
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
"Bagaimana pertemuan kalian dengan Rahma dan Kandar? Apa mereka masih tidak mau bertemu dengan kalian?." Tanya nenek Murni ingin tahu apa yang terjadi saat Satria dan Dinda menjenguk kedua orang tuanya.
Satria menceritakan jika kedua orang tuanya menyambut dengan baik kedatangan mereka dan mereka juga meminta maaf atas kesalahan yang sudah mereka perbuat. Semua Satria ceritakan dan tidak ada sedikitpun yang terlewatkan.
"Alhamdulillah kalau mereka sudah menyadari semua kesalahannya. Nenek ikut senang mendengar nya, apalagi diantara kalian sudah saling memaafkan satu sama lain. Satu harapan nenek yang sampai saat ini belum terkabulkan."Ucap nenek Murni.
"Apa itu nek?."Tanya Dinda dan Satria secara bersamaan.
Huuuuhhhhhh
Terdengar helaan nafas dari nenek, sepertinya memang ada sesuatu yang menjadi beban pikiran nenek murni. Namun Satria dan Dinda tidak tahu apa yang saat ini difikirkan oleh sang nenek.
"Nenek hanya ingin melihat kedua cucu nenek hidup akur dan saling tolong menolong. Namun sepertinya semua itu sulit untuk terjadi, Hakim sudah benar-benar salah jalan."Seru nenek terlihat sekali kekecewaan di wajahnya yang sudah tidak muda lagi.
"Doa kan saja yang terbaik untuk Hakim nek. Hakim sudah dewasa dan dia tahu mana yang baik untuk dia, kita juga tidak kurang-kurang menasehatinya. Kita nasehati seperti apapun kalau dalam dirinya tidak ada keinginan untuk memperbaiki diri juga percuma nek. Kita banyak-banyak berdoa saja semoga Hakim bisa mendapatkan hidayah. Allah lah maha pembolak-balik hati manusia Nek."Ucap Dinda bicara dengan pelan dan lembut.
Satria dan Dinda memeluk nenek Murni secara bersamaan. Memiliki Dinda dan Satria sebenarnya sudah membuat nenek Murni bahagia. Namun dia tidak bisa untuk bersikap egois, dia masih memikirkan cucunya yang lain juga. Keinginannya hanya sederhana, hanya ingin melihat Hakim dan Satria hidup rukun dan saling berdampingan.
"Aamiin. Semoga saja Hakim bisa segera berubah."Ucap nenek penuh harap.
__ADS_1
"Nek, Dinda kekamar dulu ya mau menemui Raja. Nenek lanjutin obrolannya sama mas Satria, mumpung hari ini dia lagi free. Kalau sudah sibuk dikantor bakalan susah tuh kita ajak dia kumpul seperti ini."Seru Dinda sembari melirik kearah Satria.
Satria yang dilirik hanya nyegir kuda, memang akhir-akhir ini Satria sangat sibuk. Bahkan Rendi yang terhitung baru beberapa bulan menikah saja mau honey moon selalu saja tertunda. Jadwal pekerjaan yang benar-benar padat, dan harus Satria dan Rendi yang juga ikut turun tangan.
"Heheee maaf ya Nek, Dinda istriku tersayang. Dalam sebulan ini memang mas itu sibuk banget, maklum kita dapat proyek baru yang super membuat kita harus benar-benar ekstra mempersiapkan dan mengerjakannua dengan rapi dan baik. Tapi jangan takut mulai hari ini semuanya sudah normal kembali kok."Seru Satria menjelaskan.
"Satria, sesekali ajak istrimu ini liburan jangan sibuk dengan pekerjaan terus menerus. Selama ini belum pernah nenek melihat kalian jalan-jalan atau liburan. Masalah Raja itu soal gampang, ada pengasuh dan nenek yang akan menjaganya. Yang penting stok Asi aman, pasti Raja tidak akan rewel."Ucap nenek meminta Satria dan Dinda untuk liburan berdua.
Selama ini memang Satria dan Dinda tidak pernah jalan-jalan maupun liburan. Dulu mereka tidak bisa liburan karena terhalang biaya, namun sekarang mereka sudah mempunyai segalanya. Tetapi untuk waktu berdua memang sangat kurang, Satria menyadari semua itu. Belum pernah sekalipun dia mengajak istrinya liburan keluar kota ataupu keluar negeri.
"Bagaimana istriku? Apa kamu mau kita liburan?."Tanya Satri memandang kearah Dinda.
Dinda yang memang masih ada diantara mereka, belum jadi kekamar Raja. Dinda terlihat berfikir antara iya atau tidak. Dia kefikiran Raja jika harus ditinggal-tinggal, apalagi Raja jika diajakpun masih terlalu kecil.
"Emm apa tidak apa-apa kalau kita pergi berdua saja tanpa mengajak Raja?."Tanya Dinda meminta persetujuan Satria dan Nenek.
"Tidak masalah, yang terpenting stok asi cukup. Kamu itu juga perlu refreshing atau liburan sayang. Jangan bekerja terus, mengurus anak terus juga capek loh sayang. Nenek tidak mau kamu merasa jenuh dengan keseharian kamu, jadi kalian liburan saja tidak apa-apa."Seru nenek Murni menyakinkan Dinda.
"Nanti kita atur jadwalnya ya."Jawab Satria.
Dinda mengangguk lalu beranjak dari ruang keluarga, Dinda menemui Raja yang sudah hampir 5 jam dia tinggalkan dengan pengasuhnya. Saat dia masuk kamar ternyata Raja sedang tidur dengan nyenyak.
"Raja sudah tidur dari tadi ini mbak? Tadi rewel tidak saat aku tinggal?."Tanya Dinda sambil mengusap pipi Raja yang semakin gemuk.
"Sekitar satu jam yang lalu Raja tidurnya bu dan sama sekali tidak rewel. Dari tadi anteng-anteng saja kok, nangis sebentar cuma pas haus saja."Jawab pengasuh Raja dengan ramah dan sopan.
"Emm mbak, kira-kira bayi seusia Raja ini kalau diajak keluar negeri aman tidak ya? Rencananya aku mau ke Jerman, tetapi jika Raja bisa diajak ya kemungkinan Raja kami bawa, sama mbak juga."Tanya Dinda kepada pengasuh Raja.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Dinda menanyakan itu kepada pengasuhnya, pengasuh Raja adalah orang yang berkompeten dan tahu tentang kesehatan. Pengasuh yang sudah terlatih dan terdidik, dia juga menguasai ilmu kesehatan sehingga tahu yang baik untuk Raja.
"Usia Raja sudah dua bulan ya bu? Kalau menurut saya jangan dulu ya bu, apalagi keluar negeri perjalanannya pasti memakan waktu yang lumayan lama. Tetapi untuk memastikannya kita harus konsultasi kepada dokter yang memang ahlinya, kita cek kesehatan Raja dulu. Kalau saya memang tahu dunia kesehatan, tetapi saya bukan ahlinya bu."Jawab pengasuh dengan bijak.
Dinda hanya menganggukan kepalanya saja, memang lebih baik dia harus konsultasi dulu kepada dokter anak. Biarpun nenek meminta Satria dan Dinda berangkat liburan berdua, hati Dinda tidak tenang meninggalkan anaknya terlalu lama. Jika memang keadaannya memungkinkan dan dokter mengizinkan Dinda berencana mengajak Raja dan pengasuhnya juga.
Sementara itu saat ini Cahaya dan Ibu Rahayu sedang memasak didapur. Cahaya dengan cekatan meracik bumbu ayam rica-rica, dia sengaja memasak ayam rica-rica untuk Joni. Sebab Joni memang sangat menyukai ayam masak rica-rica.
"Cahaya, kamu kuliahnya belum libur ya?."Tanya ibu Rahayu.
" Belum bu. Tetapi memang Cahaya sekarang sudah jarang masuk kuliah bu, tinggal mempersiapkan skripsi saja bu. Sambil menunggu jadwal sidang skripsi Cahaya saja, itupun tidak tahu kapan karena skripsinya juga lagi proses, heheee memangnya ada apa ya bu?."Tanya Cahaya dengan penasaran sebab tidak biasanya ibu mertuanya bertanya soal kuliahnya.
Ibu Rahayu mematikan kompor lalu dia duduk di samping cahaya yang sedang duduk sembari menyiapkan bumbu-bumbu masakannya.
"Apa kamu tidak ingin liburan sama suami kamu? Kalau kata anak Zaman sekarang itu honeymoon. Mumpung kamu tidak sibuk-sibuk banget?."Tanya ibu Rahayu membuat Cahaya mengulas senyum manisnya.
Sebenarnya dia ingin sekali honeymoon tetapi pekerjaan suaminya tentunya tidak bisa ditinggalkan.
"Ingin sih bu, nanti aku bicarakan sama mas Reno ya bu. Ya sudah yuk kita lanjut memasaknya bu, ibu kalau sudah lelah istirahat saja ya. Biar Cahaya yang melanjutkan goreng ikannya, ini juga tinggal menyelesaikan bumbu ayam rica-ricanya saja kok bu."Seru Cahaya penuh perhatian.
"Sudah tidak apa-apa. Ibu tidak capek, cuma goreng ikan ini kok capek. Pekerjaan rumah sudah kamu handel semua, badan ibu sakit-sakit kalau tidak dibawa kerja. Jadi jangan menolak ya kalau ibu membantu."Seru ibu Rahayu dengan lembut.
"Iya bu. "Jawab Cahaya dengan singkat.
Ibu Rahayu kembali menyalakan kompornya dan melanjutkan menggoreng ikan yang tadi sempat tertunda. Bukan tanpa alasan tadi dia meminta Cahaya dan Reno untuk liburan ataupun berbulan madu, ibu Rahayu ingin Cahaya dan Reno punya banyak waktu untuk berdua dan bisa segera mempunyai momongan. Mengingat usia Reno yang sudah tidak muda lagi, ibu Rahayu khawatir jika terlalu lama ditunda akan berdampak kepada Reno. Pada dasarnya Reno dan Cahaya memang tidak menunda untuk segera memiliki momongan.
*Semoga saja Reno dan Cahaya segera dikaruniai anak yang sholeh dan sholehah. Aamiin.*Gumam ibu Rahayi dalam batinnya.
__ADS_1
Setelah 10 menit, gorengan ikan ibu Rahayu sudah beres dan kini giliran Cahaya memasak ayam rica-rica untuk Joni. Ibu Rahayu sendiri kini sudah duduk dan menikmati pisang goreng yang tadi di goreng Cahaya sebelum ibu Rahayu menggoreng ikan.
***********