
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Sinta memandang jengah kearah pria yang kini ikut duduk di 1 meja dengannya. Ada Ardi dan Bagas juga diantara mereka. Lelaki yang barusab ikut bergabung adalah Hakim, Hakim sebenarnya masih terus menghubungi Sinta dan meminta ingin rujuk dan menikah secara sah dengan Sinta. Namun dengan tegas Sinta menolak, jikapundia ingin menikah lagi sudah pasti dia akan mencari pria yang tepat dan bisa membimbingnya kejalan yang lebih baik.
"Ternyata benat kamu, Sinta. Penampilanmu yang sekarang benar-benar berbeda ya. Aku yakin ini hanya untuk menutupi kedok busukmu saja."Seru Hakim mencibir penampilan Sinta yang saat ini sudah tertutup.
"Jaga bicara kamu, Hakim. Kamu tidak berhak mencampuri urusanku dan menilai buruk penampilanku. Tolong kamu pergi dari sini dan jangan pernah mengganggu hidupku lagi. Diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi."Ucap tegas Sinta mengusir Hakim.
"Sombong !! Sadar diri dong Sinta, kamu itu wanita hina dan rendahan. Jadi jangan banyak tingkah, sekarang aku hanya minta kamu turuti apa mau ku saja. Menikah dengan ku secara sah dan resmi tidak siri lagi. Karena hanya aku pria yang bisa menerima dirimu dengan segala kebusukanmu itu !!."Ucap Hakim dengan tegas tanpa menghiraukan tatapan penuh keheranan Ardi dan Bagas.
Ardi yang merasa ini adalah masalah pribadi antara Sinta dan pria yang bernama Hakim itu, dia pun memutuskan untuk mengajak Bagas pindah ke meja lain. Sebab pertengkaran dan perdebatan mereka tidak layak dilihat oleh anak sekecil Bagas.
"Maaf mbak Sinta. Emm saya dan Bagas pindah ke meja lain saja. Silahkan kalian selesaikan urusan kalian. Tapi kalau boleh saran, pelankan suara kalian agar tidak didengar oleh pengunjung yang lainnya."Seru Ardi dengan ramah dan sopan.
"Pak Ardi dan Bagas tidak perlu pindah ke meja yanh lainnya. Tetap saja disini, yang seharusnya pergi itu dia bukan pak Ardi maupun Bagas."Seru Sinta merasa tidak enak hati sudah mengganggu makan siang Ardi.
"Ohhh, jadi kamu lebih memilih pria ini ketimbang diriku, Sinta? Apa gara-gara pria ini kamu tidak mau rujuk dengan ku? Dasar wanita murahan, p3l4cur !! Asal anda tahu ya, Sinta ini adalah wanita rendahan dan wanita kotor dan busuk. Jadi lebih baik anda jangan mendekati dia lagi, karena aku yang lebih berhak bersamanya !!."Seru Hakim menatap tajam Ardi dan mencengkram lengan Sinta dengan kuat.
Sinta meringis kesakitan, dan dia mencoba untuk melepaskan tangan Hakim. Namun justru Hakim semakin kuat mencengkram lengannya. Melihat Sinta yang kesakitan, membuat Ardi tidak tega meninggalkan meja tersebut. Ardi pun mencoba bicara dengan Hakim agar dia mau melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Sinta.
" Maaf mas, bukannya saya mau ikut campur dengan urusan kalian berdua. Akan tetapi bisa tidak anda melepaskan cengkraman tangan anda itu. Sebab sepertinya mbak Sinta kesakitan."Ucap Ardi bicara dengan sopan agar tidak menyinggung Hakim.
"Lebih baik kamu diam !! Jangan ikut campur dengan urusanku dengan Sinta. Sinta ini mantan istriku, kamu lebih baik pergi dan ajak anak kamu itu."Seru Hakim tidak terima dengan ucapan Ardi.
Sinta terlihat semakin kesakitan sebab Hakim semakin kuat mencengkram lengannya. Bahkan rasanya sampai ketulang terasa linu - linunya.
"Lepaskan, Hakim. Aku tidak mau lagi dengan mu. Kamu itu pemhohong dan bahkan kamu sudah mencuri uang ku sampai ratusan juta untuk selingkuhanmu itu. Dan kamu juga sudah berpenyakitan, aku jijik dengan mu."Ucap Sinta dengan kesal sehingga membuat Hakim semakin marah dan naik pitam.
Ppllaakk
Hakim melayangkan satu tamparan yang sangat keras di pipi Sinta. Membuat Ardi dan Bagas terkejut dan Bagas menjadi ketakutan. Tidak bisa dibiarkan, Ardi harus segera mengambil tindakan.
"Haii bung, bukan begini caranya menyelesaikan masalah. Apalagi sampai main tangan seperti ini, ingat bung yang anda pukul itu seorang wanita yang seharusnya anda lindungi bukan malah anda sakiti dan pukuli."Seru Ardi tidak suka dengan tindakan Hakim yang main tangan dengan perempuan.
"Bukan urusan mu !."Seru Hakim dengan tegas.
Ardi mendekati Hakim dan mencoba melepaskan tangan Hakim dari lengan Sinta. Hakim tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Ardi, menurutnya Ardi adalah orang lain yang ikut campur dengan urusannya.
__ADS_1
"Jangan ikut campur !! Anda itu hanya orang lain jadi anda tidak berhak ikut campur."Seru Hakim dengan lantang.
"Siapa bilang dia orang lain ? Dia adalah calon suamiku, dan sebentar lagi kami akan menikah. Jadi disini yang orang lain itu kamu, bukan pak Ardi. Sekarang kamu sudah tahu kan jika aku itu sudah mau menikah jadi jangan pernah lagi kamu mengangguku !!." Seru Sinta sengaja berbohong agar Hakim tidak terus-terusan mengganggunya. Biarlah nanti setelah Hakim pergi Sinta akan menjelskan kepada Ardi.
Ardi dan Hakim tanpa sengaja saling melempar pandangannya. Mereka sama-sama terkejut dengan pengakuan yang baru saja keluar dari mulut Sinta.
"Kamu pasti bohong kan, Sinta? Mana mungkin kamu mau menikah dengan pria seperti dia. Lihatlah, dia itu sudah mempunyai anak. Masih tampan aku dari mana-mananya, jangan salah pilih Sinta. Jangan-jangan dia mendekatimu hanya ingin memanfaatkan hartamu saja, Sinta. Pria seperti dia itu hanya mau menumpang hidup saja."Seru Hakim melirik sinis ke arah Ardi.
Buugghhh
Bugghhh
Dua pukulan mendarat di wajah dan perut Hakim. Hakim langsung menunduk kesakitan sembari memegangi perutnya. Perut Hakim sangat sakit lur biasa. Sepertinya Hakim salah mencari lawan, Ardi selain berbisnis juga bekerja sebagai pelatik taekwondo.
" Berani kamu menghinaku dan merendahkanku. Aku pastikan kamu akan menyesal, apa masih mau mendapat pukulan dari tanganku? Tadi hanya tangan kiriku dan sekarang tangan kananku."Seru Ardi dengan menarik kerah baju Hakim.
"Ampun, ampun. Aku tidak akan lagi mencari masalah dengan mu."Dengan cepat Hakim langsung meminta maaf.
Kemana keberaniannya tadi ? Apakah hanya dengan dua pukulan dari Ardi membuat Hakim sudah ketakutan.
"Yeaaa papa hebat !!." Seru Bagas bersorak gembira. Padahal tadi dia ketakutan saat Hakim menampar pipi Sinta.
Sinta mendekati Bagas, dia khawatir bocah kecil itu akan disakiti oleh Hakim. Sebab tatapan mata Hakim mengarah tajam ke arah Bagas.
" Tidak !!"Jawab Hakim dengan singkat.
Tanpa disangka, akhirnya Hakim pergi dengan sendirinya. Sepertinya dia memang takut berhadapan dengan Ardi. Sudut bibir kanan Hakim mengeluarkan darah, itu akibat hantaman dari tangan kiri Ardi. Bahkan saat meninggalkan mereka pun Hakim masih saja memegangi perutnya yang sakit.
"Terimakasih pak Ardi. Sebelumnya saya minta maaf karena tadi sudah lancang bicara soal anda yang calon suami saya. Maaf, saya terpaksa bicara seperti itu supaya Hakim tidak menganggu saya lagi."Ucap Sinta meminta maaf kepada Ardi.
"Sudahlah, mbak Sinta tidak perlu meminta maaf. Yang penting saat ini mantan suami mbak Sinta sudah pergi. Emm sepertinya hari sudah semakin siang, jadi kami permisi dulu ya mbak. "Ucap Ardi ingin segera pulang. Dia masih ada kesibukan lain yang harus segera diselesaikan.
"Tante, boleh tidak Bagas minta alamat rumah tante? Nanti kalau Bagas kangen sama tante, Bagas bisa main kerumah tante, Sinta." Ucap Bagas dengan raut wajah yang terlihat sedih.
Haahhhh ?
Sinta terdiam sesaat, apa iya dia harus memberikan alamat rumahnya itu? Namun setelah di pikir-pikir tidak ada salahnya dia memberikan alamatnya. Siapa tahu Bagas bisa menjadi pelanggan di toko bajunya.
"Oh boleh kok, Sayang. Ini alamat toko tante, rumah tante ada di samping toko tepat."Ucap Sarah sambil menyerahkan kartu nama tokonya kepada Bagas.
"Terima kasih tant, Sinta yang baik."Ucap Bagas dengan senang.
" Terima kasih ya mbak. Kalau begitu kami permisi. Assalamualaikum."Seru Ardi berpamitan lebih dulu.
__ADS_1
" Waalaikumsalam."Jawab Sinta singkat.
Setelah Ardi dan Bagas meninggalkan restoran, Sinta pun juga meninggalkan restoran itu. Lalu menghampiri tempat penitipan barang, untuk mengambil barang-barang belanjaannya yang tadi sempat dia titipkan.
" Maaf ya mas kelamaan."Ucap Sinta dengan ramah.
"Tidak apa-apa bu."Jawab petugas tempat penitipan barang.
Selesai mengambil barang belanjaanya, Sinta langsung menuju parkiran menghampiri mobilnya. Tidak menunggu lama, Sinta juga sudah melajukan mobilnya keluar dari parkiran.
*********
"Mas, apa aku bisa minta tolong?." Seru Cahaya pelan.
Reno yang sedang menikmati teh di malam hari sambil menonton televisi langsung memandang ke arah Cahaya.
"Mau minta tolong apa, Sayang?." Jawab Reno dengan lembut.
"Buatkan aku nasi goreng. Aku lapar dan ingin makan nasi goreng, Mas."Ucap Cahaya jujur.
Haaahhh ? Lapar ?
Mata Reno langsung terbelalak lebar. Padahal satu jam yang lalu Cahaya baru saja makan dengan menghabiskan dua piring nasi. Dan sekarang sudah lapar lagi dan minta nasi goreng.
"Baiklah mas beli dulu ya."Seru Reno lalu bangkit hendak membeli nasi goreng.
"Tidak mau beli."Seru Cahaya cepat.
"Kok tidak mau? Tadi bilang mau makan nasi goreng?." Tanya Reno dengan heran.
Cahaya menggelengkan kepalanya dengan tatapan sendu. Reno semakin dibuat bingung dengan istrinya.
"Tidak mau beli, tapi mau mas Reno memasaknya sendiri."Ucap Cahaya lagi.
Huuuufffff
Terdengar helaan nafas berat Reno. Mana bisa dia memasak nasi goreng, yang ada rasanya akan nano-nano.
"Baiklah, untuk calon anak mas dan untuk istri tercinta mas akan masak nasi gorengnya." Seru Reno dengan senyum mengembang.
Meskipun dia tahu tidak bisa memasak, dia akan tetap mencoba memasak demi permintaan sang istri nya terpenuhi.
***********
__ADS_1