Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Surat dari Rudi


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Mas kenapa kamu tidak mengabariku jika mas Rudi meninggal ?" Tanya Dinda yang tiba - tiba datang kerumah orang tuanya.


Satria kaget darimana Dinda tahu berita kematian Rudi padahal dia saja belum memberitahunya. Satria terlihat gusar saat bertatap wajah dengan Dinda.


" Sayang, kok kamu sampai sini ? Sama siapa? Maaf sayang aku memang belum memberitahumu karena aku sedang mencari keberadaan mbak Sinta. Sampai sekarang mbak Sinta belum juga pulang." Ucap Satria dengan pelan takut jika Dinda marah.


" Jadi mbak Sinta tidak ada dirumah ? Aku tadi lihat dari status mbak Rena kalau mas Rudi meninggal. Aku datang diantar sopir mas, nenek tidak bisa ikut. Ya sudah mas aku temui Hana dulu ya, pasti dia saat ini sedih sekali." Ucap Dinda lalu berjalan menuju kamar Hana sang keponakannya.


Sudah dua jam Satria meminta anak buahnya untuk mencari keberadaan Sinta tapi sampai sekarang tidak ada yang tahu dimana keberadaan Sinta. Jadi terpaksa jenazah Rudi dimakamkan besok pagi, sembari menunggu Sinta pulang. Jika Sinta tidak pulang juga , Rudi akan tetap dimakamkan besok pagi tanpa menunggu Sinta pulang.


" Bagaimana Ndra?" Tanya Satria menghampiri Indra.


" Tidak ada yang menemukan keberadaan Sinta. Seandainya kita tahu, biasanya kemana saja Sinta pergi pasti kita akan mudah menemukannya." Ucap Indra.


" Tunggu saja sampai besok. Kalau tidak pulang juga terpaksa kita makamkan mas Rudi. " Seru Satria.


Mobil polisi datang kerumah pak Karim, dua orang polisi turun dari mobil. Melihat kedatangan polisi itu Satria dan Indra menghampirinya. Salah satu polisi itu adalah teman Satria, dia datang untuk mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga Rudi. Dan ada sesuatu hal yang ingin polisi itu sampaikan kepada keluarga mertua Satria.


Kini kedua polisi itu sudah berada di teras belakang rumah pak karim. Ada Satria, Indra dan Ibu Rahayu serta pak Karim juga yang ikut duduk di teras.

__ADS_1


" Apa yang ingin pak polisi sampaikan ? Apa pak polisi datang ingin menangkap Satria ? Dia yang sudah nenyebabkan anakku Rudi meninggal dunia. Dia itu pembunuh Pak polisi, bapak harus menangkapnya dan memenjarakannya." Ucap Ibu Rahayu dengan tatapan tajam kearah Satria.


" Bu, tenangkan dirimu dulu. Biarkan pak Polisi menyampaikan maksud dan tujuannya terlebih dahulu." Ucap pak Karim meminta Istrinya untuk diam terlebih dahulu.


Setelah ibu Rahayu tenang, salah satu polisi itupun memulai pembicaraanya. Dia mengeluarkan beberapa kertas dari dalam tasnya. Semua orang yang berada disitu memandang kearah kertas - kertas yang ada ditangan polisi itu.


" Ini surat dari rumah sakit yang berisi bukti pemeriksaan kesehatan Rudi. Dan ini surat untuk orang tua almarhum , ini untuk anak almarhum dan ini untuk bapak Satria. Saya tidak tahu pasti kapan pak Rudi menulis surat itu, hanya saja beberapa hari ini almurhum beberapa kali meminta kertas dan pena. Dan semua surat - surat ini saya temukan di ruang sel tahanan almarhum. Meskipun surat itu tidak ada amplop nya saya sama sekali tidak membaca isinya. Saya hanya membaca nama - nama yang tertulis itu saja." Ucap Pak polisi menjelaskan semua yang sudah dia ketahui.


Satria menerima kertas itu dengan wajah kebingungan , dia hanya heran kenapa justru dia mendapatkan surat dari Rudi sedangkan Sinta yang sebagai istrinya saja sama sekali tidak mendapatkannya. Dengan penuh keheranan Satria menyimpan surat itu lebih dulu dan akan membacanya nanti saat suasana sudah lebih membaik.


Setelah urusannya selesai dua polisi itupun pamit pulang. Sepulangnya polisi itu, pak Karim dan ibu Rahayu kembali duduk di dekat jenazah Rudi. Masih tergambar jelas betapa sedih dan terpukulnya kedua nya atas kepergian Rudi.


" Kamu apakan kakakku sampai dia mati begini, dasar adik ipar durhaka!" Seru Reno sembari menarik kerah kemeja Satria.


" Om Reno tolong jangan buat keributan disini. Kita sedanf berduka dan aku tidak mau ada pertengkaran. Tolong hargai perasaan Hana om.!" Seru Hana yang kini ada di ambang pintu kamarnya dan disampingnya berdiri Dinda yang mengusap punggung Hana dengan lembut.


" Dasar bocah ingusan. Aku membela ayahmu justru kamu memintaku untuk diam ?" Seru Reno dengan kesal.


" Mas sudah jangan bikin suasana semakin runyam. Lebih baik sekarang kita mengaji dan kirim doa untuk mas Rudi. Bukan malah saling bersitegang begini, malu dilihat sama tetangga mas." Ucap Dinda akhirnya buka suara.


" Helehh OKB. Pasti kamu membela suami kamu ." Seru Reno lagi.


" Jika kamu cuma mau membuat suasana semakin runyam lebih baik kamu pergi saja dari sini. " Ucap pak Karim pelan namun terdengar sangat tegas.


Reno langsung terdiam,beruntung sekali tetangga sudah banyak yang pulang, hanya tinggal beberapa saja dan mereka sama sekali tidak mau kepo dengam urusan keluarga almarhum. Mereka datang dengan ikhlas untuk bertakziah dan mendoakan almarhum Rudi.


Malampun berganti pagi, sampai jam 9 pagi Sinta belum juga pulang dan ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Akhirnya Rudi dimakamkan tanpa menunggu Sinta. Linangan air mata masih saja membasahi pipi Hana saat jenazah sang ayah mulai diturunkan diliang lahat. Dindapun ikut meneteskan air matanya.

__ADS_1


* Selamay jalan mas Rudi. Aku sudah memaafkan semua kesalahanmu, pergilah dengan tenanang. Semoga Allah menempatkan kamu di Surganya Allah. * Dinda berdoa dalam hatinya.


Pemakamanpun selesai dan semua warga dan keluarga pulang kerumahnya masing - masing. Rumah pak Karim nampak sepi, Reno dan Sarah setelah dari pemakaman langsung pulang. Begitupun dengan Rena dan anak - anaknya. Hanya nampak mas Beni yang sedang membereskan kursi - kursi dibantu dua tetangga.


" Mas aku kekamar Hana dulu ya." Ucap Dinda meminta izin kepada Satria.


" Iya sayang. Mas istirahat saja ya, badan mas capek banget. Kamu juga jangan lupa istirahat, ingat pesan dokter sayang. " Seru Satria mengingatkan.


" Iya mas, nanti aku istirahat dikamar Hana saja sembari menemani dia." Jawab Dinda.


Setelah Dinda keluar kamar, Satria mengeluarkan secarik kertas dalam kantong celananya. Surat yang diberikan polisi tadi malam. Dengan pelan Satria membukanya dan membaca secara perlahan.


To : Satria


[Satria, sebelumnya aku meminta maaf jika selama ini aku sudah banyak salah kepada kamu dan Dinda. Mungkin saat kamu membaca surat ini aku sudah tidak ada lagi dunia ini. Satria, aku mohon kamu rawat dan sekolahkan Hana sampai dia menjadi anak yang sukses. Jangan pernah kamu izinkan Sinta mengambil Hana, aku tidak mau anakku jatuh dalam asuhan yang salah.]


[Satria, mungkin kamu bertanya - tanya kenapa aku meminta kamu untuk merawat Hana. Pertama aku percaya jika kamu dan Dinda menyayangi Hana dengan tulus. Kedua, karena sebenarnya Sinta itu bukan wanita baik - baik. Dia itu wanita malam atau bisa dibilang wanita yang sering menjual remaja -remaja. Dan saat ini dia punya hutang banyak kepada seseorang dan menjadikan Hana jaminanannya. Saat Hana berusia 17 tahun dia akan menyerahkan Hana kepada pria itu. Maka dari itu tolong kamu lindungi Hana, Satria. Anggaplah dia seperti anakmu sendiri.]


[Sinta juga wanita pecandu dan dia juga suka bermain judi. Aku selama ini memilih diam karena aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi Sinta. Bahkan aku memilih hidup dipenjara saja, aku tahu kamu memang hanya memberikan aku efek jera saja. Kamu akan membebaskanku jika aku berprilaku baik. Aku sengaja selalu berprilaku buruk agar aku lebih lama di penjara agar Sinta tidak merongrong aku terus menerus. Aku titip Hana dan kedua orang tuaku.]


Maafkan aku Satria.


Salam maaf ku, Rudi.


Satria selesai membaca surat dari Rudi lalu melipatnya lagi. Ternyata selama ini Rudi menyimpan banyak beban penderitaan yang disebabkan oleh Sinta.


* Aku berjanji akan mekindungi Hana mas* Gumam Satria dalam hatinya.

__ADS_1


*******


__ADS_2