
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Jam 5 sore Dinda sudah pulang dari rumah sakit dengan catatan Dinda harus banyak istirahat dan tidak boleh capek. Nenek Murni sangat bahagia mendengar kabar kehamilan Dinda.
Dinda maupun Satria belum memberitahu pak Karim dan ibu Rahayu soal kehamilan Dinda. Dinda berencana nanti akan datang sendiri kerumah orang tuanya untuk memberitahu mereka.
" Selamat ya sayang, dan terimakasih akhirnya kamu hamil anak dari cucuku yang bandel ini." Seru nenek Murni sembari mencubit lengan Satria.
" Sama - sama nek." Jawab Dinda sembari memeluk nenek Murni dengan hangat.
Nenek Murni menemani Dinda beristirahat dikamarnya. Sedangkan Satria keluar dari kamar, ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Indra. Indra sudah menunggu di ruang kerja Satria.
" Ada apa Ndra? Apa ada hal yang penting sampai kamu meminta bicara disini?" Tanya Satria setelah duduk disamping Indra.
" Iya. Ini soal Rudi kakak iparmu itu. Aku sengaja mengajak mu bicara disini agar Dinda tidak mendengar pembicaraan kita. Hemm... Rudi masuk rumah sakit. Dia harus larikan kerumah sakit karena mencoba bunuh diri dengan menyayat tangannya menggunakan sendok yang dia tajamkan." Ucap Indra menjelaskan.
Deg...
Satria benar - benar terkejut bahkan dia langsung terdiam. Tidak menyangka jika Rudi akan senekat itu apalagi dia melakukan didalam penjara. Satria tidak bisa membiarkan hal ini terus berlarut - larut. Dia takut jika kabar ini sampai ditelinga Dinda, Satria tidak ingin istrinya menghawatirkan keadaan kakaknya.
" Terus sekarang bagaimana keadaannya ?" Tanya Satria terlihat khawatir.
" Rudi kritis, dia dirawat dirumah sakit dekat kantor polisi. Apa kamu ingin kesana ?" Tanya Indra.
" Kita kesana sekarang. Aku punya firasat yang tidak enak , seperti akan ada sesuatu terjadi dengan mas Rudi. Kamu tunggu di mobil aku mau pamit dengan istriku dulu." Seru Satria lalu bangkit dan berjalan menuju kamar pribadinya dimana Dinda saat ini sedang beristirahat ditemani sang nenek.
Ceklekkk... Pintu terbuka dan Satria berjalan mendekati Dinda yang sedang berbaring dan nenek yang duduk disamping Dinda.
__ADS_1
" Ada apa mas ?" Tanya Dinda ketika Satria sudah mendekat dan terlihat sekali kecemasan diwajahnya.
" Iya ada apa Satria? Kok kamu cemas begitu?" Tanya nenek ikut bertanya juga.
" Emmm.. Tidak ada apa - apa kok. Dinda , Nenek aku keluar dulu ya. Ada klien dari luar negeri yang harus segera aku temui soalnya nanti malam beliau sudah harus pulang ke negaranya. Tidak apa - apakan sayang kalau mas tinggal dulu dan ditemani nenek saja.?" Tanya Satria dengan hati - hati.
Dinda dan nenek saling pandang, mereka mengira ada sesuatu yang urgent sehingga Satria terlihat panik seperti itu. Dinda menganggukkan kepalanya sebagai tanda jika dia tidak apa - apa ditinggal bersama neneknya.
" Sudah kamu pergi saja tidak apa - apa. Biar nenek yang temani Dinda. Tapi ingat pulang jangan malam - malal ya Satria, istri kamu itu sedang hamil jadi kalau malam usahakan kamu sudah ada dirumah." Nenek murni berpesan.
" Iya nek. " Jawab Satria singkat.
Satria dan Indra langsung melesat menuju rumah sakit dimana Rudi saat ini dirawat. Fikiran Satria saat ini benar - benar kacau, dia takut terjadi sesuatu dengan Rudi. Jika sampai Rudi kenapa - kenapa tidak tahu lagi bagaimana dia akan menjelaskab kepada mertuanya. Setelah hampir satu jam perjalanan mobil yang dikendarai Indra sudah sampai dirumah sakit, Satria ldngsung turun dan menuju kamar rawat Rudi.
" Bagaimana keadaan kakak ipar saya Pak?" Tanya Satria kepada Polisi yang berjaga didepan kamar rawat Rudi.
" Pasien kritis pak. Barusaja Dokter masuk untuk memeriksa lagi, sepertinya terjadi sesuatu dengan pasien." Jawab polisi itu.
Satria menghela nafas dengan berat, dia benar - benar khawatir sampai Rudi tidak bisa diselamatkan dan pasti dia akan merasa bersalah sekali. Padahal dia sudah berniat dalam minggu ini akan membebaskan Rudi.
" Maaf pak, apa ada yang bernama Satria.?" Tanya dokter saat pintu terbuka.
" Saya yang bernama Satria dokter?" Jawab Satria cepat.
" Pasien ingin bicara dengan anda, silahkan masuk." Seru dokter.
Satria memandang kearah Indra, Indra menepuk punggung Satria lalu meminta Satria untuk segera masuk nenemui Rudi. Satria akhirnya masuk keruangan di temani oleh dokter tadi. Rudi terlihat lemas dan wajahnya pucat seperti tidak ada darah yang mengalir ditubuhnya.
" Sa.. Satria ! Ma.. Maafkan aakuu " Ucap Rudi terbata - bata.
" Mas aku sudah memaafkanmu. Mas Rudi harus sembuh, karena aku akan segera membebaskan mas Rudi. Kenapa mas Rudi bisa nekat begini?" Seru Satria memegang tangan Rudi dengan bergetar.
" Aakuu banyak salah. Titip Hana , bimbing dia menjadi anak yang baik. Jangan sampai Hana diasuh Sinta. Sampaikan maaf ku untuk Dinda dan bapak. " Ucap Rudi masih dengan suara terbata-bata.
__ADS_1
Ttiiiiitttt
Tiba - tiba nafas Rudi tersengal - sengal dokter dan perawat langsung memberikan pertolongan. Namun sepertinya Allah berkehendak lain, Rudi sudah meninggal dunia dan dia sempat meminta maaf terlebih dahulu kepada Satria.
" Mas, mas Rudi. Bangun mas, jangan seperti ini mas." Seru Satria memanggil - manggil Rudi sembari menggoyangkan tubuh Rudi namun sayang Rudi sama sekali sudah tidak merespin sebab Rudi sudah meninggal.
" Pasien sudah meninggal pak. Kami dari tim dokter ikut berbela sungkawa." Ucap dokter.
" Terimakasih pak." Ucap Satria sambil mengucap air mata yang tanpa sengaja mengalir dari matanya.
* Sebenarnya apa yang membuat mas Rudi sampai nekat mengakhiri hidupnya. Dan kenapa Rena tidak boleh dalam asuhan Sinta.* Gumam Satria dalam hatinya.
Satria keluar dari kamar perawatan Rudi dan menghampiri Indra serta menceritakan apa yang sudah terjadi dengan Rudi. Mendengar kabar kematian Rudi membuat Indra juga kaget. Indra dan Satria lalu mengurus semua syarat kepulangan jenazah Rudi. Satria dan Rudi pulang lebih dulu kerumah pak Karim untuk menyampaikan berita duka kepada mertuanya.
" Apa jadi Rudi sudah meninggal?" Tanya Pak Karim dengan mata berkaca - kaca.
Anak pertamanya yang seharusnya dia banggakan kini sudah pergi untuk selamanya. Ibu Rahayu menangis tersedu - sedu bahkan dia menyalahkan Satria atas apa yang terjadi dengan Rudi. Hana menangis dalam pelukan pak Karim, sedangkan Sinta tidak tahu kemana dia. Sudah dua hari ini Sinta memang tidak pulang kerumah mertuanya.
" Dasar pembunuh ! Kamu sudah membunuh anakku Satria !" Teriak Ibu Rahayu dengan lantang dengan tatapan tajam kearah Satria.
" Jangan menyalahkan Satria bu. Ini semua takdir, semua manusia pasti akan mengalami kematian. Kita semua tinggal menunggu giliran saja bu, jadi jangan pernah menyalahkan Satria. Rudi meninggal karena dia mencoba untuk mengakhiri hidupnya sendiri, mungkin memang ini jalan takdir untuk Rudi." Ucap Pak Karim dengan keras menentang istrinya yang justru menyalahkan Satria.
Satria hanya diam saja, sepatah katapun dia tidak mengucapkannya. Dia diam dan menerima setiap amarah dari ibu mertuanya. Namun saat matanya menatap Hana , tiba - tiba saja Satria ikut meneteskan air matanya. Satria beralih mendekati Hana lalu memeluk keponakannya itu.
" Maafkan Om Hana." Seru Satria sembari memeluk Hana.
" Om Satria tidak salah. Ini semua sudah takdir dari Allah, mungkin memang cara ini kepergian papa Om. Hana memang sedih karena Hana belum bisa membahagiakan papa, mamapun sudah dua hari ini tidak ada Om." Seru Hana sambil terisak.
* Oh iya kemana mbak Sinta kenapa dia tidak ada ? * Gumam Satria dalam hatinya.
Tidak menunggu lama mobil Ambulance yang membawa jenazah Rudipun sudah sampai di rumah pak Karim. Ibu Rahayu menangis menyambut kedatangan sang anak pertamanya.
*******
__ADS_1