Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Permintaan maaf yang tulus


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Hakim sudah mandi, sudah bersih dan sudah berganti pakain. Bahkan brewok dan kumisnya juga sudah dia potong lebih rapi. Kini Satria mengajak Hakim untuk makan lebih dulu sebelum mereka mulai dengan obrolannya.


Uhhhukk uhuukk uhuuukk


Hakim makan sampai tersedak dan batuk-batuk. Dia makan memang dengan cepat dan terburu-buru.


" Pelan-pelan, Hakim."Ucap nenek mengingatkan.


" Minum dulu."Seru Satria memberikan segelas air putih kepada Hakim.


Hakim segera menerimanya dan meminum nya sampai tandas. Sudah lama Hakim tidak makan enak seperti ini, sehingga saat melihat makanan enak dia makan dengan lahapnya sampai dia seakan lupa jika saat ini dia ada di rumah Satria.


" Maaf aku sudah lama tidak makan enak, jadi aku makannya terlalu lahap sampai aku lupa diri."Ucap Hakim sambil menunduk.


" Makanlah, kami tidak akan memarahimu. Semua makanan ini boleh kamu habiskan."Seru Nenek dengan menatap sendu Hakim.


" Saya sudah kenyang. Sudah nambah juga, Nek."Jawab Hakim terlihat malu-malu.


Hakim terlihat memegangi dadanya yang mulai terasa sakit dan sesak untuk bernafas. Selain mempunyai sakit kelamin, Hakim juga di diaknosa mengalami penyakit jantung yang sudah parah. Jalan satu-satunya Hakim untuk sembuh harus operasi dan pemasangan Ring. Dab itu tidak dengan uang sedikit, Hakim harus menyiapkan uang yang cukup banyak.


" Kamu kenapa?." Tanya Satria.


" Tidak apa-apa, mungkin hanya kekenyangan saja."Jawab Hakim berbohong.

__ADS_1


Selesai makan, mereka semua kembali berkumpul di ruang keluarga. Disinilah Hakim mulai membuka percakapan yang serius.


" Nek, Kak Satria dan Kak Dinda. Mungkin selama ini aku sudah banyak salah sama kalian. Mungkin juga kesalahanku tidak bisa untuk di maafkan, tapi aku akan tetap meminta maaf kepada kalian bertiga. Tolong maafkan semua kesalahan-kesalahanku, aku benar-benar menyesali semua perbuatan ku dimasalalu. Nek, maafkan aku ya nek."Seru Hakim kini bersimpuh di kaki nenek Murni.


Nenek mengusap kepala Hakim dengan lembut, tanpa terasa air matanya pun membasahi pipinya. Akhirnya apa yang dia impikan dan dia harapkan terjadi juga. Semoga Hakim dan Satria bisa hidup saling menyayangi satu sama lain seperti harapan nenek Murni.


" Hakim, kamu tidak perlu meminta maaf sama nenek. Sebelum kamu meminta maaf, nenek sudah memaafkan kamu lebih dulu. Bangunlah nak, dan duduk di samping nenek. Nenek ingin memeluk mu, Nak."Ucap Nenek memegang kedua pundak Hakim agar dia mau bangkit.


Hakim memeluk nenek dengan erat dengan air mata yang juga ikut berderai. Satria dan Dinda ikut terharu melihat nenek dan Hakim yang berpelukan.


" Mas, semoga sampai kalian menua nanti hubungan baik kalian berdua tetap terjaga. Aku percaya, Hakim saat ini juga sudah benar-benar berubah dan menyesali semua kesalahannya. Tidak ada salahnya kita dukung dia dan suport dia."Ucap Dinda.


" Iya sayang, itu pasti." Jawab Satria kagum dengan sang istri.


Hakim beralih meminta maaf kepada Satria dan memeluk Satria dengan erat. Ini pertama kali mereka berpelukan, hubungan kakak dan adik itupun kini sudah membaik.


" Maafkan aku kak."Seru Hakim di sela tangisnya


Huufffftttt


Hakim menghela nafas dengan berat, mau tidak mau dia akan menceritakan apa yang sudah terjadi dengannya beberapa bulan terakhir ini. Dimana yang uangnya habis untuk dia main judi, mabuk dan sampai dia pun di diagnosa penyakit jantung. Namun dia tidak menceritakan soal penyakitnya.


" Aku masih sering judi, mabuk dan perokok. Aku tidak mempunyai pekerjaan, sehingga saat uangku habis. Aku pun di usir dari kontrakan yang aku tidak bisa membayarnya secara bulannya. Sehingga selama 3 bulan ini aku hidup dijalanan dan hanya mengandalkan meminta-minta untuk bertahan hidup. Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Sarah di tempat wisata, aku meminta dia untuk mengembalikan uang ku yang dia bawa kabur tapi justru Sarah memarahiku dan akhirnya aku diusir oleh petugas."Ucap Hakim panjang lebar, namun dia tetap merahasiakan penyakitnya.


Hakim tidak mau mereka semua tahu sakit yang dia derita. Dengan begitu, mereka tidak akan merasa terbebani oleh kehadiran dirinya. Diterima dengan baik oleh Satria dan keluarganya saja sudah cukup dan membuat Hakim bahagia.


" Sekarang kamu tinggallah disini, ini juga rumah kamu."Ucap Satria.


" Tidak ! Aku tidak pantas tinggal di rumah ini, setelah urusanku selesai aku akan pergi dari sini."Ucap Hakim menolak untuk tinggal dengan Satria.


" Hakim, nenek ini sudah tua dan sudah sakit-sakitan. Jadi nenek ingin sekali tinggal bersama kedua cucu nenek. Kamu mau ya tinggal di rumah ini? Atau kamu mau beli rumah sendiri, tapi yang seputaran sini saja agar nenek dekat dengan kalian semua."Ucap nenek serius.

__ADS_1


Dengan cepat Hakim menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau semakin merepotkan dengan harus membeli rumah baru. Hakim sendiri dengan dirinya, penyakitnya semakin menggerogoti tubuhnya. Percuma juga jika harus membeli rumah baru jika kesehatannya sendiri semakin menurun.


* Mungkin ada baiknya untuk sementara aku tinggal dengan mereka. Sehingga di saat aku nanti benar-benar sudah tiada, setidaknya aku mempunyai kenangan baik dengan mereka.*Gumam Hakim dalam hati.


Hakim sudah psimis jika dia tidak bakalan sembuh. Hidup dan mati seseorang itu ada di tahan Allah, orang yang sakit-sakitan belum tentu akan cepat mati, begitupun sebaliknya.


" Baiklah nek, Hakim akan tinggal disini dengan kalian. Emmm apa Hakim boleh meminta tolong?." Tanya Hakim ragu-ragu.


" Boleh, kamu mau minta tolong apa nak?." Tanya Nenek dengan lembut.


" Heemm tolong antarkan Hakim menemui mama dan papa di sel tahanan."Jawab Hakim serius.


Satria dan Dinda serta nenek saling melempar pandangan. Mereka sudah pasti akan mengantarkan Hakim menemui Rahma dan Kandar. Permintaan yang baik dan tidak menyulitkan Satria maupun Dinda.


" Besok kita kesana barsama-sama."Ucap Satria dengan senyum mengembang.


" Alhamdulillah, terima kasih kak Satria."Jawab Hakim.


Hakim kembali memegangi dada nya lagi, dadanya semakin sakit dan sesak. Selama 3 bulan ini dia tidak pernah lagi memeriksakan kesehatan tubuhnya. Bahkan untuk obat pun dia sudah tidak meminumnya, untuk makan saja sulit apalagi untuk membeli obat yang harganya cukup mahal.


Satu macam obat saja ada yang harganya sampai 500 ribu tentu saja Hakim tidak sanggup untuk membelinya.


* Sepertinya ada yang tidak beres dengan Hakim, terlihat beberapa kali dia memegangi dadanya. Apa dia sedang sakit ya?.*Gumam Dinda dalam hati.


Apa yang difikirkan Dinda juga sama dengan yang difikirkan oleh Satria. Satria menaruh curiga jika adiknya itu sedang menyembunyikan sesuatu.


* Lebih baik, besok setelah pulang dari menjenguk mama dan papa aku akan membawa Hakim kerumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya. Terlebih, selama 3 bulan ini dia tinggal di jalanan dan tentunya kotor dan banyak debu jalanan yang dia hirup. Tubuhnya pun semakin kurus.*Gumam Satria dalam hati.


Selesai dengan pembicaraan nya, Satria meminta Hakim untuk beristirahat di kamar. Begitupun dengan mereka, mereka bertiga masuk kamar masing-masing untuk istirahat atau tidur siang. Namun Dinda lebih dulu memeriksa Raja di kamar nya, ternyata Raja juga sudah tidur.


*********

__ADS_1


__ADS_2