Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Ancaman Satria


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Seperti yang sudah dijanjikan Satria tadi malam , jika siang ini Satria dan Dinda akan menemui Rudi di penjara. Dinda sudah membawakan beberapa keperluan Rudi serta makanan kesukaan sang kakak. Meskipun Rudi sering menyakitinya dan menghinanya, bahkan sekarang menjadi rivalnya. Dinda tetap memperlakukan kakaknya dengan baik, biarlah untuk saat ini Rudi mendekam dipenjara agar dia bisa menyesali segala perbuatannya.


Mobil yang dikendarai Satria sudah sampai di depan kantor polisi di mana Rudi ditahan . Satria dan Dinda langsung turun dan segera masuk ke kantor polisi . Mereka menuju ruangan yang biasa dipakai untuk menemui tahanan.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Rudi datang dengan ditemani oleh salah satu polisi yang berjaga.


" Untuk apa kalian menemuiku di sini? Apa belum puas kalian membuat hidupku menderita seperti ini ? Jika kalian masih ingin aku anggap sebagai saudara, segera keluarkan aku dari sini." Ucap Rudi penuh penekanan.


" Jangan marah-marah dulu mas. Baru juga duduk sudah marah . Awas nanti bisa kena darah tinggi. " Seru Satria sambil terkekeh.


Dinda memperhatikan Rudi yang kini sedikit berbeda, badannya sedikit lebih kurus. Ada rasa kasihan yang tumbuh di diri Dinda melihat kakak kandungnya seperti itu . Namun Dinda tidak bisa berbuat banyak karena semua itu sudah menjadi keputusan suaminya , terlebih kakaknya memang bersalah.


" Mas Rudi apa kabar ? Ini Dinda bawakan makanan kesukaan mas Rudi , dan ada beberapa barang keperluan mas ." Ucap Dinda dengan sopan.


" Untuk apa kamu membawakan aku barang-barang seperti itu? Aku tidak butuh barang seperti itu, yang aku butuhkan adalah segera bebaskan aku dari sini. Agar aku bisa hidup lebih bebas lagi, tidak tidur di balik jeruji besi lagi. Semua ini sudah membuat aku muak, aku sudah bosan di sini !" Sentak Rudi dengan kasar.


Satria hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Rudi yang masih saja arogan dan sombong. Padahal sudah hampir satu bulan mendekam dibalik jeruji besi, tetapi sedikitpun Rudi tidak berubah. Sepertinya Rudi ini memang sudah mati rasa, hilang rasa malunya. Seharusnya dia malu bicara seperti itu didepan Satria, apalagi Satria yang sudah dia celakainya.


" Satu bulan di mendekam di penjara sama sekali tidak membuat kamu berubah mas. Apa begini renungan yang kamu dapatkan selama mendekam di penjara ?" Tanya Satria dengan menatap tajam Rudi.


" Semua ini tidak akan merubah diriku. Mau kamu penjarakan aku selama 2 tahun sampai 5 tahun, aku tetap akan membencimu bahkan rasa benci ini sudah mendarah daging Satria. !!" Jawab Rudi dengan penuh penekanan.


Deg....


Dinda terkejut dengan penuturan Rudi, bagaimana bisa Rudi bicara seperti itu ? Sifat sombong dan kebenciannya sudah menutupi mata hatinya. Sedikitpun rudi tidak ada rasa menyesal , justru dia semakin membenci Satria.


" Jikka mas Rudi dipenjara lebih lama lagi, apa mas Rudi tidak kasihan dengan anak dan istri mas Rudi? Mereka itu masih membutuhkan mas Rudi. Tapi jika mas Rudi mau lebih lama lagi di sini, ya tidak masalah." Tanya Dinda agar ingin Rudi ingat dengan anak istrinya.


Rudi terdiam sepertinya dia terpengaruh dengan kata-kata Dinda barusan . Dinda dan Satria saling beradu pandang, mereka berharap semoga saja dengan menyebut kata anak dan istri Rudi bisa bersikap lebih baik . Namun ternyata Dinda salah , setelah cukup lama diam. Rudi justru menyeringai dengan sinis ke arah Dinda dan Satria.


" Kamu pikir kamu siapa menasehatiku seperti itu ? Jangan mentang-mentang sekarang kamu sudah kaya, kamu bisa seenaknya bicara seperti itu di depanku. Urusan anak dan istriku itu bukan urusanku lagi karena kalian sudah memenjarakan aku. Jadi untuk apa aku tanggung jawab sama mereka, ada bapak sama ibu. Biarkan saja itu urusan bapak dan ibu. " Seru Rudi semakin membuat Dinda dan Satria geram.

__ADS_1


" Tadinya memang aku sengaja tidak mau mengusut masalah ini sampai ke meja pengadilan . Tetapi setelah melihat kelakuan mas seperti ini, jangan salahkan aku jika sampai masalah ini aku bawa kemeja pengadilan. Tunggu saja hukuman 10 sampai 15 tahun penjara segera menantimu mas. Sebenarnya aku hanya ingin memberikan efek jera kepadamu mas. Tapi jika kamu tidak bisa berubah juga, terpaksa aku usut tuntas masalah ini ." Ucap Satria dengan tegas.


Deg..


Jantung Rudi langsung berdegup dengan kencang, dia takut dengan ancaman Satria. Dia tidak bisa membayangkan seandainya hukuman itu benar dia jalani 10 tahun sampai 15 tahun penjara. Itu bukanlah waktu yang singkat , sedangkan saat ini 1 bulan saja dia sudah tidak sanggup. Bahkan sudah muak berada di dalam ruangan jeruji besi yang sempit dan pengap itu.


* Jadi selama sebulan ini Satria memang sengaja tidak membawa masalah ini sampai ke meja pengadilan ? Pantas saja sudah satu bulan dalam penjara aku belum pernah sekalipun masuk ruang persidangan. Tidak ! Aku tidak mau dipenjara lebih lama lagi , aku mau segera bebas aku udah muak tinggal di penjara yang sempit dan pengap itu. * Gumam Rudi dalam hatinya.


" Tidak ! Aku tidak mau dipenjara lebih lama lagi. Tolong jangan bawa masalah ini kemeja persidangan. Maafkan aku Satria kasihanilah anak Hana masih membutuhkan aku sebagai sosok ayahnya." Ucap Rudi dengan mengatupkan kedua tangannya.


" Berperilaku baiklah selama di penjara. Nanti aku pikirkan untuk membebaskan. Permisi ! Sayang ayok kita pergi dari sini !. Seru Satria sangat tegas.


Satria langsung bangkit begitu saja dan berjalan keluar meninggalkan Rudi . Dindapun mengikuti langkah suaminya menuju pintu keluar dan menghampiri mobil yang ada diparkiran.


" Kita kerumah bapak ya " Ucap satria saat sudah berada didalam mobil.


" Iya mas. Sudah seminggu lebih kita tidak ke sana, tapi apa mas nggak mau balik ke perusahaan lagi? Siapa tahu mas lagi banyak pekerjaan." Tanya Dinda takut jika Satria memang sedang banyak pekerjaan di perusahaannya.


" Hari ini mas sedikit lenggang, soalnya meeting di handle sama Indra. Lagi pula berkas-berkas juga sudah selesai mas tanda tangannya dan mas periksa. Apalagi tadi malam kan sudah lembur, lemburnya sampai tengah malam loh. Jadi butuh istirahat yang cukup nih. " Seru Satria sembari menggoda Dinda.


Wajah Dinda langsung merona merah seperti kepiting rebus. Dia sendiri malu jika mengingat kejadian tadi malam. Bagaimana bisa semalam dia begitu agresifnya sehingga mereka bermain sampai jam 12 malam. Satria senang menggoda Dinda, apalagi melihat wajah Dinda yang sudah merona seperti itu. Jadi semakin menggemaskan.


" Idih masa sama suami sendiri malu sih sayang ? tapi malu-malu tapi mau kan? Bagaimana kalau nanti malam kita lembur lagi ? Lembur sayang lembur loh." Seru Satria semakin membuat Dinda tersipu malu.


Dinda membuang pandangannya ke arah luar jendela mobil. Satria melihat Dindaa yang malu-malu justru semakin senang , menurutnya malu-malunya Dinda sangat menggemaskan. Tidak mau terlalu lama menggoda sang istri , Satria pun menghidupkan mesin mobilnya dan segera melaju menuju rumah mertuanya.


Mobil Satria melaju dengan kecepatan sedang, setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit kini mobil Satria sudah berbelok ke pekarangan rumah mertuanya. Pak Karim maupun Ibu Rahayu tidak ada yang tahu jika Dinda akan datang . Oleh sebab itu Ibu Rahayu yang ada di teras rumah terkejut dengan kedatangan Dinda yang secara tiba-tiba.


" Assalamualaikum Bu ." Sapa Dinda dan Satria bersamaan.


" Waalaikumsalam, tumben kalian datang ke sini ? Ada angin apa kalian mengunjungi rumah orang miskin ini ?." Serru ibu Rahayu dengan ketus.


" Ini kan rumah orang tua Dinda bu , masa iya Dinda tidak boleh berkunjung ke sini, dan harus memberi kabar terlebih dahulu jika mau ke sini . Oh iya , bapak sama yang lainnya ke mana Bu kok rumah kelihatan sepi ?" Tanya Dinda masih dengan nada yang sopan.


" Bapak kamu ada di belakang lagi benerin kandang ayam. Kalau si sinta mungkin ada di kamarnya ,biasa anak itu pasti jam segini tidur. Kalau tidak tidur ya kelayapan. Kalau Hana masih sekolah, kenapa tanya - tanya mereka ? Oh ya kamu bawa apa itu. " Tanya Ibu Rahayu melirik ke arah kantong plastik yang dipegang oleh Dinda.


Dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya, tadi Dinda menyempatkan diri mampir ke minimarket untuk membeli oleh-oleh atau barang bawaan untuk bapak dan ibunya. Tidak mungkin Dinda datang ke rumah orang tuanya tanpa membawa barang bawaan atau dengan tangan kosong.


" Oh ini ada sedikit oleh-oleh buat bapak sama ibu." Ucap Dinda sembari menyerahkan kantong plastik yang dari tadi dia pegang.

__ADS_1


Ibu Rahayu menerimanya dengan senang, lalu dia segera menyuruh Dinda dan Satria masuk ke rumah dan duduk di sofa ruang tamu. Pak Karim yang tadi dari belakang mendengar ada suara mobil masuk kepekarangannya langsung menyelesaikan pekerjaannya. Lalu melihat siapa tamu yang datang. Dan dia sangat senang saat melihat Dinda dan Satria yang datang berkunjung ke rumahnya.


" Bapak apa kabar ? Sapa Satria menyambut tangan Pak Karim dan menciumnya dengan takzim.


Satria dan Dinda bergantian menyalami pak Karim dan mencium tangan Pak Karim dengan takzim. Satria dan Dinda juga mengulurkan tangannya ke arah Ibu Rahayu, namun Ibu Rahayu hanya diam saja. Padahal sudah dari tadi mereka belum menyalami Ibu Rahayu.


" Kabar bapak sehat dan Alhamdulillah baik semuanua. Bu anak sama menantu mau menyalami Ibu kok ibu hanya diam saja. Malah sibuk sendiri dengan oleh-oleh yang dibawa Dinda." Seru pak Karim menegur Ibu Rahayu yang terlihat acuh dengan Dinda dan Satria.


" Heleh buat apa salim segala mereka kan sudah tahu aku sehat walafiat begini , buktinya bisa menyambut kedatangan mereka bahkan saat ini aku duduk di depan mereka. " Ucap Ibu Rahayu dengan tidak tahu malunya.


Ibu Rahayu memang aneh , mau dengan oleh-oleh yang dibawa Dinda dan Satria. Dan mau menerima uang pemberian Dinda dan Satria , namun sikapnya tetap acuh kepada Dinda dan Satria. Namun Dinda dan suaminya saat ini tidak mempermasalahkan itu. Mungkin suatu saat nanti ibunya bisa berubah.


" Sudah Pak tidak apa-apa , kami tidak mau mempersalahkan hal itu kok pak. Yang penting Ibu sehat dan semuanya juga sehat. " Seru Satria dengan mengulas senyum ramahnya.


" Dengarkan pak , mereka saja tidak apa-apa. Kenapa bapak yang repot sih. Sudahlah ibu mau masuk saja . Oh iya Din, kalau mau minum kamu ambil saja sendiri di dapur. Ibu ini capek, mau istirahat. " Ucap ibu Rahayu lalu berlalu dan tidak lupa membawa kantong plastik oleh - oleh dari Dinda tadi.


Pak Karim hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya yang sama sekali tidak berubah. Dinda dan Satria melihat kearah pak karim secara bersamaan, wajah pak karim terlihat lelah. Sepertinya pak karim sudah lelah dengan sikap istrinya yang susah untuk di nasehati.


" Sudah pak, soal ibu jangan difikirkan terlalu dalam. Nanti bapak malah sakit." Ucap Dinda dengan lembut.


" Bapak heran sama ibu kamu itu Din. Dulu dia itu baik dan sayang sama kamu, tapi semenjak kamu dekat dan menikah dengan Satria sikap ibu kamu berubah. Memang ibu kamu tidak setuju kamu menikah dengan Satria, karena dulu Satria masih tidak punya apa-apa. Tetapi sekarang setelah tahu Satria itu ternyata orang kaya, ibumu tetap tidak berubah. Tetapi yang bikin bapak kesel dia mau dengan pemberianmu, dengan uangmu tapi sikapnya tetap saja ketus." Ucap pak Karim panjang lebar.


Hhhhuuuffff


Dinda sendiri juga heran dengan sikap ibunya, dulu dia dihina dan dijauhi karena Satria orang miskin. Tapi sekarang semuanya sudah berubah, Satria yang dikira miskin ternyata dia orang kaya. Namun tetap saja Ibu Rahayu dan kakak serta ipar - ipar Dinda masih menaruh benci kepada Dinda. Masih saja ada rasa ketidaksukaannya terhadap Satria dan Dinda.


" Mau apa lagi kalian datang ke sini ? Mau mencari ribut lagi denganku ? " Ucap Sinta yang baru saja keluar dari kamar, dengan wajah yang masih terlihat kusut khas orang bangun tidur.


" Sinta jaga sikapmu !! Jangan buat bapak marah lagi. Lagi pula ini rumah Dinda, jadi kapanpun Dinda mau ke sini itu urusan dia tidak ada hubungannya denganmu !." Ucap pak Karim menegur Sinta.


" Mbak Sinta, Jangan cari masalah. Jika mbak Sinta cari masalah lagi dengan istriku, aku akan kirim mbak Sinta ke penjara sama mas Rudi. Mau kalian dua-duanya semua dalam penjara?." Ucap Satria mengancam sinta.


Sinta melongos, pergo begitu saja. Sepertinya dia takut dengan ancaman Satria. Dinda ingin tertawa melihat wajah sinta yang manyun dan ketakutan. Sudah pasti dia takut dipenjara, bagaimana tidak takut jika dia suka dengan kebebasan tiba - tiba harus mendekam dipenjara.


" Huuhh... Sinta itu susah diatur. Dia kemarin habir ribut sama Hana. Bapak kasihan sama Hana. Kalau bapak telat sedikit saja , tamparan yang dilayangkan Sinta akan mendarat di pipi Hana." Ucap pak Karim .


" Iya pak. Kemarin mbak Sinta itu marah - marah dan dia menuduh Dinda sudah meracuni fikiran Hana. Padahal Dinda tidak pernah meracuni fikiran Hana. Hana sudah cerita semua sama Dinda Pak " Ucap Dinda serius.


Pak karim mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh Dinda.

__ADS_1


**********


__ADS_2