
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
" Hai kamu ini bisa nya cuma makan tidur saja, Hakim!! Katanya kamu mau membantu aku untuk membalas dendam kepada Satria. Bukannya kamu juga punya dendam dengan Satria ? Lantas kamu kapan mau bertindak ?." Seru Sinta dengan kesal.
Sudah dua,seminggu lebih Hakim tinggal dengan Sinta namun Hakim hanya makan tidur saja. Tidak ada mau memikirkan cari pekerjaan sama sekali dan itu membuat Sinta semakin kesal dan geram, terlebih tiga hari yang lalu Hakim dan Sinta sudah menikah secara siri. Hakim lebih memilih menikah siri dengan Sinta lantas Hakim tidak mungkin terus menerus tinggal dengan Sinta tanpa ikatan.
Pikiran Hakim juga picik dia mengikat Sinta dalam tali pernikahan meskipun secara siri, agar Sinta terikat dengannya dan dengan mudah Hakim memanfaatkan Sinta dan uangnya.
" Sabar sayang, bukannya uang kamu banyak? Dan kamu juga tidak capek - capek bekerjakan? Yang kerja para anak buah mu dan setiap malam kamu bisa mendapatkan uang dari 10 - 15 juta. Soal pekerjaan gampang, aku sudah memikirkan soal pekerjaan. Lebih tepatnya bukan pekerjaan, tetapi kita buat usaha perjudian dirumah ini. Lahan belakang itukan luas? Bagaimana kalau kita pakai untuk usaha perjudian saja." Seru Hakim mempunyai ide yang gila.
Sama sekali tidak kapok dan jera, sudah pernah dipenjarapun tidak membuat Hakim jera. Sinta terlihat memikirkan apa yang dikatakan oleh Hakim, namun semua itu harus punya biaya yang cukup. Kalau tabungannya untuk buka usaha itu sudah pasti akan berkurang banyak.
" Kamu kira tidak pakai modal?." Seru Sinta dengan mata melotot.
" Tidak banyak sayang. Kita hanya siapkan meja kursi dan perlengkapan judinya saja. Kita sekaligus bisa menjual minuman, jadi untung kita akan dua kali lipat. Bagaimana? Briliant kan ideku?." Tanya Hakim dengan senyum bangganya.
* Apa yang dikatakan Hakim memang ada benarnya juga sih, kalau aku juga menyediakan tempat perjudian serta miras sudah pasti untungku akan dua kali lipat. Dan tempat ini juga akan semakin ramai. Dengan begitu tempat panti pijat ini juga banyak diminati orang, selain bisa pijat dengan layanan plus mereka juga bisa bermain judi, bisa minum alkohol dan bisa mendapat pelayanan dari para karyawanku juga. Heemm oke juga ide si Hakim ini.*Gumam Sinta dalam batinnya.
Hakim terlihat tersenyum ke arah Sinta, dia merasa bangga karena idenya pasti akan diterima oleh Sinta. Apalagi ada kemungkinan mereka bisa meraup keuntungan yang lebih besar daripada cuma menyediakan panti pijat dengan layanan plusnya saja.
__ADS_1
Dengan begitu Hakim tidak repot-repot bekerja, tinggal duduk manis saja sudah menerima uang setiap harinya. Itulah Hakim, yang memang tidak mau bekerja keras ataupun bekerja dengan berat. Yang dia mau bekerja dengan santai dan uang datang dengan sendirinya.
" Modalnya berapa ?." Tanya Sinta mulai tergiur dengan ide dari Hakim.
" Kalau untuk tempat judinya sendir sih, kemungkinan hanya beli meja kursi mungkin 10 juta cukup. Untuk tempatnya sendir memang sudah Ok kan, halaman belkang luas dan tertutup juga dengan pagar sudah tinggi. Sudah semacam Gor saja, mungkin yang besar itu untuk minumannya. Tapi jangan khawatir kita bisa menyediakannya secara bertahab." Ucap Hakim yang memang sudah mempunyai pengalaman.
Sinta mengerutkan keningnya, dia merasa heran dengan Hakim. Sebab Hakim tahu semua soal apa saja yang harus dipersiapkan. Namun Sinta tidak ambil pusing, dia mengiyakan saja apa kata Hakim. Siapa tahu setelah ini Sinta akan semakin kaya raya dan bisa segera menghancurkan Satria.
" Ok, aku setuju dengan ide kamu. Besok kita belanja, cari meja kursi dan perlengkapan yang lainnya. Sekarang lebih baik kamu beli makanan saja sana, ini sudah waktunya makan siang bahkan sudah lewat dari makan malam. " Seru Sinta memerintah Hakim.
Tanpa menolak Hakim pun mengiyakan perintah dari Sinta. Sebab dia tidak mau membuat Sinta marah dan tidak memberi dia uang. Untuk makan siang kali ini, sengaja Hakim yang membelinya menggunakan uang yang ada di dompetnya. Tentunya tetap juga uang pemberian dari Sinta, sisa membeli bensin tadi pagi.
* Terserah Sinta mau bagaimana, yang pasti aku saat ini ada tempat untuk berteduh dan ada orang yang mau memberiku uang. Jadi untuk sementara ini aku ikuti saja apa kata Sinta, daripada dia marah dan tidak memberiku uang. Kan aku juga yang akan susah.*Gumam Hakim dalam batinnya.
************
" Jadi Hakim saat ini bersama Sinta?." Tanya Satria seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Indra.
" Iya, dari semenjak dia keluar dari penjara itu. Mereka berkenalan saat dirumah kamu. Aku sudah pernah cerita sama kamu kan? Sepertinya mereka memang sengaja berkongsi untuk menghadapi kamu, tapi kamu tenang saja Hakim tidak akan bisa apa-apa tanpa orang tuanya. Bukannya dulu dia itu anak mama yang selalu berlindung di bawah ketiak mamanya."Seru Indra sembari terkekeh.
Satria mencernaa semua yang diktakan oleh Indra. Apa yang dikatakan Indra memang benar jika selama ini Hakim hanya anak manja yang selalu berlindung dibawah ketek mama papanya. Namun Satria tetap waspada apalagi saat ini Hakim dan Sinta bersatu.
" Oh jadi ini alasan kamu tidak mau menambah penjaan dirumah. " Seru Satria.
" Bukan tidak mau ditambah, aku tambah kok tapi cuma dua. Lagi pula aku tahu sepak terjang Hakim, dia tidak akan berani apa - apa tanpa kedua orang tuanya. " Jawab Indra dengan santainya.
__ADS_1
" Terserah hidup dia mau bagaimana yang penting aku sudah mengikuti kemauan nenek agar membebaskan Hakim supaya dia tidak terjerat dengan hukuman yang lama. Nenek hanya tidak mau lagi menghabiskan masa mudanya di penjara. Kalau menurutku sih lebih baik dia masuk penjara saja biar tidak menjadi sampah masyarakat, namun nenek mempunyai pemikiran lain. Bagaimanapun dia cucunya juga, sehingga nenek ingin Hakim bebas. Terserah diluaran sana dia mau hidup seperti apa yang penting tidak mengganggu hidupku dan keluargaku. "Seru Satria sambil memandang kearah luar jendela ruangannya.
Satria berdiri di depan jendela ruangannya dengan pandangan lurus kedepan. Dia memandang hamparan bangunan yang menjulang tinggi - tinggi. Fikirannya teringat dimana dulu dia dan Dinda hanya hidup dengan mengandalkan hasil dari penjualan cendol. Dulu hidupnya seperti tidak ada masalah, masalah hanya datang dari orang - orang yang menganggapnya miskin. Tidak ada orang yang memperebutkan harta, seperti kehidupannya saat ini. Sampai kedua orang tuanya dipenjara juga berawal dari harta sehingga masalah lama harus Satria korek juga.
" Aku rindu dengan kehidupanku yang dulu, Ndra. Aku ingin hidup sederhana seperti dulu tanpa ada orang yang tahu siapa aku yang sebenarnya. Apa rindu saat - saat aku dan dinda makan hanya dengan sayur bayam. Terkadang kami juga makan pakai kecap dan kerupuk." Seru Satria mengenang masa - masa sulitnya dulu.
" Kalau kamu kembali ke masamu yang beberapa tahun yang lalu, lantas perusahaan dan usaha kamu siapa yang mau menjalankan? Aku sudah tidak sanggup Satria, jika harus menghandel semuanya sendiri. Usaha dan perusahaanmu ini semakin hari semakin berkembang. Kecuali, jika kamu mau memberikan setengahnya untukku."Ucap Indra sembari terkekeh.
" Kalau kamu mau dan kamu bisa menghandel semua uasaha dan perusahaanku tidak masalah. Aku rela memberikannya kepadamu dengan catatan kamu mampu dan bisa mrngurusnya. "Ucap Satria dengan serius.
Indra langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia hanya bercanda, selama ini Satria dan Nenek sudah sangat baik kepadanya jadi tidak mungkin dia mau meminta imbalan dengan setengah harta Satria. Indra sudah dianggap cucu oleh nenek Murni saja dia sudah sangat bahagia. Nenek juga yang sudah menyekolahkannya sampai dia mendapat S2 nya sama seperti Satria. Meskipun hanya cucu angkat, nenek memperlakukan antara Satria dan Indra sama. Tidak ada yang dibedakan sama sekali.
" Hemm... Sudah jak 1 siang Satria, kita belum makan siang. Mau makan siang tidak kamu?." Tanya Indra mengingatkan Satria untuk makan siang.
" Aku mau ke Cafenya dinda saja. Sekalian mau kedokter kandungan untuk USG calon anakku. Seharusnya sudah dari beberapa hari yang lalu tetapi karena dokternya masih ada seminar diluar kota jadi Dinda meminta ditunda saja. Ada dokter penggantinya, tetapi pria. Dinda kurang nyaman jika sama dokter pria, mungkin bawaan bayinya ya Ndra yang tidak mau sama dokter pria." Seru Satria dengan senyum mengembang menceritakan soal calon anaknya.
" Wahhh jadi ingin segera punya babby juga. Pasti seru ya, kalau kita pulang bekerja terus disambut sama anak istri." Seru Indra menghayalkan sebuah keluarga yang harmonis.
" Hhuuuu.... Menikah dulu baru punya anak. Jangan macem-macem kamu sama Amara. Sebab yang kamu hadapi langsung Nenek. Sok - sokan dulu menolak dan soj jual mahal. Ternyata dia jatuh cinta juga sama amara. "Seru David sambil memukul lengan Indra pelan.
Heheheeeee Heeeee
Indra hanya tertawa sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa yang dikatakan oleh Satria memang benar, dulu dia tidak mau dengan Amara. Jika bertemu yang ada ribut dan saling adu mulut, namun siapa sangka mereka sekarang saling mencintai.
*************
__ADS_1