Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Permintaan Sarah


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Sinta dan Ardi akhirnya datang ke rumah sakit untuk menjenguk Sarah. Sinta sendiri sebenarnya ennggan untuk menemui Sarah tapi karena Ardi mendesaknya akhirnya diapun mau. Ardi hanya tidak mau Sinta menyimpan dendam ataupun amarah kepada Sarah.


" Ini benar ruang rawatnya Sarah, mbak?."Tanya Sinta dengan ramah.


Sinta bertanya dengan Ira yang baru saja keluar dari ruangan Sarah untuk pergi ke kantin mencari kopi, sebab dia sangat mengantuk sehingga memutuskan untuk membeli kopi. Ira memandangi Sinta dan Ardi secara bergantian, sebab dia belum pernah bertemu dengan mereka berdua.


" Iya betul, mbak dan mas ini siapa ya?."Tanya Ira dengan sopan.


" Saya Sinta dan ini Ardi suami saya. Apakah saya boleh menjenguk Sarah?."Tanya Sinta dengan sopan.


" Iya mbak boleh, silahkan."Ucap Ira lalu membukakan pintu untuk Sinta dan Ardi.


Mereka bertiga masuk ke ruang rawat Sarah, Ira menunda ke kantinnya terlebih dahulu. Rasa kantuknya pun sudah hilang begitu saja.


" Mbak Sarah, ini ada teman mbak datang menjenguk mbak."Seru Ira membangunkan Sarah yang sedang tidur.


Sarah pun bangun dan melihat siapa yang datang. Sarah senang melihat Sinta sudah berada di ruang rawatnya. Ternyata Sinta masih peduli dengan dirinya, Sinta sudah benar-benar berubah. Jika masih Sinta yang seperti dulu, pasti Sinta tidak akan peduli dengan keadaannya.


" Iya aku datang, bukannya kamu kan yang menyuruhku untuk datang kesini, Sarah. Bagaimana keadaan kamu? "Tanya Sinta berbasa-basi.


" Keadaan ku ya seperti yang kamu lihat ini mbak. Aku sudah melahirkan mbak,dia cantik sekali. Apa mbak tidak mau menggendong anakku?."Tanya Sarah dengan mengulas senyum yang terpasang dengan ramah.


Sinta melihat kearah keranjang bayi, terlihat bayi mungil tidak berdosa itu baru saja terbangun dan saat ini sedang mengulat meregangkan tubuhnya.

__ADS_1


" Mas aku mau lihat bayi itu dulu."Seru Sinta lalu berjalan ke arah bayi dan diikuti Ardi di belakangnya.


" Wah cantik sekali bayi ini, hidungnya mancung mas. Mungkin hidungnya turunan ayahnya, sebab Sarah kan hidungnya tidak mancung."Ucap Sinta sambil mengusap-usap pipi bayi.


" Iya Ma dia cantik banget."Seru Ardi juga ikut mengusap pipi sang bayi.


Bayi yang Sarah berinama Anggun itupun di gendong oleh Sinta. Sinta membawa Anggun mendekati Sarah dan duduk di kursi yang ada di samping brankar Sarah.


" Sarah siapa nama anak ini?."Tanya Sinta.


" Anggun, mbak. Aku memberi dia nama Anggun agar dia bisa menjadi anak yang baik, sopan dan anggun seperti namanya."Jawab Sarah dengan suara pelan.


Sinta memandangi Sarah yang semakin kurus dan bahkan bicaranya pun suara seperti tertahan. Sinta menyerahkan Anggun kepada Ardi, Ardi membawa Anggun duduk di sofa yang ada di ruangan Sarah. Ira sendiri sudah meninggalkan mereka, Ira menuju kantin yang ada di area belakang rumah sakit.


" Kamu baik-baik saja, Sarah?."Tanya Sinta penuh selidik.


" Mbak apa kamu masih membenciku? Aku minta maaf mbak, aku sadar jika aku ini banyak salah sama kamu. Bahkan belum lama ini aku berniat untuk merebut mas Ardi. Tapi ternyata Tuhan tidak mengizinkan itu, aku diberi teguran berupa penyakit ku yang semakin menggerogoti tubuhku. Mbak, maafkan aku."Seru Sarah dengan mata yang berkaca-kaca.


Sarah terharu dengan kebaikan orang-orang yang pernah dia sakiti. Orang-orang yang pernah dia sakiti justru tetap bersikap baik dengannya. Sarah benar-benar menyesal sudah berbuat jahat.


" Mbak Sinta. Apa aku boleh meminta tolong sama kamu?."Tanya Sarah terlihat sekali dia bicara dengan serius.


" Apa itu Sarah? Aku pasti akan menolongmu."Jawab Sinta dengan lembut.


" Apakah mbak Sinta dan mas Ardi mau merawat anakku?."Tanya Sarah berupa permintaan.


Ddeegghh


Sinta tertegun dengan permintaan Sarah. Bagaimana bisa dia memintanya untuk mengurus anakknya, lantas dia sendiri mau kemana? Apakah dia tidak menginginkan anaknya? Banyak pertanyaan di benak Sinta dan ingin dia pertanyakan langsung dengan Sarah.


" Kenapa kamu meminta tolong seperti itu? Apa kamu tidak menginginkan anakmu? Jangan egois kamu, Sarah !!."Seru Sinta bicara pelan namun penuh dengan penekanan.

__ADS_1


" Maaf mbak. Aku sangat menyayangi anak itu tapi aku merasa tidak akan bisa mengurusnya. Aku percaya mbak Sinta bisa mengurusnya dengan baik. Tapi jika mbak Sinta tidak mau, mungkin aku akan menitipkannya di panti asuhan."Seru Sarah berkata apa adanya.


Sinta menggelengkan kepalanya, dia tidak habis fikir dengan jalan fikiran Sarah. Bisa-bisanya dia lebih memilih menitipkan anak yang sudah dia lahirkan ke panti asuhan.


Melihat ketegangan antara Sarah dan Sinta, Ardi pun mendekati keduanya. Dia ingin tahu apa yang sedang mereka bahas sampai mereka terlihat begitu tegang.


" Kalian bicara apa sih? Kok tegang banget?."Tanya Ardi tetap menggendong Anggun.


Sarah dan Sinta saling beradu pandang, tatapan mata Sarah mengisaratkan jika dia ingin mengatakan apa yang tadi sudah dia sampaikan kepada Sinta. Namun Sinta terlihat menggelengkan kepalanya, dia tidak mau Ardi salah paham terlebih mereka belun lama menikah.


" Mas Ardi, maafkan aku ya. Aku tadi hanya bicara jika aku ingin menitipkan anakku kepada kalian berdua. Apakah kalian mau?."Tanya Sarah dengan berani menyampaikan keinginannya itu secara gamblang kepada Ardi.


" Kenapa kamu mau menitipkan anak kamu kepada kami? Memangnya kamu sendiri mau kemana?." Pertanyaan Ardi sedikit ketus.


" Aku tidak akan kemana-mana. Aku hanya merasa jika aku tidak sanggup dan tidak bisa untuk mengurusnya. Mbak, mas aku mohon tolong kali ini saja. Tolong rawat anakku dengan baik, didik dia menjadi anak yang baik dan berbakti. Jika dia sudah besar kelak, aku iklas jika dia tidak tahu siapa mamanya. Aku justru senang jika dia tidak tahu mama kandungnya, dengan begitu dia tidak akan malu."Ucap Sarah tetap meminta Sinta dan Ardi untuk mengurus anaknya.


Ceklekkk


Pintu ruangan Sarah dirawat terbuka, terlihat suster dan dokter masuk ke ruang perawatan Sarah. Mereka meminta izin untuk mengecek Sarah terlebih dahulu.


" Bu, Sarah jangan banyak fikiran ya agar tekanan darah ibu Sarah stabil. Jika tekanan darah ibu semakin tinggi begini justru akan membahayakan diri ibu Sarah sendiri. Kalau seperti ini ibu Sarah tidak bisa pulang."Ucap dokter dengan lembut dan ramah.


" Iya dok, terima kasih sudah diingatkan. Tapi sepertinya saya memang tidak akan pernah pulang ke rumah ku sendiri, aku akan pulang tapi ke tempat yang jauh sana." Ucap Sarah semakin tidaj jelas.


Sinta dan Ardi justru merinding mendengar pernyataan Sarah tadi. Sinta dan Ardi belum bisa memberikan keputusan, mereka tidak mau gegabah untuk mengambil keputusan. Mereka khawatir jika langsung mengiyakan permintaan Sarah, sebab mengurus anak orang lain itu proses nya juga sedikit rumit. Banyak surat dan berkas yang harus di persiapkan.


" Maaf Sarah, aku dan mas Ardi tidak bisa memberik keputusan. Sekarang yang prnting kamu cepat sembuh dulu, agar bisa menggendong dan merawat anak mu dengan baik."Seru Sinta dengan pelan agar Sarah tidak tersinggung.


" Aku tidak akan sembuh mbak."Seru Sarah dengan wajah sendunya.


Sarah dan Ardi tidak mau meneruskan pembicaraan ini. Mereka tidak mau jika Sarah semakin aneh dan ngelantur bicaranya. Sinta dan Ardi pun memilih untuk pamit terlebih dahulu, dan dia janji dalam waktu dekat nanti akan berkunjung kerumah Sarah jika Sarah sudah diizinkan pulang.

__ADS_1


*********


__ADS_2