Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Belanja perlengkapan bayi


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Kesehatan jantung Hakim semakin membaik, saat ini Satria sedang mengupayakan penyembuhan penyakit kelamin yang di derita Hakim. Satria meminta dokter terbaik untuk menangani Hakim, dia selalu mengingat pesan orang tuanya saat mereka mengunjunginya jika Satria harus bisa membuat Hakim menjadi manusia yang lebih baik lagi.


" Kak, apa uangnya nanti tidak akan habis? Minggu lalu baru operasi jantung dan itu menghabiskan biaya ratusan juta. Ini juga kakak mengupayakan kesembuhan ku lagi. Aku tidak mau membuat Kak Satria terbebani dengan kehadiranku ini."Ucap Hakim merasa tidak enak hati terus-terusan merepotkan Satria dan juga menghabiskan uang Satria.


Sedikitpun Satria tidak merasa terbebani, justru dia senang jika Hakim sembuh. Dengan begitu Hakim bisa membantunya untuk mengurus perusahaan. Rencananya Satria akan membuka kantor cabang, dan itu akan diserahkan kepada Hakim.


" Kamu ini bicara apa? Aku tidak akan menjadi miskin dengan mengobati kamu, biarpun uang ku habis tidak masalah. Asalkan kamu sembuh, kamu sehat."Ucap Satria serius.


" Kenapa kak Satria masih mau berbuat baik kepadaku? Padahal aku ini dulu sangat jahat."Ucap Hakim.


" Dulu aku memang membenci kamu, dan sangat muak dengan kelakuan kamu. Tapi, saat kamu datang kerumah dan meminta maaf dengan tulus, saat itu juga aku memaafkan kamu dan ingin menjadikan kamu laki-laki yang bertanggung jawab."Ucap Satria terlihat tulus menyayangi Hakim.


Hakim memeluk kakaknya itu dengan penuh rasa haru. Banyak pasang mata yang memandang aneh ke arah mereka, sebab mereka saat ini sedang ada di rumah sakit mengantri untuk mengambil obat. Orang-orang disana pasti sudah berfikiran yang negatif terhadap Satria dan Hakim.


Hakim dan Satria menyadari jika saat ini mereka sedang menjadi pusat perhatian orang sekitar, namun mereka tidak memperdulikan nya. Yang terpenting apa yang menjadi fikiran negatif orang-orang itu tidak terjadi dengan mereka.


Setelah 30 menit mengantri, Hakim dan Satria sudah mendapatkan obatnya. Mereka langsung keluar dari gedung rumah sakit, mobil yang dikendarai Satria membelah jalanan menuju Cafe milik Dinda.


" Kita makan siang di Cafe istriku dulu ya, Dinda juga pasti sekarang sudah ada di Cafe. Dia kuliah hanya sampai siang saja." Ucap Satria.


" Istri mu itu ternyata wanita yang cerdas, padahal dia itu tidak perlu berkuliah saja uang sudah mengalir terus."Seru Hakim.


" Hemmm.. Istriku ingin mempunyai wawasan dan pendidikan yang lebih baik, Kim. Dia memang dari dulu ingin berkuliah, tapi karena saat itu keuangan keluarganya tidak mencukupi jadi dia membatalkan niatnya itu. Baru 2 tahun ini dia mengikuti perkuliahan, semoga saja kelak ilmunya berguna untuk orang lain dan anak-anakku."Ucap Satria penuh harap.

__ADS_1


Dalam hatinya dia sangat bangga mempunyai istri seperti Dinda. Istri yang tidak banyak menuntut, dan tidak banyak gaya. Meskipun kini mereka tidak kekurangan uang, hidup Dinda tetap sederhana. Tidak mau menonjolkan jika dia itu istri dari orang kaya.


" Aamiin."Seru Hakim mengaminkan ucapan Satria.


Kini mobil yang dikendarai Satria sudah sampai di parkiran Cafe, terlihat mobil Dinda juga sudah ada di parkiran.


" Yuk, masuk. Kamu mau makan apa saja, tinggal pesan nanti aku yang akan membayarnya."Seru Satria.


" Bukannya ini Cafe milik kak Dinda, jadi kenapa harus bayar?." Tanya Hakim bingung dan heran. Padahal jika mau makan tinggal makan saja, tidak harus membayarnya karena ini usaha milik Dinda.


" Yang namanya usaha tetap usaha, sekecil apapun itu aku akan tetap membayarnya."Seru Satria menjelaskan.


Hakim terlihat malu, dia ingat dulu saat datang dan makan di Cafe itu bersama Kandar dan Rahma tidak mau membayar. Karena merasa itu Cafe milik Dinda, namun beruntungnya saat itu Dinda menggeratiskannya.


Langkah kaki Hakim dan Satria kini sudah memasuki area dalam Cafe. Satri memilih ruangan yang terbuka yang ada di area belakang, dekat dengan kolam-kolam ikan hias.


******


Kehamilan Cahaya saat ini sudah memasuki usia 9 bulan, tinggal menunggu hitungan hari saja dia akan melahirkan. Hari ini Cahaya dan Reno berbelanja barang-barang keperluan untuk calon anaknya. Mereka baru hari ini berbelanja keperluan calon anak mereka.


" Dua-duanya bagus, Bunda. Sudah ambil semua saja." Seru Reno dengan santainya sembari dia memilih-milih sarung tangan bayi yang terlihat lucu - lucu dan menggemaskan.


" Baiklah, kalau begitu aku ambil dua-duanya. Oh iya mas, kita mau beli stroler yang warna apa?."Tanya Cahaya sambil memasukkan baju tadi ke troly.


Reno melirik jejeran stroler yang ada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia bingung memilih warna apa yang akan dibeli, akhirnya Reno menjatuhkan pilihannya stroler warna coklat tua. Namun dia hanya bisa memilih dalam hatinya saja. Reno khawatir jika Cahaya mempunyai pilihan lain.


" Menurut Bunda warna apa? Bunda yang lebih paham, kalau mas sih ngikut saja." Jawab Reno menyerahkan pilihannya kepada Cahaya saja.


" Warna cokelat tua itu bagus mas, aku juga suka dengan corak dan motifnya. Bagaiman ? Mas setuju apa tidak?." Tanya Cahaya meminta persetujuan dari Reno.


" Iya Bun, itu bagus. Warnanya juga netral, untuk cowok bisa untuk cewek juga bisa. Siapa tahu nanti setelah ini bunda hamil anak laki-laki nah nanti tidak perlu beli stroler lagi. Bisa pakai yang ini saja."Seru Reno sambil memainkan matanya.

__ADS_1


" Mas, apaan sih. Yang ini saja belum lahir sudah ngomongin hamil lagi. Sudah yuk kesebelah sana cari keperluan yang lainnya, ini juga belum cari kaos kaki, celana. Stroller nya minta sama karyawan saja untuk membawa ke meja kasir, nanti kita bayar."Ucap Cahaya lalu mengajak Reno untuk mencari barang yang lainnya.


Reno pun mengangguk, lalu dia lebih dulu memanggil karyawan untuk membawakan stroler ke meja kasir. Cahaya dan Reno, mulai memilah dan memilih barang keperluan yang lainnya tanpa mereka sadari troli mereka sudah penuh.


Cahaya dan Reno yang menyadari kekalapan belanja mereka pun hanya tertawa. Mereka belanja sampai lupa diri.


" Mas, sepertinya sudah tidak ada lagi yang harus kita beli. Lihat nih troli nya sudah penuh seperti ini.


" Iya Bun, ya sudah yuk kita ke kasir."Ucap Reno langsung mengajak istrinya ke kasir.


Reno dan Cahaya berjalan menuju kasir, sesampainya disana Cahaya memilih duduk di kursi yang ada di dekat meja kasir. Sepertinya, Cahaya kelelahan sekali memilih barang-barang untuk calon anaknya.


" Mas, tolong bawakan strollernya ke parkiran ya Mas. Saya akan membawa barang-barang yang lainnya."Ucap Reno meminta tolong kepada salah satu karyawan.


" Baik pak."Jawab karyawan itu dengan sangat ramah.


Setelah semua nya selesai, barang-barang sudah masuk ke mobil. Reno memberikan uang tips kepada karyawan yang sudah membantunya itu. Mobil Reno pun meninggalkan parkiran pusat perbelanjaan itu, baru juga beberapa meter mobil di jalankan, Cahaya terdengar sudah mendengkur halus.


" Istriku pasti kelelahan, dia tadi sangat antusius memilih barang-barang untuk calon anak kami. Aku dulu sama sekali tidak tahu barang apa saja yang dibeli Sarah saat kami akan mempunyai anak, Joni. Baru kali ini saja aku ikut berbelanja kebutuhan bayi, ternyata sangat menyenangkan." Ucap Reno sambil mengusap wajah Cahaya yang terlihat teduh.


Reno melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan sangat berhati-hati agar tidak menggangu tidur sang istri. Tiba-tiba fikiran Reno menerawang dikejadian masalalu, dimana saat itu dia benar-benar tidak perduli dengan barang apa saja dibeli Sarah untuk menyambut anaknya. Reno hanya fokus untuk mencari uang dan uang, dan Sarah sendiri juga sama sekali tidak meminta Reno untuk menemaninya berbelanja. Menurutnya yang terpenting Rebo bekerja dan menghasilkan uang.


* Cahaya dan Sarah sangat berbeda jauh, apapun yang akan dia beli dan dia lakukan selalu meminta izin atau persetujuanku dulu. Untuk kerumah orang tuanya saja dia izin denganku, beda dengan Sarah. Dulu Sarah sampai tidak pulang dua hari pun dia tidak izin, dan saat pulang selalu bilang liburan sama teman-temanya. Ternyata dia main dengan selingkuhannya.*Gumam Reno terus menerawang masalalunya.


Mobil yang dikendarai Reno sudah sampai di depan rumah, Reno melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 4 sore. Reno tidak tega untuk membangunkan Cahaya, sehingga dia berinisiatif untuk mengangkat Cahaya saja.


" Cahaya kenapa, Ren?."Tanya ibu Rahayu terlihat khawatir takut terjadi sesuatu dengan menantunya itu.


" Tidak apa-apa bu, Cahaya hanya tidur saja. Reno tidak tega membangunkannya, sepertinya dia sangat kelelahan sekali. Oh iya bu, tolong bukakan pintu kamar Reno." Seru Reno dengan sopan.


" Iya." Jawab ibu Rahayu singkat.

__ADS_1


Ibu Rahayu pun bergegas membukakan pintu kamar Reno, dia terlihat lega mendapati Cahaya yang hanya tidur. Dia tadi sudah khawatir terjadi sesuatu dengan Cahaya.


*********


__ADS_2