
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
"Siapa dia mbak?." Tanya Rena dengan keponya.
Cahaya dan Dinda langsung menyikut Rena secara bersamaan. Sudah pasti pria yang datang ini adalah orang yang spesial di hati Sinta.Tidak mungkin orang ini datang bersama anaknya dan anaknya sudah terlihat akrab dengan Sinta jika mereka tidak mempunyai hubungan yang serius.
"Emm Oh ya ini Mas Ardi dan ini Bagas anaknya. Silakan kalian berkenalan."Ucap Sinta memperkenalkan Ardi dan Bagas.
Ardi tersenyum ke arah Dinda dan rombongan, dia pun mengeluarkan tangannya lebih dulu dan menyelami mereka satu persatu, untuk memperkenalkan dirinya serta memperkenalkan anaknya, Bagas.
"Maaf ya kedatangan saya sudah menganggu acara kalian. Ini tadi dari siang Bagas itu merengek ingin main kerumah nya mbak, Sinta. Dan saya baru sempat sekarang mengantarkannya. Soalnya tadi di kantor banyak pekerjaan."Ucap Ardi benar-benar merasa tidak enak dengan Sinta dan para tamunya.
"Tidak apa-apa, pak Ardi. Kami juga sudah mau pulang kok. Kami juga sudah dari tadi, pak Ardi dan Bagas sama sekali tidak mengganggu kami."Ucap Dinda mewakili Rena dan Cahaya.
"Kalian sudah mau pulang?."Tanya Sinta dengan wajah herannya.
"Iya mbak, Sinta. Sudah sore juga, tidak enak meninggalkan rumah terlalu lama."Ucap Cahaya beralasan, padahal mereka tidak mau mengganggu kebersamaan Sinta dan tamunya.
Sinta justru yang merasa tidak enak dengan ke tiga tamu perempuannya. Mereka pulang pasti tidak mau mengganggunya dengan Ardi. Padahal antara dirinya dan Ardi tidak ada hubungan apa-apa. Hanya sebatas teman saja dan tidak ada yang spesial.
"Kami ke toko dulu ya mbak, mau bayar baju-baju ini."Ucap Rena sembari mengangkat paperbagnya.
"Tidak usah dibayar. Beneran ini tidak perlu di bayar, anggap saja ini hadiah untuk kalian. Karena selama ini aku tidak pernah memberi kalian hadiah. Jika kalian bayar, aku akan marah dan tidak mau lagi kenal sama kalian."Seru Sinta mengancam tidak mau mengenal mereka bertiga jika sampai mereka membayar baju itu.
"Tapi ini banyak loh mbak."Seru Dinda merasa jika baju yang mereka beli itu banyak. Masing-masing dua setel belum untuk anak-anak. Dinda juga membelikan untuk kedua orang tuanya.
"Sudah tidak apa-apa. Aku tahu uang kamu banyak, Din. Dan kamu juga pasti bisa membeli toko ku, bahkan kamu juga punya butik yang terkenal. Tapi untuk kali ini aku traktir kalian, jarang-jarang loh aku mentraktir kalian."Seru Sinta sambil mengulas senyum ramahnya.
Dinda, Rena dan Cahaya tidak bisa menolak lagi. Mereka pun akhirnya menerima dengan baik traktiran dari sang pemilik toko itu. Mereka bertiga mengucapkan banyak terima kasih kepada, Sinta.
Setelah berpamitan, Dinda dan rombongan pun pulang. Tidak ketinggalan Dinda mengambil Raja terlebih dahulu yang masih saja terlelap di kamar tamu.
__ADS_1
"Itu tadi keluarga mbak, Sinta?." Tanya Ardi yang kini sudah berpindah duduk di teras rumah.
"Mereka tadi itu mantan ipar-ipar saya Mas. Oh iya mas Ardi mau minum apa? Maaf sampai kelupaan mengambilkan minum."Ucap Sinta sambil tertawa kecil.
"Tidak perlu mbak. Saya tidak lama kok, Bagas tadi janji mau sebentar saja. Soalnya nanti malam itu ada acara ulang tahun pernikahan salah satu klien jadi saya harus bersiap-siap. Mbak Sinta, maukah nanti malam menemani saya datang ke acara itu?." Tanya Ardi dengan jantung yang berdetak lebih kenjang.
Haahhhh ?
Sinta kaget saat Ardi mengajaknya datang ke acara klien nya. Sinta tidak mau membuat malu Ardi, apalagi Sinta memang bukan siapa-siapa bagi Ardi.
"Mas Ardi mengajak saya? Kenapa mas tidak mengajak yang lain saja? Contohnya calon istri mas Ardi gitu. Saya ini nanti justru malu-maluin dan siapa tahu nanti ada yang salah paham."Ucap Sinta yang sebenarnya menolak secara halus.
"Tidak punya calon istri dan tidak akan ada yang marah. Atau mungkin mbak Sinta ada yang marah jika saya ajak?." Tanya Ardi penuh selidik.
Ardi memang mempunyai rasa untuk Sinta, dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun dia tidak berani mengungkapkan takut jika Sinta sudah mempunyai calon sendiri dan Sinta akan menolak nya.
"Oh tidak ada mas. "Jawab Sinta dengan gugup.
" Jadi apakah mbak Sinta mau menemani saya?."Tanya Ardi lagi.
"Emm.. Bagaimana ya mas? Baiklah saya mau, tapi tolong jangan pulang malam-malam ya mas."Ucap Sinta akhirnya mau menerima ajakan Ardi.
Sinta mengangguk dan membalas dengan senyum ramahnya. Bagas menghampiri Sinta dan mengajak Sinta ke toko. Bagas memang lebih suka berada di dalam toko untuk membantu menyiapkan packingan yang biasa dikerjakan oleh Sinta.
"Mas Ardi saya tinggal ke toko ya."Ucap Sinta dengan sopan.
"Iya, mbak Sarah."Jawab Ardi sambil menganggukkan kepalanya.
"Bagas tidak lama-lama ya, soalnya ini sudah sore."Ucap Ardi mengingatkan Bagas.
"Siap papa."Jawab Bagas sambil mengacungkan jempol tangannya.
Sinta dan Bagas berjalan menuju toko dengan tangan Bagas tetap berada dalam gandengan Sinta. Ardi melihat kedekatan antara Sinta dan Bagas yang semakin hari semakin lengket. Sudah seperti anak dan ibu, dan Bagas juga terlihat bahagia saat dekat dengan Sinta.
*Apa aku pantas mengutarakan niat ku untuk menikahi, Sinta. Aku takut Sinta akan menolakku, tapi jika tidak aku coba mana aku tahu Sinta mau dengan ku atau tidak. Bagas sudah sangat berharap Sinta menjadi mamanya.*Gumam Ardi dalam hatinya.
*********
__ADS_1
Sekitar jam 5 sore Satria sudah sampai di rumahnya. Satria di sambut oleh Dinda dan Raja yang baru saja selesai mandi sehingga wangi sabun dan shampo masih tercium dengan tajam.
"Anak papa sudah mandi? Sudah ganteng?." Seru Satria mengambil alih raja dari gendongan Dinda.
"Sudah dong pa, Raja kan anak yang rajin jadi jam segini pasti sudah mandi."Jawab Dinda dengan suara dibuat seperti anak kecil.
Raja dalam gendongan Satria, dan Dinda merangkul lengan Satria dengan tangan sebelahnya menenteng tas kerja Satria. Mereka jalan masuk ke rumah secara beriringan.
"Oh iya sayang. Nanti malam temani mas ke acara klien ya, ada acara ulang tahun pernikahan dan mas harus datang dengan pasangan dong. Tidak mungkin mas datang bareng sama Indra, Indra juga datang pasti bareng Amara."Seru Satria memberitahu.
"Kok dadakan sih mas?." Tanya Dinda yang belum mempersiapkan semuanya.
" Tidak dadakan sih sayang, cuma Mas saja yang memang lupa memberitahu kamu. Undangannya sudah Mas terima dari seminggu yang lalu."Jawab Satria sambil terkekeh.
Hhhuuuffff
Sifat pelupa suaminya sepertinya memang tidak ketinggalan. Padahal jika Satria memberitahu dari kemarin-kemarin Dinda bisa mempersiapkan semuanya. Termasuk menyiapkan kado untuk dibawa ke acara nya. Masa iya datang ke pesta pernikahan klien tidak memberikan kado.
"Kadonya bagaimana?." Tanya Dinda.
"Sudah siap. Tadi mas sudah minta tolong Amara menyiapkannya, nanti akan di ambil pak supir."Ucap Satria dengan tenang.
"Baiklah. Sini Raja nya, mas mandi dulu. Bau asem nih."Seru Dinda sambil menutup hidungnya.
Satria justru mencium Dinda, membuat Dinda melotot tajam. Sebab di ruangan itu ada pengasuh Raja yang sedang membereskan mainan Raja.
"Mas malu tahu."Seru Dinda mencubit perut Satria kecil.
"Tidak apa-apa dong. Jadi untuk apa malu? Yuk kita ke kamar, temani mas mandi sekalian. Raja biar sama mbaknya."Ucap Satria sedikit berbisik di telinga Dinda.
Hahhhhh?
Dinda menelan salivanya sendiri, jika sang suami sudah meminta ditemani mandi sudah pasti ada plus-plus nya. Mana dia sudah mandi, masa iya harus mandi lagi.
"Tapi aku sudah mandi mas."Jawab Dinda berbisik.
"Tidak masalah."Seru Satria menyeringai penuh kemenangan.
__ADS_1
Satria memberikan Raja kepada pengasuhnya lalu dia menggandeng tangan Dinda menaiki anak tangga secara bersamaan. Maunya Satria setiap kali dia pulang kerja di sambut seperti ini dan mandi pun ada yang menemani. Rasa lelah dan penat nya selama di kantor akan hilang secara seketika.
*********