
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Dua bulan kemudian
Kini kehamilan Sarah sudah masuk usia kandungan ke 4 bulan. Kesehatan Sarah pun semakin menurun namun dia mencoba untuk tetap kuat. Meskipun keadaannya sudah tidak sesehat dulu, Sarah masih tidak ada niat untuk meminta maaf kepada orang-orang yang pernah dia lukai hatinya, salah satunya keluarga mantan suaminya, Reno.
"Mbak Sarah hari ini jadwal nya ke dokter untuk cek kesehatan. Apa mbak Sarah sudah siap?."Tanya Ira memberitahu Sarah.
"Aku malas Ra. Sudahlah aku tidak mau lagi ke dokter, tinggal beli obatnya saja di apotik. Buang-buang waktu saja kedokter, hasilnya dan obatnya juga sama saja kok."Seru Sarah dengan malas.
Hhhuuuffff
Ira mendengus dengan malas, ini bukan pertama kalinya Sarah menolak untuk berobat. Padahal dokter sudah menjadwalkan dua minggu sekali Sarah harus memeriksakan kesehatannya. Apalagi Sarah memang masih menderita penyakit kelamin juga.
"Apa mbak Sarah tidak mau sembuh dan merawat anak mbak, Sarah?." Tanya Ira.
"Anak ini lahir juga aku akan memberikannya ke panti asuhan, Ra. Aku tidak sanggup merawat anak ini tanpa adanya suami. Mana aku juga tidak bekerja, tabunganku juga lama-lama habis."Jawab Sarah tanpa melihat kearah Ira.
Sarah sibuk dengan ponsel di tangannya untuk mengalihkan pembicaraan dengan Ira. Ira sudah berusaha membujuk Sarah, namun Sarah tetap saja tidak mau. Justru Sarah akan pergi ke mall untuk cuci mata.
"Aku mau ke Mall, bosan aku di rumah terus menerus."Seru Sarah bangkit dan langsung menyambar kunci mobilnya.
"Tapi mbak, apa mbak Sarah tidak mau ke dokter dulu baru nanti pergi ke mall?."Tanya Ira masih saja mencoba meminta Sarah untuk ke rumah sakit terlebih dahulu.
"Tidak perlu. Kamu saja yang kerumah sakit, Ra. Kalaupun aku mau mati ya memang sudah saat nya aku mati."Jawab Sarah dengan santainya.
"Tapi setidaknya kita ada usaha untuk sembuh mbak. Ini demi anak dalam kandungan mbak,Sarah. Jika mbak nanti tidak mau merawatnya, aku mau merawat anak mbak Sarah."Seru Ira.
__ADS_1
Sarah sudah tidak peduli dengan apapun yang di ucapkan oleh Ira. Dia masuk ke mobilnya dan segera melaju meninggalkan rumah kontrakannya. Ira sebenarnya juga tidak suka dengan sikap Sarah yang ketus dan seolah merasa paling benar. Dia mau dekat dan baik dengan Sarah lantaran kasihan dengan keadaan Sarah, terutama dengan bayi dalam kandungan Sarah.
"Semoga mbak Sarah dan anak dalam kandungannya baik-baik saja. Aku hanya mendoakan saja yang terbaik untuk keduanya."Ucap Ira sambil melihat kepergian Sarah yang semakin jauh.
Ira pun keluar dari rumah kontrakan Sarah, dia mengunci pintu lalu pulang kerumahnya sendiri yang memang tidak jauh dari kontrakan Sarah.
Sementara itu di tempat lain, saat ini Sinta sedang jalan-jalan di mall dengan Bagas. Dari semalam, Bagas sudah menginap dirumah Sinta. Dan Sinta sama sekali tidak keberatan jika Bagas menginap.
Namun sampai sekarang hubungan Sinta dan Ardi belum jelas. Ardi belum berani mengutarakan isi hatinya langsung kepada Sinta, takut jika Sinta menolaknya. Namun, jika ingin mendekati dan menjadikan Sinta istri, Ardi sudah mendapat dukungan dari Satria. Satria sudah cerita banyak soal kisah hidup Sinta, dan Ardi sama sekali tidak mempermasalahkannya.
Setiap manusia pasti punya masalalu dan kesalahan. Jadi tidak perlu menghakiminya terlebih orang itu sudah berubah menjadi lebih baik lagi.
"Tante kita kesana yuk. Itu sepertinya ada mainan yang bagus."Seru Bagas menunjuk kearah tempat mainan tersusun dengan rapi.
"Boleh, tapi ingat kata papa ya. Kalau Bagas tidak boleh boros untuk beli mainan terus menerus. Kalau Bagas beli mainan banyak-banyak nanti tante Sinta loh yang dimarahi sama papanya, Bagas." Seru Sinta mengingatkan Bagas.
"Iya tante. Oh iya, kenapa sih tante Sinta tidak jadi mamanya Bagas saja. Bagas kan tidak punya mama dan jika tante yang jadi mamanya Bagas. Bagas pasti akan senang sekali, mau ya jadi mamanya Bagas."Ucap Bagas bicara tidak pada tempatnya.
Sarah melihat keselilingnya, beruntung orang-orang tidak ada yang memperhatikan mereka. Sinta tidak bisa menjawab pertanyaan Bagas, menurutnya itu hal yang terlalu pribadi untuk dibicarakan di tempat umum seperti saat ini.
"Ok mama Sinta."Ucap Bagas merubah nama panggilan Sinta menjadi mama Sinta.
Sinta hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah polos Bagas. Sinta sama sekali tidak marah saat Bagas memanggilnya mama. Tidak tega untuk memarahi Bagas, apalagi Bagas memang seorang anak piatu yang tidak mempunyai mama.
Bagas berlari menuju toko mainan yang berada di dalam mall itu tanpa memperhatikan sekelilingnya, sehingga tanpa sengaja dia menabrak seseorang.
Bbrruukkk
Tabrakan tidak bisa dihindari, Bagas terjatuh sedangkan orang yang dia tabarak terhuyung namun tidak sampai jatuh sebab dia berpegangan orang yang lewat di depannya.
"Bagas."Seru Sinta langsung menghampiri Bagas yang tersungkur dilantai.
"Hai anak sialan !! Ini itu Mall bukan lapangan !! Atau jangan-jangan kamu itu tidak di ajari sopan santun sama orang tua kamu sampai kamu tidak bisa diam begini?."Tanya wanita itu dengan lantang sampai ucapannya menimbulkan kekepoan orang. Sehingga orang-orang pada melihat kearah mereka.
__ADS_1
Ddeegghh
Sinta langsung terdiam, dia hafal betul siapa pemilik suara lantang itu. Sehingga dengan cepat Sinta mendongakkan kepalanya, dan ternyata orang yang saat ini ada di hadapannya adalah Sarah. Wanita yang dia cari-cari, Sinta ingin meminta uangnya yang dibawa Sarah kabur.
Meskipun Sarah mendapatkannya dari Hakim, akan tetapi uang yang diberikan itu adalah uang Sarah yang digelapkan oleh Hakim.
"Sarah !." Seru Sinta dengan tegas.
Sarah memperhatikan wanita berhijab yang saat ini ada didepannya. Dan diapun mengenali wanita itu yang tidak lain adalah, Sinta.
"Sinta ! Kamu Sinta? Wah wah sekarang sudah insyaf ya. Atau jangan-jangan hanya untuk kedok saja, sengaja tertutup hanya untuk menutupi pekerjaan mu saja. Aku kira kamu sudah ada di penjara."Ucap Sarah sambil tertawa kecil.
"Jaga mulut kamu, Sarah. Aku seperti ini untuk menjadi manusia yang lebih baik. Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, sebab sudah lama aku meninggalkan dunia kelam itu. Oh, jadi ternyata kamu yang sudah melaporkan usaha ku itu? Tapi sayang, semuanya sia-sia belaka."Ucap Sinta sambil tersenyum miring.
Sinta memperhatikan tubuh Sarah, yang terlihat lebih kurus namun perut terlihat buncit. Sinta bisa menebak, jika saat ini Sarah sedang hamil.
"Oh kamu hami? Apakah sudah menikah? Atau jangan-jangan dari hasil kamu m3l4cur?." Ucap Sinta sedikit berbisik di telinga Sarah agar tidak didengar oleh orang-orang.
"Bukan urusan kamu, Sinta. Urus saja urusan kamu sendiri, aku tidak akan peduli dengan apapun yang kamu ucapkan."Ucap Sarah dengan ketus.
"Mama kapan kita masuk ketoko mainanannya? Bagas sudah capek berdiri terus."Ucap Bagas dengan wajah yang agak di tekuk cemberut.
"Oh jadi bocah si4l4n ini tadi anak kamu, Sinta. Duhh kasihan sekali sih menikah sama pria yang sudah punya anak. Kalau aku sih ogah menikah dengan pria duda apalagi mempunyai anak. Pantas saja anaknya tidak sopan dan tidak punya aturan, kampungan. Ternyata anak kamu, ajarin tuh anak tirinya sopan santun agar dia tahu diri."Ucap Sarah.
Plaakk
Plaakk
Dua tamparan Sinta melayang tepat dipipi Sarah. Sinta tidak terima Sarah menghina Bagas. Bagas saat ini sedang bersamanya dan sudah pasti saat ini juga tanggung jawabnya. Terlihat sekali nafas Sinta tersengal-sengal menahan gejolak amarah yang sudah tidak terbendung lagi.
"Apa kamu tidak bisa bicara dengan baik? Ada anak kecil seharusnya kamu bisa menjaga bicara kamu. Dan jangan pernah menghina Bagas sebab kamu sendiri wanita hina."Seru Sinta dengan penuh penekanan.
"Awas kamu , Sinta."Seru Sarah dengan mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Sarah memilih menjauh dari Sinta, dia tidak mau dipermalukan Sinta di hadapan banyak orang. Sehingga dia cari aman untuk menghindari Sinta saja.
**********