobil mereka bertiga sudah sampai di halaman Caffe. Dinda langsung mengajak mereka semua di ruangan out door yang berada di bagian belakang.
"Cafe kamu semakin besar ya, Din. Sudah ada out door nya mana banyak tananam mawar dan anggreknya semakin membuat suasana lebih indah dan sejuk. Jadi semakin betah kalau mau makan disini."Ucap Rena kagum dengan usaha yang digeluti oleh adiknya.
"Makan di sini sih boleh saja, tapi jangan lupa untuk bayar, Rena."Ucap Reno sambil terkekeh.
"Apaan sih mas Reno ini. Sudah pasti bayar, memangnya mas Reno mau gratisan terus. Tidak ingat apa, dulu yang suka minta gratisan. Hayo ngaku saja. "Ucap Rena sambil terkekeh.
Hahaaa haaaaa
Dinda dan Satria serta Beni ikut tertawa, mereka ingat betul jika Reno dan almarhum Rudi dulu memang mental gratisan. Tidak salah jika Rena bilang Reno suka yang namanya gratis. Cahaya juga ikut tertawa, meskipun dia tidak tahu bagaimana menyebalkannya Reno dulu.
Mereka semua akhirnya menikmati makan siangnya dengan menu yang mereka pesan sesuai dengan kesukaannya. Dinda meminta Satria untuk makan lebih dulu, sebab Dinda menjaga Raja duluan baru nanti bergantian dengan Satria.
Namun Satria justru menyuapi Dinda dengan sabar dan telaten. Justru kebersamaan Dinda dan Satria itu menyita perhatian para kakaknya.
"Kalau beginikan kita kenyang sama-sama sayang. Raja juga kenyang, mama papa nya juga kenyang. Kalau mau menambah tinggal minta ini, lagipula ini usaha kamu kan?."Ucap Satria terkekeh.
"Iya kamu betul mas. Mas makan juga dong, masa saya 3 kali suap mas baru 1 kali saja."Seru Dinda.
Dinda dan Satria tidak sadar jika saat ini mereka berdua menjadi pusat perhatian para kakaknya. Para kakaknya, merasa iri melihat kebersamaan dan keromantisan yang ditunjukan oleh Dinda dan Satria.
" Sudah sih kalau mau romantis-romantisan jangan di depan kami begini dong. Malu juga tuh ada Gibran, Tiara serta Joni. Sampai mereka bengong sambil mangap tuh, apalagi mas Reno."Seru Rena menyindir Dinda dan Satria sambil terkekeh kecil.
"Sirik aja kamu itu, Rena."Seru Reno kesal juga sama Rena sedari tadi jadi bahan ejekan sang adik.
"Kayak yang ngomong tidak sirik. Hahaaaa."Ucap Rena sambil tertawa lebar.
" Jalian berdua ini kalau bertemu seperti anjing dan kucing saja. Ribut terus, ribut terus, apa kalian berdua tidak malu dilihat Tiara sama Gibran? Kalau Dinda dan Satria romantis seperti itu mereka tidak malu sih. Tapi kalau Mas Reno sama Rena ribut dan berantem seperti ini sudah pasti seharusnya malu dong dilihat anak-anak."Ucap Cahaya mencoba menengahi perdebatan antara Reno dan Rena.
Satria dan Dinda juga heran dengan kedua kakaknya itu. Dari dulu jika sedang berkumpul ada saja yang jadi bahan perdebatan mereka. Dari hal-hal yang kecil sampai hal yang besar sekaligus pasti diperdebatkan.
Namun bedanya, jika dulu mereka berdebat dan ada mulut seperti itu pasti akan berujung dengan berantem yang sesungguhnya. Akan tetapi berbeda dengan yang sekarang, mereka berdebat dengan mulut hanya sebagai pelengkap dan bercandaan saja, tidak serius benar-benar ribut.
" Kalau masih ribut dan adu mulut terus, aku suruh kalian berdua bayar semua tagihan yang ada di atas meja ini."Ucap Dinda mengancam.
"Oke siapa takut."Jawab Reno dan Reno hampir bersamaan.
Huuufffff
Terdengar helaan nafas Dinda yang benar-benar sudah pasrah dengan kakaknya itu. Akhirnya dia pun membiarkannya yang penting tidak ada yang terluka. Jika mereka capek pasti nanti akan berhenti sendiri.
__ADS_1
*********
Sinta sedang berbelanja kebutuhan rumahnya yang sudah habis. Dia berbelanja ke supermarket yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Sedangkan untuk toko dia titipkan kepada dua karyawannya yang sudah dia percayai.
Sinta berbelanja sendirian tanpa mengajak teman. Orang-orang yang berkunjung di supermarket ada beberapa yang Sinta kenali namun mereka tidak mengenali Sinta. Penampilan Sinta saat ini memang sudah berubah 180 derajat. Yang dulunya berpakaian seksi dan serba terbuka, saat ini dia sudah lebih tertutup dengan mengenakan gamis dan hijab. Saat ini juga Sinta memang memakai masker, sehingga siapapun tidak mengenalinya.
"Apa saja ya yang belum?." Ucap Sinta sembari memeriksa isi dalam troli belanjaanya.
"Oh keperluan sumur yang belum. Sama ini juga aku belum belanja buah-buahan. Hemm ambil stok keperluan sumur saja dulu lah baru ambil buah-buahan. Tadi si Lilis dan Nori nitip dibelikan alpukat sama pisang."Ucap Sinta terus bermonolog sendiri.
Sinta menuju rak keperluan sumur, dia mengambil shampo, pasta gigi, sabun mandi, diterjen dan yang lainnya. Cukup untuk stok sebulan, setelah selesai dengan keperluan sabun. Sinta mendorong trolinya yang sudah hampir penuh itu ke bagian buah-buahan.
"Ini alpukat, dan ini pisang. Masing-masing 2 kilo saja, biar nanti adil. Kalau untuk stok kulkas apel sama mangga serta jeruk saja."Ucap Sinta mulai mengambil dan memilih buah-buahan lalu memberikannya kepada karyawan yang berjaga untuk ditimbang.
Brruuukkkkk
Tiba-tiba ada anak kecil yang mungkin usianya sekitar 6 tahun menabrak Sinta. Anak itu terjatuh dan dengan segera Sinta menolong anak itu.
"Kamu tidak apa-apa? Maaf ya tadi tante tidak lihat kalau ada kamu."Seru Sinta meminta maaf meskipun dia tidak merasa bersalah.
"Bagas tidak apa-apa tante. Tadi Bagas yang salah,bukan tante. Bagas yang lari-larian dan menabrak tante. Maafin Bagas ya , tante."Ucap anak yang bernama Bagas itu dengan sopan.
*Anak ini sopan sekali, dia juga bertutur kata dengan lembut. Kira-kira kemana orang tuanya kok dia dibiarkan lari-larian sendiri seperti ini.*Gumam Sinta dalam hatinya.
Sinta terus memperhatikan anak itu, dan anak itu justru hanya bisa senyum-senyum kearah Sinta. Saat Sinta ingin melanjutkan belanjanya, anak itu mengikuti Sinta dari belakang. Sinta yang merasa kasihan dengan anak itu pun kembali menghampirinya dan menanyakan keberadaan orang tua anak yang bernama Bagas itu.
"Emm Bagas, tadi datang kesini sama siapa?." Tanya Sinta dengan lembut.
"Sama papa, Tante. Tapi papa tidak tahu kemana? Tadi papa sedang belanja tapi Bagas malah menjauh dan saat Bagas kembali papa sudah tidak ada."Jawab Bagas dengan sangat lancar.
"Tante namanya siapa?." Tanya Bagas.
Bagas hanya menganggukkan kepalanya pertanda dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Sinta. Bagas pun berjalan di samping Sinta dan ikut Sinta ke arah kasir untuk membayar barang belanjaan Sinta.
Setelah selesai membayar barang belanjaannya, Sinta menitipkan barang itu ke tempat penitipan barang terlebih dahulu. Sebab Sinta akan membantu Bagas untuk mencari keberadaan ayahnya.
"Kita kepusat informasi saja ya, nanti disana bisa diumumkan lewat pengeras suara sehingga papanya Bagas bisa langsung datang kesana. Atau jangan-jangan papanya Bagas sekarang sudah ada disana."Seru Sinta bicara dengan ramah dan lembut agar mudah dipahami oleh anak sekecil Bagas.
" Iya tante, Bagas mau."Jawab Bagas menurut apa yang dikatakan oleh Sinta.
" Baiklah kalau begitu, sekarang kita ke tempat pusat informasi ya. Sini tangannya Bagas biar tante gandeng saja, biar tidak terpisah. Lihat itu, pengunjung sangat ramai jadi tante khawatir kalau Bagas terpisah dari tante. Tante juga yang merasa bersalah."Ucap Sinta lalu meraih tangan kiri Bagas untuk dia gandeng agar tidak terpisah darinya.
Bagas menurut saja apa yang dikatakan oleh Sinta. Anak sekecil Bagas bisa merasakan jika saat ini Sinta benar-benar tulus menolongnya tanpa ada sesuatu yang diharapkannya. Setelah berjalan kurang lebih 5 menit, Sinta dan Bagas sudah sampai di dekat Pusat Informasi.
"Tante Sinta itu papa."Ucap Bagas menunjuk kearah orang yang sedang memainkan ponselnya dengan cemas.
"Yang pakai kemeja abu-abu itu?." Tanya Sinta untuk memastikan.
"Iya itu papa, tante." Ucap Bagas dengan binar bahagia bisa bertemu dengan papanya.
"Papa !!."Teriak Bagas sambil berlari mendekati papanya dengan tangan masih dalam gandengan Sinta.
Jadi mau tidak mau Sinta juga harus ikut berlari mendekati papanya Bagas. Sebab tangannya masih tetap menggandeng Bagas. Dia sampai lupa untuk melepaskan gandengan tangannya itu.
" Bagas, kamu dari mana saja nak ? Papa dari tadi mencari kamu sampai bingung. Mana pengeras suara di pusat informasi sedang diperbaki, papa telepon orang rumah tapi mereka bilang kamu belum pulang. Tadi kamu kemana dan ini siapa?."Tanya papanya Bagas melirik kearah Sinta yang sampai saat ini masih menggandeng tangan Bagas.
" Papa, maafkan Bagas. Tadi Bagas mau ke tempat arena bermain, karena Papa sedang sibuk belanja jadi Bagas mau ke sana sendiri. Tapi Bagas lupa tempatnya di sebelah mana, lalu Bagas kembali lagi ke tempat papa dan papa sudah tidak ada. Lalu Bagas berlari-lari mencari papa sampai menabrak tante ini. Tante ini baik Pa, dia yang sudah menolong Bagas dan mengajak Bagas ke sini agar bisa di panggil lewat suara. Tante ini namanya, tante Sinta pa."Jawab Bagas panjang lebar menjelaskan kronologi dia terpisah sampai bertemu dengan Sinta.
__ADS_1
Papanya Bagas langsung memandang Sinta dan mengucapkan terimakasih kepada Sinta. Berkat dia anaknya aman dan bisa kembali lagi dipelukannya. Tadinya papanya Bagas sudah benar-benar ketakutan sampai barang belanjaannya dia letakkan begitu saja dan entah dimana.
" Terima kasih mbak Sinta, berkat mbak Sinta anak saya sudah bisa saya temukan. Saya benar-benar mengucapkan terima kasih banyak."Ucap papanya Bagas dengan sopan dan ramah terlihat sekali Jika dia orang yang baik dan menghargai orang lain.
" Sama-sama Pak..."Seru Sinta menjeda ucapannya. Sebab dia tidak tahu siapa nama papanya Bagas.
" Nama saya Ardi. Mbak Sinta bisa memanggil saya Ardi."Seru Papanya Baas yang tahu jika Sinta tadi menjeda ucapannya karena tidak tahu harus memanggil apa.
"Iya pak Ardi."Jawab Sinta dengan mengangguk sopan.
Setelah Bagas sudah bertemu dengan papanya Sinta pun memutuskan untuk segera pulang. Namun tiba-tiba Bagas mencegah tangan Sinta, dan meminta Sinta untuk tidak pulang terlebih dahulu.
" Tante Sinta jangan pulang dulu. Bagas ingin makan bareng tante Shinta, apa tante Sinta mau menemani Bagas untuk makan?."Tanya Bagas dengan sorot mata penuh mengharap Sinta mau menerima ajakannya.
" Bagas tidak boleh memaksa tante Sinta seperti itu. Mungkin tante Sinta ada pekerjaan atau acara yang lainnya. Maafkan anak saya ya mbak, dia memang seperti ini jika bertemu dengan wanita yang baik dan sabar. Maklum saja mamanya Bagas sudah meninggal 1 tahun yang lalu."Ucap Ardi menceritakan soal almarhum Mama Bagas.
Mengetahui jika Bagas sudah tidak mempunyai mama, membuat Sinta merasa iba dan kasihan kepada Bagas. Apalagi setelah melihat raut wajah penuh harap Bagas. Sinta merasa tidak tega dan akhirnya dia pun mengiyakan ajakan Bagas untuk makan siang bersama.
" Baiklah, tante mau makan bareng Bagas. Tapi, Bagas janji ya harus makan yang banyak dan jangan lupa makan sayuran. Agar Bagas sehat dan kuat."Ucap Sinta menasehati Bagas sudah seperti mamanya Bagas sendiri.
"Siap tante. Bagas kan memang suka makan sayuran dari dulu. Benar begitu kan Pakl?." Tanya Bagas meminta persetujuan dari sang papa.
" Iya sayang kamu memang suka makan sayuran. Ya sudah kalau begitu, sekarang kita cari tempat makan saja. Karena tante Sinta pasti juga ada kesibukan lain, jadi biar cepat kita makan di restoran yang ada di sini saja ya."Ucap Ardi memberikan saran.
Ardi merasa tidak enak dengan Sinta, baru pertama kali dia berkenalan dengan Bagas. Namun Bagas sudah meminta Sinta untuk menemaninya makan.
" Iya tidak apa-apa Pak, Ardi. Kalau begitu mari kita cari tempat makan. Tapi maaf sebelumnya, apa jika saya ikut makan bersama dengan Pak Ardi tidak ada orang yang akan salah paham. Saya takut nanti justru ada orang yang salah paham."Ucap Sinta yang memang dia sendiri merasa tidak enak makan bersama pria yang baru saja dia kenal.
" Tidak apa-apa mbak Sinta, tidak ada orang yang akan salah paham."Jawab Ardi dengan cepat.
Akhirnya tanpa menunggu lama, mereka bertiga pun mencari tempat makan yang masih ada di dalam gedung pusat perbelanjaan itu untuk meminimalisir waktu. Sebab Sinta tidak bisa berlama-lama meninggalkan tokonya, apalagi sebentar lagi sudah masuk jam istirahat. Tentunya karyawannya harus istirahat untuk makan dan sholat. Biasanya akan bergantian dengan Sinta yang menjaga toko saat kedua karyawannya makan dan sholat.
Mereka bertiga sudah sampai di salah satu restoran yang masih dalam gedung yang sama. Bagas dan papanya memesan menu yang sama. Ayam bakar dan capcay, sedangkan Sinta lebih memilih memesan nasi lengkap dengan tumis brokoli daging dan ayam bumbu pedas.
*Lebih baik aku hubungi Lilis terlebih dahulu untuk menutup toko sementara waktu mereka istirahat makan dan sholat.*Gumam Sinta dalam hati.
[ Lis, kalau kalian istirahat tokonya di tutup saja dulu ya. Saya masih ada keperluan diluar, kalian makan saja duluan.] Tulis Sinta dan mengirimkannya kepada Lilis.
"Mbak Sinta sibuk ya?."Tanya Ardi.
"Oh ini pak, hanya mengirim pesan sama karyawan toko saja."Jawab Sinta.
"Mbak Sinta punya toko? Jualan apa mbak?." Tanya Ardi ingin tahu.
"Pakaian muslimah pria dan wanita. Dari anak-anak dan dewasa juga ada."Jawab Sinta bicara jujur.
Siapa tahu dengan Sinta jujur, Pak Ardi bisa menjadi salah satu pelanggan di tokonya. Setelah menunggu 10 menit makanan yang mereka pesan sudah terhidang di meja. Melihat makanan yang sudah terhidang membuat Bagas antusius untuk segera makan.
"Jangan lupa baca doa dulu tante , papa."Ucap Bagas dengan senyum mengembang.
"Iya."Jawab Sinta dan Ardi bersamaan.
Sinta dan Ardi saling melemparkan pandangannya. Sinta terlihat gugup dan tersipu malu-malu saat Ardi memandangnya. Baru kali ini ada seorang pria yang memandang Sinta dengan tatapan sejuk dan kagum. Dan Sinta dapat merasakan apa yang ada dalam sorot mata Ardi.
"Sinta !!!." Seru seseorang yang baru saja datang dan mengagetkan Sinta dan Ardi.
*********
__ADS_1
Kira-kira siapa ya?