Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Keadaan Sarah


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Satu bulan kemudian


Sarah masih saja di rumah sakit, dan hari ini jadwal dia operasi Ceasar. Dokter menyarankan agar Sarah melahirkan dengan operasi saja, sebab keadaan Sarah yang tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal.


Jam 9 malam tadi Sarah sudah selesai menjalani operasi dan saat ini dia masih ada di ruang ICU untuk memulihkan keadaanya. Jika sudah stabil baru akan dipindahkan di kamar rawat inap.


Team dokter mengucap rasa syukur atas kelahiran anak Sarah yang normal tidak kekurangan suatu apapun. Namun team dokter juga harus memeriksa secara berkelanjutan untuk memastikan jika anak Sarah benar-benar sehat.


" Apa mbak Sarah belum bisa di pindahkan, Dokter?."Tanya Ira yang selalu setia menemani Sarah.


" Belum bu. Ibu Sarah masih harus di rawat di ruang ICU dulu untuk pemulihan, jika sudah stabil nanti akan kami pindahkan di kamar rawat inapnya."Ucap Dokter menjelaskan.


" Baik dokter, terima kasih atas infonya."Ucap Ira sopan.


Dokter hanya mengangguk lalu meninggalkan Ira. Ira menatap Sarah dari balik kaca, dia melihat Sarah dengan mata yang berkaca-kaca seolah - olah dia merasakan sesuatu yang sangat menyakitkan hatinya.


" Ya Allah, kenapa perasaan ku tidak enak begini? Semoga saja mbak Sarah tidak kenapa-kenapa. Dan bisa segera pulang, mengurus anaknya dengan baik. Cepat sehat mbak Sarah."Ucap Ira dari luar ruang ICU.


Ira berjalan menuju ruangan bayi, dimana saat ini bayi Sarah berada. Bayi mungil perempuan itu kini sedang tertidur nyenyak di tempatnya. Ira memikirkan jika Sarah memang pergi bagaimana dengan anaknya, Ira tidak bisa mengurus anak Sarah sebab dia seorang janda yang menjadi tulang punggung keluarga dan penghasilannya juga tidak pasti. Ira tidak mau jika dia mengurus anak Sarah, tapi anak itu tidak mendapatkan kebutuhannya dengan baik yang membuat Ira akan semakin berdosa.


* Semoga mbak Sarah tidak kenapa-kenapa. Kasihan anaknya jika dia sampai pergi.*Gumam Ira yang sedari tadi merasakan jika akan terjadi sesuatu.


Di tempat lain, anak Reno dan Cahaya sudah genap berusia 1 bulan. Anak perempuan yang diberi nama Zaskia Humairah itu semakin sehat dan badannya semakin berisi.


" Zaskia anak papa sudah mandi ya, hummm sudah wangi. Sini yuk gendong papa, bundanya biar mandi dulu." Seru Reno lalu mengambil Zaskia dari bok bayi yang memang di letakkan di kamar Reno dan Cahaya.


" Mas Reno sarapan saja dulu, bukannya hari ini di toko ada bongkaran barang? Biarkan Zaskia di bok bayinya saja, dia pasti anteng karena dia sudah kenyang minum asinya."Ucap Cahaya sambil merapikan tempat tidur yang lumayan berantakan.


" Nanti dulu saya Bund, mas mau bawa Zaskia duduk di teras depan. Sembari berjemur tipis-tipis, iya kan sayang. Yuk kita ke teras depan, disana pemandangannya lebih luas daripada dikamar terus ya."Seru Reno mengajak Zaskia bicara.

__ADS_1


Cahaya hanya menggeleng melihat kelakuan suaminya itu. Selesai membereskan tempat tidur, Cahaya pun segera mandi. Tidak perlu memakan waktu lama, kini Cahaya sudah selesai mandi dan keluar kamar menuju dapur. Di dapur sudah ada ibu dan mbak Tumi yang sudah selesai menghidangkan makanannya.


" Wah sudah selesai ya bu, maaf ya bu akhir-akhir ini Cahaya jarang bantuin ibu di dapur."Ucap Cahaya merasa tidak enak dengan mertuanya.


" Sudah tidak apa-apa, Cahaya. Lagipula sudah ada mbak Tumi yang sudah membantu ibu, kamu fokus saja sama Zaskia."Jawab ibu Rahayu dengan bijak.


Mbak Tumi adalah orang yang di pekerjakan Reno untuk membantu pekerjaan rumah dari 4 bulan yang lalu. Mbak Tumi tinggal di desa sebelah, yang akan datang pagi-pagi dan pulang sore hari.


" Terima kasih bu. Cahaya susulin mas Reno kedepan dulu ya bu."Ucap Cahaya menunjuk kearah depan.


" Iya. Sekalian panggil Reno sama bapak untuk sarapan ya."Ucap ibu.


" Iya bu."Jawab singkat Cahaya.


Cahaya berjalan menuju teras depan, disana ada Reno, Pak Karim dan Zaskia yang masih anteng dalam pangkuan sang papanya. Pak Karim sendiri terlihat terus-terusan mengajak cucu nya bicara.


" Pak, Mas sarapan dulu. Itu ibu sudah memanggil untuk sarapan, sini Zaskia biar sama aku saja. "Ucap Cahaya.


" Zaskia sama bunda dulu ya. Nanti kalau papa sudah pulang dari toko kita main lagi."Ucap Reno lalu menyerahkan Zaskia kepada Cahaya.


Pak Karim masuk lebih dulu, pria baruh baya itu sudah tidak di izinkan oleh anak-anaknya untuk bekerja yang membuatnya kelelahan. Bahkan untuk mengolah kebun belakang rumah saja sudah tidak diizinkan, sebab jika sudah di kebun pak Karim akan lupa waktu.


" Pa, mama Sarah sudah melahirkan. Tadi malam tante Ira mengabari Joni."Ucap Joni saat semua keluarga sudah berkumpul di meja makan.


" Alhamdulillah kalau mbak Sarah sudah melahirkan. Memang usia kandungannya memang hanya selisih sebulan sama bunda. Nanti kalau kamu bisa, kamu jenguk mama kamu ya Jon."Ucap Cahaya menanggapi kabar yang diberikan Joni.


" Yang dikatakan Bunda kamu itu benar, Jon. Bagaimanapun, Sarah itu wanita yang sudah melahirkan kamu. Seburuk apapun perlakuan mama kamu, kamu tidak boleh membencinya. Nanti sepulang sekolah jenguklah mama kamu, biar papa kamu nanti yang mengantar."Ucap pak Karim menasehati Joni.


Reno menganggukkan kepalanya, sebagai tanda jika dia mau mengantarkan Joni. Sarapan pun selesai, Joni berangkat ke sekolah dan Reno berangkat ke toko.


Toko Reno semakin ramai, Reno sudah berencana untuk membangun toko cabang di dekat tempat tinggal ibu mertuanya. Disana belum ada toko serba ada yang lengkap dan besar. Rencana Reno itu sudah dia bicarakan dengan Cahaya dan Cahaya pun menyetujuinya dengan syarat hutang di Satria harus sudah lunas terlebih dahulu.


*******


Hakim dinyatakan sudah sembuh dari penyakitnya. Dia semakin bersemangat untuk menjalani kehidupannya, Hakim juga sudah pindah kerumah nya sendiri yang sudah Satria belikan. Memang tidak semewah rumah Satria namun itu semua sudah cukup bagi Hakim.


Siang ini Hakim makan siang di rumah Satria, dia sengaja makan siang di rumah Satria juga untuk menemui nenek nya. Ada hal penting yang ingin Hakim bicarakan dengan mereka.

__ADS_1


" Hakim, katanya kamu mau membicarakan sesuatu? Apa itu nak? Apa nenek akan mendapatkan menantu lagi?." Tanya Nenek Murni sambil tersenyum.


Mereka sudah selesai makan siang dan kini sedang duduk santai di ruang keluarga sebelum Hakim dan Satria kembali ke perusahaan lagi.


" Nenek bisa saja."Jawab Hakim malu-malu.


Satria dan Dinda saling pandang, sepertinya yang ingin dibicarakan Hakim memang tidak jauh dari soal hati.


" Apakah kamu sudah menemukan wanita yang cocok untuk pendamping hidup mu?."Tanya Satria.


" Iya kak, Nek. Aku mau memberitahu kalian semua jika aku akan melamar seorang gadis. Kami memang belum lama berkenalan, sekitar 2 bulan ini dan kami sama-sama merasa sudah cocok dan memutuskan untuk menikah."Ucap Hakim akhirnya dia bicara jujur.


" Bawalah calon istri mu kesini, Nak. Kenalkan dia sama kami, siapapun pilihanmu kami pasti akan merestuinya. Harapan kami perempuan itu akan menjadi pendamping hidupmu sampai kamu menua."Ucap Nenek Murni penuh harap.


Keinginan sang nenek tidaklah muluk-muluk, hanya ingin melihat kedua cucunya hidup rukun dan bahagia bersama pasangannya masing-masing.


Satria dan Dinda sangat penasaran siapa wanita yang bisa membuat Hakim jatuh cinta. Terlebih mereka hanya mengenal baru dua bulan saja. Siapapun wanita itu semoga saja bisa menjadi istri yang baik untuk Hakim dan ibu yang baik untuk anak-anak mereka kelak.


" Emmm... Besok malam saya akan membawa dia makan malam kesini. Hakim harap kak Satria dan Kak Dinda juga bisa memberikan restu untukku. Insya Allah dia wanita yang baik, terlepas dari masalalunya yang kurang baik aku tidak mempermasalahkannya. Dia juga sudah tahu tentang masalaluku, dia yang berhasil mengembalikan rasa percaya diri ku dan dia juga yang berhasil membuat aku jatuh cinta lagi."Ucap Hakim mantap dengan pilihannya.


* Sebenarnya siapa wanita yang akan menjadi calon istri Hakim. Kenapa dia bicara seperti itu seakan-akan ada yang Hakim rahasiakan. Aku jadi semakin penasaran.*Gumam Dinda dalam hati.


" Kamu berhak menentukan pilihan kamu sendiri. Kamu juga bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Jangan sampai kamu melakukan kesalahan seperti di masalalu kamu."Seru Satria ikut memberikan wejangan kepada adiknya.


" Insya Allah kak, besok aku berencana akan menemui mama dan papa. Apa kak Satria mau sekalian ikut? Sekalian besok aku izin tidak masuk kantor."Seru Hakim sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Satria menggeleng, dia tidak bisa ikut sebab ada pertemuan dengan klien. Dan Indra juga tidak bisa mewakilinya karena dia masih di luar kota. Dinda perutnya sudah semakin besar, jadi dia sudah tidak betah berlama-lama duduk di mobil.


" Nenek saja nanti yang ikut."Seru nenek.


" Baiklah nek, tapi tunggu dulu. Ini pak Ceo memberikan izin apa tidak untuk aku libur?."Tanya Hakim sambil terkekeh.


" Hemm aku izinkan, tapi tidak boleh sering-sering izin ya. Bukannya kamu masih belajar berbisnis untuk memimpin perusahaan cabang? Kalau banyak liburnya bisa di pecat loh. Hahahaa."Ucap Satria lalu tertawa.


" Idihhh serem amat, libur sehari saja mau di pecat. Hahahaa."Ucap Hakim juga ikut tertawa.


Sudah tidak ada lagi yang ingin Hakim bicarakan, jadi dia dan Satria pun kembali keperusahaan dengan mengendarai mobilnya masing-masing.

__ADS_1


***********


Kira-kira siapa ya wanita yang berhasil membuat Hakim percaya diri lagi dan jatuh cinta??


__ADS_2