Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Belum boleh pulang


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Mobil yang dikendarai Hakim melaju dengan cepat menuju rumah, Sarah. Terlihat jelas raut kekhawatiran di wajah Hakim dan Sinta bisa melihat itu semua. Meskipun Hakim tidak mencintai Sarah, namun Hakim khawatir terjadi sesuatu dengan Sarah.


"Kamu kenapa cemas dan khawatir begitu mas? Kamu masih ada hubungan dengan, Sarah?."Tanya Sinta dengan penuh selidik.


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Sarah, Sinta sayang. Kejadian dulu itu hanya khilaf saja, lagian memang Sarah yang merayuku duluan. Kamu tahu sendirikan wanita seperti apa Sarah itu. Jadi mana mau aku sama dia, bisa-bisa kena penyakit kelamin aku kalau berhubungan dengan dia."Jawab Hakim tidak sepenuhnya berbohong.


"Lantas kamu khawatir karena apa?." Tanya Sinta lagi.


"Aku mengkhawatirkan jika Sarah tidak mau mengembalikan uang kamu. Lumayankan itu 25 juta, uang itu bisa untuk kita shopping, enak saja kalau harus dinikmati Sarah sendirian. Mana kamu juga harus ganti rugi 20 juta, pokoknya ganti rugi itu nanti kamu minta juga sama Sarah."Seru Hakim dengan semangat mengompori Sinta.


Sinta mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Hakim. Biarpun bodoh akan tetapi terkadang ide dan saran Hakim oke juga. Usaha perjudian juga saran dan ide dari Hakim yang akhirnya masih terus berjalan sampai sekarang.


Mobil yang dikendarai Hakim sudah sampai di halaman rumah Sarah. Namun rumah tampak gelap dan satu lampupun tidak ada yang hidup. Hanya ada mobil Sarah di dalam garasi, dengan lampu garasi yang juga mati.


"Ini rumah berpenghuni atau tidak sih? Gelap begini, tapi mobil ada di garasi."Seru Sinta yang mengitari rumah Sarah namun tidak ada tanda-tanda Sarah ada dirumah.


"Sarah.. Sarah.. !! Apa kamu ada didalam? Buka pintunya Sarah !."Seru Sinta terus berteriak memanggil Sarah, namun tetap saja tidak ada balasan.


"Sepertinya rumah dalam keadaan kosong ini, Sayang. Lebih baik kita pergi saja dari sini. Serem juga rumah Sarah kalau gelap begini, tidak ada satu lampu pun yang hidup. Atau jangan-jangan Sarah mati didalam sana, soalnya itu mobilnya saja ada didalam garasi."Seru Hakim membuat Sinta juga mulai berfikir telah terjadi sesuatu dengan Sarah.


Doorrr Doorrr Dorrrr


Sinta terus menggedor pintu rumah Sarah namun tetap saja tidak ada jawaban. Suara gedoran pintu tadi terdengar oleh tetangga samping rumah Sarah, sehingga tetangga itu keluar rumah untuk mencari tahu siapa pelaku yang sudah membuat kebisingan di luar sana.


"Haaaiii... Kalian kenapa malam-malam gedor-gedor pintu rumah Sarah. Brisik tahu, ganggu istirahat orang saja."Seru tetangga dengan kesal.


"Aku mencari Sarah."Jawab Sinta dengan ketus. Dia merasa tidak ada urusan dengan orang itu sehingga dengan malas dia menanggapi orang itu.


"Oh ternyata kamu, Sinta. Pantas saja bikin onar, ternyata memang orang sombong dan tukang bikin onar yang datang. Sarah tidak ada dirumah, sedari sore rumahnya sudah kosong. Lihat saja lampunya saha tidak ada satupun yang hidup. Tadi ada dua orang berbadan kekar dan berambut gondrong yang datang kerumahnya dan membawa dia pergi, orangnya wajahnya menyeramkan. Sepertinya mereka preman, sudah jangan buat kebisingan lagi disini, aku panggilin polisi baru tahu rasa kamu."Seru tetangga itu lalu kembali masuk kerumahnya lagi.

__ADS_1


Sinta dan Hakim hanya bisa saling pandang, mereka sama-sama berfikir siapa orang yang dimaksud oleh tetangga tadi. Kenapa dia membawa Sarah? Hakim dan Sinta akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah Sarah, percuma mereka mendatangi rumah Sarah dan tidak dapat apa-apa. Bahkan mereka tidak tahu ada dimana Sarah saat ini, Sarah kesal dan geram. Karena Sarah dia rugi banyak.


**********


Pagi harinya, Reno dan Cahaya datang kerumah sakit untuk menjenguk Dinda. Pernikahan Reno dan Cahaya tinggal 2 minggu lagi, semuanya surat-surat sudah selesai tinggal hari H yang ditentukan saja. Cahaya masih terlihat malu-malu dan canggung bila hanya berdua saja dengan Reno, seperti saat ini yang sedang dimobil dalam perjalanan menuju rumah sakit.


*Kenapa lama sekali dan tidak sampai-sampai rumah sakit sih. Aku canggung begini jika cuma berdua dengan mas Reno.*Gumam Cahaya dalam batinnya.


Ehhemm Hemmmm


Reno berdehem agar suasana tegang antara mereka berdua mencair.


"Cahaya, kamu kenapa gugup dan tegang begitu sih? Apa kamu takut kalau aku mau membawa kamu kabur?."Tanya Reno sembari tersenyum jahil.


"Tidak kok mas. Aku hanya tidak terbiasa saja berduaan seperti ini, terlebih itu sama laki-laki."Jawab Cahaya dengan gugup.


"Heem begitu. Tapi dulu saat aku pernah mengantar kamu pulang, kamu tidak segugup ini deh. Terlihat kamu biasa saja."Seru Reno mengingat pertama kali dia mengantar Cahaya pulang,dan itu menjadi pertama kali mereka bertemu.


Cahaya hanya diam saja, dia bingung mau menjawab apa. Meskipun dengan calon suaminya sendiri dia tetap saja malu dan canggung.


Akhirnya mobil yang dikendarai oleh Reno sudah sampai di parkiran rumah sakit. Setelah mobil terparkir dengan benar, Cahaya dan Reno segera turun dan berjalan masuk rumah sakit menuju kamar rawat Dinda.


Sebelum masuk Cahaya mengetuk pintunya terlebih dahulu. Tidak enak jika asal masuk tanpa izin dengan penghuni yang ada didalamnya.


"Masuk saja."Seru Satria terdengar dari dalam sana.


Setelah mendapat izin dari penghuni yang ada didalam, Cahaya dan Reno pun masuk dan langsung mendekati Dinda yang sedang sarapan dengan disuapi oleh Satria


"Kak Dinda, sedang sarapan? Sini kak biar Cahaya saja yang suapin."Seru Cahaya mengambil alih tugas Satria menyuapi Dinda.


"Terimakasih, calon kakak ipar."Seru Dinda meledek Cahaya sampai Cahaya wajahnya merona kemerahan.


"Pagi sekali kalian berdua sudah sampai sini? Tadi jemput Cahaya jam berapa mas? Ini baru jam 8 loh kalian sudah datang berduan saja."Seru Satria sembari melirik jam tangan yang melingkar ditangan kirinya.


Reno hanya tersenyum menanggapi pertanyaan adik iparnya, pasalnya tadi dia berangkat menjemput Cahaya sebelum jam 6 pagi. Dan semua itu memang permintaan Cahaya. Cahaya sengaja meminta jemput pagi-pagi sebab Reno harus menempuh perjalanan sekitar 40 menit, belum lagi waktu tempuh saat menuju ke rumah sakit.


" Kepo amat sih kak."Seru Cahaya menanggapi pertanyaan Satria sembari terus menyuapi Dinda.

__ADS_1


"Heleh dasar bocah. Ditanya baik-baik kok jawabnya seperti itu. Awas kualat kamu nanti."Seru Satria.


"Jangan panggil aku bocah ataupun anak kecil lagi dong kak. Aku ini sudah 24 tahun bahkan aku juga sudah mau menikah loh. Ingat dua minggu lagi, wanita yang Kak Satria panggil bocah ini akan resmi menjadi seorang istri dan resmi menjadi kakak iparmu. Jadi kak Satria harus memanggilku dengan panggilan, Mbak Cahaya."Seru Cahaya dengan bangganya mengikrarkan dirinya yang sebentar lagi akan menjadi kakak ipar Satria.


Uhhuk Uhhukkk


Dinda yang sedang makanpun langsung tersedak dan batuk-batuk mendengar apa yang dikatakan Cahaya. Jika suaminya saja memanggil dengan mbak, sudah pasti dirinya juga memanggil dengan panggilan yang sama.


"Minum dulu kak."Seru Cahaya memberikan minuman untuk Dinda.


" Terimakasih. Emm.. Aku sudah kenyang,Cahaya."Seru Dinda tidak mau sarapan lagi. Sebab dia sudah lumayan kenyang.


"Jadi aku harus memanggil kamu dengan panggilan, Mbak Cahaya?." Seru Satria dengan terkekeh.


Dinda yang melihat tingkah suaminya justru mengerutkan keningnya. Sebab apa yang dikatakan Cahaya itu memang benar, meskipun Cahaya umurnya lebih muda tetapi dia akan menjadi istri dari Reno, kakak kandung dari Dinda.


"Mas Satria, kok malah tertawa sih. Yang dikatakan Cahaya memang benar, jika kita nanti harus memanggilnya dengan panggilan mbak Cahaya."Seru Dinda membenarkan apa yang dikatakan Cahaya.


"Hahaaaa Lucu banget sih. Kalian harus memanggil istriku dengan mbak, masak kalian panggil aku mas terus panggil istriku dek."Seru Reno juga ikut tertawa.


"Tidak begitu juga konsepnya mas, Reno. Biarpun mereka memanggilku mbak, aku tetap memanggil mereka kak Satria dan kak Dinda. Kalau seperti itu kan adil, biarkan saja orang bingung dengan panggilan yang kita buat."Seru Cahaya dengan senyum manisnya.


Haahaaa Haaahaaaa


Akhirnya mereka semua tertawa, menertawakan kekonyolan yang mereka perbuat. Setelah puas tertawa, mereka semua menuju keruangan bayi khusus inkubator untuk melihat keadaan bayi mungil yang belum dikasih nama itu.


"Kira-kira kapan anak saya bisa kami bawa pulang dokter?." Tanya Satria saat dia menemui dokter sedangkan Dinda dan yang lainnya sedang melihat bayi.


"Maaf pak Satria, berat badan anak bapak tidak memungkinkan untuk dibawa pulang. Tunggu sampai berat badannya stabil. Kami tidak mau mengambil resiko, apalagi anak pak Satria lahir dengan prematur. Kami akan terus memantau perkembangan anak pak, Satria."Seru dokter menjelaskan.


Satria hanya menghela nafas dengan berat, bagaimana dengan Dinda? Dia khawatir jika Dinda akan down jika bayinya tidak bisa dibawa pulang, sedangkan besok Dinda sudah boleh pulang.


"Kira-kira berapa hari anak saya ada di sini dokter?." Tanya Satria ingin tahu.


" Satu sampai dua minggu."Jawab dokter dengan singkat.


Jawaban dokter membuat Satria galau, diapun pamit untuk keluar ruangan dokter dan menemui Dinda. Saat Satria keluar dan keruangan bayi, ternyata Dinda sudah tidak ada disana. Lalu Satria menuju kamar rawat Dinda, saat dia masuk ternyata sudah ada nenek Murni dan Rena didalam sana.

__ADS_1


*Bagaimana aku menjelaskan kepada, Dinda. Aku khawtir Dinda tidak bisa menerima keputusan ini. Jika mau dipaksakan dibawa pulang juga dokter pasti tidak akan mengizinkan, terlebih anakku terlahir prematur. Apa aku harus meminta dokter membawa alat-alat serta inkubator kerumah beserta dokter dan perawatnya. Biar anakku dirawat dirumah saja? Hemm nanti aku coba bicarakan dulu sama Dinda.*Gumam Satria dalam batinnya.


************


__ADS_2