
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Joni sudah berada dirumah dan saat ini sedang beristirahat di kamarnya. Satria meminta untuk tidak mengajak Joni bicara soal kejadian yang baru saja dialami Joni. Tubuhnya memang tidak lupa, nama jiwa atau psikis Joni sepertinya yang terluka. Sedari pulang tadi dia hanya diam saja, lalu mandi dan istirahat dikamarnya.
Dinda dan Raja saat ini juga ada dirumah pak Karim. Dinda tidak sengaja datang kerumah orang tuanya dan ternyata memang terjadi sesuatu dengan Joni. Dinda benar-benar tidak tahu jika Joni di bawa kabur Sarah, sebab Satria memang tidak cerita dengannya. Dinda tidak marah, yang terpenting saat ini Joni sudah pulang dan berkumpul dengan keluarga lagi.
"Untuk sementara biar Joni beristirahat dan jangan ditanya soal yang dia alami. Satria khawatir, Joni akan trauma atau takut. Biarkan dia bicara dengan sendirinya atau justru dia tidak akan pernah membahas masalah itu. Sekarang ini yang penting Joni sudah berkumpul dengan kita semua, dan Satria jamin Sarah tidak akan pernah mengganggu kita lagi."Seru Satri menyakinkan semua anggota keluarganya.
"Apa yang dikatakan kak Satria benar. Kita jangan membahas masalah ini sama Joni, kita jaga perasaan Joni dan mentalnya. Cahaya tidak mau Joni menjadi anak yang semakin tertutup. "Seru Cahaya setuju dengan pendapat Satria.
Semua anggota keluarga yang ada disana pun mengangguk setuju. Bagi mereka yang penting Joni tidak kenapa-kenapa dan sudah kembali di tengah-tengah mereka semua. Kini mereka melupakan masalah Joni, mereka membahas masalah yang lainnya. Agar saat Joni keluar kamar tidak mendengar jika mereka masih membicarakan tentang Sarah.
"Dinda, Satria kalian kapan berangkat ke Jerman nya?." Tanya ibu Rahayu.
__ADS_1
"Rencananya 3 hari lagi bu. Tapi kalau keadaan seperti ini bagaimana? Masa iya kami pergi." Seru Dinda tidak enak hati.
"Kalian pergi saja, disini juga keadaan sudah aman dan tidak ada masalah. Bukannya Satria tadi sudah bilangkan kalau Sarah tidak akan mengganggu kita lagi. Jadi tidak ada alasan lagi untuk kalian menunda keberangkatan kalian. Kalian berangkat saja, semua pasti akan baik-baik saja."Ucap Reno meminta Dinda dan Satria tetap berangkat ke Jerman.
"Nanti Raja biar menjadi tanggung jawab kami. Selama kamu di Jerman, ibu akan menginap dirumah kalian menemani Raja dan nenek. Lagi pula ada pengasuh Raja yang sudah berpengalaman, jadi kalian berdua tidak perlu khawatir soal Raja."Ucap ibu Rahayu bicara sembari memangku cucunya, Raja.
Satria dan Dinda sangat lega dan terharu dengan pengertian keluarganya. Bahkan keluarganya juga akan ikut menjaga Raja selama mereka ada di luar negeri. Jadi Dinda dan Satria tidak khawatir meninggalkan Raja dirumah.
"Terimakasih bu. Sebenarnya Raja ingin kami ajak tetapi dokter menyarankan jangan dulu kalau belum berusia yang cukup. Apalagi perjalanan diudara cukup lama, jadi mau tidak mau kami tidak membawa Raja. Tolong nanti Dinda titip Raja ya bu? Untuk Asi insya Allah stocknya aman, kami hanya pergi selama1 minggu pulang dan pergi."Seru Dinda.
"Sama-sama nak."Jawab ibu Rahayu dengan senyum damainya tersungging dibibirnya.
Disaat Dinda sedang berkumpul dengan keluarga besar nya dengan bahagia merayakan keberhasilannya membawa pulang Joni. Serta membahas keberangkatan Dinda dan Satria ke luar negeri. Di tempat lain, Sarah saat ini sedang berada di rumah Sinta. Sinta sedang memarahi Sarah atas kecerobohannya yang telah membawa Joni pergi tanpa meminta izin kepada Reno terlebih dahulu. Apalagi sempat menyekap Joni sebagai tawanan atau alat agar Reno mau rujuk dengannya.
" Dasar bodoh kamu, Sarah ! Kamu salah sudah berurusan dengan Reno ! Apa kamu lupa Reno itu mempunyai Satria? Ada Satria di belakang Reno yang siap kapan pun membantu dia. Jangan sampai kecerobohanmu itu mengganggu usahaku, Sarah. Beni dan Reno sempat datang kesini untuk mencarimu dan dia mengancam akan menghancurkan usahaku. Kamu itu bodoh, Sarah. Benar-benar bodoh !."Seru Sinta dengan kesal.
"Apaan sih kamu mbak. Yang datangkan hanya mas Reno dan Beni, mereka tidak punya kemampuan apa-apa untuk mengancam dan menghancurkan usaha kamu."Seru Sarah dengan bodohnya.
Buggghhh Bughhhh
__ADS_1
Sinta kesal sehingga dia melemparkan dua bantal kursi ke arah Sarah dan mengenai tepat di kepala Sarah. Sarah terlihat mendengus dengan kesal sembari mencebikkan bibirnya.
" Mereka memang tidak mempunyai kemampuan apa-apa, tapi apa kamu lupa? Jika mereka itu mempunyai Satria yang siap kapan saja akan membantu mereka. Bahkan aku sendiri sudah tidak mau berurusan dengan Satria, tetapi dengan bodohnya kamu justru mencari masalah dengan keluarga mereka. Yang tidak menutup kemungkinan jika aku juga akan terkena imbasnya."Ucap Sinta masih dengan rasa kesal memenuhi dirinya.
Sarah hanya bisa terdiam, dia tidak bisa membantah lagi. Sebab apa yang dikatakan Sinta ada benarnya juga, dia juga sudah tidak mau lagi berurusan dengan Satria. Sarah sudah kapok dan takut dengan Satria, apalagi ancaman Satria tidak pernah main-main.
"Maaf aku kemarin tidak berfikir sampai situ. Yang aku fikirkan bagaimana caranya agar mas Reno bisa aku dapatkan. Sehingga muncul ide membawa kabur Joni, ternyata sama saja. Mas Reno tetap tidak mau rujuk denganku, mana aku sudah kasar dan menyakiti Joni. Meskipun badannya tidak sakit tapi batin Joni pasti sakit, dan dia takut bertemu denganku."Seru Sarah menyesalu perbuatannya.
"Sekarang kamu baru menyesal kan? Kita sebenarnya sama, Sarah. Sama-sama sudah menyakiti anak kita sampai anak kita tidak mau lagi bertemu dengan kita. Hana sampai sekarang masih marah dengan ku, meskipun dia pernah berkirim pesan tetapi aku tahu jika dia masih marah dan takut bertemu denganku. Sudahlah kenapa jadi bahas anak sih, Hana sekarang sudah bukan tanggunh jawabku lagi. Hidup dia sudah ditanggung Satria dan Dinda, jadi aku tidak perlu pusing lagi mikirin uang untuk nafkah Hana."Ucap Sinta masih saja tidak menyadari jika dia itu kesepian tanpa adanya anak disisinya.
Sarah melirik sekilas ke arah Sinta lalu membuang muka lagi kearah lain. Sarah ingin sekali bisa terlepas dengan jeratan Sinta, jika pun dia mau tetap menjadi wanita penghibur dia bisa dengan caranya sendiri tanpa hsrus lewat Sinta. Sarah tidak mau Sinta menikmati hasil kerja kerasnya secara cuma-cuma.
*Huhh kapan dulu hutangku itu lunas agar aku bisa segera terlepas dari Sinta. Enak banget dia tinggal duduk santai, uang di rekening sudah mengalir sendirinya. Aku juga mau kalau seperti itu, sama saja aku ini dijadikan mesin pencetak uang sama Sinta. Yang akan memperkaya dirinya sendiri.*Gumam Sarah dalam batinnya.
Aduhhh?
Sarah tiba-tiba merasakan sakit di arean sensitifnya. Ini bukan yang pertama kali akan tetapi sudah seminggu ini Sarah sering merasa ngilu dan bahhkan gatal yang tidak wajar. Padahal dia sangat memperhatikan kebersihan di asetnya itu. Bahkan saat sedang melayani pelanggannya juga tidak nyaman.
*Kenapa jadi sering tiba-tiba datang rasa nyeri seperti ini sih. Padahal sudah dari kemarin juga aku tidak melayani pelanggan. Sepertinya aku harus periksa kedokter, takut terjadi sesuatu dengan asetku.*Gumam Sarah sembari menahan rasa sakit.
__ADS_1
**************