
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
" Kita ke Cafe dulu ya, Sayang? Mas belum makan sianf, selesai makan siang kita ketempat mas Reno."Seru Satria sembari tetap fokus dengan setir mobilnya.
Hari ini Dinda memang pulang dari kampus lebih lama 1 jam dari biasanya. Sebab tadi ada tugas tambahan yang harus segera dia selesaikan bersama teman - temannya.
" Iya mas. Ini juga sudah hampir jam setengah 2 siang, nanti ke toko mas Reno sorean tidak apa - apa mas. Aku juga mau cek laporan keuangan Cafe dulu." Jawab Dinda setuju dengan ajakan makan Satria.
" Ok." Jawab Satria singkat.
Sebenarnya saat ini Dinda masih kesal dengan kelakuan suaminya yang datang ke kampus untuk menjemputnya, tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Apalagi kedatangan Satria tadi sudah membuat para gadis-gadis heboh. Bahkan banyak gadis yang kagum dan ingin berkenalan secara langsung kepada Satria.
" Kenapa cemberut? Masih marah soal yang tadi?."Tanya Satria sembari melirik singkat ke arah Dinda.
" Tau lah, sudah fokus aja sama setir mobilnya. Jangan lirik sana-sini dulu."Jawab Dinda dengan kesel.
Hhhuuuufffttt
Satria membuang nafas dengan kasar, ternyata saat ini istrinya sedang cemburu dan merajuk. Satria melupakan jika wanita hamil itu moodnya mudah untuk berubah - ubah.
" Iya maaf ya istriku sayang. Tadi itu mas ingin membuat kejutan, sebab mas selama kamu kuliah belum pernah menjemput kamu. Maaf ya, bukan berarti mas mau tebar pesona sama para gadis. Istriku loh sudah cantik seperti bidadari jadi untuk apa mas tebar pesona."Ucap Satria mencoba menjelaskan.
" Hemmmm." Dinda hanya menjawab dengan sebuah deheman saja.
Satria tahu istrinya saat ini masih kesal, dia menyesal datang ke kampus tanpa memberitahu Dinda terlebih dahulu. Satriapun memilih diam, mungkin memang mood istrinya sedang tidak baik, dia memaklumi mungkin bawaan hormon kehamilan sang istri.
Mobil yang dikendarai satria sampai di depan Cafe, Satria turun lebih dulu dan berlari kearah samping untuk membukakan pintu mobil Dinda.
" Terimakasih suamiku."Ucap Dinda dengan senyum manisnya.
Haaaahhhhh?
Dalam hati Satria dia bersorak gembira sebab istrinya sudah tidak marah lagi. Dengan semangat Satria melangkah masuk ke cafe sembari mengenggam tangan Dinda dengan erat, semua pasang mata para pelanggan dan karyawan mengarah kearah Satria dan Dinda.
*Ternyata wanita hamil mood nya memang berubah - ubah. Tetapi dengan perhatiaan mood itu kembali membaik lagi, hemmm memang aneh.*Gumam Satria dalam batinnya.
__ADS_1
Dinda san Satria langsung menuju ruang kerja Dinda dan akan makan diruang kerjanya saja. Dinda sudah meminta karyawannya untuk mengantarkan makanan keruang kerjanya.
" Mas aku cek ini dulu ya, nanti kalau makanannya sudah datang kita makan sama-sama."Ucap Dinda sembari menunjukan map warna hijau kearah Satria.
" Iya sayang. Jangan capek-capek ya sayang, nanti dedek bayi didalam sini ikut capek loh." Jawab Satria sembari mengusap perut buncit Dinda.
" Iya mas, tidak capek kok. Sudah ahh jangan begini, malu kalau dilihat karyawan yang masuk." Seru Dinda lagi.
Dinda duduk di kursi kerjanya untuk memeriksa laporan keuangan, sedangkan Satria duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.
Makanan yang dipesan Dindapun kini sudah terhidang di atas meja. Dinda menghentikan aktifitasnya dan dia langsung menuju sofa untuk makan bersama dengan Satria. Kali ini Dinda meminta disuapin oleh Satria, dengan senang hati Satria menyuapi sang istri tercintanya.
" Sudah selesai belum tadi cek laporan keuangannya?."Tanya Satria dengan lembut.
" Belum mas. Aku bawa pulang saja lah, tadi karena susah lapar banget jadi tidak konsentrasi saat mengeceknya." Seru Dinda.
" Ya begitulah kalau perut lapar pasti mau mengerjakan sesuatu juga terganggu. Apalagi ada nyawa didalam sini yang harus kamu kasih makan, sehat - sehat ya istriku dan calon anakku." Seru Satria lagi.
" Aamiin." Seru Dinda mengaminkan ucapan Satria.
Hanya butuh waktu 10 menit makanan yang terhidang sudah berpindah tempat kedalam perut mereka berdua. Dinda benar - benar sangat kenyang, makan dengan disuapi sang suami terasa lebih enak dan nikmat.
" Terimakasih ya mas." Seru Dinda tiba-tiba.
" Untuk semuanya. Terima kasih kamu sudah hadir dalam kehidupanku dan menerima segala kekuranganku. Kamu tidak pernah lelah untuk selalu berada di sampingku. Terima kasih atas semua kebaikanmu selama ini mas, kamu sudah setia kepadaku. Padahal dulu keluargaku selalu menghinamu, selalu merendahkanmu. Tetapi semua itu tidak membuat kamu berniat untuk meninggalkanku. Aku sangat bersyukur mempunyai suami sebaik kamu mas, terima kasih."Ucap Dinda dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Dinda ingat betul bagaimana dulu para saudaranya menghina dan merendahkan Satria. Selalu menghina hidup miskina Satria, menghina pekerjaan Satria yang hanya sebagai pedagang cendol. Sampai para saudaranya pernah memintanya untuk meminta cerai dari Satria dan menikah dengan pria yang mempunyai harta berlebihan. Bahkan sang Ibu juga mendukungnya, namun kini semuanya sudah berubah. Suami yang dulu dianggap miskin ternyata seseorang yang kaya raya.
Satria membawa Dinda dalam pelukannya, dia,tahu betul bagaimana kehidupan mereka terdahulu. Justru disini Satria lah yang sangat bersyukur dan berterimakasih kepada Dinda. Dinda mau menerima segala kekurangannya, dulu mau menerima nafkah yang tak layak darinya.
" Sudah jangan bersedih lagi. Sekarang kita sudah memetik buah kesabaran dari apa yang selama ini kitq tanam. Buka mau menyombongkan diri, sekarang untuk harta kita punya lebih dari cukup. Para kakak mu juga sekarang sudah berubah, sudah ya jangan bersedih lagi nanti dedeknya ikut sedih. Yuk kita siap - siap ke tokonya mas Reno."Ucap Satria bicara dengan lembut sembari mengusap punggung Dinda.
" Iya mas, hampir saja lupa untuk datang ke tokonya mas Reno."Seru Dinda sembari menghapus air matanya.
Satria mengangguk dengan senyum lembutnya, Dinda dan Satriapun keluar dari ruang kerjanya. Tidak lupa dia memasukan map laporan keuangan kedalam tasnya yang akan dia cek saat nanti sudah berada dirumah.
*************
" Bagaimana hari pertama buka tokonya mas? " Tanya Dinda yang saat ini sudah berada di toko milik Reno.
Sekitar jam 4 sore Dinda dan Satria sudah sampai di toko milik Reno. Di toko masih ada beberapa pembeli yang sedang berbelanja, dan ada juga yang sedang membayar dan Cika yang melayaninya.
__ADS_1
" Alhamdulliah dari jam delapan sampai siang tadi ramai terus Din. Semoga seterusnya akan ramai begini, oh iya Rena sama ibu juga baru pulang kok. Tadi seharian Rena bantuin disini." Ucap Reno memberitahu.
" Alhamdulillah mas kalau ramai. Beruntung ada 3 karyawan, kalau cuma si Akbar sendiri pasti dia akan kualahan. Meskipun barang tinggal ambil sendiri - sendiri tetap saja repot kalau cuma akbar sendirian." Ucap Dinda sambil terkekeh.
Reno pun ikut tertawa sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Satria dan Dinda kagum dengan Reno, penataan barang di toko sangat rapi dan penempatannya sangat menarik.
" Yang menata barang siapa mas?." Tanya Satria.
" Yang menata ya sama - sama, Satria. Tapi untuk penempatannya masih melalui arahanku. Bagaimana ? Bagus dan menarik tidak?." Tanya Reno meminta pendapat dari Satria.
" Bagus kok mas. Aku suka, mas pintar. Dengan menempatkan bahan pokok yang biasa dicari ibu - ibu dibagian depan begini membuat suasana toko hidup dan memudahkan ibu - ibu yang belanja."Jawab Satria dengan serius.
Reno terlihat senang mendengar jawaban dari Satria, dengan begitu tidak sia - sia dia mempelajari ilmu marketing. Cukup lama Dinda dan Satria berbincang - bincang di toko dan melihat keadaan toko Reno, mereka pun memutuskan untuk segera pulang sebab hari sudah semakin sore.
Untuk hari pertama buka toko, Reno akan menutup tokonya sekitar jam setengah 6 sore dan akan buka kembali besok hari jam 8 pagi. Hari ini cukup melelahkan, Reno kasihan dengan para pekerjanya sehingga dia memilih tutup jam 6 saja. Untuk hari selanjutnya toko akan buka sampai jam 9 malam.
Hari pertama buka toko, Joni tidak bisa ikut membantu. Sebab Joni ada acara disekolahannya, Reno tidak masalah seban dia hanya ingin Joni fokus dengan sekolahnya saja dan tidak usah membantu di toko.
" Alhamdulillah hari ini dapat penghasilan 23 juta. Dan ini bonus untuk kalian." Ucap Reno kepada ketiga karyawannya.
Reno memberikan uang kepada Akbar, Manto dan Cika masing - masing 100 ribu. Uang itu bukan uang gaji, itu uang bonus karena hari ini mereka sudah bekerja dengan baik.
" Tapi nanti kita kan sudah dapat gaji pak? Kita juga sudah dapat yang makan." Seru Akbar merasa tidak enak seban toko juga baru pertama kali buka.
" Itu bonus untuk kalian, dan untuk gaji kalian akan aku berikan setiap tanggal 10. Uang makan 25 ribu cukup atau tidak?." Tanya Reno takut jika uang makan yang dia berikan terlalu kecil.
" Sudah lebih dari cukup pak." Jawab ketiganya serempak.
" Baiklah kalau begitu Untuk gaji akan saya bayarkan setiap tanggal 10 sesuai kesepakatan awal yang sudah kita bicarakan. Kalian sudah tahu kan nominal gaji kalian nanti berapa? Jika menurut kalian gaji itu tidak sesuai dengan pekerjaan kalian, kalian bisa protes dari sekarang."Seleru Reno bicara dengan serius.
Reno hanya tidak mau jika para karyawannya menggerutu di belakangnya. Jika memang gaji yang dia berikan terlalu kecil, Reno mau para karawanya untuk bicara secara langsung kepada Reno tanpa menggerutu di belakang. Reno tidak mau dianggap sebagai orang yang dzolim yang tega memeras keringat orang lain demi kepentingannya sendiri.
" Alhamdulillah gaji itu sudah cukup buat kita pak, itu juga sudah termasuk besar. Jika kami bekerja di luar toko bapak, mungkin kami tidak akan mendapatkan gaji sebesar itu. Apalagi kami ini mendapat uang makan juga."Jawab Cika dan disetujui oleh kedua temannya.
" Oh begitu ya sudah kalau memang menurut kalian gaji itu sudah cukup. Baiklah sekarang kalian boleh pulang, dan ingat besok datang sebelum toko buka ya. Kita bereskan semua barang-barang yang perlu kita bereskan, dan kita tambah barang-barang yang sudah habis di displaynya." Ucap Reno memberitahu.
" Baik Pak."Jawab mereka bertiga.
Reno dan ketiga karyawannya pun keluar dari toko, Reno terlebih dahulu menutup dan mengunci toko. Reno menggunakan kunci pengamanan ganda untuk tokonya, agar tidak mudah dibobol oleh tangan-tangan jahil.
"Alhamdulillah untuk rezeki hari ini.." Ucap Reno sebelum melajukan motornya.
__ADS_1
Motor Reno mulai meninggalkan pekarangan toko. Adzan maghrib juga sudah berkumandang, Reno melajukan motornya dengan pelan. Menempuh perjalanan sekitar 40 menit, motor Reno sudah sampai di depan rumah orang tuanya. Reno bergegas masuk, untuk segera mandi dan sholat maghrib.
**********