
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Keesokan harinya, Satria dan keluarganya mendatangi tempat dimana Rahma dan Kandar di penjara. Sudah dua minggu ini Satria maupun Dinda tidak menjenguk mereka. Kedatangan mereka kali ini juga mengajak nenek dan Hakim.
" Hakim."Seru Rahma dan Kandar bersamaan.
" Mama, papa apa kabar?." Tanya Hakim berdiri dan menghampiri mereka lebih dulu.
Hakim memeluk keduanya secara bergantian dengan mata yang berkaca-kaca. Dia sudah janji dengan Satria, tidak akan menangis saat bertemu dengan kedua orangtunya. Sehingga sebisa mungkin dia menahan air matanya agar jangan sampai terjatuh.
Rahma dan Hakim memeluk haru anaknya itu, sudah berbulan-bulan Hakim tidak pernah menjenguknya.
" Kamu datang dengan keluarga kakak mu? Kenapa kamu jadi kurus begini?."Tanya Rahma dengan menangkupkan kedua tangannya di pipi Hakim.
" Iya Ma, aku datang sama keluarga mas Satria. Mereka baik ma, ternyata selama ini aku yang sudah salah menilai mereka. Dan aku juga sudah tinggal dirumahnya kak Satria, Ma. Nenek juga sangat menyayangiku, aku sangat menyesal kenapa tidak dari dulu aku menyadari semua ini."Ucap Hakim dengan senyum penuh penyesalan.
Kandar sudah duduk lebih dulu, hanya Hakim dan Rahma yang masih berdiri melepas rasa rindu mereka. Tidak lama dari itu, Rahma juga menghampiri nenek dan memeluknya begitupun kepada Dinda dan Satria.
" Sekarang kita semua sudah berkumpul, semuanya dalam keadaan sehat. Tidak boleh bersedih lagi, dan tidak boleh ada yang menangis. Tadi sebelum kesini, Dinda sudah memasak banyak dan sekarang kita bisa makan siang bersama-sama. Ayok kita makan saja dulu, mumpung waktunya masih cukup lama."Ucap Nenek mengajak mereka untuk makan.
Mereka hanya di berikan waktu jenguk 60 menit saja. Sehingga mereka harus memanfaatkannya dengan baik. Akhirnya mereka semua pun makan siang bersama-sama. Mereka juga tadi membawa nasi kotak sebanyak 100 kotak untuk mereka bagikan kepada penjaga dan narapidana yang ada 1 blok dengan Rahma dan Kandar.
Kandar sedari tadi melirik terus menerus ke arah Hakim. Dia terlihat prihatin dengan keadaan Hakim, tubuhnya yang kurus, kulitnya yang lebih hitam.
* Apa yang terjadi dengan Hakim diluaran sana? Apa selama ini dia hidup kekurangan, tubuhnya sangat kurus. Aku khawatir dia sedang menyembunyikan sesuatu, apa dia sakit?.*Gumam Kandar dalam hati.
" Makan yang banyak Ma, Pa."Ucap Dinda sambil meletakkan sepotong daging rendang di piring Rahma dan Kandar.
" Iya terima kasih, Dinda."Jawab Rahma.
Sedangkan Kandar hanya mengangguk pelan saja. Mereka bersama-sama menikmati makan siangnya dengan penuh canda tawa. Mereka ada di ruang private jadi tidak mengganggu yang lainnya.
Terlihat nenek Murni meneteskan air matanya namun buru-buru dia menghapusnya agar tidak diketahui oleh yang lainnya. Tanpa sepengetahun nenek, sebenarnya Dinda tahu jika nenek meneteskan air matanya.
* Seandainya dari dulu anak dan cucuku rukun seperti ini, mungkin aku akan bahagia. Tidak ada yang sampai di penjara seperti ini. Ah untuk apa aku menyesali semuanya, semua ini sudah menjadi garis takdir untuk keluarga ku. Semua ini jalan hidup dari Allah, aku tidak boleh menyalahkan takdir.*Gumam nenek dalam hati.
__ADS_1
Mereka makan sambil sesekali bercerita, dan tawa pun pecah kembali. Kehadiran keluarganya hari ini, membuat Rahma dan Kandar semakin semangat untuk menjalani masa tahanannya yang masih sangat lama.
Selesai makan, masih ada waktu 10 menit lagi untuk saling berbicara. Sebab setelah ini Rahma dan Kandar harus kembali ke dalam sel tahanan lagi.
" Satria, papa titip Hakim sama kamu ya. Papa tahu, Hakim itu sudah dewasa bahkan dia juga sudah dua kali menikah. Aneh rasanya saat papa bilang kata titip, tapi apa memang dikata. Saat ini hanya kamu yang bisa papa andalkan, Hakim memang sudah besar namun dia belum bisa berfikir secara dewasa. Kamu bimbing dia, kamu ajari dia bagaimana cara mencari uang dengan cara halal."Ucap Kandar bicara dengan serius.
" Insya Allah, Pa. Hakim sekarang sudah menjadi tanggung jawab ku. Aku tidak akan pernah Hakim hidup di jalanan lagi. Papa dan mama tenang saja, ada Satria yang akan menjaga Hakim."Jawab Satria juga dengan serius.
" Terima kasih, Satria."Jawab Kandar lalu memeluk Satria dengan erat.
Waktu untuk berkunjungpun sudah habis, Kandar dan Rahma harus kembali masuk lagi kedalam sel tahanannya masing-masing. Sebelum masuk kedalam sel tahanan, Rahma memberikan sesuatu yang tadi sudah di ambilkan oleh penjaga kepada Dinda.
" Dinda, ini untuk Raja dan calon cucuku yang ada dalam kandungan mu. Ini sweater rajut hasil dari tangan mama sendiri, memang bukan barang mahal. Akan tetapi mama membuatnya dengan penuh kasih sayang. Terimalah."Ucap Rahma sambil memberikan kantong plastik yang berisi dua sweater kepada Dinda.
Dinda menerimanya dan segera membuka plastik itu. Dinda senang dan suka dengan sweater yang dibuat oleh mama mertuanya.
" Bagus banget ma, biru dan pink."Ucap Dinda senang.
" Iya, biru untuk Raja dan Pink untuk adiknya Raja. Mama yakin pasti adik Raja nanti perempuan, sebab kamu cantik banget."Ucap Rahma sambil tersenyum ramah.
" Alhamdulillah, semoga apa yang mama katakan benar. Terima kasih ma."Ucap Dinda memeluk Rahma sebelum mereka benar-benar berpisah.
Rahma dan Kandar benar-benar sudah kembali kedalam sel tahanan. Satria dan keluarganya juga sudah berada di didalam mobil. Satria mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, dia mengantarkan Dinda dan nenek terlebih dahulu untuk pulang. Baru dia akan membawa Hakim kerumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya.
" Mau kemana, kak?." Tanya Hakim justru balik bertanya.
" Ada deh. Pokoknya ikut saja, tapi kita antarkan nenek dan istriku dulu."Jawab Satria tetap merahasiakan kemana dia akan mengajak Hakim.
Nenek dan Dinda sudah tahu kemana Satria akan mengajak Hakim. Sebab, semalam Satria juga sudah membicarakan masalah ini kepada Nenek dan Dinda secara langsung dan mereka pun setuju dengan Satria.
" Baiklah."Jawab Hakim pasrah begitu saja.
*********
Kini Satria dan Hakim sudah sampai di depan gedung rumah sakit. Satria juga sudah membuat janji dengan salah satu dokter yang dia kenal dirumah sakit itu. Tentunya sang dokter juga teman Satria, jika bukan temannya mana mau dokter menerima janji secara mendadak.
" Kok kerumah sakit kak? Siapa yang sakit?."Tanya Hakim mulai curiga.
" Sudah ikut saja, aku ada perlu sama temanku yang bekerja di rumah sakit ini."Jawab Satria masih berbohong.
Dia belum mau jujur, sebab jika dia jujur pasti Hakim akan menolaknya. Dia merasa dirinya sehat, namun Satria yakin terjadi sesuatu dengan kesehatan Hakim. Satria beberapa kali Hakim kesusahan nafas sambil memegangi dadanya.
__ADS_1
" Kalau begitu aku tunggu di mobil saja ya kak."Ucap Hakim menolak untuk ikut masuk.
" Sudah ayok ikut, kalau kamu tidak mau ikut aku akan marah."Seru Satria tegas.
" Baiklah."Jawab Hakim dengan pasrah.
Hakim sudah menaruh curiga, Satria mengajak kerumah sakit pasti ada hubungannya dengan dirinya. Jika penyakitnya akan di ketahui oleh Satria, Hakim sudah pasrah. Mungkin memang lebih baik Satria tahu apa yang terjadi dengan dirinya.
" Dokter Fikri? nya ada sus?."Tanya Satria.
" Ada pak, pak Satria sudah di tunggu di dalam. Silahkan masuk saja pak."Jawab Suster dengan ramah.
Satria dan Hakim langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Saat dia masuk terlihat dokter Fikri sedang bermain ponsel dengan santainya. Karena memang jam prakteknya sudah habis dari jam 12 siang tadi, dan saat ini sudah hampir jam setengah 3 sore.
" Sering-sering saja kamu bikin janji dadakan begini. Kalau bukan kamu, pasti sudah aku tolak. Bayangkan saja, aku ini sudah selesai praktek jam 12 siang tadi dan ini sudah setengah tiga. Dan kamu telepon jam setengah 2 tadi saat itu aku sudah ada jalan mau pulang. Kamu harus membayarku dengan bayaran tinggi, karena kamu sudah menyita waktuku banyak."Seru Dokter Fikri dengan kesal.
Hahahaaaa
Satria bukannya menjawab tapi justru dia tertawa dengan lebar. Dia memang senang membuat Fikri kesal, sebab kalau sudah kesal seperti emak-emak yang sedang memarahi anaknya.
" Masih saja tuh mulut emak-emak."Seru Satria masih terkekeh.
" Kurangajar, sudah cepat kamu datang kesini mau apa dan siapa yang sakit dan siapa yang harus aku periksa."Ucap Fikri.
" Ok baiklah, ini kenalkan dulu. Dia Hakim, adikku. Aku minta kamu periksa kesehatan dia, kamu kan dokter jantung yang hebat pasti kamu tahu apa yang terjadi dengan adikku ini. Sebab sudah beberapa kali aku melihat dia seperti susah nafas sambil memegangi dadanya."Ucap Satria bicara dengan mode serius.
Hakim kaget yang ternyata Satria memperhatikan dirinya. Padahal baru semalam saja tinggal 1 rumah tapi Satria sudah bisa tahu apa yang di rasakan Hakim.
* Jadi kak Satria diam-diam memperhatikan aku? Maafkan aku kak, karena setelah ini pasti aku akan semakin merepotkan kakak dan uang kakak juga akan terbuang banyak untuk pengobatan ku. Biarpun aku menolak, pasti kakak dan nenek akan tetap mengusahakan kesembuhanku. Ya Allah, izinkan aku hidup lebih lama lagi agar aku bisa membalas budi kakak ku. Dan agar aku bisa menjadi adik dan cucu yang berguna untuk Kak Satria dan Nenek.*Gumam Hakim dalam hati.
Sudah 4 bulan juga Hakim tidak pernah bermain dengan wanita. Dia berharap penyakitnya itu masih ada harapan untuk sembuh. Sebab setahu Hakim sakitnya belum masuk dalam istilah Aids jadi kemungkinan sembuh masih ada.
Hakim berharap, ada sebuah keajaiban untuk hidupnya. Setidaknya herpes kelamin yang dia derita bisa di sembuhkan.
" Fikri, Hakim."Seru Hakim dan dokter Fikri bersamaan saling mengenalkan diri mereka masing-masing.
" Hakim, silahkan kamu berbaring di atas barankar aku akan memeriksa kondisi jantungmu."Ucap Fikri dengan ramah.
" Baik dokter." Jawab Hakim singkat.
Tidak banyak bertanya dan tidak banyak alasan, Hakim langsung naik ke atas brankar dan berbaring disana. Dokter Fikripun mulai memeriksa Hakim, Satria berdiri di samping Hakim untuk memastikan semuanya dengan baik.
__ADS_1
Satria fokus dengan layar yang digunakan untuk melihat jantung Hakim dengan serius, meskipun dia tidak tahu apa yang dimaksud dengan tangkapan layar itu.
***********