Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Syarat dari nenek


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Brakkkk.....


Rahma dan hakim datang ke perusahaan dan membuka pintu ruangan Indra dengan kasar. Hakim tetap ingin bekerja di perusahaan Satria, menurutnya hakim lebih berhak memegang perusahaan selama satria sakit daripada Indra yang hanya sebagai asisten saja.


" Apa anda ini tidak punya sopan santun ? Ada kira ini perusahaan milik anda !" Bentak indra dengan kesal karena mereka datang dengan cara yang tidak benar, apalagi sampai membanting pintu seperti itu.


" Kamu yang bodoh atau memang kamu pikun ? Heh... Ini perusahaan milik anak saya dan saya berhak kapan saja datang kesini dan masuk ruangan manapun tanpa harus izin sama kamu. Kamu ini cuma karyawan saja jadi jangan sok sebagai pemilik perusahaan. Aku tahu kamu ini sebenarnya juga ingin menguasai perusahaan satria kan ? Sudah kamu mengaku saja ?" Tanya rahma dengan senyum sinis.


Indra tidak mau banyak bicara dan tidak mau membuang - buang waktu dengan percuma. Masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Indra lebih memilih menghubungi pihak keamanan saja daripada harus adu mulut.


" Kamu ini sombong banget sih, lebih baik sekarang kamu siapkan aku ruangan. Kak satriakan masih lama kembali keperusahaan dan aku yang akan menggantikannya. Nanti kalau kelamaan kamu yang pegang perusahaan, perusahaan ini lama - lama bisa bangkrut " Ucap hakim meragukan kemampuan Indra.


" Jangan banyak bicara kamu ! Selama satria sakit aku yang akan memegang perusahaan, satria dan nenek sudah mempercayakan tanggung jawab perusahaan sama saya. Jangankam cuma sebulan dua bulan, bahkan aku pernah memegang perusahaan ini selama 5 tahun ! " Ucap Indra dengan tegas.


Tok Tok Tok


Suara pintu ruangan indra diketuk dari luar, sepertinya satpam yang dia panggil sudah datang. Dengan segera indra menyuruh satpam masuk.


" Kamu memanggil satpam untuk apa ?" Tanya rahma dengan mata melotot.


" Untuk mengusir kalian berdua " Ucap indra santai sembari kembali duduk di kursi kerjanya.


" Kurangajar kamu ya ! Aku ini ibu dari pemilik perusahaan ini. Jadi jangan pernah kamu mengusirku seenaknya begini, dan hakim ini adiknya satria. Dasar karyawan tidak tahu diri, lihat saja aku akan meminta satria untuk memecat kamu!" Ucap lantang rahma dengan menatap tajam indra.


Indra sama sekali tidak ada rasa takut dan segera memerintahkan dua satpam untuk segera membawa rahma dan hakim keluar dari ruangannya. Mau dia orang tua satria , indra tetap tidak perduli. Karena rahma sendiri memang yang sudah tidak punya etikat baik, terlebih kepada satria. Mereka hanya ingin uangnya satria saja tanpa memikirkan perasaan satria.


Dulu pergi disaat satria bayi dengan menyabotase kecelakaan, sekarang disaat satria sudah sukses dan tidak mengingat kesedihan tentang orang tuanya. Justru mereka datang dengan membawa segudang kebohongan dan ingin menguasai apa yang dimiliki satria.


" Cepat bawa mereka keluar pak !" Perintah indra dengab tegas.


" Siap pak " Jawab kedua satpam dengan serempak.


Kedua satpam itu masing - masing membawa rahma dan hakim dengan menarik paksa mereka berdua. Rahma dan hakim berontak dan terus memaki satpam dan indra secara bergantian. Sepanjang menuju lobby perusahaan rahma dan hakim menjadi pusat perhatian para karyawan, cacian dan teriakan mereka mengganggu karyawan yang sedang bekerja.

__ADS_1


" Awas kalian, saat anakku satria sudah kembali keperusahaan. Kalian berdua yang akan aku minta satria untuk memecatnya. Lihat saja, aku akan membuat kalian kehilangan pekerjaan " Ucap rahma dengan lantang.


" Silahkan saja, saya tidak takut. Orang seperti kalian ini memang tidak pantas masuk di perusahaan ini. Dasar orang gila, datang - datanh cuma bikin onar saja. Cepat sana pergi jauh - jauh dan jangan lagi berani datang !" Ucap satpam mendorong rahma dan hakim sampai mereka hampir saja jatuh.


Kedua satpam itipun menutup pintu masuk dan membiarkan kedua manusia tidak tahu malu itu teriak - teriak diluaran sana. Yang terpenting tugas dia mengusir mereka sudah beres.


Rahma dan hakim segera meninggalkan perusahaan dan pulang kerumah nenek murni untuk bicara soal keinginannya memasukan hakim keperusahaan. Dia berharap mamanya akan mengabulkan keinginannya karena bagaimanapun hakim juga cucunya , dan memiliki hak yang sama seperti Satria. Itu sih pemikiran rahma tidak tahu kalau pemikiran neneknya nanti.


Dua manusia yang tidak tahu malu itu mencari taksi , setelah mendapatkan taksi merekapun pergi kerumah nenek murni. Sesampainya dirumah nenek murni , rahma langsung mencari keberadaan sang ibu.


" Maaf bu, nyonya murni sedang tidak bisa menerima tamu. Lebih baik anda dan anak anda pulang saja dan datang lagi nanti saat nyonya sudah bangun, karena beliau sedang tidur " Ucap salah satu pelayan dirumah nenek murni.


" Hehhh.. Babu sialan ! Kamu tidak tahu aku siapa ? Aku ini juga nyonya dirumah ini, apa kamu lupa kalau aku ini pernah tinggal dirumah ini. Jadi jangan berani kamu mengusir saya dan anak saya, ini juga rumah saya. Dasar babu kurangajar !" Sentak rahma dengan kasar.


" Rahma !!"


Seseorang memanggil nama rahma dengan sangat lantang. Rahma dan hakim langsung mencari sumber suara, ternyata itu nenek murni yang berdiri tepat didepan kamarnya. Rahma langsung mendekati ibunya dan pura - pura tersenyum ramah dan mengambil tangan ibunya serta menciumnya dengan singkat.


Rahma menyikut hakim agar mengikuti mencium tangan sang nenek agar nenek merasa simpatik dan perhatian dengan hakim.


" Bu, apa kabar ? Masak aku datang kerumahku sendiri tidak boleh bu, bahkan babu sialan itu tadi menyuruhku pulang. Kurangajar sekalikan bu itu babu" Ucap rahma mencoba mengadu dan mencari pembelaan dari sang ibu.


Bukannya pembelaan dari sang ibu yang dia dapat, tetapi justru tamparan yang dia dapatkan. Satu tamparan saja belum cukup untuk menyampaikan rasa sakit hati dan amarah nenek murni.


" Jangan pernah menyebutnya babu ! Derajat dia sama kamu itu lebih tinggi dia, bahkan uang yang dia punya juga lebih banyak dari kamu. Kamu itu cuma benalu dalam kehidupan kami ! Dulu setelah kamu berhasil menjual barang berharga satu - satunya yang aku miliki kamu pergi begitu saja dengan menyusun rencana busuk. Jangan kamu kira aku tidak tahu jika kamu memang sengaja merencanakan kecelakaan palsu itu karena kamu tidak mau hidup miskin dan tidak mau mengurus satria. Sekarang kalian datang dan ingin meminta sesuatu yang bukan hak kalian !" Bentak nenek murni dengan tegas.


Rahma menunduk malu mendengar pernyataan ibunya, ternyata satria sudah menceritakan semuanya kepada sang ibu. Gagal sudah keinginannya untuk membujuk sang ibu agar bisa bicara dengan satria. Hakim mencoba mendekati neneknya dan menenangkannya, tetapi dengan cepat nenek menepis tangan hakim.


" Jangan mendekat , aku tidak sudi di pegang oleh orang sepertimu. Dasar anak manja, anak yang hanya bisa hidu dibawah ketiak orang tua. Kamu itu sudah dewasa, seharusnya bisa tanggung jawab dengan kehidupan kamu sendiri. Pantas saja istrimu meminta cerai karena kamu cuma pengangguran dan mengandalkan uang dari orang tuamu. " Ucap nenek murni dengan kesal.


" Ehh... Emm nenek tahu kalau aku sudah menikah ?" Tanya hakim malu - malu.


" Apa yang tidak aku tahu soal kalian semua. Sekarang kalian datang kesini mau apa ?" Tanya nenek murni.


Hakim dan rahma saling pandang, mereka seakab ragu untuk bicara. Melihat sang nenek yang masih saja marah - marah membuat hakim takut untuk membicarakan keinginannya.


" Em, begini bu . Satriakan lagi sakit dan belum tahu kapan dia bisa keperusahaan. Daripada jabatan satria kosong bagaimana kalau sementara digantikan hakim atau mas kandar bu. Rahma takut si asisten sialan itu membuat perusahaan bangkrut bu. "Ucap rahma dengan penuh percaya diri.


Nenek murni terdiam seolah sedang memikirkan perkataan Rahma, padahal dalam hatinya dia sangat ingin tertawa dan merutuki kebodohan sang anak. Sejak kapan hakim bisa diandalkan, mengurus hidupnya sendiri saja dia tidak becus bagaimana untuk mengurus perusahaan sebesar itu , yang ada bangkrut dalam hitungan hari.


" Aku lebih percaya dengab indra daripada dengan anakmu si Hakim ini. Lagipula indra itu lulusan luar negeri, dia tahu bisnis. Selama bertahun - tahun Indra menghandel perusahaan sama sekali tidak ada masalah. Satria itu hanya cidera dan dalam beberapa hari lagi dia akan kembali keperusahaan lagi jadi tidak ada lagi yang harus digantikan ! Paham !" Seru nenek murni dengan tegas.

__ADS_1


" Tapi nek, hakim ini juga cucu nenek seharusnya juga mendapatkan hak yang sama seperti kak satria Nek. Enak sekali hidup kal satri bergelimang harta begitu, sedangkan aku hidup susah " Ucap hakim mencoba protes karena merasa iri dengan kehidupan satria yang sukses dan bergelimang harta.


Nenek murni tersenyum sinis, ternyata si hakim sama persis wataknya dengan rahma.


" Maksud kamu ? kamu mau menikmati harta ini dan punya kedudukan di perusahaan ? Memangnya kamu itu siapa dan punya peran penting apa diperusahaan itu ? Satria sudah jelas dia cerdas dan dia sudah mamajukan perusahaan menjadi sebesar sekarang, dari zaman satria duduk dibangku SMA dia sudah membantu ku membangun perusahaan itu. Bahkan saat dia lulus kuliah selama 3 atau 5 tahun dia bekerja sebagai karyawan biasa, hingga suatu hari dia bisa memenangkan tander besar baru aku menganggkatnya menjadi direktur utama. Satu kesalahan satria yang sempat membuat perusahaan bangkrut dan aku marah , karena dia terlalu mudah dimanfaatkan oleh teman - temannya. Mengeluarkan uang begitu saja tanpa perduli akan habis, sehingga aku menghukumnya dan mengusirnya dari rumah hanya berbekal uang 300 ribu dengan semua fasilitas aku tarik " Ucap nenek yang kini memilih duduk disofa dan menceritakan soal satria agar mata rahma dan hakim terbuka lebar.


Hakim dan rahma mendengarkan cerita nenek murni, menurut mereka sebenarnya itu semua tidak penting dan tidak ada hubungannya dengan mereka. Namun demi mendapat simpatik dari sang nenek mereka pura - pura menyimak dan mendengarkannya.


Bibik sudah datang kembali menyuguhkan teh dan berbagai makanan ringan diatas meja. Dengan mengedipkan matanya , rahma menyuruh memberikan teh untuk nenek murni. Hakim paham dan menganggukkan kepalanya.


" Minum teh dulu nek biar enak saat cerita " Ucap hakim sok perduli dengan nenek.


" Hemm... " Jawab nenek hanya berdehem saja tanpa melihat kearah hakim.


Setelah meminum tehnya, nenek kembali menceritakan perjalanan satria sampai menjadi sukses begini.


" Aku mengusir satria dengan bekal uang 300 ribu tanpa fasilitas apapun, bahkan bajupun hanya yang melekat dibadan. Satria hidup miskin diluaran sana selama 5 tahun, dan selama 5 tahun itupula dia hanya menjadi seorang pedagang cendol keliling. Baru beberapa bulan ini dia kembali mengurus perusahaan. Jadi kalau kamu mau masuk perusahaan ada syarat yang harus kamu kerjakan " Ucap nenek dengan tegas.


Hakim dan rahma saling lempar pandang dan senyuman, akhirnya apa yang mereka inginkan akan segera terkabul dan terlaksana. Belum juga tahu apa syarat yang harus hakim laksanakan , mereka sudah berbangga diri.


" Apa syaratnya bu ? Hakim pasti bisa mengerjakannya ." Tanya rahma sudah tidak sabar ingin tahu apa yang akan menjadi syarat untuk hakim.


Nenek murni mencoba tersenyum , dia yakin jika hakim pasti tidak bisa menjalankan syarat utams darinya. Bahkan akan menolak secara langsung dan terang - terangan menolak.


" Kamu harus menjalani kehidupan seperti satria selama 5 tahun. Dan selama 5 tahun itu kamu tidak boleh meminta tolong kepada orang tua kamu , kamu harus berusaha bertahan hidup dengan hasil kerja kerasmu sendiri. Terserah kamu mau bekerja jadi kuli bangunan, atau pedagang kaki lima , yang penting tidak meminta tolong kepada orang tua kamu. " Ucap nenek serius.


Apa ? Hidup miskin diluaran sana selama 5 tahun ?


Hakim hanya menggelengkan kepalanya, mana mungkin dia bisa hidup seperti itu sedangkan selama ini saja dia mengandalkan kedua orang tuanya. Menghidupi istrinya saja saat itu juga meninta orang tuanya, bagaimana harus hidup mandiro diluaran sana.


" Bu, apa tidak ada syarat lain selain itu bu. Aku kasihan sama Hakim bu, selama ini hakim tidak pernah bekerja berat mu. Tolong berikan syarat yang lainnys bu " Ucap rahma memohon agar hakim tidak menjalani kehidupan seperti yang dijalani satria.


" Keputusanku tidak bisa di ganggu gugat ataupun dirubah. Jika hakim tidak sanggup dia bisa bilang dari sekarang juga. Tidak perlu mencari alasan yang begini dan begitu. " Ucap nenek murni tegaa.


" Aku tidak sanggup nek. Ma, kita pulang ! Aku tidak sudi hidup miskin menjadi seorang kuli bangunan atau pedagang cendol seperti kak satria. Ayok pergi ma, aku akan buktikan jika aku bisa sukses tanpa bantuan dari nenek dan satria !" Ucap tegas hakim.


Hakim bangkit dan meninggalkan nenek nya tanpa psmit terlebih dahulu, rahmapun begitu dia buru - buru menyusul hakim. Rahma terlihat marah dan tidak suka dengan syarat dari ibunya, menurutnya itu terlalu berlebihan dan tidak masuk akal.


* Aku tunggu kesuksesanmu hakim ! Jangan cuma banyak bicara tapi harus kamu buktikan, bisa apa anak manja seperti kamu. * Gumam nenek murni dalam hatinya.


***********

__ADS_1


__ADS_2