
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Alhamdulillah acara syukuran kelahiran anak Satria dan Dinda berjalan dengan lancar. Saat ini Raja genap 1 tahun, dan hari ini juga diadakan syukuran. Tidak banyak yang diundang, yang penting ucapan rasa syukur dan doa terbaik untuk Raja.
"Dinda, ini Raja sudah mengantuk. Lebih baik kamu bawa dia kekamar saja, kasihan dia sudah tidak kuat buka mata nih."Seru ibu Rahayu.
" Iya bu, sini Raja saya bawa kekamar saja. Sepertinya dia memang capek juga ini bu, apalagi sedari bangun jam 7 pagi tadi sampai jam 2 siang bolong begini belum tidur lagi."Seru Dinda lalu mengambil Raja dari gendongan ibunya, Rahayu.
Dinda permisi dan meminta yang lainnya untuk melanjutkan obrolannya, sedangkan dia akan menidurkan Raja terlebih dahulu. Jika siang Raja akan tidur dikamar pribadi milik Raja, sehingga pengasuhnya bisa bebas keluar masuk kamar itu. Jika malam hari Raja akan tidur dikamar Dinda dan full bersama Dinda dan Satria.
"Jadi beberapa hari yang lalu ada orang bikin ulah di toki, Satria. Aku yakin orang itu hanya ingin menjatuhkan nama baik toko ku saja, Satria. Aku mencari tahu orangnya tidak juga ketemu, dan tidak datang lagi ke toko. Oh iya, Sarah sudah bebas ." Seru Reno memberitahu Satria.
"Bebas? Siapa yang membebaskan dia mas? Pasti ini ulah Sinta dan Hakim !!"Seru Satria dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Mas Reno tahu darimana kalau Sarah sudah bebas?." Tanya Beni ikut penasaran.
Reno mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi hijau lalu menunjukan Chatt yang dikirim oleh Sarah dua hari yang lalu. Disana tertulis jika Sarah sudah bebas atas bantuan Hakim dan Sinta dengan jaminan uang 175 juta.
"Kenapa tidak ada yang memberitahu aku jika Sarah di bebaskan. Apa mungkin Indra sudah tahu dan dia tidak memberitahuku, hemm kemana juga anak itu? Padahal tadi ada disini, apa dia sudah pulang? Tapi itu masih ada Amara ?."Ucap Satria terus bermonolog sendiri sembari matanya mengitari setiap sudut ruangan mencari keberadaan Indra.
Pucuk di cinta ulampun tiba, Indra terlihat baru keluar dari arah belakang dan berjalan mendekati Satria dan yang lainnya.
"Darimana kamu?." Tanya Satria terlihat serius.
"Biasa habis setor."Seru Indra sambil terkekeh.
Satria yang masih dalam mode serius kesal dengan jawaban Indra yang justru terlihat bercanda. Satria menatap tajam Indra lalu dia menarik tangan Indra menjauh dari perkumpulan keluarga. Kini Satria dan Indra sudah ada di ruang kerja Satria, Indra baru menyadari jika Satria dalam mode serius.
Bugghhhh
__ADS_1
Tidak ada hujan dan tidak ada angin tiba-tiba Satria memukul Indra. Pukulan yang secara tiba-tiba itu sehingga Indra tidak bisa mengelaknya.
"Apaan ini Satria? Kenapa kamu memukul ku?." Tanya Indra tidak tahu apa salahnya Satria main pukul begitu saja.
"Jangan pura-pura bodoh kamu ! Kamu pasti tahukan kalau Sarah sudah bebas dari beberapa hari yang lalu tapi kamu sengaja tidak memberitahu ku !! Atau jangan-jangan kamu memang sengaja tidak mau memberitahuku, ohhh ternyata kamu masih cinta dengan wanita itu !"Seru Satria bicara dengan nada yang ketus dan raut wajah yang sangat sinis.
Apa? Sarah sudah bebas?
Indra juga tidak tahu jika Sarah sudah dibebaskan, jika dia tahu pasti dia akan memberitahu Satria dari awal. Tapi apa yang mau diberitahu jika Dia saja juga tidak tahu jika Sarah bebas.
"Sarah bebas ? Kapan? Aku tidak tahu jika wanita sialan itu sudah bebas Satria. Jika aku tahu pasti aku akan memberitahu kamu."Seru Indra menyakinkan Satria.
"Bohong ! Kamu pasti berbohong kan? Kamu pasti sengaja melindungi wanita sialan itu. Sudahlah Indra jujur saja jangan sok tidak tahu segala."Seru Satria semakin menuduh tanpa bukti.
Bughh.. Bughhh
Indra yang kesalpun tidak segan-segan memukul Satria. Dia tidak peduli meskipun Satria itu boss nya sendiri. Satria kenal Indra bukan hanya sehari dua hari, seharusnya bisa percaya dengan ucapan Indra.
"Kamu kira aku tidak bisa membalas mu. Aku sudah katakan jika aku tidak tahu kalau Sarah sudah bebas. Sekarang lebih baik kita ke kantor polisi saja untuk mencari tahu, atas dasar apa Sarah bisa bebas."Seru Indra dengan kesal.
Tanpa menunggu lama, Satria menyusul Indra yang lebih dulu keluar. Tanpa menghampiri dan berpamitan kepada istrinya, Satria langsung berlari menuju halaman depan dimana saat ini Indra sudah berada dalam mobil. Hanya Reno dan Beni saja yang tahu jika Satria dan Indra pergi, mereka yakin jika tadi pasti terjadi sesuatu antara Indra dan Satria.
"Seperrtinya mereka habis ribut mas? Apa perlu kita susulin mereka?." Tanya Beni khawatir.
"Tidak perlu. Biarkan saja mereka menyelesaikan masalahnya sendiri, pasti juga hanya salah paham. Sekarang aku yakin mereka sedang perjalanan menuju kantor polisi untuk memastikan kebebasan Sarah. Nanti kalau mereka meminta bantuan kita, baru kita bantu. Kalau sekarang lebih baik kita biarkan, kalau kita pergi semua nanti yang lainnya pasti akan lebih khawatir."Ucap Reno menjabarkan apa yang saat ini dia fikirkan.
"Hemm mas Reno betul."Jawab Beni singkat dan setuju dengan apa yang dikatakan oleh Reno.
Yang lainnya tidak ada yang menyadari kepergian Satria dan Indra. Sebab mereka berbincang dan berkumpul di teras belakang. Sehingga tidak bisa melihat aktifitas orang yang ada didalam rumah.
Mobil yang dikendarai Indra melaju dengan kecepatan sedang, meskipun mereka sama-sama sedang marah. Indra tidak mau mengendarai mobil dengan cepat yang akan membahayakan dirinya sendiri.
"Maaf soal yang tadi."Seru Satria lebih dulu meminta maaf, sebab dia memang merasa bersalah.
"Hemmm.. Kamu itu kenal aku bukan hanya sehari dua hari, Satria. Mana mungkin masalah seperti ini aku tidak memberitahu kamu."Seru Indra masih dengan nada suara kesal.
__ADS_1
"Iya aku tadikan sudah meminta maaf. Aku hanya heran kenapa Sarah bisa semudah itu bebas? Aku hanya tidak mau dia dendam dan akan mencelakai Dinda lagi."Ucap Satria dengan khawatir.
"Untuk saat ini sepertinya dia tidak akan berani mengganggu keluargamu. Justru aku khawatir, dia akan mengganggu rumah tangga Reno dan Cahaya. Dari chatt yang dia kirim saja sudah jelas bisa kita simpulkan jika Sarah ingin kembali dengan Reno. Namun meskipun begitu kita harus tetap waspada, sekarang yang kita hadapi bukan hanya Sarah, tetapi ada Sinta dan Hakim."Ucap Indra menjelaskan dan mudah dimengerti oleh Satria.
Mobil yang dikendarai Indra dan Satria kini sudah sampai didepan gedung kantor polisi. Mereka berdua langsung turun bersamaan dan segera masuk ke gedung kantor polisi.
"Selamat siang pak Satri, apa ada yang bisa saya bantu."Seru polisi dengan ramah menyambut kedatangan Satria dan Indra.
"Apa benar tahanan atas Nama Sarah irawati sudah kalian bebaskan?." Tanya Satria langsung pada inti tujuannya dia datang ke kantor polisi itu.
"Maaf silahkan duduk dulu pak, saya akan coba cek dulu datanya."Ucap Polisi itu dengan ramah.
Indra dan Satria duduk di kursi yang ada diseberang meja kerja pak polisi. Mereka menunggu hasil dari polisi yang ada didepannya, yang sedang mencari data di dalam laptopnya.
"Maaf pak, untuk tahanan atas nama Sarah irawati memang sudah bebas dari 5 hari yang lalu. Dia bebas dengan jaminan uang 175 juta dari saudara Sinta dan Hakim."Ucap polisi itu menjelaskan.
"Haahhh... ? Kenapa kalian main membebaskan dia begitu saja tanpa konfirmasi dengan ku terlebih dahulu. "Seru Satria dengan kesal.
"Maaf pak, kalau soal itu saya tidak tahu karena memang bukan bagian tugas saya. Yang tercatat disini, saudari Sarah bebas dengan jaminan uang dari saudara Hakim. Disini juga tercatat jika saudara Hakim sebagai adik kandung anda sendiri yang membebaskan saudari Sarah."Ucap pak polisi semakin membuat Satria geram.
Satria mengepalkan kedua tangannya, jika saat ini ada Hakim dihadapannya sudah pasti dia akan memukulnya sampai Hakim babak belur. Setelah memastikan Sarah yang memang sudah benar-benar bebas, Indra mengajak Satria untuk segera pulang. Tanpa banyak drama, akhirnya Satria pun ikut pulang dengan Indra.
"Kitakan tahu jika mereka mempunyai usaha yang pasti akan membawa Hakim dan Sinta masuk penjara, kenapa kita tidak laporkan saja mereka. Lagipula kita masih punya bukti-buktinya."Seru Indra memberikan saran.
"Tidak sekarang. Aku akan buat perhitungan dengan mereka terutama dengan Hakim. Jika langsung kita laporkan aku tidak puas, seperti Sarah ini. Seharusnya aku sekap saja sampai dia benar-benar menyesal dan teesiksa. Apalagi Hakim, anak itu jika dibiarkan semakin kurangajar, belum lama ini atau sekitar 3 hari ini dia menemui nenek dan meminta uang. Dan bodohnya, nenek memberikan uang itu kepada Hakim, meskipun hanya 50 juta aku seakan tidak ikhlas memberikan uang itu. Namun nenek kasihan dengannya, dia datang memelas sehingga nenek tidak tega."Seru Satria dengan kesal.
"Lantas apa rencana kamu sekarang?." Tanya Indra.
"Kita lihat nanti, jika mereka masih saja mengganggu kehidupanku. Tanganku ini akan membalasnya terlebih dahulu sebelum dia masuk penjara."Seru Satria dengan penuh penekanan.
Hhhuuffff
Terdengar helaan nafas keluar dari alat pernafasan Indra. Apa saja yang dikatakan Satria, dia iyakan saja tanpa mau berkomentar. Memang ada benarnya juga, sebelum polisi tangan-tangan mereka sendirilah yang akan memberikan pelajaran kepada Hakim dan dua wanita pendukungnya.
***********
__ADS_1