Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Cerita Dinda


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Memang tadi di cafe ada keributan apa sayang ?" Tanya Satria.


Tanpa dinda bercerita pasti satria sudah tahu soal ketibutan yang ada du cafe tadi siang. Sebab pihak keamanan pasti sudah memberitahu satria terlebih dahulu. Apalagi orang - orang keamanan memang anak buah Satria semua, yang disediakan oleh Indra sang assisten koplaknya.


" Biasalah mas , mbak Sinta salah paham. Gara - gara hana datang ke cafe menemui ku . Mbak Sinta mengira jika aku yang sengaja menyuruh Hana datang, bahkan mbak Sinta menuduhku sudah mempengaruhi Hana. Karena sekarang Hana lebih berani kepada mbak Sinta ." Ucap Dinda mulai menjelaskan kejadian yang terjadi di cafe tadi siang.


" Memangnga Hana ngapain menemui kamu Sayang ?" Tanya Satria yang memang belum tahu maksud kedatangan hana .


Hhhuuuffff


Dinda menghela nafas terlebih dahulu sebelum memulai ceritanya. Akhirnya Dinda menceritakan semua pembicaraan antara Hana dan dirinya tadi siang saat berada di cafe tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun.


Setelah mendengar cerita Dinda, Satria merasa lebih yakin untuk memberikan efek jera kepada Rudi lebih lama lagi. Lagi pula Hana sendiri memang meminta jika Papanya dihukum sesuai prosedur yang berlaku. Tetapi Satria tidak akan setega itu, dia hanya ingin memenjarakan Rudi sesuai keinginannya tanpa membawa berkas-berkasnya kemeja pengadilan. Kali ini Satria menggunakan kekuasaan uangnya demi membuat Rudi jera.


" Hana itu baru berusia 15 tahun, tetapi dia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Padahal dia dibesarkan di lingkungan yang menurut mas tidak sehat . Mas bangga mempunyai keponakan seperti Hana , semoga saja dia akan tetap memiliki sifat baik sampai dia besar nanti. " Ucap Satria merasa bangga dengan kepribadian sang keponakan, Hana.


" Dinda juga tidak menyangka mas , Jika Hana bisa berpikir sedewasa itu . Apalagi dia sudah tahu jika mama dan papanya selama ini sangat membenci kita, mereka memusuhi kita. Dan sifat buruk kedua orang tuanya itulah yang membuat Hana berontak, dia merasa malu mempunyai orang tua yang bisanya menghina, mempunyai sifat sombong dan arogan " Ucap Dinda merasa prihatin dengan keponakannya.

__ADS_1


Satria dan Dinda besok berencana menemui Rudi di penjara. Siapa tahu selama hampir 1 bulan mendekam di jeruji besi , Rudi sudah menyadari semua kesalahannya. Namun tidak semudah itu Satria akan membebaskan Rudi . Satria masih ingin melihat perubahan Rudi lebih lama lagi.


Masalah lama belum juga selesai kini timbul masalah yang baru lagi. kehidupan Satria dan Dinda kini memang sudah berubah lebih baik, tetapi masalah demi masalah selalu menghampiri mereka . Masalah dengan Rudi, dengan Sinta dan saudara-saudaranya yang lainnya serta masalah dengan orang tua Satria yang tidak lain ialah mertuanya sendiri.


Namun Satria dan Dinda tetap menjalani jalan kehidupannya dengan santai tanpa ada beban sedikitpun. Mereka tidak ambil pusing dengan masalah-masalah yang saat ini terus datang menghampiri mereka. Mereka hanya beranggapan masalah itu sebagai ujian hidup mereka.


" Besok saat menjenguk mas Rudi mau bawa makanan apa Mas?" Tanya dinda meminta persetujuan Satria.


" Kalau soal itu terserah kamu saja sayang, kamu bawakan makanan dari rumah atau dari Cafe juga tidak masalah. Bagaimana baiknya kamu saja." Ucap Satria dengan lembut.


" Baiklah besok Dinda ambilkan makanan di cafe saja ya mas. Sebab Dinda besok harus ke cafe dari pagi. " Ucao dinda sedikit berbohong, padahal besok pagi dia ada jam mata kuliah yang harus dia ikuti.


Satria hanya mengangguk setuju saja atas apa yang dikatakan oleh sang istri. Sebagai suami satria tidak mau membebani atau merepotkan sang istri, jika ada yang praktis kenapa memilih yang sulit. Jadi membawakan makanan dari Cafe pun tidak masalah tidak harus makanan yang dimasak sendiri. Lagi pula Cafe itu milik Dinda sendiri dan sudah jelas makanannya pun enak - enak.


Selesai berbincang dengan suaminya , Dinda keluar kamar menemui sang nenek yang ada di kamar pribadinya. Seharian ini Dinda belum bertemu dengan nenek kecuali saat sarapan pagi tadi. Dinda sebagai seorang cucu menantu merasa bersalah, karena seperti mengabaikan keberadaan nenek. Padahal Dinda tidak seperti itu , dia disibukkan dengan kuliah dan usaha-usahanya. Lagipula itu semua juga atas permintaan nenek Murni. Nenek ingin Dinda menjadi wanita yang mandiri tangguh dan sukses.


" Nenek sedang apa ?" Tanya Dinda masuk kekamar nenek sebelumnya sudah mengetuk pintu terlebih dahulu dan nenek mengizinkan.


" Tidak sedang apa-apa Dinda, nenek hanya membaca buku saja. Apa juga yang bisa nenek kerjakan selain membaca buku, duduk santai , tidur makan minum ya cuman begitu saja. Pekerjaan rumah sudah ada yang mengerjakan, perusahaan sudah sama Satria . Butik dan salon dudah sama kamu dan usaha-usaha yang lain dipegang orang-orang kepercayaan nenek. Ya nenek cuman bisa menikmati masa tua nenek saja. Bukankah begitu cucuku Dinda tersayang ?" Seru nenek Murni berucap dengan senyum khas yang terlihat sangat lembut dan bersahaja.


" Iya Nek, dulu saat masih muda nenek pekerja keras. Sekarang saatnya nenek menikmati hasil dari kerja keras nenek, biarkan semua urusan nenek di urus sama Mas Satria dan Dinda. Dinda akan melaporkan Semuanya sama nenek tanpa ada yang terselip sedikitpun . " Ucap Dinda penuh keyakinan.


Bagaimanapun usaha salon dan butik yang saat ini dipercayakan sama Dinda adalah milik nenek. Meskipun kedua usaha itu atas namanya , namun tetap neneklah pendiri yang pertama kalinya dan Dinda akan melaporkan semuanya kepada nenek.


" Tidak perlu kamu melaporkan apapun kepada nenek Dinda, nenek sudah percaya sama kamu. Lagi pula salon dan butik itu memang milikmu, nenek memberikan salon dan butik itu sebagai kado pernikahan kalian berdua . Dan surat kepemilikan usaha itu pun sudah atas nama kamu jadi sepenuhnya itu milik kamu." Ucap nenek dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


Dinda memeluk nenek murni dengan hangat, pelukan nenek murni seperti pelukan ibunya terdahulu saat sebelum Dinda dikucilkan dari keluarganya. Ibunya berubah saat Dinda mulai dekat atau pacaran dengan Satria. Itu juga karena ibunya sudah termakan dengan komporan para saudara ipar perempuan dinda dan kakak iparnya.


" Terimakasih untuk semuanya Nek ." Seru Dinda dengan lembut.


" Sama - sama sayang. Oh iya bagaimana dengan kuliah kamu ? Lancarkan ?" Tanya nenek Murni ingin tahu perkembangan kuliah Dinda.


" Alhamdulillah kuliah Dinda baik ,dan Dinda bisa mengikuti kuliah dengan baik juga Nek. Terima kasih sudah mempercayai Dinda untuk kuliah." Ucap Dinda penuh rasa terima kasih kepada nenek murni.


" Tidak perlu berterima kasih, karena kamu pantas mendapatkan itu semua . Kamu memang istri pilihan yang terbaik, tidak salah Satria memilih kamu menjadi pendamping hidupnya. " Seru nenek murni sambil mengusap pucuk kepala Dinda dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


Malam pun semakin larut Dinda keluar dari kamar sang nenek . Karena nenek harus beristirahat lebih cepat, mengingat kondisi nenek murni yang akhir-akhir ini memang sering lemah dan sakit. Mungkin memang efek dari tubuh tuanya.


Sebelum masuk ke kamarnya sendiri , Dinda lebih dulu ke dapur untuk membuatkan suaminya kopi dan mengantarkannya ke ruang kerja sang suami. Akhir-akhir ini Satria memang sering membawa pulang pekerjaan ke rumah karena dia tidak mau mengerjakan lembur di kantor.


" Ini kopinya Mas . Silakan diminum ,oh iya mas kalau kerja jangan sampai lupa waktu ya. Ini sudah hampir jam 9 malam . " Ucap Dinda mengingatkan sang suami.


Dinda tidak mau suaminya kelelahan, kurang istirahat dan akan jatuh sakit. Biasanya Satria akan menyudahi pekerjaannya jam 10 atau jam 11 malam saja.


" Iya istriku sayang. Ini tinggal 3 Proposal lagi yang harus mas periksa. Jadi jam 10 nanti sudah bisa masuk kamar. Kamu jangan tidur dulu ya, tunggu mas . Karena mas mau minta sesuatu sama kamu" Ucap Satria sambil memainkan matanya.


Dinda tahu apa yang dimaksud oleh sang suami tidak pernah hanya tersenyum dan mengangguk pelan saja namun Dinda memberi syarat jika sampai jam 10 malam satria belum masuk kamar berarti dinda akan tidur lebih dulu. Dan yang diminta sang suaminya untuk malam ini akan hangus.


" Ingat lewat jam 10 jatahnya hangus " Ucap Dinda sambil berjalan keluar ruang kerja sang suami dengan melambaikan tangannya.


" Ok, mas akan masuk kamar tepat waktu. " Ucap satria dengan penuh keyakina.

__ADS_1


Di luar Dinda masih di depan pintu ruang kerja Satria, Dinda terkekeh melihat kelakuan sang suaminya. Dia sendiri juga heran kenapa bisa secentil itu dengan suaminya. Padahal biasanya saat suami bicara seperti tadi dia akan malu dan wahahnya akan merona seperti kepiting rebus.


**********


__ADS_2