Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Kecurigaan satria


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Satria baru saja terbangun dan dia melihat keselilingnya , dia tahu betul jika ini bukanlah kamarnya. Tetapi kamar rumah sakit kelas VIP. Satria mengingat - ingat kejadian kenapa dia bisa sampai rumah sakit. Diapun teringat jika saat itu rem mobilnya blong dan dia hampir menabrak motor lalu dia banting setir dan setelah itu dia tidak tahu lagi apa yang terjadi dan bangun - bangun dia sudah ada dirumah sakit.


Ceklekkk...


Pintu ruang perawatan terbuka dan masuklah dinda dan indra secara bersamaan.


" Mas satria ! Mas kamu sudah siuman, alhamdulillah mas sudah sadar. Mas indra tolong segera panggilkan dokter " Seru dinda dengan senang.


" Baik , aku panggil dokter dulu. " Ucap indra lalu secepat kilat dia keluar.


Indra dan nadin sama - sama lupa jika ada tombol khusus untuk memanggil dokter maupun suster. Bahkan indra sendiri bisa memanggil dokter menggunakan ponselnya.


" Mas, kamu mau minum ?" Tanya dinda dengan pelan.


" Iya sayang " Jawab satria dengan suara yang masih sangat pelan karena kepalanya masih terasa sakit.


Dengan telaten dan penuh kesabaran dinda mengambilkan satria minum. Pelan - pelan dia meminumkannya , satria menerima dengan senang perlakuan lembut istrinya.


" Kenapa mas bisa sampai sini sayang ?" Tanya satria pura - pura tidak ingat dengan kejadian yang sudah dialami.


" Mas 3 hari yang lalu kecelakaan. Apa mas lupa ? bahkan mas setelah 3 hari ini loh baru bangun " Ucap dinda dengan lembut.


" Apa ? Tiga hari ? Jadi selama 3 hari ini mas tidak sadarkan diri ?" Tanya satria kaget saat mengetahui jika dirinya tidak sadarkan diri sampai 3 hari.


Ceklekkk...pintu terbuka kembali dan kali ini indra datang bersama dokter Rehan. Satria sangat mengenali dokter rehan karena dia salah satu dokter terbaik dirumah sakit tempat dia dirawat. Dokter rehan juga dulu teman semasa Satria duduk di bangku SMP.


" Bagaimana kabarmu hari ini Tuan satria ? Apa kepala tuan masih terasa sakit ?" Tanya rehan dengan formal, bagaimanapun satria adalah pemilik rumah sakit tempatnya bekerja jadi dia harus profesional.


" Jangan formal begitu, panggil saja satria. Kepala ku masih terasa sakit Han, sebenarnya luka apa yang ada dikepalaku ini. Apa sangat serius ?" Tanya satria dengan serius.


" Baiklah, luka dikepalamu setelah di periksa tidak ada yang membahayakan ,dan tidak sampai membuat kamu hilang ingatan. Kalau sampai hilang ingatan , kasihan mbak dinda tidak kamu ingat. Oh iya, mungkin sakitnya karena kamu terlalu lama tidur dan baru saja bangun. Sudah tidak perlu takut, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mungkin untuk sementara kaki kiri kamu yang masih dipasang gif." Ucap dokter rehan menjelaskan.


Satria langsung melihat kearah kakinya dan benar saja, kaki kirinya masih terpasang gif untuk menopang kaki. Rehan menjelaskan jika kaki juga tidak perlu dikhawatirkan. Kaki satria akan bisa berjalan lagi dengan normal, tanpa harus takut pinjang.

__ADS_1


Kecelakaan yang dialami satria ini termasuk kecelakaan berat, karena mobil bagian depan saja hancur namun Allah masih melindungi satria. Satria juga baru ingat jika sebelum mobil menghantam pohom besar, satria lebih dulu keluar dari mobil dan pada akhirnya dia tidak sadarkan diri.


" Terimakasih pak dokter " Ucap dinda dengan ramah.


" Sama - sama mbak. " Jawab dokter rehan lalu keluar dari kamar rawat satria.


Karena sudah masuk waktu sholat dzuhur , dinda izin untuk kemushola rumah sakit dan menitipkan satria kepada indra. Indra mengangguk patuh, sebab dia juga penasaran ingin menanyakan soal kecelakaan yang menimpa satria.


" Apa yang terjadi sat?" Tanya indra saat dinda sudah benar - benar keluar.


" Aku juga tidak tahu Ndra, tiba - tiba rem mobilku blong dan sangat terpaksa aku banting stir untuk menghindari motor yang melaju kenjang . Aku heran kenapa mobilku tiba - tiba remnya blong " Ucap satria dengan heran.


" Apa tidak ada yang kamu curigai. Karena sebelumnya kamu meeting dengan Tuan Pramudia ." Ucap indra penuh selidik.


Satria menggeleng dan dia mulai mengingat kejadian sebelum dia kecelakaan. Satriapun ingat dan segera menceritakan semuanya kepada Indra, setelah mendengar cerita satria. Indra langaung bergerak dengan mencari bukti rekaman CCTV direstoran tempat satria terakhir kali berinteraksi dengan orang.


" Aku curiga kakak iparmu yang bernama rudi itu yang sengaja menyabotase mobilmu . Tapi tenang jangan sampai istrimu tahu lebih dulu masalah ini, jangan buat istrimu ikut merasa bersalah. Tapi kita akan mencari dulu bukti - bukti yang ada , agar bisa kita jadikan alat bukti agar si pelaku tidak bisa mengelak lagi. " Ucap indra sedikit berbisik sambil mata melirik kearah pintu, takut jika tiba - tiba dinda datang dan mendengar percakapan mereka .


" Aku minta kamu urus masalah ini, jika memang dia pelakunya. Biarkan saja dulu, aku akan meberikan hukuman saat kakiku sudah sembuh " Ucap satris dengab kesal.


" Baik aku akan cari tahu semuanya. " Ucap indra.


" Kamu bawa apa sayang ?" Tanya satria saat melihat istrinya mendekatinya.


" Oh ini makanan yang tadi aku beli di kantin mas, ini untuk mas indra sama aku saja. Mas belum boleh makan sembarangan dulu ya. " Ucap dinda memberitahu.


Padahal tidak ada larangan untuk satria makan - makanan dari luar, namun dinda ingin suaminya segera sembuh. Satriapun hanya mengiyakan ucapan sang istri agar dinda tidak banyak mengomel. Indra menerima makanan dari dinda dan memakannya.


" Terimakasih ya Din " Ucap indra .


" Sama - sama mas. Mas makan saja duluan, jangan lupa sholat dzuhur juga " Ucap dinda mengingatkan.


" Hehee... Iya din. Nanti habis makan mas mau ke mushola. Ini sudah terlanjur dibuka makanannya " Ucap indra sambil nyegir kuda.


Dinda mengangguk lalu dia duduk di kursi samping ranjang satria, menyuapi satria makan siang. Makanan yang diberikan dari rumah sakit, enak tidak enak pasti akan satria habiskan jika yang menyuapi sang pemilik hatinya.


Ceklekkk..


Pintu ruang rawat satria terbuka dan masuk dua manusia yang tidak tahu diri bahkan tidak punya sopan santun.


" Kalau masuk itu kertuk pintu dulu kenapa ? " Seru satria dengan kesal.

__ADS_1


" Heleh kami ini orang tua kamu jadi untuk apa harus mengetuk pintu terlebih dahulu. " Ucap rahma sambil melirik sinis dinda.


" Tapi kalau tadi masih ada dokter bagaimana ? Dimanapun tempat kalian harus menerapkan sopan dan santun. Agar tidak bikin malu saat kumpul sama yang lainnya, nanti bertamu tempat orang asal masuk saja " Kini indra ikut bicara.


Rahma dan kandar baru menyadari jika diruangan itu juga ada Indra yang sedang makan duduk di sofa paling pojok. Dinda sendiri memilih diam dan tidak mau berkomentar, dari tatapan ibu mertuanya dia sudah bisa menebak jika ibu mertuanya itu tidak menyukai dirinya.


" Apa kabar kamu Sat ? Apa masih ada yang sakit?" Tanya kandar mendekati satria.


" Sudah tidak ada lagi. Oh iya mana anak manja kalian itu ? Apa dia sudah dapat pekerjaan ?" Tanya satria.


" Hakim ada dirumah , mana dia kerja. Kamu sebagai pemilik perusahaan saja tidak mau memberinya pekerjaan yang layak dengan posisi yang tinggi. Dia itu adik kandungmuc, seharusnya kamu bisa memberikan pekerjaan yang bagus. Menejer atau kepala bagian gitu , masak adik sendiri kok mau dijadiin OB " Gerutu Rahma dengan kesal.


" Semua pekerjaan harus diawali dari Nol dulu, tidak ada yang instan. Lagipupa hakim itu tidak memiliki skil apa - apa jadi percuma dia punya jabatan tinggi kalau ujungnya cuma bikin perusahaanku bangkrut. Kalau perusahaan itu milik kalian ya tidak masalah hakim jadi menejer, tapi masalahnya perusahaan itu milikku ! Jadi harus ikut peraturanku !" Ucap satria dengan ketus.


Rahma dan kandar terlihat tidak suka dengan pernyataan Satria. Ucapan satria barusan seakan sama sekali tidak menghargai mereka dan hakim sebagai adik dan orang tuanya .


" Oh iya satria , kapan kami bisa menggendong cucu ? Katanya kalian ini sudah 2 tahun menikah tetapi sampai sekarang belum punya anak juga. Atau jangan - jangan istrimu bermasalah ?" Tanya rahma sambil melirik sinis kearah dinda .


" Apa maksud kalian ? Jika kalian mau cucu kenapa tidak mintak saka hakim saja ? Bukannya hakim sendiri sudah perna menikah selama 5 tahun ? Apa dia sudah memberi kalian cucu ? Jangan pernah menghina istriku jika kalian masih mau hidup, aku tidak segan - segan menghancurkan hidup kalian. Dasar tidak tahu malu !" Sentak satria dengan geram.


* Kenapa satria bisa tahu kalau hakim pernah menikah, jangan - jangan dia memang tahu kehidupan kami dulu. Jadi ucapannya yang kemarin itu bukan bualan saja, tetapi karena dia memang sudah tahu semua tentang kami. Sial !* Gumam rahma dengan geram.


Melihat satria yang sudah dikuasai oleh emosinya membuat indra mengusir kedua orang tidak tahu malu itu. Diliriknya dinda tertunduk sambil meneteskan air mata, indra tahu ucapan rahma tadi menyakiti perasaan dinda.


" Sekarang lebih baik anda berdua keluar karena jam besuk sudah habis, dan satria harus istirahat. Jangan buat saya bersikap kasar juga sama kalian berdua, aku juga menghentikan uang bulanan kalian." Ucap indra dengan tegas.


" Kamu kurangajar ya !" Seru kandar dan rahma bersamaan.


Indrapun berhasil membawa kedua manusia tidak tahu malu itu keluar kamar rawat satria. Lalu dia sendiri jufa kemushola rumah sakit untuk sholat dzuhur, dan membiarkan satria dan dinda berdua.


" Maafkan ucapan mama tadi ya sayang, aku yakin jika kita paati akan memiliki keturunan. Jodoh rezeki dan maut itu sudah ada yang mengatur " Ucap satria menggenggam tangan dinda dengan erat.


" Iya mas. Mas, bagaimana saat sudah sembuh nanti kita melakukan program hamil ? " Tanya dinda .


" Mas setuju sayang, tapi mas minta sama kamu kalau ucapan mama tadi jangan kamu fikirkan. Mas yakin kamu itu sehat, mereka hanya ingin membuat kita berpisah saja. " Ucap satria menyakinkan dinda.


" Iya mas " Jawab dinda dengan senyum mengembang.


Dindapun melanjutkan menyuapi suaminya yang tadi sempat tertunda karena kedatangan mama dan papa mertuanya.


**********

__ADS_1


__ADS_2