Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Kangen jualan cendol


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Enam bulan sudah berlalu, Anak kedua Dinda juga sudah lahir. Saat ini berusia 5 bulan, Hakim dan Melisa juga sudah menikah. Mereka menikah seminggu sebelum Dinda melahirkan. Anak kedua Dinda dan Satria, diberi nama Ratu Putri Wardoyo.


Selisih usia Raja dan Ratu hanya 1 setengah tahun saja. Raja terlihat sangat menyayangi adiknya, Raja sangat over proktektif dengan adiknya. Tidak sembarangan orang dia perbolehkan untuk menggendong adiknya.


" Mas, sepertinya Raja ini nanti bisa menjaga adiknya dengan baik. Lihat saja sekarang, masa iya Hakim kalau datang kesini suka tidak dia bolehkan menggendong Ratu."Ucap Dinda sambil melihat anak-anaknya yang sedang bermain bersama di atas karpet ruang keluarga.


" Kamu benar sayang, oh iya. Apa setelah ini kamu mau lanjut dengan kuliah kamu lagi? Aku tidak akan melarang kamu untuk terus mengejar cita-cita kamu sayang."Ucap Satria tetap mendukung pendidikan Dinda.


" Iya mas. Aku mau lanjut, 1 tahun lagi juga kuliah ku selesai Mas. Terima kasih mas sudah selalu mensuport aku."Ucap Dinda dengan lembut.


Dinda sangat bersyukur dan berterima kasih mempunyai suami seperti Satria. Satria baik, penyayang dan sangat pengertian. Sedikitpun Satria tidak membatasi aktifitas Dinda, selagi Dinda bisa membagi waktunya dengan baik.


Hubungan baik antara Melisa pun terjalin dengan baik. Melisa benar-benar bisa menjadi adik ipar yang baik. Tak jarang dia selalu membantu Dinda disaat Dinda kerepotan mengurus kedua buah hatinya.


" Mas, emm aku boleh tidak ke rumah bapak? Kangen aku sama bapak dan ibu."Ucap Dinda meminta izin untuk kerumah orang tuanya.


" Tentu saja boleh dong sayang, ya sudah sekarang siap-siap saja. Nanti mas juga ikut skalian, mumpung hari libur."Ucap Satria juga senang jika dia di rumah mertuanya.


" Mas, aku juga ingin kelapak es cendolnya pak Marno. Mengenang masalalu kita saat - saat menjadi pedagang cendol. Aku sangat rindu saat dimana kita saling menguatkan satu sama lain, aku kangen dengar klenteng gerobak cendol mas Satria."Ucap Dinda penuh haru mengingat perjuangan hidupnya sebelum mereka hidup seperti sekarang.


Satria hanya bisa tersenyum mengingat masa-masa itu. Dia ingat betul dulu dia di sepelekan, dihina dan di rendahkan oleh para kakak iparnya lantatan dia hanya pedagang cendol keliling.


Pelajaran hidup nya itulah yang saat ini akan dia terapkan untuk anak-anaknya. Meskipun mereka terlahir dari orang tua yang kaya, Satria dan Dinda tidak mengajarkan untuk hidup berfoya-foya.

__ADS_1


Dulu Satria sampai di hukum oleh nenek Murni karena dia hidup foya-foya dan hampir setiap hari dia mentraktir teman-temannya dan dimamfaatkan oleh para temannya. Dan akhirnya selama 5 tahun Satria harus hidup di luar dengan sederhana dan serba kekurangan.


" Iya sayang, nanti kita ke lapaknya pak Marno. Mas juga kangen, sudah lama tidak kesana."Ucap Satria.


Dinda mengangguk lalu dia bangkit dan masuk kamar untuk bersiap-siap. Raja dan Ratu juga akan mereka ajak.


" Nek, Satria Dinda dan anak-anak mau kerumah bapak. Nenek mau ikut?."Tanya Satria.


" Nenek dirumah saja, Satria. Malas mau kemana-mana, nanti pulangnya nenek titip belikan kue kesukaan nenek saja."Ucap nenek Murni dengan lembut.


" Oh begitu, ya sudah nanti Satria belikan kue kesukaan nenek. Satria dan Dinda berangkat ya nek, Assalamualaikum."Ucap Satria dan Dinda juga mengucapkan salam bersama.


Mobil yang di kendarai Dinda dan Satria membelah jalanan. Satria melajukan mobilnya ke lapak pak Marno lebih dulu, sebab memang dia melewati lapak pak Marno. Saat mobil Satria sampai, lapak pak Marno sedang ramai pembeli maklum saja memang sudah waktunya makan siang. Apalagi pak Marno juga buka lapak bakso dan mie ayam yang saat ini di kelola anak pak Marno, dan pak Marno yang menyediakan minuman Es cendol, es teh dan sekarang juga ada aneka jus. Namun sampai saat ini Es cendol masih menjadi primadona.


" Assalamualaikum pak Marno."Sapa Satria dengan sangat ramah dan sopan.


" Waalaikumsalam. Mas Satria, mbak Dinda. Ya Allah, mimpi apa bapak ini bisa di datangi keluarga mas Satria. Sini masuk semuanya."Seru pak Marno menyambut kedatangan keluarga Satria dengan sangat ramah.


" Pak Marno apa kabar?."Tanya Dinda dengan ramah lalu menyalami pak Marno dan Istrinya.


" Alhamdulillah sehat mbak. Aduh tangannya kotor ini mbak, maaf ya."Jawab pak Marno menyambut uluran tangan Dinda dan Satria secara bergantian.


" Tidak apa-apa pak. Kayak mau salaman sama siapa saja loh."Seru Dinda sambil tertawa.


Pak Marno meminta dua karyawannya untuk mengurus pembeli karena dia dan istri ingin mengobrol dengan Satria dan Dinda. Kini 3 gelas es cendol sudah terhidang di atas meja, lengkap ada 3 mangkok bakso juga.


" Emm pak Marno ini bahan-bahan masih sama seperti dulu kan?."Tanya Satria sambil mengaduk es cendolnya.


Raja duduk di samping Satria, sedangkan Ratu terlelap di atas stroller nya. Dinda sudah tidak sabar untuk menikmati es dan bakso nya sehingga tanpa basa-basi dia langsung menyeruput es cendol.


" Alhamdulillah masih sama mas, dan insya Allah akan selalu sama. Semua pakai bahan-bahan murni, gula tetap gula asli dan pewarna cendolnya pun tetap murni dari daun pandan. Es batu juga air matang, sama sekali tidak ada yang berubah."Ucap Pak Marno menyakinkan Satria.

__ADS_1


Satria mengangguk paham, dia yakin jika pak Marno tidak akan mungkin berbohong. Pak Marno orang yang sangat jujur dan bertanggung jawab. Satriapun tidak was-was jika Raja juga ikut meminum es cendol itu.


" Alhamdulillah ya pak. Tetap jaga kualitas dan rasa."Seru Satria mengingatkan.


" Itu pasti mas, Satria. Duh cucu kakek sudah pintar ya minum sendiri? Habiskan ya, nanti kalau mau lagi kakek buatkan."Seru pak Marno tersenyum kearah Raja.


" Boyeh ya pa, tata tatek Laja boyeh tambah."Seru bocah yang belum genap dua tahun itu bicara belum seberapa jelas namun Satria paham apa yang dikatakan oleh Raja.


" Boleh sayang. Tapi jangan banyak-banyak juga, makan dan minumlah sewajarnya saja. Raja tadi sudah salim belum sama kakek dan nenek ini?."Tanya Satria dengan lembut.


" Cudah pa. Ote pa telima tasih, telima tasih juga tatek dan nenek."Seru Raja sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.


Semua orang yang ada disana tertawa melihat tingkah menggemaskan Raja. Padahal baru pertama kalinya dia bertemu pak Marno dan Istrinya, namun dia merasa nyaman. Biasanya dia akan diam saja saat ditanya oleh orang asing yang dia tidak kenal.


Selesai minum Es cendol dan makan bakso, Satria dan Dinda ingin langsung kerumah orang tuanya yang jaraknya sudah tidak jauh lagi. Saat Satria membayarnya, pak Marno dengan tegas menolak. Bahkan dia juga memberikan Es dan Bakso masing-masing 4 bungkus untuk Satria bawa kerumah mertuanya.


******


" Sayang, kok mas kefikiran saat tua nanti mau jual es cendol lagi ya? Perusahaan dan usaha kamu yang lainnya bisa kita serahkan sama Raja dan Ratu. Dan kita tinggal di desa dan untuk mengisi waktu luang kita buka kedai es cendol."Seru Satria dengan senyum yang mengembang.


Dinda menimang-nimang apa yang barusan dikatakan oleh Satria. Berangan-angan atau berhayal sih tidak masalah, tapi kadang juga tidak terealisasi.


" Kita lihat nanti saja mas, lagian kita ada nenek juga loh mas yang harus kita jaga dan kita urus. Apa kira-kira nenek mau kita ajak tinggal di desa?."Seru Dinda.


" Hemm iya juga ya sayang. Kamu benar, kita lihat nanti saja ya. Ehh kita sudah sampai."Ucap Satria membuat Raja tersenyum senang.


Raja meminta Satria untuk cepat-cepat membuka pintu mobil. Raja sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Joni dan bermain dengan ikan-ikan hias peliharaan Joni. Bukan hanya di pelihara tetapi memang juga Joni jual juga, Joni belajar bisnis kecil-kecilan.


Reno tidak melarang apa saja yang di kerjakan oleh Joni. Yang penting bermanfaat dan tidak mengganggu sekolah dan belajarnya.


**********

__ADS_1


__ADS_2