
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Mendapat kabar dari karyawan Cafe jika Dinda pingsan dan dilarikan ke rumah sakit, membuat Satria langsung meninggalkan pekerjaannya. Satria yang tadinya sedang dirumah bersama Indra, sedang mengerjakan pekerjaan kantor harus dia tinggalkan begitu saja. Satria ditemani Indra menuju rumah sakit, mobil yang dikendarai Satria sudah seperti anak panah yang melesat tanpa hambatan.
" Apa yang terjadi dengan istriku ? Siapa yang membuat istriku seperti ini ?" Tanya Satria dengan tidak sabarnya langsung memberondong pertanyaan kepada karyawan cafe yang saat ini menemani Dinda di rumah sakit.
Rena sendiri setelah Dinda dibawa ke rumah sakit langsung pergi dari Cafe. Rena takut disalahkan oleh Satria jika terjadi sesuatu dengan Dinda, bahkan saat dia diminta untuk menemani ke rumah sakit pun Rena tidak mau.
" Maaf Pak, tadi mbak Dinda ribut sama dua pengunjung Cafe dan mereka sempat adu mulut, sampai mbak Dinda pingsan seperti ini."Ucap karyawan Cafe menjelaskan.
" Siapa pengunjung cafe itu?" Tanya Satria ingin segera tahu.
" Salah satu perempuan itu sepertinya kakak dari mbak Dinda. Dan yang satunya saya tidak mengenalnya, tetapi yang terus memarahi bak Dinda dan menghina mbak Dinda itu perempuan yang satunya bukan kakak mbak Dinda." Jawab per karyawan Cafe.
Satria memandang ke arah Indra dan memberikan isyarat agar Indra mencari tahu siapa perempuan itu, dan Indra pun mengangguk paham. Indra menuju Cafe sembari mengantarkan karyawan Cafe kembali bekerja. Sedangkan Satria menemani Dinda yang sampai saat ini belum siuman.
" Sebenarnya Istri saya sakit apa dokter." Tanya Satria lebih memilih menemui dokter yang menangani Dinda.
" istri Pak Satria tidak sakit apa-apa, mungkin ibu Dinda hanya kelelahan saja. Biasa di usia kehamilan yang masih muda biasanya memang sering terjadi hal seperti ini. Jadi saya sarankan untuk ibu Dinda jangan terlalu capek terlebih dahulu." Jawab dokter menjelaskan secara detail.
Satria hampir saja tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter yang saat ini ada dihadapannya. Dokter mengatakan jika Dinda hamil. Bahkan selama ini Dinda tidak memberitahu jika dia sedang hamil . Kabar yang barusaja dia dengar membuat dia sangat bahagia bahkan lebih membahagiakan dari kabar memenangkan proyek ratusan milyar.
" Jadi istri saya hamil , dokter?" Tanya Satria ingin lebih menyakinkan pendengarannya.
__ADS_1
" Iya pak. Ibu Dinda hamil dan saat ini janin itu baru berusia 1 bulan. Jadi pak Satria tidak perlu khawatir, ibu dinda hanya butuh istirahat saja." Jawab Dokter lebih menyakinkan.
" Terimakasih dokter, kalau begitu saya mau keruangan istri saya dulu. Siapa tahu dia sudah siuman, pasti dia akan senang mendengar kabar kehamilannya." Ucap Satria dengan senyum penuh kebahagiaan.
Setelah bersalaman Satria keluar ruangan dokter dan menuju kamar rawat Dinda. Saat Satria masuk ternyata Dinda memang sudah bangun dan sedang ditemani oleh suster yang tadi Satria minta untuk menjaga Dinda.
" Suster boleh keluar sekarang." Ucap Satria mempersilahkan suster itu untuk keluar kamar rawat Dinda.
Sang susterpun keluar dari kamar rawat Dinda. Satria mendekati Dinda lalu mencium kening Dinda dengan lembut. Dinda masih diam saja karena pusing dikepalanya belum juga hilang, bahkan dia juga merasa perutnya tidak enak.
" Aku sakit apa mas?" Tanya Dinda dengan pelan.
" Ssstt... Kamu tidak sakit apa - apa sayang. Sekarang lebih baik kamu istirahat saja agar dedek bayi yang didalam sini sehat dan tidak rewel." Ucap Satria sembari mengusap perut Dinda yang masih rata.
Haahhhh....
Dinda langsung terperangah dengan kata - kata suaminya. Dinda baru tahu jika saat ini dia sedang hamil. Lalu Dinda mencoba mengusap perutnya dan sembari menangis bahagia. Akhirnya setelah dua tahun lebih menunggu Allah mempercayakan dia untuk mempunyai momongan.
" Iya sayang kamu sekarang hamil. Dan dedek bayinya baru satu bulan didalam sini." Ucap Satria sembari kembali mengusap perut Dinda dengan lembut.
" Alhamdulillah. Akhirnya Allah mempercayakan anugrah terindahnya kepada kita mas. Aku sangat bahagia mas, alhamdulillah ya Allah. " Seru Dinda dengan binar bahagia.
Satria juga tidak kalah bahagia melihat senyum dan binar bahagia sang istri. Dia tidak mau merusak kebahagiaan mereka dengan menanyakan perihal kedatangan Rena dan temannya tadi. Satria membiarkan nya terlebih dahulu, lagipula ada Indra yang saat ini sedang mengurus nya.
" Sayang ada yang ingin kamu makan atau minum? " Tanya Satria dengan lembut.
" Tidak ada mas. Nanti kalau ada yang aku inginkan pasti aku minta sama mas. Mas jangan kasih tahu bapak ataupun nenek ya kalau aku dirawat dirumah sakit. Aku takut mereka khawatir, lagipula aku juga ingin pulang sore ini. Aku sudah tidak apa - apa kok mas, mungkin tadi karena kelelahan saja." Seru Dinda meminta untuk pulang.
" Tapi sayang, kamu harus banyak istirahat dulu. Tapi nanti coba mas tanya dulu sama dokternya boleh pulang apa tidak. Tapi jika dibolehkan kamu harus istirahat dulu ya. Urusan cafe sama butik biar diurus sama orang kepercayaan kita saja. Butik juga ada si amara kan?" Ucap Satria sudah mulai protektif dengan kehamilan Dinda.
__ADS_1
" Iya mas " Jawab Dinda singkat.
Satria meminta Dinda untuk istirahat saja dan dia izin mau menemui dokter meminta izin agar Dinda diperbolehkan untuk pulang. Beruntung dokter mengizinkan Dinda asalkan Dinda banyak istirahat terlebih dahulu dan jangan beraktifitas yang berat - berat.
Keluar dari ruangan dokter , Indra sudah menunggunya Satria di depan kamar rawat Dinda.
" Apa yang kamu dapatkan ? Dan siapa wanita itu?" Tanya Satria antusius.
Indra dan Satria berbincang didepan kamar rawat Dinda agar tidak mengganggu istirahat Dinda. Dan agar Dinda tidak tahu jika Satria sudah tahu penyebab dia pingsan.
" Dari rekaman Cctv mbak Rena dan Lisa datang ke cafe, sepertinya mereka ingin melabrak Dinda. Sebab Lisa mengira jika Dinda ini ada main dengan Beni. Jadi dia membantu Mbak Rena untuk melabrak Dinda. Sepertinya mbak Rena tidak tahu jika wanita yang dimaksud Lisa itu Dinda. Kamu nanti bisa lihat sendiri rekaman Cctv nya sudah aku kirim keponselmu." Ucap Indra menjelaskan secara detail.
" Maksud kamu Lisa karyawan kita ? Si wanita gatal yang mekup nya 5 centi meter itu?" Tanya Satria.
Pertanyaan Satria justru membuat Indra tertawa, berarti selama ini Satria memperhatikan Lisa. Sampai sebegitu hafalnya dia dengan Lisa. Tatapan mata Satria langsung tajam kearah Indra, dia tidak suka disaat sedang serius justru ditertawakan.
" Sorry Boss. Iya kamu benar, Lisa itu yang aku maksud. Ternyata saat Dinda datang keperusahaan tempo hari itu sempat berdebat dengan Lisa juga saat di depan gedung Perusahaan dan Beni datang membela Dinda dan mengantatkan Dinda keruanganmu. Mungkin dari situlah Lisa beranggapan jika Beni ada main dengan Dinda." Seru Indra kembali menjelaskan lagi.
" Dasar wanita gila ! Lihat saja aku pasti akan memberi dia pelajaran. Jika tadi terjadi sesuatu dengan Dinda dan calon anakku aku pastikan akan menghabisinya dengan tanganku sendiri." Seru Satria mengepalkan kedua tangannya.
" Jadi Dinda hamil? Dia dirawat bukan karena sedang sakit ?" Tanya Indra juga ikut bahagia dengan kabar kehamilan Dinda.
" Iya , Dinda hamil. Sore ini juga Dinda sudah diizinkan pulang tapi ya masih harus banyak istirahat, dalam 3 hari kedepan tidak boleh beraktifitas yang berlebihan terlebih dahulu." Ucap Satria.
Indra mengangguk sembari mengucapkan selamat untuk Satria, akhirnya Satria akan segera menjadi orang tua. Setelah urusannya dengan Satria selesai, Indra memilih untuk pulang dan akan datang lagi saat sore hari nanti untuk menjemput Satria dan Dinda. Lumayan masih ada waktu 2 jam untuk Indra beristirahat, daripada ikut menunggu dirumah sakit yang ada akan banyak pekerjaan yang disuruh oleh Satria.
Indra sudah pulang dan Satria kembali masuk ke kamar rawat Dinda. Dinda masih tertidur dengan nyenyak sekali. Satria memandang wajah teduh sang istri sembari mengulas senyum bahagianya.
* Terimakasih istriku sayang, selama dua tahun lebih kamu sudah menemaniku dalam suka maupun duka. Bahkan saat aku masih menjadi pedagang cendol kelilingpun kamu selalu berada disisiku. Aku berjanji akan membahagiakanmu segenap jiwa ragaku. I Love you Dinda * Gumam Satria dalam batinnya.
__ADS_1
Satria berjalan kearah sofa yang ada didekat pintu lalu dia merebahkan tubuhnya dan mengistiraharkan tubuhnya diatas sofa empuk itu. Tidak sampai 5 menit Satria sudah terlelap dan mengarungi alam mimpinya.
******