Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Bakso porsi jumbo


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Ini bakso sama es cendol biar di makan Joni sama anak-anak saja ya Din. itu Gibran sama Tiara juga ada."Seru ibu Rahayu.


Dinda lupa jika ini hari libur, biasanya setiap libur sekolah Gibran dan Tiara memang di rumah neneknya. Mereka juga senang melihat ikan hias peliharaan Joni.


" Iya bu. Dinda tadi lupa, kalau gitu tadi kan Dinda pesan lebih. Ehh tapi tidak enak juga sih sama pak Marno, pasti nanti juga tidak mau di bayar. Ini saja gratis, mana tadi aku makan dua mangkok bakso lagi."Seru Dinda sambil terkekeh.


Ibu Rahayu juga ikut tertawa lalu tangannya menuangkan bakso dan es ke dalam wadahnya agar cucu-cucunya bisa segera memakannya.


" Ini kok porsinya banyak banget ya, Din? 1 plastik es bisa dapat 2 gelas ini, apa ini porsi jumbo? Nah baksonya juga ini sepertinya porsi jumbo Din, tidak bakal habis ini anak 1 makan satu-satu. Lihat nih, baksonya yg besar-besar dapat 2 terus yang tanggung ada 8 biji. Ini porsi jumbo Din, harga 35 ribu ini Din."Seru ibu Rahayu.


Dinda tidak tahu jika yang di bungkuskan tadi porsi jumbo. Dinda semakin tidak enak dengan pak Marno, jika dia tahu seperti ini pasti dia akan memaksa membayar.


" Ibu kok tahu kalau ini harga 35 ribu?."Tanya Dinda.


" Tahu dong, Joni itu kalau beli pasti yang jumbo begini dan dimakan bertiga. Joni, ibu , Cahaya sudah kenyang banget. Pak Marno ini banyak banget dia kasih gratisan begini, kalau seperti ini buka 2 saja kalau di buka semua tidak akan habis. Yang 2 untuk nanti saja, kalau kamu masih mau kamu makan saja."Ucap ibu Rahayu.


" Dinda kenyang bu."Jawab Dinda sambil mengusap perutnya yang sudah begah.


Ibu Rahayu tersenyum, lalu dia membawa nampan yang berisi bakso untuk para cucunya yang ada di halaman belakang. Meskipun Raja tadi sudah makan di tempat, ibu Rahayu tetap membawakan untuk nya juga.


" Anak-anak makan bakso dulu sini, mumpung masih panas nih. Biar tambah hot kalau makan, Raja juga ikutan makan lagi ya?."Seru Ibu Rahayu menawarkan.


" Horeee makan bakso. Terima kasih nenek, terimakasih tante Dinda."Seru Gibran dengan senang.


" Laja cudah tenyang nek. Laja idak mau agi."Seru Raja yang sudah merasa kenyang, dan tidak mau makan lagi.


" Iya sama-sama Gibran sayang. Raja sudah kenyang ya, ya sudah kalau begitu biar kakak-kakaknya saja yang makan. Raja yuk sama nenek lihat ikan yang di sebelah sana, kakaknya biar pada makan dulu."Ucap ibu Rahayu terdengar lembut dan sabar sekali.

__ADS_1


Raja mengangguk, ibu Rahayu dan Raja pun berjalan melihat ikan yang ada di paling ujung sana. Disana adalah kolam ikan yang memang diisi ikan untuk di konsumsi sendiri, ada lele dan gurameh.


" Bunda, ini masih 1 buat bunda saja ya. Adek Raja tidak mau, katanya kenyang."Seru Joni menghampiri Cahaya yang sedang mengobrol dengan Dinda.


" Oh iya nanti bunda makan. Terima kasih ya."Seru Cahaya dengan lembut.


Cahaya dan Dinda terlibat obrolan yang serius, terlebih memang kedua putri mereka sedang tertidur pulas di dalam kamar sana. Ada Reno dan Satria serta pak Karim yang bersantai di ruang tengah sembari mendengar siapa tahu anak-anak ada yang bangun.


" Mbak Cahaya, kok aku pengen ke tempat mbak Sinta ya. Pengen melihat Anggun, selama ini baru sekali saja aku bertemu dengan Anggun. Itupun sudah 4 atau 5 bulan yang lalu."Seru Dinda sambil merubah posisi duduknya yang kurang nyaman.


" Sama saja dong Din, aku juga terakhir bertemu bareng sama kamu itu saat syukuran aqiqah nya Anggun. Semoga saja mbak Sinta dan mas Ardi diberikan rezeki yang berlimpah karena sudah mau merawat Anggun dengan sabar dan ikhlas."Ucap Cahaya dengan serius.


" Aamiin."Seru Dinda mengaminkan perkataan Cahaya tadi.


" Nanti kalau ada waktu senggang kita kesana saja, Din."Ucap Cahaya.


" Iya mbak, yang pasti harus hari libur ya mbak. Soalnya aku sekarang sudah mulai kuliah lagi, jadwalku cukup padat. Karena aku ngejar waktu juga, pokoknya dalam setahun ini aku harus bisa lulus. Kemarin-kemarin kuliah dirumah dengan mendatangkan dosen, tapi mulai bulan ini aku sudah masuk kampus saja biar aku tidak jenuh belajarnya."Ucap Dinda memberitahu alasannya.


Cahaya tahu dan paham betul bagaimana jenuhnya belajar dirumah tanpa ada teman untuk di ajak bertukar pendapat. Setiap hari hanya bertemu dosen dan dosen saja juga bikin fikiran kacau. Kalau ada temannya juga kan saat istirahat bisa bersantai dan saling bercerita juga.


*********


Siang ini, sepulang Dinda dari kampus. Dinda datang ke cafe dimana cafe memang sudah lama tidak dia datangi. Namun untuk laporan keuangan semua di laporkan kepada Dinda dan tidak ada yang terlupakan sama sekali. Begitupun usaha Salon dan Butik yang dipercayakan kepada Amara.


Namun Amara sendir saat ini sedang hamil tua, dalam hitungan hari dia juga akan melahirkan. Setelah melahirkan Amara akan fokus dengan anak dan rumah tangganya, sehingga membuat Dinda kesusahan mencari pengganti Amara.


" Ibu Dinda mau makan siang?."Tanya menejer Cafe.


" Hemm boleh, tolong antarkan ke ruang kerja saya saja ya. Menunya seperti biasa, dan tolong tambah minumnya mocaa dingin."Seru Dinda ramah.


" Baik bu, saya minta pelayan untuk menyiapkannya. Apa ada yang lainnya lagi bu?."Tanya sang menejer lagi.


" Tidak perlu, cukup itu saja. Kamu boleh balik ke ruangan kamu."Seru Dinda dengan ramah.


Dinda tidaklah berubah, dia tetap memperlakukan semua pekerja nya dengan baik. Tidak dia bedakan sama sekali, semua dia perlakukan sama.

__ADS_1


" Hemm sepertinya aku kangen dengan keponakan cantikku."Gumam Dinda lalu mengambil ponsel dalam tasnya.


Dinda mencoba menghubungi Hana lewat video call, sudah lama sekali mereka tidak saling telepon. Perbedaan waktu yang cukup jauh yang membuat mereka jarang berkomunikask.


[ Hallo Assalamualaikum tante Dinda ku yang cantik dan baik hati. Hana kangen tante.] Seru Hana dengan suara cemprengnya.


[ Waalaikumsalam Hana. Dari dulu tidak berubah ya, cempreng amat itu suara kamu. Kamu lagi apa Han?]


[ Ihh tante ini, dari dulu memang Hana kan seperti ini. Bukannya tante ku juga cempreng ya? Hemm tidak mau mengaku loh. Hana lagi santai saja nih, tadi baru kelar kerjain tugas.]


[ Belajar yang bener. Oh iya kapan kamu libur? Tante sih ada rencana mau ke sana, tapi kuliah tante lagi padat banget. Padahal pengen banget loh liburan kesana ajakin anak-anak.]


[ Duhhh tante, ayok dong kesini. Masalah kuliah itu bisa di atur, kampus punya suami ini. Haahaaa.... Pasti nanti seru deh jika dua bocil itu ikut kesini. Kalau jadi kesini kabari Hana ya, Tan.]


[ Iya pasti dong di kabari. ]


[ Ok, Hana tunggu ya tante ku yang cantik dan menarik.]


[ Tidak usah gombal deh kamu itu.]


Obrolan mereka semakin mrepet kemana-mana, jika sudah bertelepon dengan Hana paling sebentar Dinda menghabiskan waktu 30 menit. Dalam waktu 30 menit itu banyak hal yang mereka bahas, dari mulai urusan pribadi sampai urusan kuliah.


Hana justru lebih terbuka dengan Dinda tentang urusan pribadinya ketimbang dengan Sinta. Sinta sendiri sudah tahu hal itu dan sama sekali tidak tersinggung. Dinda memang baik, sabar dan penyayang jadi tidak salah jika Hana lebih terbuka dengannya.


[ Sudah dulu ya Han, tante mau makan dulu. Kalau sudah telepon kamu memang tidak ada habisnya bahan nya.]


[ Ok tante. Makan yang banyak ya tante, biar sehat dan siapa tahu adek Ratu bisa dapat adek lagi. Hahaaa..]


[ Sudah cukup dua saja.]


[ Hahahaaaa Haaaaa ]


Hana tertawa sangat keras sampai Dinda merasa kebisingan dengan tawa Hana yang seperti terompet tahun baru itu.


*********

__ADS_1


__ADS_2