Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Hakim bebas


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Sudah 5 hari berlalu, Satria masih ada di luar negeri dan akan pulang 2 hari lagi. Selama 5 hari ini Dinda dan Satria melakukan komunikasi lewat panggilan telepon dan video call saja. Dinda juga sudah memberitahu jika Sinta masih saja mencari Hana, untuk sementara waktu Satria meminta agar tidak berbicara jujur kepada Sinta biarkan nanti sepulangnya dari luar negeri dia akan memberitahu Sinta jika saat ini Hana sudah di luar negeri untuk menempuh pendidikannya.


Hari ini juga Satria mendapatkan kabar dari Indra, jika Hakim adik Satria sudah keluar dari penjara. Satria meminta Dinda untuk berhati-hati terhadap Hakim, jika terjadi sesuatu segera diminta untuk menghubungi Indra terlebih dahulu.


[ Jadi Hakim sudah keluar dari penjara Mas?.] Tanya Dinda ingin lebih memastikan pendengarannya kembali.


[ Iya sayang, menurut Indra hari ini Hakim keluar dari penjara. Mas minta sama kamu agar kamu hati-hati jika bertemu dengan hakim. Mas khawatir anak itu akan melakukan kejahatan kepada keluarga Mas, terutama kamu dan nenek. Sepertinya Mas akan menambah penjagaan rumah selama Mas di luar negeri.]Ucap Satria memberitahu Dinda.


[ Iya Mas aku setuju sama kamu.]


[ Baiklah sayang kalau begitu teleponnya mas tutup dulu ya. Mas mau menghubungi Indra meminta dia menambah keamanan dirumah.]


[ Iya mas, tapi jangan berlebihan ya. Aku yakin si Hakim tidak akan berani macam - macam.]


[ Iya sayang hanya 2 orang saja, jadi kalau yang 2 istirahat yang 2 bisa berjaga. Atau kamu mau disediakan bodyguard juga ?.]


[ Tidak perlu mas. Aku ada pak sopir yang kemanapun aku pergi dia juga ikut.]


[ Ok deh kalau begitu. Assalamualaikum ]


[ Waalaikumsalam.]


Sambungan teleponpun terputus, dinda kembali meletakkan ponsel di tasnya dan melanjutkan acara makan siang nya. Saat ini Dinda sedang berada di Cafe, meskipun di cafenya menjual aneka makanan. Kali ini justru Dinda meminta karyawannya untuk membelikan bakso yang memang cafenya tidak menjualnya.


Selesai menghabiskan baksonya Dinda memilih segera pulang untuk menemani nenek yang saat ini ada dirumah sendirian.


" Pak langsung pulang saja ya ." Seru Dinda kepada sopir pribadinya.


" Siap mbak. Oh iya tadi pak Satria berpesan kalau mbak Dinda untuk sementara kalau keluar - keluar harus hati - hati. Khawatir jika Hakim akan berusaha melukai mbak Dinda,jadi misal mbak mau ke supermarket saya harus ikut masuk. Tidak boleh hanya menunggu di mobil saja mbak." Seru pak Sopir menyampaikan pesan Satria.


" Iya pak. Tapi saya yakin Hakim tidak akan berani macam-macam apalagi kedua orang tuanya ada dipenjara." Ucap Dinda yakin.


Pak sopir hanya mengangguk saja mendengar jawaban dari Dinda. Namun dia akan tetap mengikuti apa yang diperintahkan oleh Satria. Pak sopir mulai menghidupkan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan pekarangan Cafe.


Mobil kini sudah berhenti didepan gerbang rumah Satria dan dengan segera pak sopir membukakan pintu untuk mobil sang tuan rumah.


" Bapak boleh istirahat nanti kalau ada perlu atau saya mau pergi pasti saya panggil bapak." Ucap Dinda dengan ramah.


Baru saja Dinda ingin melangkahkan kakinya masuk kerumah dia dikagetkan dengan seseorang yang berteriak dari luar gerbang. Dinda langsung berbalik badan dan melihat kearah gerbang yang sudah tertutup rapat. Dari suaranya Dinda bisa mengenali jika itu Sinta, tidak ada pilihan lain selain Dinda menyuruh Sinta untuk masuk kerumah.


" Pak buka saja pintu gerbangnya dan persilhakan mbak Sinta masuk. " Ucap Dinda kepada pak Satpam yang ada didekat pintu gerbang.


Satpam itupun mengikuti perintah Dinda dan membuka pintu gerbang dengan lebar agar mobil Sinta bisa masuk. Dengan segera Sinta melajukan mobilnya dan berhenti tepat di depan rumah, dia turun dengan angkuhnya dan menghampiri Dinda yang masih berdiri di teras rumah.


" Susah banget sih menemui kamu." Seru Sinta dengan kesal.


" Ada apa mbak ? Kita bicara didalam saja ya mbak. " Ajak Dinda dengan ramah dan sopan.


" Iya dong, gerah tahu kalau bicara diluar begini mana panas banget lagi. Kamu bilang sama pembantu kamu untuk menyiapkan minuman yang segar - segar karena aku haus banget." Seru Sinta dengan nada angkuh dan sombongnya.

__ADS_1


Dinda mengangguk dan segera masuk kerumah, dengan segera dia memerintahkan ART nya untuk membuatkan minuman segar dan menghidangkan makanan ringan untuk tamunya.


" Nenek sudah makan siang?" Tanya Dinda saat mendapati neneknya ada di ruang keluarga sedang membaca majalah kesukaannya.


" Sudah sayang tadi nenek makan bareng sama yang lainnya Kamu sendiri sudah makan apa belum?."Tanya nenek dengan lembut.


" Sudah nek, tadi sepulang kuliah Dinda mampir ke cafe. Tetapi Dinda di sana makan bakso yang ada di seberang jalan, tadi Dinda suruh karyawan untuk membelikannya. Mungkin karena efek hamil jadi Dinda ingin sekali makan bakso." Jawab Dinda sambil tersenyum dengan manis.


" Tapi jangan lupa nanti makan nasi ya, kasihan nanti bayi kamu kekurangan gizi. Ibu hamil jangan sampai kelaparan. Oh iya nenek masuk ke kamar dulu ya, mau istirahat. Tidak apa-apa kan nenek tinggal ? Soalnya mata nenek sudah lengket sekali mau tidur siang." Seru nenek sambil tertekeh.


Dinda mengangguk sambil tersenyum manis, dia tidak masalah jika nenek mau istirahat. Mungkin tubuh tuanya memang harus banyak beristirahat. Sebenarnya pulang dari Cafe Dinda juga ingin sekali tidur siang, namun ternyata ada Sinta yang datang. Jadi mau tidak mau Dinda pun menemui Sinta terlebih dahulu. Setelah nenek masuk kamar, Dinda keluar ke ruang tamu untuk menemani Sinta.


" Lama amat sih kamu? di dalam ngapain aja?."Tanya Sinta dengan ketus.


" Maaf mbak, tadi aku lagi menemui nenek. Sekarang nenek sudah masuk kamarnya jadi aku bisa menemui kamu. Ada hal apa yang membuat mbak Sinta datang ke sini ? Kalau ingin menanyakan soal Hana, nanti saja tunggu 2 hari lagi saat dia pulang. Mbak boleh datang ke sini untuk menemui dia." Ucap Dinda berbohong padahal dua hari lagi yang akan pulang adalah Satria sedangkan Hana tetap tinggal di sana untuk bersekolah.


Sinta tahunya Hana saat ini sedang ada di luar kota, sedang mengikuti kegiatan dari sekolah yang dia ikuti. Namun nyatanya sebenarnya saat ini Hana sudah berada di luar negeri dari 5 hari yang lalu. Beruntung sekali Sinta tidak mengenal teman-teman Hana, jadi Sinta tidak mencari tahu soal kebenarannya melalui teman Hana.


" Aku hanya ingin tahu keberadaan Hana. Pasti kamu sengaja menyembunyikan Hana kan? Sengaja mengganti nomor ponsel Hana agar aku tidak bisa menghubungi dia. Kamu ini licik Dinda, aku itu lebih berhak atas apa yang ada pada Hana. Sekarang mana nomor Hana atau nomor guru pembimbing Hana, pasti setiap kegiatan ada guru pembimbingnya kan?" Seru Sinta sepertinya mulai curiga dengan Dinda.


Baru juga Dinda ingin nenjawab, namun tiba - tiba pak Satpam datang masuk menemui Dinda mengatakan jika di luar ada Hakim yang ingin bertemu dengan Dinda ataupun nenek. Dinda merasa kasihan dengan hakim akhirnya dia menyuruh Hakim untuk masuk asalkan dia berjanji tidak membuat kekacauan.


" Dia boleh masuk, asalkan dia mau berjanji tidak akan membuat kekacauan di dalam." Seru Dinda berbicara kepada satpam yang berjaga di rumahnya.


" Baik mbak akan saya sampaikan kepada Hakim." Jawab satpam dengan singkat.


Satpam pun berlalu dan membukakan pintu gerbang untuk Hakim. Dengan segera Hakim berjalan masuk menuju pintu utama yang saat ini masih tetap terbuka sebab ada Hana dan Sinta yang berada di ruang tamu.


" Siapa Hakim?" Tanya Sinta ingin tahu.


" Oh.. Satria itu punya adik? Kenapa aku baru tahu? Memangnya selama ini dia ada dimana?." Tanya Sinta semakin penasaran.


" Baru keluar dari penjara." Jawab Dinda singkat.


Deg


Sinta langsung diam , fikirannya sudah melanglang buana diluaran sana. Dia menganggap jika adik Satria adalah orang jahat, dengan perawakan yang besar dan menyeramkan. Seperti postur tubuh Badar pria yang saat ini sudah mendekam dipenjara.


* Hemm bagaimana jika adik nya Satria itu galak dan menyeramkan? Bisa - bisa aku akan jadi sasaran empuk dia jika Dinda mengadu yang tidak - tidak.* Gumam Sinta dalam batinnya.


Pria yang ditunggu - tuunggu kedatangannya akhirnya masuk kerumah. Mata Sinta langsung terbelalak mendapati pria yang dimaksud sebagai adik Satria, sama sekali tidak seperti yang dibayangkan oleh Sinta. Yang ada dihadapannya saat ini pria yang postur tubuhnya tidak jauh beda dengan Satria, tampan dan menurut Sinta berkarisma.


" Apa kabar Hakim?" Tanya Dinda menyambut kedatangan adik iparnya dengan ramah.


" Kabarku seperti yang kamu lihat. Oh iya katanya kak Satria tidak ada dirumah ya ? Kemana dia, padahal inikan hari libur?" Tanya Hakim yang kini sudah duduk di kursi single.


" Ada pekerjaan di luar kota. Ada apa kamu mencari mas Satria ? Jangan cari gara - gara lagi kamu sama mas Satria kalau tidak mau mendapat hukuman yang lebih parah lagi." Ancam Dinda dengan berani.


" Siapa juga yang mau cari masalah." Jawab Hakim terlihat sekali rasa kesalnya.


* Ini tidak salah adik Satria setampan ini. Tapi kenapa dia masuk penjara ? Kasus barang haram seperti Badar kah ? * Gumam Sinta dalam batinnya.


Sinta masih saja diam menyimak obrolan Dinda dan Hakim sebab dia tidak tahu apa yang saat ini mereka bahas. Cukup menjadi pendengar setia saja, siapa tahu bisa paham apa yang dibahas oleh mereka.


" Terus kamu mau apa ? Mau bertemu nenek ? Dia baru masuk kamar untuk istirahat." Seru Dinda memberitahu Hakim.


" Aku mau kalian membebaskan Mama dan Papaku." Ucap Hakim tegas.

__ADS_1


" Kenapa harus mas Satria ? Bukannya kesalahan itu memang dari orang tua kamu sendiri ? Ingat Hakim, jika kesalahan mereka bukan karena mas Satria. Kamu pasti tahukan apa saja kesalahan mereka? Jangan buat aku muak dan mengusirmu dari sini Hakim. Jika kamu datang secara baik - baik aku akan menyambutmu dengan baik tapi jika kamu mau cari masalah aku bisa bersikap kasar!" Seru Dinda dengan tegas.


Sedikitpun dia tidak takut dengan Hakim. Hakim terdiam sepertinya nyalinya juga semakin menciut. Apalagi saat ini dia hanya sendiri tidak ada kedua orang tuanya yang akan membelanya. Suasana menjadi hening, tidak ada satupun diantara mereka yang berbicara. Akhirnya Sinta kembali bicara membahas soal Hana yang tadi sempat tertunda karena kedatangan Hakim.


" Oh iya Mana nomor guru pembimbing Hana, aku perlu bicara dengan guru Hana?."Seru Sinta tetap meminta nomor guru Hana.


" Aku tidak punya mbak. Nanti coba aku mintakan sama mas Satria, siapa tahu mas Satria punya nomor teleponnya. Sebab selama ini yang mengurus soal sekolahannya adalah mas Satria. Aku tidak tahu apa-apa soal sekolahnya Hana."Jawab Dinda dengan berbohong.


" Awas aja kalau kamu sampai membohongiku Dinda. Aku akan membencimu dan menghancurkan hidupmu. Hana itu anak kandungku, sedikitpun kamu dan Satria tidak berhak atas Hana." Seru Sinta mulai terbawa emosinya.


Hakim melirik ke arah Sinta yang terlihat sedang marah dan terbawa emosi. Hakim tahu pasti terjadi sesuatu antara Dinda, Satria dan wanita yang bernama Sinta yang saat ini ada di hadapannya. Hakim mencoba mencari tahu ada masalah apa diantara mereka.


" Terserah nbak Sinta mau bicara seperti apa dan menganggapku seperti apa. Yang jelas jika mbak Sinta mau tahu soal Hana lebih baik datang saat mas Satria pulang. Aku tidak tahu menahu soal sekolahnya Hana , mbak." Jawab Dinda tetap berusaha menyakinkan Sinta.


" Baik aku akan datang dua hari lagi saat Satria sudah pulang. Tapi bukannya dalam dua hari lagi Hana juga pulang dari kegiatan sekolahnya? Baiklah mumpung Satria ada di rumah, sekalian Hana akan aku bawa pulang. Setuju tidak setuju, Hana tetap akan aku paksa ikut denganku permisi !!." Seru Sinta lalu bangkit dan melangkah menuju pintu keluar.


Sinta pulang tanpa menyalami Dinda terlebih dahulu, dia pulang dengan hati yang kesal. Selalu begitu setiap kali Sinta dan Dinda bertemu. Dinda sudah tidak kaget lagi dengan kelakuan mantan kakak iparnya itu, dari zaman dulu memang tidak pernah baik dan rukun dengannya. Apalagi sekarang diantara mereka juga ada masalah Hana yang membuat mereka semakin sering ribut.


" Untuk apa kamu masih ada disini? Cepat pulang sana sebab saat ini dirumah tidak ada mas Satria jadi aku tidak mau sembarangan menerima tamu apalagi sampai mau menginap." Seru Dinda mengusir Hakim. Sepertinya Dinda tahu jalan fikiran Hakim.


Kemana lagi hakim akan tinggal jika bukan dirumahnya, namun Dinda tidak mau memutuskan untuk Hakim tinggal dengan mereka. Sebab saat ini Satria sedang tidak ada dirumah, jadi Dinda tidak sembarangan membawa masuk pria meskipun itu adik dari suaminya sendiri. Dinda harus bisa bertindak tegas agar Hakim tidak semaunya saja.


" Aku mau tinggal disini, lagipula ini rumah kakak dan nenekku. Jadi aku berhak tinggal disini. Kamu disini itu cuma menantu berarti kamu orang lain. Jangan sok berkuasa kamu." Seru Hakim justru membuat ibu hamil yang ada dihadapannya mulai terbawa emosi.


" Aku ini istri sah nya mas Satria jadi aku bukan orang lain disini. Kamu itu yang tidak tahu malu, datang disaat butuh saja dan dengan seenaknya mengklaim kamu juga pemiliknya. Hello bangun dulu dari mimpi kamu Hakim." Seru Dinda semakin berani dengan Hakim.


" Jangan kurangajar kamu Dinda ! Kamu itu cuma wanita miskin yang hanya ingin menguasai harta kakakku saja. Jangan - jangan anak yang ada dalam kandungan kamu bukan anak kak Satria tetapi anak dari pria lain. " Seru Hakim juga mulai bicara dengan kasar.


Plaakk Plaaak


Dua tamparsn berhasil mendarat di pipi Hakim. Mendengar ada keributan di dalam rumah antara Dinda dan hakim, membuat dua pengawal yang memang disediakan oleh Indra dan Satria masuk ke dalam rumah. Mereka melihat Dinda yang baru saja menampar Hakim, untuk sementara mereka hanya memantau dari depan pintu saja. Jika Hakim mulai ingin menyakiti Dinda mereka akan segera bertindak. Dua pengawal itu salur dengan Dinda yang berani melawan Hakim tanpa ada rasa takut sama sekali.


" Kamu yang sudah membuatku bertindak kasar Hakim. Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini sebelum aku semaki menghajarmu. Pak segera seret orang ini krluar rumah dan jangan izinkan dia masuk lagi." Seru Dinda.


" Hhuuuhhh... Aku akan pergi dari sini tapi aku minta uang dulu untuk aku cari kontrakan dan makan. Jangan pelit kamu, itu juga uang kakakku." Ucap Hakim semakin menyebalkan.


Dinda mengambil tas yang memang sedari tadi ada didekatnya dan memberikan uang 2 juta kepada Hakim. Hakim menerimanya, namun dia memprotesnya sebab uang yang diberikan Dinda menurutnya sangat sedikit.


" Tambahin dong, masak cuma dua juta?" Seru Hakim tidak terima.


" Kalau kamu tidak mau bawa sini uang itu."Seru Dinda.


" Enak saja." Hakim segera memasukan uang itu dalam kantong celananya.


Dengan segera Hakim keluar dan pergi dari rumah sebelum Dinda mengambil uang itu kembali. Hakim tidak tahu mau pergi kemana, dia sudah tidak ada tujuan lagi. Uang di tangannya hanya ada 2 juta, jika dia pergunakan untuk mencari kontrakan tentunya akan berkurang banyak dan tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhannya.


Tin Tin Tin


Suara klakson mobil Sinta terdengar begitu nyaring, sebab saat ini mobil Sinta berada di belakang Hakim. Hakim membalikkan badannya dan melihat ada sebuah mobil di belakangnya, dan turunlah Sinta. Ternyata sedari tadi Sinta masih tetap berada di sekitaran rumah Satria. Dia penasaran dengan pria yang bernama Hakim, sehingga dia menunggunya sampai Hakim keluar dari rumah Satria.


Hakim heran apa yang akan dilakukan wanita yang bernama Sinta ini sampai dia sengaja menunggunya. Sinta berjalan mendekati Hakim, dia berjalan sembari menyunggingkan senyumnya.


" Ayo ikut aku, jangan banyak tanya yang penting ikut saja dulu. Pasti kamu tidak punya tempat tinggalkan? Aku tahu tempat tinggal yang cocok untukmu." Ucap Sinta menarik tangan Hakim menuju kemobil.


Hakim hanya diam menurut saja dengan Sinta terlebih dia memang tidak memiliki tempat tinggal. Sehingga tawaran Sinta untuk mencarikan dia tempat tinggal tidak dia tolak. Hakim berfikir siapa tahu Sinta juga akan berguna untuk dirinya.


***********

__ADS_1


__ADS_2