
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Sarah mengamuk tidak jelas saat Satria dan Beni berhasil mendobrak pintu tempat Joni dikurung. Joni prihatin melihat keadaan ibunya yang berteriak-teriak seperti orang yang tidak waras. Namun mulut Sarah masih saja mengucapkan sumpah serapahnya untuk mereka yang ada disitu.
"Kurangajar kalian ! Lebih baik kalian semua mati daripada kalian mengganggu hidupku. Sialan kalian, lihat saja aku akan membalas apa yang sudah kalian lakukan padaku !! Setan kalian !!."Seru Sarah dengan lantang dan tidak peduli dengan Joni yang ketakutan.
Joni ada didepan Beni, dia terlihat syok dan ketakutan melihat Sarah yang terus berteriak. Awalnya Joni kasihan melihat mamanya, namun kini justru Joni ketakutan melihat mamanya yang sudah seperti orang tidak waras.
"Om, Joni takut."Seru Joni kepada Beni.
"Jangan takut, ada kami disini. Om Satria dan papamu sedang menangani mamamu."Seru Beni mencoba menenangkan Joni.
"Om kita pergi saja dari sini, ayok Om ajak papa dan om Satria pergi dari sini. Biarkan mama disini, jangan laporkan mama kepolisi Om, biarkan mama hidup dengan rasa bersalahnya sendiri dan biar Allah yang menghukum kesalahan dan dosa-dosa mama."Seru Joni dengan mata berkaca-kaca.
Reno mendengar apa yang dikatakan Joni sehingga dia segera menghampiri Joni dan memeluknya. Mungkin memang lebih baik mereka segera meninggalkan rumah itu sebelum Joni semakin ketakutan dan trauma melihat Sarah.
"Pergi kalian dari sini !!."Teriak Sarah dengan kedua tangan yang sudah berada dibelakang dan dipegang oleh Satria.
"Bagaimana Mas? Apa kita bawa Sarah kepolisi biar dia ditahan dan tidak akan mengganggu kalian lagi?" Tanya Satria meminta persetujuan Reno.
"Jangan om. Jangan laporkan mama kepolisi, Joni sudah memaafkan mama. Lagi pula Joni tidak ada yang sakit ataupun yang luka, biarkan mama Om. Sekarang lebih baik kita pulang, Joni takut." Seru Joni bicara tanpa mau melihat kearah Sarah.
Satria melihat kearah Reno untuk meminta persetujuan, Reno terlihat menganggukkan kepalanya tanda dia menyetujui perkataan Joni. Dengan kasar Satria menghempaskan tubuh Sarah kelantai sampai dia tersungkur dan kesakitan. Namun bukannya menyesali perbuatannya, Sarah justru menyeringai sinis kearah mereka semua.
"Kali ini kamu aku maafkan Sarah, semua ini karena Joni yang meminta untuk tidak melaporkanmu kepolisi. Sampai kamu mengulangi lagi, tidak ada kata ampun lagi untukmu. Jika kamu masih mengganggu kehidupanku aku tidak segan-segan melaporkanmu, bukti-bukti kejahatanmu hari ini sudah cukup untuk membuat kamu mendekam dipenjara."Seru Reno penuh dengan penekanan.
"Terserah kalian !! Sekarang kalian pergi dari sini, dasar orang-orang munafik !."Sentak Sarah tanpa takut.
__ADS_1
Satria meminta Reno dan Beni membawa Joni keluar lebih dulu, sebab dia ingin membuat sedikit perhitungan dengan Sarah. Setelah mereka bertiga keluar, Satria nendekati Sarah lalu menjambak rambut Sarah dengan kuat sampai wajah Sarah mendongak kebelakang.
"Ini peringatan terakhir untuk kamu, Sarah ! Jika kamu juga masih mencoba menyakiti keluargaku dan mencoba mencelakai anak dan istriku ! Aku pastikan kepala dan kakimu akan terpisah !" Seru Satria penuh penekanan.
Suara Satria tedengar dingin dan siapapun yang mendengarnya akan merinding. Itulah yang saat ini dirasakan oleh Sarah, bulu kuduknya berdiri mendengar ancaman dari Satria. Terlihat sekali jika Satria tidak sedang main-main.
Braaakkkkk
Satria kembali menghempaskan Sarah sampai Sarah menabrak meja dan keningnya terbentur. Kejadian itu Satria pastikan tidak terekam kamera, sebab Beni sebelum keluar tadi sudah mengambil kamera kecil yang menempel di dinding.
"Maaf."Seru Sarah dengan pelan.
Satria menyeringai dengan tajam, dia keluar dari rumah kontrakan itu dan segera menghampiri yang lainnya. Ternyata Beni dan yang lainnya sudah ada didalam mobil yang terparkir dilahan kosong samping rumah kontrakan Sarah.
"Mau ke rumah sakit apa pulang mas?." Tanya Satria.
"Joni minta pulang, Satria. Sepertinya memang tidak ada yang luka jadi kita pulang saja. Kasihan Joni sepertinya dia lelah dan ketakutan."Seru Reno sembari memgusap kepala Joni yang tiduran di pahanya.
"Baiklah kit pulang. Mas, Reno rekaman tadi simpan baik-baik. Itu semua bisa untuk mengancam Sarah agar dia tidak mengganggu kita lagi."Ucap Satria sembari menyandarkan tubuh lelahnya di sandaran kursi mobil.
Setelah menyerahkan kamera itu kepada Satria, Beni menghidupkan mesin mobil dan melaju meninggalkan pekarangan kosong itu. Terlihat Satria mengetik sesuatu diponselnya.
[Urus wanita itu dan pastikan dia tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Buat dia jera dan ketakutan, ingat jangan sampai kalin bunuh. Cukup kalian beri pelajaran saja.] Satria mengirim pesan kepada Bone.
Tingg
[Siap boss, aku pastikan wanita itu akan jera dan tidak akan berani mengganggu dan berulah lagi.]
[Bagus]
Setelah mobil menjauh, Bone dan Wardi masuk kerumah kontrakan Sarah. Sarah yang melihat kedatangan dua preman yang pernah menyekapnyapun sangat ketakutan. Apalagi saat ini tubuh Sarah benar-benar sakit dan keningnya pun mengeluarkan sedikit darah akibat benturan tadi sehingga kepalanya juga terasa sangat pusing.
"Apa yang ingin kalian lakukan ?."Tanya Sarah dengan wajah ketakutan.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu takut? Ayolah jangan takut cantik, bukannya dulu kamu yang menawarkan tubuhmu kepada kami? Lalu kenapa sekarang kamu ketakutan?." Seru Wardi sengaja menakut-nakuti Sarah.
"Pergi kalian dari sini ! Kalau kalian tidak mau pergi aky akan berteriak dan kamu akan dihakimi oleh para warga karena berusaha melecehkanku !."Teriak Sarah dengan ketakutan.
"Silahkan saja kamu teriak, sebab aku tidak akan takut. Main kamu kurang jauh cantik, disini adalah kampungku jadi aku bisa melakukan apa saja dan warga tidak akan peduli."Seru Bone juga ikut bersuara.
Ppllaakk
Ppllaakk
Dua tamparan dari tangan Bone mendarat dengan mulus di pipi Sarah. Bone dan Wardi tidak ada niat untuk meniduri Sarah, mereka hanya menakut-nakuti Sarah dan memberi Sarah pelajaran yang cukup berharga dan tidak akan pernah dilupakan oleh Sarah.
Bukan hanya tamparan, Wardi kini sudah mendekati Sarah dan mencengkram kedua pipi Sarah dengan satu tangannya. Sampai Sarah terlihat sekali kesakitan, tidak cukup disitu saja. Wardi juga menarik rambut Sarah dengan sangat kasar, seandainya mereka dapat izib dari Satria untuk menghabisi Sarah maka hari ini juga mereka akan menghabisinya.
"Ini akibatnya jika kamu berani mengganggu keluarga bos Satria. Kali ini kami hanya menghajarmu tidak membunuhmu, tetapi lihat saja jika sampai kamu berulah lagi. Kamu akan tinggal nama saja, mulai hari ini semua aktifitasmu dalam intain kami."Seru Bone dengan kasar.
*Sail ! Ini benar-benar sial, jadi mereka akan tahu apa saja yang aku lakukan. Lebih baik aku melupakan keinginan rujuk dengan mas Reno, dan aku tidak akan mengganggu hidup mereka lagi dan melupakan semuanya tentang mereka agar hidupku aman dari amukan Satria dan dua preman gila ini. Tapi aku berarti harus kembali lagi dengan dunia ku? Tidak masalah yang penting hidupku aman dan aku punya banyak uang .*°Gumam Sarah dalam batinnya.
"Iya aku janji tidak akan mengganggu mereka lagi. Aku kapok."Seru Sarah takut-takut.
"Bagus ! Jika kamu berulah lagi, air ini yang akan membakar wajah dan tubuhmu agar kamu cacat seumur hidup. Bila perlu sampai kamu mati secara perlahan-lahan."Seru Wardi sambil mengangkat air yang ada didalam botol drigen kecil. Padahal itu hanya air biasa namun Sarah sudah ketakutan.
"Tidak ! Tidak. Aku berjanji tidak akan mengganggu mereka lagi, tolong jauhkan air itu."Jawab Sarah ketakutan.
Haaaa haaaa Haaaa
Bone dan Wardi tertawa dengan lantang, mereka menertawakan kebodohan Sarah. Padahal itu isinya hanya air biasa, namun Sarah sudah sangat ketakutan sekali.
Selesai menakut-nakuti dan mengancam Sarah, Bone dan Wardi meninggalkan rumah kontrakan Sarah. Dengan segera Sarah bangkit dan mengunci pintu kontrakannya, dia terlihat sangat ketakutan. Takut jika wajahnya akan melepuh dan rusak akibat siraman air yang tadi dibawa Bone dan Wardi.
"Satria dan dua preman tadi ternyata mengerikan juga. Aku tidak bisa membayangkan jika air itu mengenai wajahku. Lebih baik aku jauh-jauh dari keluarga Satria dan keluarga mantan suamiku. Aku tidak mau mati konyol."Ucap Sarah terus bermonolog pada dirinya sendiri.
Sarah masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, kening nya terasa perih saat terkena air begitupun dengan sudut bibirnya yang terlihat pecah akibat tamparan yang mendarat di wajahnya. Sarah ingin segera menyelesaikan mandinya agar bisa segera pergi dari rumah kontrakannya.
__ADS_1
*Setelah ini aku akan berisirahat dirumahku sendiri. Dan jika tubuhku sudah membaik aku akan menemui Sinta dan Hakim.*Gumam Sarah dalam hatinya.
************