Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Sampai di Jerman


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Tante Dinda....!!"


" Om Satria.....!!"


Hana ber teriak sambil berlari menyambut kedatangan Dinda dan Satria, Dinda dan Satria sudah sampai di Jerman dan saat ini ada di bandara. Hana dengan salah satu orang kepercayaan Satria menjemput Dinda dan Satria.


"Idih keponakan tante semakin cantik saja.Tante kangen banget dan semua keluarga di Indonesia sangat kangen dan merindukan kamu. Oh iya, bagaimana kabar kamu disini?Tentunya baik kan? Betah tinggal disini?."Tanya Dinda beruntun akibat terlalu merindukan Hana.


"Ih tante Dinda ini. Satu persatu dong tante kalau bertanya. Biar Hana tidak bingung saat menjawabnya."Seru Hana yang kini sudah melingkarkan tangannya di lengan Dinda.


Sedangkan Satria memasukannya barang-barang bawaannya kedalam bagasi mobil dan tidak menghiraukan dua wanita beda usia itu sedang berdebat sembari melepaskan rasa rindu mereka.


"Kangen-kangenannya nanti lagi ya, sekarang kita ke hotel dulu. Soalnya badan Om Satria sudah lelah dab lengket sekali nih. Pengen mandi dan segera istirahat."Ucap Satria sembari membukakan pintu mobil agar Dinda dan Hana segera masuk ke mobil.


Hana dan Dinda mengangguk dan mereka berdua segera masuk mobil dibagian belakang. Sedangkan Satria duduk di kursi samping kemudi, mobil di kemudikan oleh Bayu, orang kepercayaan Satria yang dia tugaskan untuk menjaga Hana.


"Kok adek Raja tidak di ajak sih tante?."Tanya Hana, padahal dia sangat ingin bertemu dengan Raja dan sangat berhara Raja ikut. Ternyata kenyataanny tidak sesuai dengan harapan.


"Raja belum boleh ikut perjalan jauh, Hana. Adek Raja masih terlalu kecil, Tante Dinda saja mabuk pesawat. Beruntung om Satria selalu sabar menghadapi tante yang mabuk, kalau tidak ada om Satria tante pasti sudah tidak berdaya didalam pesawat."Ucap Dinda dengan jujur.


"Beruntung Hana waktu itu tidak mabuk pesawat. Padahal banyak sekali obat pereda mabuk yang Hana bawa. Ternyata Hana malah tidak mabuk, kabar semua keluarga sehat kan , Tante?." Tanya Hana dengan antisius menanyakan kabar keluarga di Indonesia.


"Alhamdulillah mereka semua sehat, Hana."Jawab Dinda singkat.


Hana sudah tidak banyak bertanya lagi, dia memberikan Dinda waktu untuk sekedar memejamkan matanya untuk beristirahat. Hana juga terdiam dan fokus dengan ponsel ditangannya. Perjalanan menuju hotel lumayan jauh, ada sekitar 45 menit. Satria sengaja mencari hotel yang dekat dengan Asrama tempat Hana tinggal agar memudahkan mereka untuk saling bertemu.

__ADS_1


"Tante Dinda tidur ya, Han?." Tanya Satria yang sudah tidak mendengar suara Dinda.


"Iya Om. Kasihan tante Dinda, sepertinya dia sangat kelelahan. "Jawab Hana dengan bijak.


"Iya , Kasihan tante kamu. Dia mabuk berat, semoga saja nanti saat pulang sudah tidak mabuk pesawat lagi."Seru Satria penuh Harap.


Hana hanya mengangguk pelan, dengan pandangan tetap di layar ponsel. Hana serius membaca pesan yang dikirimkan oleh Joni. Joni menceritakan jika beberapa hari yang lalu di sekap oleh Sarah, dan saat ini dia sangat takut jika bertemu dengan Sarah. Dia juga benci dan tidak mau bertemu dengan Sarah.


*Kasihan sekali Joni harus mengalami hal seperti ini. Beruntung sekali saat ini Joni memang sudah selesai ujian. Apa yang Joni alami juga hampir sama dengan yang aku alami,bedanya Joni disekap karena menjadikan Joni sebagai alat untuk bisa rujuk dengan, Om Reno. Sedangkan aku, aku dijual untuk membayar hutang-hutang mama.*Gumam Hana dalam batinnya.


Tanpa terasa Hana teringat kembali masa-masa perjuangannya bisa lepas dari bayang-bayang sang mama, Sinta. Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, mobil yang dikendarai Bayu sudah sampai didepan hotel yang akan menjadi tempat menginap Dinda dan Satria.


Bayu diminta Satria untuk mengantarkan Hana ke asrama lagi. Satria dan Dinda ingin istirahat terlebih dahulu, dan berjanji bertemu lagi dengan Hana sore nanti. Hana memang dengan mudah keluar dari Asrama, sebab Asrama itu juga dibangun oleh keluarga Satria.


"Mas, aku mau mandi dulu ya. Biar badanku lebih segar." Seru Dinda saat sudah sampai didalam kamar.


"Iya kamu mandi saja dulu, nanti gantian mas. Setelah inu kita istirahat, agar nanti sore kita bisa jalan-jalan menikmati negara Jerman."Seru Satria.


"Iya mas."Jawab Dinda sambil menganggukkan kepalanya.


*************


Selama dua hari Hakim memang sering datang kerumah Sarah sekedar untuk menyalurkan Hasratnya. Saat diluar Sarah yang jadi tujuan utamanya dan saat dirumah Sinta yang jadi tujuannya. Dua wanita itu saat ini benar-benar membuat Hakim mabuk kepayang. Dengan Sarah, Hakim mendapatkan kepuasan dan dengan Sinta, Hakim mendapatkan materi yang berlimpah.


Tanpa Hakim sadari saat ini Sarah sudah menularkan penyakit kepada dirinya. Pada dasarnya Hakim memang sudah tertular sebelum Sarah berniat menularkannya.


"Kamu kenapa, Sayang?." Tanya Sarah saat melihat Hakim keluar dari kamar mandi seperti sedang menahan rasa sakit.


"Emm ini sayang, kok milikku sudah berhari-hari terasa nyeri dan ada luka seperti bernanah begini. Kira-kira kenapa ya, Sayang? Mana terasa gatal sekali ini." Tanya Hakim sambil menunjukkan miliknya.


Sarah tersenyum sinis, akhirnya apa yang dia harapkan terjadi juga dengan Hakim. Tidak menutup kemungkinan Sinta juga sebentar lagi akan tertular juga. Senyum Sarah tipis disudut bibirnya sehingga Hakim saja tidak mengetahuinya.


"Mungkin kamu alergi makanan." Seru Sarah pura-pura tidak tahu apa yang terjadi dengan Hakim.

__ADS_1


"Alergi? Aku tidak ada alergi makanan apapun itu Sarah. Mungki apa karena kita terlalu sering melakukannya, dua hari ini kita kan melakukannya terus menerus. Bahkan sehari bisa sampai 3 kali main, jadi milikku lelah."Ucap Hakim dengan bodohnya.


"Oh..begitu. Bisa jadi sih, tapi apa kamu memang tidak mau main denganku. Padahal selama ini kamu sangat menikmati semuanya, Sayang. Jadi jangan berkata seperti itu dong, seolah permainan kita yang sudah membuat kamu seperti itu."Ucap Sarah pura-pura merajuk agar Hakim merasa bersalah.


Hakim mendekati Sarah yang sedang duduk si kursi meja riasnya. Mereka memang baru saja melakukannya, dan ini yang ke tiga kalinya untuk hari ini. Sarah sudah mandi lebih dulu, sehingga dia saat ini masih merias wajahnya.


"Maaf sayang. Aku tidak bermaksud seperti itu, jangan ngambek dong. Kalau kamu ngambek seperti itu aku jadi sedih loh dan nanti dia juga ikut sedih loh, Sayang."Ucap Hakim yang saat ini sudah berdiri dibelakan Sarah sembari memegang pundak Sarah.


"Iya sayang dimaafkan. Ya sudah sekarang kamu cepat bersiap-siap pulang, aku tidak mau Sinta tahu jika kita masih ada hubungan. Bisa-bisa aku dihajarnya habis-habisan, mana aku masih ada hutang 75 juta sama dia. Emm Sayang, sebenarnya aku lelah terus menjadi wanita panggilan. Aku ingin menjadi wanita mu seutuhnya dan hanya kamu yang bisa menyentuhku. Tapi aku tidak berdaya saat Sinta marah, terlebih aku punya hutang. Aku lelah sayang menjadi wanita panggilan."Ucap Sarah dengan menunjukan wajah sedihnya agar Hakim merasa kasihan dan bersimpati kepadanya.


"Lantas kita harus bagaimana, Sayang. Aku tidak bisa melawan Sinta untuk membela mu. Yang ada dia akan curiga saat aku membela kamu. Atau begini saja, kamu tidak perlu memikirkan soal hutang kamu kepada Sinta. Nanti biar aku yang kasih kamu uang, dan uang itu bisa kamu gunakan untuk membayar hutang kepada Sinta. Nanti aku transfer, kamu punya hutang masih 75 juta lagikan? Tenang aku akan transfer kamu 100 juta."Ucap Hakim sambil memeluk Sarah dari belakang.


*Yesss !! Akhirnya Hakim masuk perangkap juga, terligat sekali jika dia memang sangat mencintaiku. Hemm aku akan pergunakan kesempatan ini untuk mengeruk uangnya Sinta melalui Hakim. Hakim saat ini sudah ada dalam genggamanku dan dengan mudah aku mengendalikannya. Disaat uang Sinta sudah berpindah ke rekeningku, aku akan pergi menjauh dan melakukan pengobatan untuk penyakit ku ini. Dan Sinta serta Hakim akan dipenjara, karena aku akan melaporkan usaha-usaha mereka ke polisi.*Gumam Sarah dalam batinnya.


Sarah tersenyum lebar lalu dia bangkit dari duduknya dan menghadap kearah Hakim. Sarah memeluk Hakim dengan erat seolah enggan untuk melepaskan pelukan Hakim.


"Aku transfer sekarang ya, Sayang. Lepaskan dulu pelukannya, kalau begini terus nanti ada yang bangun lagi loh dan yang ada aku tidak jadi pulang dong."Seru Hakim sambil terkekeh.


"Iya mas, maaf ya. Soalnya aku terlalu mencintai kamu jadi terasa sulit untuk melepaskan pelukan ini. Jangan nakal ya, untuk hari ini sudah dulu. Sudah 3 kali loh dan hampir 6 jam kita main, ya sudah sekarang transfer saja uangnya agar aku bisa transfer langsung ke Sinta."Seru Sarah dengan manjanya.


Hakim mengangguk lalu mengambil ponsel yang ada diatas nakas. Dengan segera dia membuka aplikasi bank onlinenya dan mentransfer uang 100 juta ke rekening Saeah. Tidak menunggu lama, ponsel Sarah pun ada notifikasi pesan masuk.


Tringgg


Sarah segera melihat pesan itu, dan benar saja itu adalah sms dari bank. Uang 100 juta kini sudah masuk di rekening pribadinya.


"Terimakasih, Sayang. Oh iya sayang, apa kamu tidak takut Sinta tahu soal uaang 100 juta ini ?."Tanya Sarah merasa heran sebab Hakim dengan mudahnya mentranafer uang 100 juta.


"Kamu tenang saja, Sayang. Sinta tidak akan tahu dan tidak akan pernah tahu, dia tidak tahu rekeningku yang ini. Rekening ini aku buat sekitar 3bulan yang lalu dan rekening ini khusus untuk tabunganku sendiri. Sarah sayang, kamy tenang saja. Sinta tidak akan tahu kalau aku sudah mengambil uangnya."Seru Hakim dengan santainya.


"Maksud nya bagaimana?."Tanya Sarah tidak mengerti dengan jelas.


"Sinta itu sekarang terlalu percaya denganku dan terlalu bodoh. Pokoknya saat ini aku bisa mengendalikan uang Sinta, tanpa Sinta menaruh curiga kepadaku. Sudah kamu jangan bingung-bingung lagi soal uang, ada aku yang akan menjamin hidupmu. Jika uang Sinta sudah aku keruk, aku akan meninggalkannya dan kita pergi dari kota ini lalu kita menikah di sana."Seru Hakim dengan serius.

__ADS_1


Sarah semakin senang mendengar apa yang dikatakan Hakim. Akhirnya Hakim bisa mengendalikan dan mengelabuhi Sinta juga. Pucuk dicinta ulampun tiba, itulah saat ini yang dirasakan oleh Sarah.


***************


__ADS_2