
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Hahahaaaa Haaaahaaaaa
Sesampainya dirumah Sinta tertawa puas, sebab dia mendapat uang 20 juta dari Badar. Hanya mempertemukam Hana dan Badar saja sudah bisa menghasilkan uang. Bagaimana jika sudah dapat menikahkan Hana dan Badar ? Hutang lunas, bisa terlepas dalam genggaman Badar, dan uang 200 juta bisa dia miliki.
Badar juga akan menjamin hidup Sinta, Sinta semakin tidak sabar ingin merasakan terbebas dari Badar. Dan bisa jalan - jalan keluar negeri menikmati hidup, bila perlu pindah keluar negeri.
" Dasar Hana bodoh !! Seandainya saja dia tahu apa yang sudah aku rencanakan pasti dia tidak akan mau jalan dan makan siang dengan ku. Tapi Hana tadi Ok juga loh,dia biarpun ketus tapi bisa mengambil hati Badar. " Seru Sinta sembari mencium - cium uang 20 juta pemberian dari Badar.
Sinta berbaring di kasur nya sembari mencium uang - uangnya. Jika semua urusan lancar Sinta bisa mendapatkan uang lebih banyak dari Badar.
* Bagaimana kalau Hana sebelum menikah tinggal dengan ku saja, sehingga aku akan lebih mudah mempengaruhi Hana dan mendapatkan uang lebih banyak lagi dari Badar. Aku tidak peduli meskipun Hana itu anakku. Karena bagiku uang sekarang adalah segalanya, dengan uang aku bisa bahagia dan bisa membeli segalanya.* Gumam Sinta dalam batinnya.
Trinnggg
[ Aku ingin menikahi Hana dalam waktu dekat ini. Aku berikan kamu waktu seminggu untuk kamu bisa membawa Hana keluar dari rumah iparmu itu.] Pesan yang dikirimkan oleh Badar.
Haaahhhh ?
Seminggu ? Sinta berdercak kesal karena Badar bersikap semauanya. Dia meminta waktu seminggu untuk bisa membawa Hana keluar dari rumah dan menikahi Hana. Bagaimana bisa Sinta melakukan itu dalam seminggu ini.
[ Kenapa sudah berubah lagi Badar ? Kamu kira waktu seminggu itu cukup ?] Balas Sinta dengan kesal.
[ Aku tidak perduli,jika kamu tidak bisa siap - siap jadi budak seumur hidup ku ]
Sinta memilih untuk menghubungi Badar langsung, pesan chaat justru membuat dia kesal dan capek untuk mengetik. Baru deringan pertama Badar langsung mengangkat sambungan teleponnya.
[ Hallo sayang ku, kangen ya? Padahal baru bertemu loh ?] Seru Badar menggoda Sinta.
[ Ciihhh... Kamu memang menyebalkan. Baiklah aku akan mencoba membawa Hana keluar dari rumah Satria terlebih dahulu. Siapkan aku rumah , untuk tempat tinggalku dengan Hana. Mana mungkin aku mengajak Hana tinggal di panti pijat yang ada dia akan menjadi gadis seperti karyawanku. ]
[ Ok itu bisa diatur asal kamu bisa melaksanakan tugasmu dengan baik.]
[ Kamu tunggu kabar dari ku saja.]
__ADS_1
Klik
Secara sepihak Sinta langsung mematikan sambungan telepon nya. Tidak menunggu jawaban dari Badar terlebih dahulu.
* Bagaimana ini, aku harus bagaimana agar Hana mau tinggal dengan ku? Aku tidak mungkin datang kerumah Satria dan memaksa Hana begitu saja untuk ikut tinggal dengan ku. Aarrggg... Badar sialan ! Kenapa seenak jidatnya dia merubah semua rencana. Kalau bukan karena soal hutang aku tidak pernah mau berhubungan dengan Pria gila seperti dia.* Gumam Sinta dalam hatinya terus memaki - maki Badar.
*********
Sementara itu malam hari, setelah seharian Satria dan Dinda serta nenek Murni ada di panti asuhan. Kini mereka sudah dirumah dan baru saja makan malam, Satria, Dinda dan Hana ada diruang keluarga. Malam ini juga ada Indra, mereka sengaja berkumpul untuk membahas Badar.
" Bagaimana Hana ? Apa kamu berhasil menjalankan misi ?" Tanya Satria ingin segera tahu apakah Hana berhasil dengan misinya.
" Heemmm... Beres Om. Ternyata Badar tidak serumit yang kita bayangkan. Tidak sia - sia aku menemui dia tadi siang. Dan ilmu yang diajarkan Om Satria berhasil. Aku berhasil menyadap ponsel dari Badar." Seru Hana dengan senyum penuh kemenangan.
Satria , Indra dan Dinda langsung terdiam. Tiba - tiba suasana hening. Mereka bertiga tidak menyangka jika Hana bisa secepat itu bergerak menjalankan aksinya. Satria benar - benar salut dan bangga dengan keponakannya itu.
" Kamu serius Hana ? Bagaimana kamu bisa menyadap ponselnya?" Tanya Dinda heran.
" Tadi dia meminta nomor ponselku dan aku sengaja minta Ponselnya untuk aku ketik langsung nomor ku, dan saat dia sedang fokus bicara sama mama aku langsung beraksi. Alhamdulillah bisa dan baru saja aku buka ponsel mama dan Badar sudah buat rencana baru." Ucap Hana sembari memberikan ponselnya kepada Dinda.
Dinda, Satria dan Indra secara bergantian melihat isi percakapan Sinta dan Badar. Namun tidak semua percakapan bisa terbaca, sebab Sinta dan Badar melanjutkan lewat panggilan telepon.
" Dalam seminggu ini kamu jangan keluar rumah. Kamu juga jangan sekolah dulu Hana, meskipun ada orang yang menjagamu tetap saja kita harus waspada." Seru Indra menyampaikan sarannya.
Hana terlihat terdiam dan mencoba memikirkan apa yang barusan dikatakan oleh Satria. Apa yang dikatakan Satria memang ada benarnya juga, jika mamanya pasti tidak akan mudah untuk bisa berubah. Mungkin dengan Hana tinggal dan bersekolah di luar negeri bisa membuat hidupnya lebih aman.
" Bagaimana Hana kamu setuju dengan saran Om Satria?." Tanya Dinda ingin kepastian dari Hana.
" Aku setuju tante, Om. Kapanpun aku berangkat ke luar negeri aku siap. Aku tidak sanggup jika harus hidup dengan Mama apalagi dengan sikap Mama yang seperti itu. Tidak menjamin kemungkinan Mama juga pasti akan menjualku kepada pria hidung belang di luaran sana." Ucap Hana dengan mata berkaca-kaca.
" aiklah setelah urusan ini beres, Om janji akan mengantar kan kamu ke luar negeri. Bagaimanapun sekarang kamu adalah tanggung jawabku. Papa kamu sudah menitipkan kamu langsung kepadaku. Sekarang kamu pantau terus pesan dari Badar, saat ada pesan transaksi barang haram kamu langsung kasih tahu Om Satria. Biar kita langsung bisa bergerak dan Badar bisa segera kita masukkan ke penjara." Seru Satria dengan yakin.
" Om Satria pegang saja ponsel Hana, biar kalau ada pesan seperti yang dimaksud tadi Om bisa langsung bergerak " Ucap Hana sembari memberikan ponselnya kepada Satria.
Satria mengangguk lalu menerima ponsel Hana, esok hari Satria akan mengganti ponsel dan nomor baru untuk Hana. Sepertinya malam ini obrolan mereka sudah cukup, Hana dan Dinda masuk kekamar lebih dulu. Tinggalah Satria dan Indra yang kini sudah berpindah tempat di ruang kerja Satria.
" Banyak sekali masalah kamu Satria. Hilang satu tumbuh seribu, jika aku jadi kamu paati kepalaku ini sudah berasap. Tapi jika tidak ada aku juga mana bisa kamu bergerak dan menyelesaikan semuanya sendiri. Kamu itu harus berterima kasih kepadaku." Ucap Indra dengan bangganya.
" Nanti kamu dapat bonus 2 kali lipat gaji kamu. Sekarang fikirkan rencana apa yang harus kita lakukan agar Badar dan komplotannya segera masuk penjara tapi tanpa mereka tahu jika kitalah dibalik penangkapan mereka. Tapi tidak untuk mbak Sinta, biarkan saja dia menggeluti bisnis haramnya itu. Jika Hana sudah diluar negeri dia sudah tidak ada urusan lagi dengan kita." Ucap Satria .
" Kita pantau lewat ponsel Hana saja, semoga saja saat ada transaksi Badar menggunakan ponselnya yang sudah Hana sadap itu sehingga kita bisa cepat untuk meringkus. Kalau begitu begini saja, kita pura - pura jadi orang yang akan memesan barang haram itu. Kita bekerja sama dengan kepolisian." Ucap Indra memberikab ide briliant.
__ADS_1
Satria tampak memikirkan ide dari Indra, namun sepertinya tidak semudah yang dikatakan oleh Indra. Satria punya pemikiran sendiri , jika rencana itu akan membuat Badar curiga. Satriapun menggelengkan kepalanya dengan pelan.
" Kenapa ?" Tanya Indra ingin tahu alasan Satria menolak pendapatnya.
" Sepertinya nomor yang dimiliki Hana ini nomor pribadi dari Badar, mungkin saja hanya beberapa orang yang memilikinya. Adapun orang yang memiliki nomor Badar ini pasti dia adalah orang yang sudah terbiasa berlangganan ataupun para pengedar - pengedar lain yang sudah kelas tinggi. Jadi kalau kita menggunakan nomor dia yang ada di ponsel Hana ini untuk memancing dia, sudah pasti dia akan curiga. Karena pasti nomor ini tidak sembarang orang yang punya." Ucap Satria menjelaskan alasannya dia menolak ide dari Indra.
Indra menganggukkan kepalanya. Sepertinya dia memang baru memahami apa yang dimaksud oleh Satria. Ternyata Satria memang cerdas, pemikirannya luas dan analisisnya juga kuat. Indra benar - benar mengakui kejeniusan Satria.
Trinnggg Tringgg
Ada pesan masuk diponsel Hana, dengan segera Satria membuka pesan itu.
[ Hana sayang sudah tidur ya ]
[ Om Badar kangen loh sama Hana, boleh tidak Om telepon ]
Dua pesan beruntun dikirimkan oleh Badar, dengan cepat Satria juga mengirimkan pesan balasan untuk Badar. Satria berpura - pura jika dia adalah Hana. Satria mengetik sambil senyum- senyum.
[ Hana juga kangen nih Om. Tapi jangan teleponnya soalnya sudah malam. Takut ada yang bangun dan Hana nanti dimarah.]
[ Baiklaj sayang. Besok ketemuan yuk tapi tidak sama mama kamu. Kalau ada mama kamu dia hanya menjadi pengganggu.]
[ Nanti aku kabari ya Om. Sudah ya aku mau tidur. By Om Badar ganteng ]
[ Iya sayang ]
Cuuiiihhhh....
Satria berasa mula membaca dan berkirim pesan dengan Badar. Sedangkan Indra hanya tertawa ngakak melihat raut wajah Satria yang kesal.
* Dasar pria tua bangka tidak tahu diri, tidak ingat umurkah dia? Lebih pantas jadi Ayahnya Hana tapi malah mau menikahi Hana. Istri sudah 5 masih saja kurang. * Gumam Satria dalam batinnya.
Tringgggg
Ada pesan masuk lagi diponsel Hana, Satria tidak langsung membacanya karena sepertinya itu pesan sadapan dari ponsel Badar. Satria menunggu Badar membacanya lebih dulu agar Badar tidak curiga jika ponselnya sudah disadap.
[ Boss besok malam seperti biasa di daerah XX digedung tua itu kita lakukan transaksi besar lagi. Aku mau kita transaksi langsung. Kali ini senilai 20 milyar dan jangan sampai telat jam 11 malam .]
Satria langsung tersenyum cerah dan memperlihatkan pesan itu kepada Indra. Satria dan Indra saling melempar senyuman licik mereka, sepertinya besok malam akan menjadi malam terburuk bagi Badar dan temannya.
" Kita pastikan besok Badar harus bisa tertangkap, agar masalah Hana bisa cepat terselesaikan." Seru Satria penuh harap.
__ADS_1
*************