Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Rena mulai baik


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Dinda dan Satria berkunjung kerumah Pak Karim, Satria ingin membelikan oleh - oleh kepada mertuanya dan para saudara dari istrinya. Dengan mengendarai mobilnya sendiri Satria melaju dengan kecepatan sedang, sebab ada ibu hamil disampingnya.


" Sayang bagaimana kuliah kamu?." Tanya Satria sembari melirik istrinya yang fokus dengan ponsel ditangannya.


" Baik dan lancar mas." Jawab Dinda dengan pandangan tetap tertuju dengan ponselnya.


" Kamu sudah banyak teman? " Tanya Satria lagi.


" Teman sih banyak mas, tapi yang benar - benar asik ya cuma si Mirna. Mirna itu wanita loh bukan laki - laki. " Seru Dinda sembari terkekeh lalu kembali fokus dengan ponsel ditangannya.


Satria merasa diabaikan sebab Dinda terlalu fokus dengan ponsel ditangannya. Satria ingin tahu apa yang dilihat istrinya didalam ponsel itu sehingga dia terlalu sibuk dan fokus dengan ponsel yang ada ditangannya. Akan tetapi saat ini Satria sedang mengendarai mobil dan tidak mungkin untuk berhenti hanya untul sekedar melihat ponsel istrinya.


Daripada penasaran Satria akhirnya menanyakan apa yang saat ini dilihat istrinya.


" Kamu lihat apa sih sayang? Fokus bener sama ponselnya sampai aku dicuekin begitu?."Tanya Satria mencoba mencari tahu.


" Heeemmm... Ini loh mas aku tuh lihat baju - bajn bayi. Lucu - lucu banget mas, jadi ingin segera membelinya. Pasti mikirnya ini aneh - aneh ya?." Tanya Dinda sambil tersenyum.


" Ohhh begitu. Gak juga sih kalsu cemburu, tapi kalaupun cemburupun tidak apa - apa kan? Beli saja sayang kalau kamu mau." Ucap Satria dengan mudahnya.


Namun Dinda hanya menggelengkan kepalanya saja, dia belum mau untuk membeli perlengkapan bayi. Dia belum tahu apa jenis kelamin bayinya nanti. Jadwal pemeriksaab masih 3 hari lagi dan Dinda akan melakukan USG bayinya untuk mengetahui jenis kelamin sang bayi.


" Loh kok tidak mau?." Tanya Satria dengan wajah herannya.


" Karena belum ketahuan apa jenis kelaminnya mas. Kalau kita beli baju cewek nanti tidak tahunya bayinya cowok, begitipun sebaliknya. Baru mau USG 3 hari lagi mas." Jawab Dinda menjawan rasa penasaran Satria.


" Waahhh benar juga sayang mas sampai lupa. Baiklah nanti saat periksa kandungan mas ikut ya ? Mas segera ingin tahu jenis kelamin anak kita, mau cewek atau cowok kita tetap bersyukur." Seru Satria lagi.


" Iya mas." Jawab Dinda dengan singkat.

__ADS_1


Mobil yang dikendarai Satria sudah sampai di halaman rumah Pak Karim. Dihalaman ternyata ada Gibran dan Tiara, Dinda baru ingat jika saat ini tanggal merah sehingga kedua keponakannya itu tidak bersekolah. Kedatangan Dinda langsung disambut oleh Gibran dan Tiara, mereka bergantian menyalami Dinda dan Satria.


" Tanye dedek bayinya belum keluar ya ?." Tanya Gibran sembari menunjuk kearah perut Dinda.


" Belum sayang, nanti kalau sudah 9 bulan dedek bayinya pasti keluar. Oh iya kalian kesini sama siapa?" Tanya Dinda dengan lembut.


" Sama mama Tante. Itu mama sama nenek lagi buat kue." Seru Gibran menjawab pertanyaan Dinda.


Satria dan Dinda saling pandang, mereka berdua merasa heran sebab tidak biasanya Rena mau membantu ibunya didapur apalagi memasak atau membuat kue. Dinda merasa senang dengan perubahan sikap dari kakak perempuannya itu. Dia berharap semoga saja Rena benar -benar sudah berubah.


" Kita masuk saja sayang. Gibran, Tiara masul yuk. Langsung cuci tangan ya sebab Om Satria bawa oleh - oleh untuk kalian. Kita makan didalam ya ." Seru Satria dengan lembut.


" OK Om" Ucap Gibran dan Tiara penuh semangat.


Mereka berempat berlalu masuk kerumah, Gibran dan Tiara langsung menuju dapur untuk mencuci tangannya sesuai dengan perintah Satria. Melihat kedua anaknya yang berebut cuci tangan membuat Rena menegur kedua anaknya.


" Tiara , Gibran jangan berebut begitu nanti basah semua loh." Tegur Rena dengan pelan tanpa meninggikan suaranya.


" Maaf ma, itu didepan ada Om Satria sama tante Dinda . Katanya mereka bawa oleh - oleh, adik sama kakak disuruh cuci tangan." Seru Gibran memberitahu.


Deg.


" Ada tante Dinda?" Tanya ibu Rahayu dengan senang.


Ibu Rahayu langsung berjalan cepat menuju ruang tamu, karena terlalu bahagianya dia sampai hampir menabrak Dinda yang ingin menghampiri ibunya didapur. Beruntung Dinda langsung berhenti sehingga tidak terjadi tabrak lari didalam rumah.


" Waahhh Dinda, maaf ibu tadi buru - buru ingin menemui kamu di depan ternyata kamu malah menyusul kedapur. Kamu sama Satria? Dia sudah pulang dari luar negerinya?" Tanya Ibu Rahayu antusius.


" Sudah bu, dua hari yang lalu. Maaf ya bu baru bisa main kesini. Soalnya kemarin mas Satria istirahat dulu, dia kecapean. Ini juga masih libur dulu ke kantornya beruntung juga tanggal merah. Oh iya bapak mana bu ? Kok tidak kelihatan?." Tanya Dinda sembari mengitari sudut rumah mencari keberadaan pak Karim.


" Bapak ada di kebun belakang, biasa pasti sibuk sama tanamannya. Bapsk kamu itu memang tidak bisa tinggal diam, badannya sakit kalau tidak untuk gerak. Kesawah juga sudah tidak kalian izinkan. Jadi ya cuma dikebun menanam sayuran sebagai penyalur hobinya. " Ucap Ibu Rahayu sembari terkekeh.


Satria menghampiri ibu mertuanya dan menyalaminya dengan takzim. Mendengar suara Dinda dan Satria, membuat pak Karim masuk kerumah dan menemui anak dan menantunya.


Kini mereka sudah berkumpul di ruang kekuarga, beruntung kue buatan ibu Rahayu dan Rena juga sudah matang. Rena sudah memotongnya dan meletakkannya di piring dengan teh manis yang menjadi temannya. Dinda juga sudah membagi oleh-oleh dari Satria untuk Rena san Beni serta anak - anaknya. Dan ada kue nya juga, Dinda membagikannya sama rata. Untuk punya Reno, Dinda titipkan kepada ibunya.


" Jadi Hana sudah mulai bersekolah disana?." Tanya Pak Karim.

__ADS_1


" Iya pak, 3 hari disana Hana sudah mulai masuk sekolahnya. Disana juga ada pelajar yang dari Indonesia juga lok Pak. Bahkan ada yang satu kota sama Hana, jadi Satria juga senang dan lega meninggalkan Hana disana Pak. Tapi jangan khawatir ada orang Satria juga kok disana." Seru Satria menjekaskan kepada mertuanya.


Rena hanya diam saja sembari mendengarkan obrolan orang tuanya dengan Satria. Rena juga baru tahu jika Hana saat ini sudah bersekolah di luar negeri, namun Rena belum tahu apa yang membuat Satria mau menyekolahkan Hana sampai di luar negeri. Apalagi selama ini Rudi dan Sinta sudah sering membuat kacau hidup mereka dan selalu membuat masalah.


" Jadi Hana itu kalian sekolahkan keluar negeri? Kenapa? Bukannya aku iri atau bagaimana. Tetapi apa mbak Sinta setuju? Soalnya belum lama ini mbak Sinta cerita sama aku kalau dia segera mengambil Hana. Tapi kenapa justru saat ini Hana diluar negeri?." Tanya Rena dengan penuh rasa keheranan.


Satria dan yang lainnya hanya bisa saling beradu pandangan. Mungkin sudah saatnya Rena tahu jika alasan Satria membawa dan menyekolahkan Hana ke luar negeri adalah karena Sinta. Satria ingin menyelamatkan masa muda Hana dari belenggu ibu kandungnya sendiri yang tidak patut untuk di di contoh.


lmKagi pula semuanya sudah terbuka, dan Sinta juga sudah tahu jika Hana saat ini di luar negeri. Sinta juga tahu jika kedua mertuanya sudah tahu betapa busuknya dirinya.


" Aku sengaja mau menyekolahkan Hana di luar negeri, lantaran aku ingin menyelamatkan hidup Hana mbak. Mungkin mbak Rena selama ini tidak tahu jika Hana itu terancam oleh ibu kandungnya sendiri."Ucap Satria mulai menceritakan awal kepada Rena.


" Maksudnya bagaimana Satria."Tanya Rena malu-malu, bebab dia memang masih merasa canggung berhadapan langsung dengan Satria.


Akhirnya Satria pun menceritakan semuanya apa yang sudah terjadi antara Hana dan Sinta tanpa ada sedikitpun yang dia tutupi. Tidak perlu lagi menutupi kesalahan dan kebusukan yang dilakukan oleh Sinta, Sebab yang namanya menyimpan bangkai suatu saat nanti akan tercium juga baunya.


Rena juga kaget saat mendengar cerita dari Satria, apalagi saat Sinta menjadikan Hana sebagai jaminan hutangnya. Dan akan menikahkan Hana dengan pria yang sudah berumur yang lebih pantas menjadi Papa untuk Hana.


" Itu sih namanya bukan seorang ibu tetapi iblis yang berwujud manusia. Tidak ada seorang ibu yang mau menjerumuskan hidupnya sendiri terkecuali dia memang sudah tidak waras lagi." Seru Rena ikut membenci perbuatan yang dilakukan oleh Sinta.


" Makanya itu Satria membawa Hana pergi jauh." Seru pak Karim.


" Aku juga bukan orang baik pak dan aku juga bukan seorang ibu yang sempurna. Tetapi jika mendengar ataupun melihat seorang ibu tega menjerumuskan ibunya itu sangat membuat aku kesal dan ingin sekali aku ikut memaki orang itu. Apalagi orang itu ternyata mbak Sinta." Seru Rena terlihat kesal dan geram dengan Sinta.


" Heleh kamu saja juga sering tuh menelantarkan anakmu sampai dia kelaparan. Beruntung rumah ibu ini dekat. Kalau jauh mereka mau meminta makan dimana? " Seru Ibu Rahayu sembari mencebikkan bibirnya.


Hhhuuuufffff


Rena terlihat menghela nafas dengan berat. Dia sendiri sudah sangat menyesali pernah membentak anaknya dan membuat anaknya kelaparan sebab dia tidak memasak. Namun Rena masih punya hati tidak sampai seperti Sinta rela menjadikan anaknya jaminan hutangnya.


" Setidaknya aku tidak separah mbak Sinta bu." Seru Rena mencoba membela diri.


" Iya beruntung. Beruntung kamu cepat sadar." Seru ibu Rahayu sambil tertawa.


Rena hanya tersenyum malu sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rena akhirnya kini sudah menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih santun serta menghargai orang lain.


***********

__ADS_1


************


__ADS_2