Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Perkara makanan


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Kamu itu pilih kasih Satria ? Masa iya kamu sekolahkan Hana sampai luar negeri tetapi kamu mengabaikan anakku. Padahal aku ini juga kakak ipar kamu dan anakku keponakan kamu. " Seru Reno dengan tidak tahu malunya.


Pak Karim dan ibu Rahayu merasa malu dengan apa yanv dikatakan oleh Reno. Padahal saat ini ada nenek Murni juga diantara mereka. Reno sama sekali tidak merasa sungkan atau malu kepada neneknya Satria.


" Reno ! Kamu ini bicara apaan sih? Kamu tidak malu ada nenek nya Satria bicara seperti itu. Kalau urakan dan tidak tahu malu lebih baik kamu keluar atau pulang saja sana." Ucap Pak Karim kesal dengan kelakuan Reno.


Mengetahui Pak karim marah, Reno pun langsung terdiam dan tidak lagi melanjutkan ucapannya. Bagaimanapun jika Pak Karim dan Ibu Rahayu sudah marah, dia sendiri yang akan susah. Datang untuk meminta bantuan atau makanan pasti tidak akan dikasih lagi.


" Aku tidak pilih kasih sama sekali mas, aku memang sengaja membawa Hana ke sana agar dia tidak dijual oleh mbak Sinta."Seru Satria mulai bicara jujur.


" Maksud kamu apa Satria bicara seperti itu? Kamu jangan mencoba memecah belah hubungan antara Hana dan mbak Sinta? Tidak mungkin mbak Sinta menjual anak nya sendiri yang sudah jelas anak kandung dia sendiri. "Seru Reno mencoba tidak mempercayai apa yang barusan dikatakan oleh Satria.


" Apa yang dikatakan Satria itu benar!."Seru Ibu Rahayu ikut bicara. Padahal sedari tadi dia hanya menyimak perdebatan antara Reno dan Satria.


Tanpa ada yang menyuruh akhirnya Ibu Rahayu menceritakan Slsemua yang dia ketahui tentang Sinta dan Hana. Ibu Rahayu menceritakan siapa Sinta yang sebenarnya kepada Reno, namun dia tidak memberitahu di mana Hana saat ini. Yang mereka tahu Hana memang di luar negeri tapi di negara mana tidak Ibu Rahayu beritahu.


Mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, membuat Reno kaget dan seolah tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh ibunya. Namun jika Ibunya sudah berbicara pasti semua itu sebuah kebenaran.


" Jadi mbak Sinta menjadikan Hana sebagai jaminan hutang dan akan dia nikahkan kepada seorang pria yang sudah memberikannya hutang? Itu sama saja dia memperjualbelikan anaknya. Mbak Sinta benar-benar keterlaluan, seburuk-buruknya aku tidak mungkin aku akan menjerumuskan anakku sendiri ke dalam lubang kehancuran. Apalagi Hana itu seorang wanita tentunya mbak Sinta seharusnya bisa menjaganya benar-benar. Karena hanya Hana lah yang saat ini dia punya, dan hanya Hana juga yang bisa mengurusnya di masa tua dia nanti."Seru Reno berbicara dengan memakai hati nuraninya. Tumben sekali Reno bicara dengan benar, biasanya dia itu selalu berkata yang menyebalkan.


" Tumben otak kamu benar Mas, biasanya otak kamu itu tidak waras ."Seru Rena mengajak Reno.

__ADS_1


" Enak saja memangnya selama ini aku sudah gila? Kamu itu yang sudah gila."Jawab Reno tidak mau kalah dari Rena.


Nenek murni hanya bisa tersenyum melihat keragaman sifat dan sikap dari para kakak Dinda. Dari dulu memang nenek murni sudah tahu bagaimana watak saudara-saudara Dinda. Akan tetapi khusus malam ini dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana watak dari para kakak Dinda.


" Satria sepertinya ini sudah malam, bagaimana kalau kita pulang saja atau kalian mau menginap di sini? Biar nenek minta jemput bapak sopir saja."Seru nenek Murni mengajak Satria pulang, sebab waktu sudah menunjukkan jam setengah sembilan malam.


" Tidak nek, kita pulang sama-sama saja."Jawab Dinda dengan cepat.


Jika mereka menginap di rumah orang tua Dinda, sudah pasti tidak akan enak dengan nenek, berangkat sama-sama pulangpun harus bersama. Apalagi nenek harus dijemput sopir segala, untuk menginap di rumah orang tuanya tentunya bisa kapan-kapan dan bisa lain waktu. Akhirnya setelah berpamitan, nenek murni, Satria dan Dinda masuk ke mobil. Satria mengendarai mobilnya meninggalkan pelataran rumah Pak Karim.


" Eh Rena makanan tadi kamu taruh mana?."Tanya Sarah yang dari tadi hanya diam saja tiba-tiba menanyakan soal makanan.


" Makanan? Makanan yang mana lagi mbak Sarah?."Tanya Rena pura-pura tidak tahu.


" Ya makanan sisa saat kita makan malam tadi. Bukannya tadi masih banyak? Kenapa saat aku ke dapur aku mencarinya sudah tidak ada?."Tanya Sarah keceplosan.


Hahaahaaa Haaahaaaaa


" Jadi tadi mbak Sarah pura-pura mau ke kamar mandi tetapi ternyata mencari makanan sisa kita makan malam tadi? Aduh mbak, kalau mau ya tinggal bilang saja tidak perlu diam-diam mencari ataupun mencurinya. Padahal tadi kalian di itu sudah makan banyak, tetapi kenapa masih saja mencoba untuk mencari dan ingin dibawa pulang. Orang kalau sudah kenyang itu ya sudah tidak perlu mencari yang bukan miliknya lagi."Ucap Rena dengan kesal.


" Apaan sih kamu Ren. Aku tadi itu kebelakang beneran ke kamar mandi tapi saat melewati meja makan, meja makan sudah bersih dan tidak ada apa-apa. Makanya aku bertanya kamu kemanakan makanan itu siapa tahu kamu lupa terus dimakan sama kucing."Jawab Sarah sedikit gugup.


" Iya kucing nya berkaki dua dan berkepala hitam."Jawab Rena sambil terkekeh.


Pak Karim dan ibu Rahayu hanya menggelengkan kepalanya melihat perdebatan antara anak dan menantunya itu. Pak Karim memilih masuk kekamar untuk beristirahat sedangkan ibu Rahayu masih diam duduk di ruang keluarga sembari menyimak perdebatan antara Sarah dan Rena.


" Mas Reno ajarin ini istri kamu , agar jangan suka mencuri makanan di rumah bapak dan ibu. Ehh salah, bukannya mas Reno juga suka mencuri bahkan makanan yang masih panas baru diangkat dari panci saja bisa hilang begitu saja. Mas Reno, mas Reno jangan dikira bapak sama ibu itu tidak tahu siapa pelakunya, mereka itu tahu tapi mereka hanya diam. Makanya sekarang mereka sudah pintar lebih memilih menyimpan makanan di tempat lain dan menguncinya. Dengan begitu kalian berdua tidak bisa seenaknya mengambil dan mencuri makanan bapak dan ibu." Ucap Rena mencibir kakaknya sendiri.


" Reno, Sarah, !! Perkara makan saja dipermasalahkan. Tetapi memang iya harus dipermasalahkan! Bapak sama Ibu selama ini sudah cukup diam dengan kelakuan kalian berdua, jika kalian memang mau memintanya tolong bilang baik-baik dan izin secara baik-baik. Jangan asal ambil tanpa menyisakan untuk kami. Kalau memang kalian tidak punya makanan di rumah, Sarah bisa datang ke sini bantu ibu memasak. Ibu tidak akan segan untuk membagi untuk kalian, apalagi dimakan sama cucu ibu sendiri. Tapi kalau kalian dengan mencuri dan mengambilnya secara diam-diam, itu yang tidak bapak ibu terima. Seolah kalian tidak menganggap kami ini ada, padahal makanan yang kalian ambil itu milik kami sendiri." Ucap Ibu Rahayu menasehati anak dan menantunya agar mereka tidak semakin seenaknya. Khawatir kebiasaan buruk mereka yang suka mengambil dengan seenaknya bisa kebawa dalam pergaulan diluar sana.

__ADS_1


Sarah dan Reno hanya diam sembari menundukkan kepalanya, jujur mereka sangatlah malu apalagi saat ini masih ada Rena dan Beni. Beni memang sedari tadi tidak banyak bicara, dia cukup menyimak semua pembicaraan dan perdebatan antara Rena dan Sarah. Beni tidak mau membela siapapun cukup diam saja agar tidak menimbulkan masalah baru.


" Tapi Sarah tidak suka memasak Bu. Makanya Sarah tidak pernah mau membantu ibu memasak."Jawab Sarah seenaknya.


" Lantas kalau di rumah siapa yang memasak?."Tanya Ibu Rahayu sambil mengerutkan keningnya.


" Ya Sarah lah bu yang memasak, tapi itu Sarah lakukan karena terpaksa. Kalau ada pembantu sudah pasti Sarah menyewa pembantu lagi seperti dulu. Tapi sayangnya anak ibu ini seorang pengangguran sih, dia tidak menghasilkan uang sama sekali. Bisa nya cuma main ponsel doang, membosankan."Jawab Sarah justru memojokkan suaminya.


Mendengar jawaban Sarah membuat hati Reno memanas, dan Hlhampir saja Reno menampar Sarah. Beruntung Beni sigap menahan tangan Reno sehingga aksi kekerasan itu pun tidak terjadi.


" Lepaskan Ben. Biar aku menampar mulut kurang ajarnya itu, aku seperti ini juga karena dia. Dia yang sudah berfoya-foya bahkan pernah berselingkuh dan uangku juga habis untuk membiayai hidup selingkuhannya itu."Seru Reno dengan kesal sembari mengepalkan kedua tangannya


" Maaf mas, bukan maksud saya mau ikut campur dengan urusan rumah tangga mas Reno dan nbak Sarah. Tetapi saya cuman tidak mau mas Reno melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Jika mbak Sarah tidak terima, mas Reno bisa dilaporkan ke polisi dan mas Reno bisa terkena pasal melakukan KDRT dan bisa saja mas Reno dipenjara. Mas Reno mau mendekam di penjara?."Tanya Beni yang akhirnya buka suara.


"Ya jelas aku tidak mau dong di penjara! Kalau aku di penjara, enak banget hidup Sarah. Bisa menikmati rumah dan mobil begitu saja."Jawab Reno dengan cepat.


Ibu Rahayu malas mendengar perdebatan antara Reno dan Sarah, kepalanya sudah mulai pusing. Dia juga malas menasehati keduanya, sebab keduanya sama-sama manusia yang keras kepala susah untuk diberitahu dan susah untuk di senasihati. Justru Ibu Rahayu masuk ke kamarnya menyusul suaminya yang sudah lebih dulu masuk ke kamar.


" Ya makanya kalau nas Reno tidak mau di penjara lebih baik nas Reno diam saja tidak perlu melakukan kekerasan terhadap mbak Sinta . Sudahlah ini sudah malam, lebih baik sekarang kita pulang dari rumah bapak. bBarkan Bapak dan Ibu beristirahat, tentunya mereka juga lelah."Ucal Beni mencoba menengahi perdebatan antara Sarah dan Reno.


Beni lebih dulu mengajak Rena dan kedua anaknya untuk pulang. Kedua anak Rena dari tadi ada di kamar bersama anak Sarah, mereka sengaja main di kamar sembari menonton kartun di ponsel mereka. Kini tinggallah Sarah dan Reno dan anaknya yang saat ini sudah keluar dari kamar.


" Kalau kamu mau pulang pulang saja sana, ajak anak kita pulang juga. Aku mau menginap di rumah bapak saja , aku ingin menenangkan diri aku. Pusing di rumah mendengar ocehan darimu."Seru Reno meminta Sarah pulang bersama anaknya.


" Terserah kamu mas, kamu mau pulang atau tidak bukan urusan aku lagi. Mau tinggal di sini selamanya juga bukan urusanku, kalau mau pulang ya pulang. Kalau mau di sini ya di sini, terserah kamu. Sebab aku tidak mau tahu kamu mau tinggal di mana. Terserah !!."Seru Sarah dengan penuh penekanan.


Mendengar dan melihat kedua orang tuanya kembali berdebat , membuat anak Sarah memilih keluar dan menunggu di dalam mobil saja. Perdebatan dan adu mulut antara Reno dan Sarah sudah menjadi makanan sehari-hari bagi anak mereka. Baiik Sarah maupun Reno, terkadang memang tidak ada yang mau mengalah mereka terlalu mementingkan egonya masing-masing.


Sarah pun keluar dari rumah mertuanya dan menuju mobil yang terparkir di halaman rumah. Dengan segera serah menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan rumah mertuanya. Serta membiarkan suaminya menginap di rumah mertuanya sendirian.

__ADS_1


* Aku sudah bosan hidup miskin seperti ini. Tetapi mau bergaya juga pakai uang siapa.? Apa aku jual saja ya mobil ini? Lumayan kan bisa untuk usaha dan menyambung hidup.* Gumam Rena dalam batinnya.


**********


__ADS_2