Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Rumah untuk keluarga


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Ting..


Suara notifikasi pesan masuk di ponsel satria, satria membukanya karena dia tahu itu pesan dari sang istri tercintanya. Pesan dan telepon dari istrinya sudah dia atur nada yang berbeda.


[ Mas satria ada dimana ? Kok belum pulang seharian juga dihubungi tidak bisa. Malam ini nenek menginap dirumah kita mas ]


Satria memang baru mengaktifkan ponselnya beberapa menit yang lalu. Dan pesan dari dinda baru saja masuk, dengan senyum mengembang satria membalas pesan sang istri.


[ Maaf ya istriku sayang, malam ini mas pulang nya terlambat. Ada pekerjaan yang harus mas selesaikan, mas sama indra. Kamu tidur saja duluan, salam untuk nenek ya. Nanti mas hubungi lagi, sekarang mas lagi dijalan ]


Saletelah membalas pesan dari dinda satria kembali memasukan ponselnya kekantong kemejanya lagi. Indra melirik satria yang terlihat suntuk. Saat ini satria memang banyak fikiran, segala macam masalah harus segera dia selesaikan.


" Satria kok perumahannya seperti ini ? Bukan perumahan elite seperti rumah kamu ? " Tanya rahma saat melewati rumah - rumah yang terlihat minimalis dan kecil. Seperti rumah orang - oranng dikampung namun bedanya ini permanen tidak berdinding papan.


" Jangan banyak tanya, nanti juga sampai dan kalian bisa lihat sendiri rumahnya. Dan apapun yang sudah saya berikan jangan kalian protes " Ucap satria tegas.


Rahma dan yang lainnyapun terdiam dan tidak banyak komentar dan bertanya lagi . Akhirnya mobil yang dikendarai indra berhenti tepat dirumah yang paling pinggir sendiri . Rumah yang tidak besar dengan dinding bercat hijau, mereka semuaoun turun dari mobil.


Rahma , kandar dan hakim syok saat melihat rumah yanh dibelikan oleh satria. Rumah sederhana jauh dari kata mewah, Rahma tidak terima dengan perlakuan satria yang semena - mena. Mereka semua mengira jika satria akan memberikan rumah yang besar dan mewah ternyata semua hanya angan - angan mereka saja.


" Kamu yakin memberi kamu rumah jelek ini ?" Tanya rahma dengan kesal. Bahkan dia sempat mengatakan jika rumah itu adalah rumah jelek.


" Rumah seperti ini anda bilang jelek ? Jelek mana sama rumah yang ada dikolong jembatan ?" Tanya indra kesal dengan pernyataan rahma.


Rahma melongos begitu saja tanpa menghiraukan pertanyaan Indra. Dia melihat wajah hakim dan kandar suaminya. Wajah mereka terlihat tidak bersahabat sama sekali.


" Kamu ini memang anak tidak tahu diuntung satria. ! Kamu tega menempatkan kami dirumah jelek seperti ini ? Ini rumah pantasnya dipakao oleh para pemulung , kami ini keluarga kamu !" Bentak kandar tidak terima dengan rumah yang diberikan oleh satria.


" Iya nih sama keluarga sendiri pelit , padahal harta itu tidak dibawa mati loh. Kamu ini kakakku tetapi sudah seperti orang lain saja, padahal kalau ada apa - apa kamu ini pasti datang dan minta tolongnya sama keluarga " Ucap hakim dengan kesal.


" Kalau kalian mau punya rumah yang mewah, mobil mewah dan hidup mewah ya harus bekerja. Karena apa yang aku miliki ini semua aku dapatkan dengan kerja keras dan dimulai dari nol. Walaupun aku ini cucu dari murni cahyani, aku dulu memulai semuanya dari nol. Tidak serta merta aku langsung menjadi direktur utama perusahaan tetapi selama 3 tahun aku menjadi karyawan biasa terlebih dahulu. Bahkan 5 tahun aku menjadi pedagang cendol keliling. Jadi jangan bermimpi hidup enak jika tidak mau bekerja , paham !" Seru satria dengan tegas.

__ADS_1


Satria dan indra tidak mau berlama - lama lagi karena malam semakin larut. Dia memberikan kunci rumah kepada rahma, mau tidak mau rahma menerima kunci rumah itu. Nanti dia akan memikirkan cara lain untuk mendapatkan kemewahan yang dimiliki oleh satria. Bagaimanapun mereka merasa berhak untuk ikut menikmati apa yang saat ini dimiliki satria dan nenek murni.


" Ma,masak kita kembali tinggal dirumah kecil sih ma. Baru juga sehari jadi orang kaya tetapi sekarang sudah miskin lagi. Aku tidak mau tahu, ini harus sementara saja. Besok - besok kita harus bisa tinggal dirumah mewah itu lagi, atau kita minta rumah yang mewah juga. " Ucap hakim dengan manjanya.


" Sudah tenang saja nanti mama bicara langsung sama nenek. Satria itu memang keras kepala persis sekali dengan almarhum kakek kamu. Lebih baik sekarang kita masuk rumah dulu, sudah jam 10 malam ini nanti kelamaan diluar bisa sakit kita " Ucap rahma mengajak anak dan suaminya masuk rumah.


Sementara itu saat ini dinda dan nenek murni sedang menunggu kepulangan satria,meskipun satria memintanya untuk tidur lebih dulu mereka tetap menunggu satria pulang .


" Dinda, nenek ingin bertemu dengan keluargamu apa boleh ?" Tanya nenek murni penuh harap.


" Tentu saja boleh nek. Tapi rumah orang tua saya itu tidak semewah rumah nenek, dan nenek pasti tahu bagaimana sikap keluarga saya. Hanya bapak yang selama ini baik dan tulus menyayangi mas satria. Jujur saya ini malu sendiri melihat kelakuan keluarga saya nek " Ucap dinda dengan wajah sedih.


Nenek menggenggam tangan dinda dan menyakinkan dinda jika dia sama sekali tidak mempermasalahkan keadaan keluarga dinda dan perekonomian keluarga dinda. Sebab dia juga dulu dari keluarga yang sangat - sangat miskin, sempat juga menjadi pemulung tukang cuci gosok tetapi roda itu berputar dan kini derajat nenek diangkat oleh Allah.


" Nenek tidak pernah menganggap dan melihat orang dari segi materinya Din, nenek dulu juga orang susah. " Ucap nenek dengan lembut.


" Iya nek, terimakasih banyak nenek sudah menerima dinda apa adanya " Ucap dinda sambil memeluk nenek dengan hangat.


Bruumm... Brummm


Suara mobil satria terdengar masuk kehalaman rumah, dengan sigap dinda membukakan pintu menyambut sang suami yang baru saja pulang. Terlihat indra juga ikut turun dari mobil, sepertinya indra akan menginap dirumahnya.


" Salam dulu mas " Ucap dinda.


" Ohh iya mas lupa, assalamualaikum " Seru satria lalu mencium kening dinda dengan lembut.


" Wa'alaikumsalam mas "Jawab dinda.


Eheemm... Eheeemmm


Indra berdehem agar sepasang suami istri itu sadar jika masih ada pria jomblo dibelakang satria. Jiwa jomblo indra meronta - ronta melihat keharmonisan dan keromantisan yang yang ditunjukan oleh sepasang suami istri yang ada dihadapannya.


Wajah dinda langsung memerah bak kepiting rebus, dia lupa jika ada indra dibelakang suaminya. Bisa - bisa mereka berpelukan di hadapan indra , bahkan satria sempat mencium kening dengan mesra.


" Ingat dong kalau masih ada jomblo disini. " Seru indra menggerutu.


" Sorry bro lupa, habis kamu ini kadang - kadang tidak terlihat sih. " Seru satria lalu terkekeh.


" Sudah yuk ah masuk ini sudah malam, ada nenek juga tuh di ruang tengah. Ini sudah malam tapi nenek tidak mau tidur mas, dia menunggu mas pulang katanya ada yang ingin nenek tanyakan malam ini juga " Ucap dinda memberitahu jika nenek menunggunya.

__ADS_1


Mengetahui sang nenek belum tidur bahkan sengaja menunggunya pulang,membuat satria segera masuk rumah dan segera menemui neneknya. Pasti ada hal penting yang ingin disampaikan oleh neneknya sampai dia menunggu satria.


" Nenek kok belum tidur? Ini sudah malam loh nek, memangnya apa yang ingin nenek bicarakan sama satria ?" Tanya satria sudah duduk disamping neneknya sambil merangkul pundak sang nenek.


" Kamu bawa kemana ketiga manusia tidak tahu malu itu ?" Tanya nenek langsung pada topik pembicaraannya tanpa berbasa - basi.


Haaahhhhh..


Satria sebenarnya malas membahas masalah ini sekarang , berhubung nenek yang menanyakannya dengan terpaksa dia mengatakannya.


" Di perumahan XX nek, lumayan jauh dari kediaman kita. Butuh sekitar 45 menit sampai 60 menit perjalanan. Apa nenek marah satria menempatkan mereka disana ? Kalau nenek marah, satria akan mengbalikan mereka dirumah utama atau satria belikan rumah yang lebih mewah " Ucap satria takut apa yang dia lakukan tadi tidak disetujui oleh nenek.


Nenek murni menggelengkan kepalanya, satria justru bingung apa arti dari gelengan kepala sang nenek. Satria,indra dan dinda hanya bisa saling pandang dan menerka-nerka apa yang saat ini ada difikiran nenek.


" Nenek tidak masalah dan tidak marah kamu membawa mereka keperumahan itu. Tapi kalau nenek sendiri justru ingin mereka jauh - jauh dari kehidupan kita. Terserah mereka mau tinggal dimana, di kolong jembatanpun nenek tidak perduli. Tetapi karena mereka itu orang tuamu, nenek tidak melarang mu untuk berbakti kepada mereka,tetapi kamu harus tahu batasannya. Mereka datang kembali memang hanya ingin menikmati dan merebut apa yang saat ini kita punya, nenek mendengar percakapan mereka dengan mata kepala nenek sendiri. " Ucap nenek akhirnya menyampaikan rasa kesalnya.


Satria mengepalkan kedua tangannya, meskipun dia sudah tahu tujuan mereka datang . Tetapi saat mendengar cerita dari nenek membuat satria semakin marah dan ingin rasanya menghajar mereka dengan kedua tangannya sendiri.


" Tenang saja nek , aku tidak akan pernah membiarkan mereka menikmati harta kita terlalu banyak. Cukup satria memberikan hunian sederhana dan uang 5 juta perbulan. Hanya 5 juta itu saja tidak lebih, dan itu untuk mereka bertiga tidak ada jatah bulanan masing - masing. Jika mereka ingin hidup enak, biar mereka berusaha sendiri. Aku masih perduli karena semata - mata mereka orang tuaku meskipun aku tidak diasuhnya. " Seru satria.


Melihat suaminya yang mulai terbawa suasana kemarahan , membuat dinda mendekat dan mengusap punggung satria dengan lembut agar hati suaminya sedikit lebih tenang.


" Emm... Mas satria sama mas Indra sudah makan ? Kalau belum nanti dinda siapkan makan.?" Tanya dinda mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Kami sudah makan din, tadi sebelum pulang kesini kami makan dulu kok. Lagi pula ini sudah hampir jam 12 malam, nanti perutku buncit. Aku mau bersih - bersih saja ya, maaf seperti biasa malam ini aku menginap di kamar tamu lagi. " Ucap indra.


Dinda tersenyum ramah sambil mengangguk dan mempersilahkan indra untuk istirahat. Satria mengantarkan neneknya juga masuk kekamarnya, sedangkan dinda masuk kamar mwnyiapkan air hangat unruk sang suami mandi, serta menyiapkan pakaian ganti untuk sang suami.


Ceklekkk.. Pintu kamar terbuka dan masuklah satria sambil melepaskan kemeja panjangnya yang sudah terlihat kotor.


" Mas mandi sana, aku sudah siapkan air hangat untuk kamu mandi. " Ucap dinda.


" Terimakasih dinda istriku sayang " Ucap satria sambil memeluk dinda dari belakang.


" Emmm...sudah malam mas,lebih baik mas segera mandi agar tidak masuk angin. " Ucap dinda yang tidak mau terjadi yang mengharuskan dia mandi malam - malam.


Namun sepertinya satria tidak memperdulikan ucapan sang istri. Dia tetap memeluk dinda dengan erat mulai menciumi dinda. Kalau sudah seperti itu dinda tidak bisa lagi untuk berkutik, akhirnya terjadilah hal yang mengharuskan dinda mandi dan keramas dimalam hari.


**********

__ADS_1


__ADS_2