
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Satria sudah kembali disibukkan dengan urusan perusahaannya. Dinda juga sibuk dengan kuliah dan usaha cafe , butik dan salonnya. Pagi ini Dinda ke kampus , beruntung pagi ini dia tidak merasakan mual dan muntah. Dia terlihat biasa saja seperti tidak sedang hamil.
Sepulang dari kampus Dinda memilih ke Cafe saja, sebab sudah 3 hari dia tidak berkunjung dan memeriksa Cafe. Jika Butik dan Salon sudah ada Amara yang mengurusnya, Dinda tinggal mendapatkan laporannya saja dari Amara.
" Mbak Dinda beberapa hari yang lalu perempuan yang membuat keributan dengan mbak Dinda itu pernah dua kali datan kesini mencari mbak Dinda. Tapi setiap dia datang mbak pasti belum datang dan mbak tidak ada ditempat." Ucap menejer Cafe memberitahu Dinda.
" Apa dia datang dengan marah - marah ?" Tanya Dinda ingin tahu.
" Tidak, sepertinys wanita itu mau meminta maaf Mbak." Jawab sang menejer cafe.
Dinda memikirkan kedatangan Lisa yang mencarinya. Ada apakah sampai Lisa datang beberapa kali ke cafe ? Pasti sudah terjadi sesuatu antara Lisa dengan pekerjaannya. Bisa jadi Satria memang memecat Lisa. Memang sampai sekarang Satria tidak menceritakan tentang pemecatan Lisa kepada Dinda, akan tetapi Dinda bisa menabaknya jika Satria sudah memecat wanita yang bernama Lisa.
Dinda meminta sang manajer cafe untuk kembali ke ruangannya saja, sebab saat ini dia ingin sendiri saja di ruangan pribadinya. Dinda ingin menenangkan pikirannya, akhir-akhir ini banyak sekali masalah yang Dinda hadapi. Masalah dari keluarganya, dari mantan istri kakaknya, dari Hana dan masalah dari luar lainnya.
Hhhuuufff
Helaan nafas Dinda terdengar berat sekali. Seandainya saja jika tubuh nya dan semuanya yang ada pada dirinya ciptaan manusia mungkin sudah rusak dari dulu. Dinda tetap bersyukur masih tetap diberikan kesehatan sehingga dia bisa menjalani dan menyelesaikan setiap masalah yang ada, tentunya bersama dengan suami tercintanya juga.
" Seandainya waktu bisa terulang aku hanya ingin hubungan baik dengan para saudaraku kembali lagi. Dulu mereka sangat menyayangiku tapi tiba - tiba berubah karena mereka menganggap aku adik yang tidak berguna sebab aku menikah dengan mas Satria. Yang saat itu hanya sebagai pedagang cendol keliling." Ungkap Dinda pada dirinya sendiri.
__ADS_1
" Sekarang suami yang dianggap miskin ternyata adalah seorang yang kaya raya. Namun semua itu tetap saja tidak membuat saudaraku berubah menjadi lebih baik. Baiknya mereka hanya di saat butuh saja. Ya Allah seandainya hubunganku dengan keluargaku terutama dengan para saudara kandungku terjaga dengan baik pasti saat ini kami akan hidup rukun, dan aku akan sangat bahagia. " Dinda bermonolog sendiri.
Tringggg
[ Istriku sayang saat ini ada dimana ? Apa masih ada di kampus atau ada di Cafe.? ]
Deg
Pesan yang dikirimkan Satria membuat Dinda kaget sebab Dinda belum menceritakan kepada Satria, Jika dia sudah berkuliah. Tetapi Satria sudah tahu lebih dulu Dinda pun serba salah harus menjawab bagaimana. Sebab dia sudah ketahuan berbohong oleh suaminya.
[ Aku ada di cafe mas. Kok mas tahu aku tadi dari kampus?.] Balas Dinda dan bertanya kenapa suaminya bisa tahu dia dari kampus.
[ Ya sudah kalau sudah ada di cafe, jangan lupa makan siang. Ingat ada bayi dalam kandungan kamu. Soal kampus aku sudah tahu jadi kamu tidak perlu menutupinga lagi.]
Dinda mengerutkan keningnya saat membaca pesan balasan dari Satria. Bahasa yang Satria gunakan tidak seperti biasanya, wahh gawat sepertinya saat ini Satria sedang marah dan merajuk. Sebab sudah dibohingi oleh sang istrinya.
[ Iya , tapi sepertinya malam ini aku akan pulang malam. Aku akan menjalankan rencana ku dan Indra, tentunya dengan bantuan polisi juga. ]
[ Baiklah, hati-hati ya Mas]
[ Iya ]
Satria hanya membalas dengan kata Iya kata yang sangat singkat dan pendek. Dinda yakin saat ini suaminya memang sedang marah, sebab tidak biasanya Satria bersikap seperti itu.
Sementara itu saat ini Satria dan Indra sudah berada di kantor polisi. Satria dan Indra melaporkan apa yang dia ketahui tentang Badar. Polisi sangat senang mendapat informasi yang memang selama ini sudah mereka tunggu-tunggu. Apalagi Badar memang salah satu pengedar kelas kakap yang sangat licin dan susah untuk ditangkap.
" Pak Satria bisa mendapatkan informasi ini dari mana?." Tanya petugas kepolisian karena mereka tidak mau jika hanya sebuah laporan palsu saja harus dilandasi dengan alasan dan bukti-bukti nyata. Meskipun mereka senang karena masalah Badar mulai ada titik terang, namun mereka tetap ingin keyakinan yang pasti.
__ADS_1
" Dari ini, di ponsel ini bisa terlihat jika Badar malam ini akan melakukan transaksi. Ini ponsel keponakan saya yang sengaja tersambung dengan ponsel Badar. Karena ponsel Badarsl sudah disadap oleh keponakan saya." Seru Satria menjelaskan.
" Hubungan Badar dengan keponakan anda apa? Apa keponakan anda salah satu pemakai atau pengedarnya juga?." Tanya polisi dengan penuh selidik.
Satria menggelengkan kepalanya dengan pasti, dia pun menceritakan yang sebenarnya kepada polisi. Namun Satria tidak menceritakan tentang Hana yang dijadikan jaminan hutang oleh mama kandungnya sendiri. Satria hanya menceritakan jika Badar menyukai sang keponakan, Hana.
" Tapi saya minta tolong sama bapak dan anggotanya, jangan sampai Badar tahu jika saya dan keponakan saya yang menyampaikan informasi ini. Saya tidak mau nyawa keponakan saya terancam, apalagi Badar ini kelas pengedar terbesar di kota ini. Sudah pasti dia punya jaringan yang kuat." Ucap Satria meminta kepolisian merahasiakan tentang berita ini kepada publik.
" Pak Satria tenang saja, rahasia ini aman dan tidak ada yang tahu selain anggota kepolisian disini. Itu pun hanya saya dan beberapa anggota saja yang tahu. Terima kasih atas informasi Pak Satria dan Pak Indra. Semoga dengan laporan ini kami bisa segera menangkap Badar dan para jaringannya yang lainnya."Ucap polisi penuh harap.
Satria dan Indra hanya menganggukan kepalanya. Satria akan tetap terus berkomunikasi dengan kepolisian di saat proses penggerebekan Badar. Satria bisa tahu pergerakan Badar dari ponsel Hana yang saat ini ada ditangan Satria. Setelah urusannya di kantor polisi selesai, Indra dan Satria memilih segera kembali ke perusahaan karena ada meeting dengan klien dari luar kota.
" Kamu sudah kirim ponsel ganti untuk Hana ?" Tanya Satria saat perjalanan menuju perusahaan.
" Sudah tadi pagi aku sudah mengirim toko langgananmu untuk mengantarkan ponsel dan nomor baru kerumahmu. Oh iya, masalah Hana yang mau keluar negeri apa kamu yakin? Hana disana tidak ada teman loh Satria, apa dia akan betah? ." Ucap Indra hanya khawatir Hana tidak betah tinggal disana.
" Kamu tenang saja. Disana nanti Hana tidak akan tinggal sendiri, aku akan menyuruh Amara untuk ikut dia ke sana." Seru Satria sengaja ingin membuat Indra marah.
Ciiittttttt
Tiba - tiba Indra mengerem secara mendadak saat tahu jika Amara akan ditugaskan untuk menemani Hana selama tinggal diluar negeri.
" Jangan gila kamu Satria !! Kalau kamu menyuruh Amara keluar negeri bagaimana dengan nasib ku ? Kamu mau aku jadi bujang lapuk?" Seru Indra terlihat sangat kesal.
" Awas saja kalau sampai mobil ku tadi menabrak atau ditabrak karena ulahmu yang mengerem secara mendadak. Baru juga begitu sudah takut banget sih, hahahaaa... Tenang saja Indra, aku tidak akan menyuruh Amara untuk menemani Hana selama di luar negeri. Bukannya disana ada orang kepercayaan kita dan Hana akan bersekolah di ST School. Tidak ada yang tahu jika sekolahan itu adalah milikku, cuma kamu dan orang kepercayaan yang mengelola sekolahan itu. Jadi nanti Hana akan tinggal di Asrama. Jangan salah meskipun sekelas luar negeri juga ada Asramanya " Seru Satria menjelaskan dengan detail.
Indra justru mengerucutkan bibirnya, dia kesal karena Satria sudah berhasil mengerjainya. Dia sendiri juga yang pelupa , jika Satria diluar negeri juga punya sekolahan yang cukup besar dan terkenal diluar negeri sana. Banyak anak dari Indonesia yang bersekolah disana. Dari mulai pendidikan menengah atas hingga jenjang kuliah. Hanya beda gedung dan namanya saja. ST School dan ST Universitas.
__ADS_1