
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
" Ini mas Ardi ngapa ya telepon aku? Tumben banget dia telepon. Hemm aku coba telepon balik saja, siapa tahu ada hal yang penting."Ucap Reno pada dirinya sendiri sembari duduk santai di teras rumahnya.
Reno dari sore memang tidak pegang ponsel, ponselnya ada di kamar dan baru malam ini dia lihat. Sehingga dia baru tahu jika Reno tadi menghubunginya.
Sambungan telepon tersambung, namun sampai dua kali panggilan Ardi belum juga menganggkatnya. Reno melihat jam yang ada di ponsel baru menunjukan pukul 8 malam kurang 10 menit saja.
" Baru juga jam 8 kurang, masa iya mas Ardi sudah tidur. Ya sudahlah, siapa tahu dia memang sudah tidur atau lagi bersantai dengan anak istrinya."Ucap Reno lagi pada dirinya sendiri.
Dreett Dreett Drett
Namun tiba-tiba ponsel Reno bergetar, ada panggilan masuk dari Ardi. Dengan cepat Reno mengangkatnya.
[ Hallo Assalamualaikum mas Ardi. Maaf saya baru lihat ponsel, tidak tahu kalau mas tadi telepon. Ada apa ya mas?] Ucap Reno langsung memberondong.
[ Waalaikumsalam Reno. Emm memang ada yang ingin aku sampaikan, ini soal Sarah. Begini Ren, Sarah meninggal jam setengah 3 tadi dan sudah langsung dimakamkan. Ini sebenatnya dirumah kontrakan Sarah juga sedang ada tahlilan. ] Ucap Ardi memberitahu Reno soal kematian Sarah.
Apa? Sarah meninggal ? Jantung Reno berdetak tidak menentu. Dia syok dan kaget mendengar kabar kematian Sarah, bagaimanapun dulu Sarah pernah ada di hatinya. Reno langsung teringat dengan Joni, bagaimana reaksi Joni jika dia tahu mamanya meninggal.
[ innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Sarah meninggal mas? Aku benar-benar tidak tahu, sepulang dari toko aku main dengan anak dan ponsel ada di kamar. Joni pasti bersedih jika tahu Sarah meninggal. Mas Ardi menginap?.]
[ Iya aku dan Sinta menginap disini, kami akan pulang besok siang.]
[ Besok pagi saya dan Joni akan kesana mas, tolong mas dan mbak Sinta jangan pulang dulu ya.]
[ Iya, kami pulang siang Ren. Besok kami tunggu disini, kalau begitu teleponnya aku matiin ya. Masih mau lanjut tahlilan ini]
[ Oh iya mas, terima kasih atas informasinya. ]
[ Sama-sama. Assalamualaikum.]
__ADS_1
[ Waalaikumsalam.]
Setelah sambungan telepon terputus, Reno masuk rumah dan mencari keberadaan Joni untuk memberitahu jika Sarah sudah tiada. Reno membuka pintu kamar Joni dengan pelan, dilihatnya Joni sedang menyusun buku di rak bukunya.
" Eh papa, ada apa Pa?."Tanya Joni yang menyadari keberadaan papanya.
" Besok minggu kan? Kamu libur dan tidak ada kegiatan?."Tanya Reno.
" Besok sekolah memang libur pa, tapi Joni ada janji sama teman-teman mau main bola. Latihan saja untuk persiapan turnamen antar sekolah bulan depan pa, memangnya ada apa pa?."Tanya Joni penasaran sebab papanya jarang sekali menanyakan soal kegiatan sekolahnya.
" Besok tidak usah ikut latihan dulu ya. Besok pagi kita berangkat ke daerah XX, kita ke rumah mama kamu. Emm mama kamu meninggal Jon."Ucap Reno langsung membawa Joni dalam pelukannya.
Joni tidak bisa berkata-kara lagi, air matanya sudah tumpah begitu saja. Seburuk-buruknya Sarah, Joni tetap menyayangi Sarah sebagai mama kandungnya. Justru Joni merasa bersalah sudah pernah mengabaikan Sarah.
" Papa tahu darimana? Kenapa tante Ira tidak mengabari Joni?."Seru Joni sambil terisak.
" Mungkin tante Ira lupa atau sibuk mengurus ini dan itu. Papa tahu dari Om Ardi suami tante Sinta, mereka sekarang ada disana. Besok pagi kita kesana ya, sudah jangan menangis lagi. Setiap manusia yang hidup pasti akan kembali kepada sang penciptanya. Sekarang yang mama mu butuhkan hanya doa dari kita."Ucap Reno mengusap punggung Joni dengan lembut.
* Ya Allah, kini surga ku sudah kembali kepadaMu. Jagalah dia dan tempatkanlah dia di tempat yang paling indah dan ampunilah segala salah dan dosanya. Aamiin.* Gumam Joni berdoa dalam hatinya.
*****
Keesokan paginya, Reno, Cahaya dan Joni berangkat menuju tempat tinggal Sarah. Cahaya akhirnya juga ikut karena dia ingin tahu tempat peristirahatan terakhir Sarah meskipun tidak bisa melihat Sarah lagi.
Setelah menempuh perjalan, 1 jam 10 menit mobil Reno sampai di rumah kontrakan Sarah. Ardi dan Sinta menyambut kedatangan mereka dengan sangat baik.
" Tante Sinta, apa bisa kita langsung ke makam mama?."Tanya Joni setelah mereka betistirahat sejenak.
" Bisa Jon, ya sudah yuk kita kesana sama-sama. Mbak Ira, saya titip Anggun ya. Kami mau kemakam dulu, bilang sama ibunya mbak Ira tidak perlu menyiapkan makan siang. Soalnya setelah dari makam kita mau langsung pulang."Ucap Sinta berpesan.
Ira mengangguk, setelah itu mereka semua pun ke makam Sarah yang letaknya tidaklah jauh. hanya perlu waktu 10 menit saja mereka sudah sampai. Mereka tetap membawa mobil nya masing-masing.
" Mama, Joni datang ma. Maaf jika Joni kemarin tidak mengantarkan mama ketempat istirahat terakhir mama. Tapi Joni akan tetap mendoakan yang terbaik untuk mama. Mama, adek Anggun di asuh oleh tante Sinta kan? Joni akan tetap menyayangi adek Anggun ma, tante Sinta juga sudah bilang kapanpun Joni bisa menjenguk adek Anggun. Mama, semoga mama mendapatkan tempat terindah disana. Joni sayang mama."Ucap Joni sambil mencium nisan kayu Sarah.
Joni terisak, bukan hanya Joni saja yang terisak. Semua yang ada disana juga ikut menangis. Mereka semua juga tidak kuasa menahan tangisnya.
" Mbak Sarah, aku Cahaya. Mbak tenang disana ya, Joni itu anak baik mbak. Dia sudah aku anggap anakku sendiri, dia juga sangat menyayangi mbak Sarah. Istirahatlah dengan tenang ya mbak."Ucap Cahaya.
__ADS_1
Mereka pun berdoa bersama di dekat pusara Sarah. Selesai berdoa mereka semua kembali ke rumah kontrakan Sarah, dan bersiap-siap untuk pulang.
*******
Seminggu berlalu
Hari ini adalah hari lamaran Hakim dan Melisa, Hakim datang bersama dengan keluarganya. Hanya ada, Satria, nenek Murni, Dinda, Indra Amara dan ada 4 tetangga serta 5 orang pekerja di rumah Satria yang ikut. Kedua orang tua Hakim tidak bisa ikut karena masa hukumannya masih belum selesai.
" Jadi Hakim ini adik nya Satria?."Tanya pak Arman, ayah dari Melisa.
Pak Arman lah dulu yang memang tidak setuju dengan hubungan Melisa dan Satria. Bukan tanpa alasa, pak Arman hanya ingin Melisa berkuliah sampai selesai dulu baru dia menjalin hubungan asmara dengan lawan jenisnya.
" Iya Pa. Tapi sudah jangan bahas yang sudah berlalu, sekarang masa depanku ada sama mas Hakim. "Ucap Melisa tidak mau jika papanya mengingat masalalu.
Hemmmm
Pak Arman hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia paham apa yang dikatakan oleh Melisa. Acara lamaran Hakim dan Melisa pun berjalan dengan lancar. Melisa menerima lamaran Hakim dengan begitu bahagia. Acara pernikahan akan dilaksananak dalam 1 bulan kedepan.
" Lamaran sudah selesai, sekarang kita makan dulu ya."Seru Anis mamanya Melisa.
" Iya bu."Jawab Nenek Murni mewakili semuanya.
Dua keluarga besar itupun makan siang bersama, terlihat sekali wajah bahagia pada sepasang calon pengantin yang baru saja mengadakan acara lamaran. Selesai makan siang dan berbincang cukup lama, keluarga Hakim dan rombongan pun pamit pulang.
Rombongan keluarga Hakim pun kini dalam perjalanan pulang. Hakim juga ikut pulang di rumah utama.
" Hakim kamu dan Melisa yakin tidak mau mengadakan pesta di gedung?."Tanya nenek Murni.
" Yakin nek. Hakim ikut apa kata Melisa saja, Melisa mau acara pernikahan nanti tenang dan sakral dan tidak membuat capek. Hehehee.. Mungkin Melisa mau menyiapkan tenaganya untuk malam pertama kita nanti."Ucap Hakim sambil terkekeh.
" Belum juga menikah, pikirannya sudah mesum."Seru Satria juga ikut tertawa.
Semua yang ada di dalam mobil itupun ikut tertawa dengan kekonyolan Hakim. Tanpa terasa mobil mereka sudah memasuki halaman rumah utama. Indra dan Amara memilih langsung pulang saja, sebab saat ini Amara juga sedang hamil jadi perlu banyak istirahat.
Usia kehamilan Dinda sendiri saat ini sudah 8 bulan. Meskipun hamil tua, Dinda justru kelihatan sangat cantik dan anggun. Membuat Satria semakin yakin jika anak ke 2 nya ini seorang perempuan.
********
__ADS_1