
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
"Mas, kok kepalaku pusing banget ya? Padahal tadi aku sudah makan loh."Ucap Dinda sambil memijat kepalanya pelan.
Satria dan Dinda sedang bersantai dihalaman belakang sembari menemani Raja bermain. Kebetulan hari minggu sehingga Satria bisa meluangkan waktunya untuk menemani sang anak bermain.
"Apa mungkin masuk angin sayang? Tadi loh kamu sarapan hanya sedikit, mana tadi malam juga kamu tidak makan. Pasti itu masuk angin, mau mas antar kedokter?."Tanya Satria sambil mengusap punggung Dinda.
"Tidak perlu mas. Emm, aku masuk kamar saja ya mas. Mas temani Raja bermain saja."Ucap Dinda memutuskan untuk istirahat dikamar saja.
"Tapi beneran kamu tidak apa-apa kan sayang?."Tanya Satria terlihat menghawatirkan Dinda.
Dinda hanya menggelengkan kepalanya saja. Dinda meninggalkan Satri dan Raja yang sedanv bermain di halaman belakang. Tidak tahu kenapa kepalanya tiba-tiba terasa pusing dan badannya juga lemas.
"Mbak tolong buatkan saya teh hangat tapi jangan manis ya. Nanti tolong antarkan kekamar tamu saja ya mbak, saya mau istirahat di kamar tamu saja."Ucap Dinda dengan sopan meminta tolong pembantunya untuk membuatkan teh.
"Iya bu."Jawab Art itu dengan sangat sopan.
Dinda masuk kamar tamu dan langsung naik ke ranjang. Dia memilih meluruskan kakinya dan bersandar di sandaran ranjang sambil memijit kepalanya yang terasa pusing.
Setelah lima menit, Art datang dengan membawa nampan yang berisi teh hangat yang tadi diminta oleh Dinda.
"Ini tehnya bu. Bu Dinda sakit?." Tanya Art itu dengan pelan.
"Terimakasih mbak. Kepala saya pusing banget mbak, mungkin karena telat makan. Ini juga kok bawannya lemes banget. Emm apa saya boleh minta tolong mbak?." Tanya Dinda dengan pelan.
Meskipun dengan ART nya sendiri dia tetap bertanya terlebih dahulu jika ingin meminta tolong. Dinda tidak mau main asal suruh, khawatir jika ART nya masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Boleh dong, Bu. Bu Dinda mau minta tolong apa?."Tanya ART yang bernama Mimi itu.
Mimi baru bekerja 3 bulan yang lalu, menggantikan ibu nya yang dulu juga bekerja sebagai ART dirumah Satria selama 20 tahun. Dan saat ini ibunya Mimi sudah tidak diperbolehkan bekerja lagi oleh Mimi, dan Mimi yang menggantikannya.
"Tolong kerikin saya ya mbak. Sepertinya enak kalau di kerik."Ucap Dinda ternyata meminta Mimi untuk mengriknya.
"Iya bu. Sebentar saya ambil dulu perlengkapannya. Mau pakai balsem apa minyak angin, Bu?."Tanya Mimi dengan sopan.
"Minyak angin saja mbak, kalau balsem pasti panas dan baunya menyengat banget."Seru Dinda yang sebenarnya memang tidak menyukai bau balsem.
Mimi keluar dari kamar untuk mengambil minyak angin dan alat untuk kerokan di tempat lemari obat. Tidak perlu menunggu lama Mimi pun sudah kembali dan bersiap-siap mengerik punggung Dinda.
__ADS_1
"Maaf ya bu. Apa ibu Dinda sudah datang bulan, bulan ini?."Tanya Mimi sedikit ragu dan takut takut.
"Hahhh ? datang bulan ?."Tanya balik Dinda dengan wajah kebingungan. Dinda heran untuk apa Mimi menanyakan dia sudah datang bulan atau belum. Menurutnya pertanyaan Mimi tadi terlalu pribadi.
" Maaf ya bu, kalau pertanyaan saya mungkin terlalu lancang.Tapi saya bertanya seperti itu, karena hanya ingin tahu saja siapa tahu saat ini Ibu telat datang bulan. Jadi sakitnya ibu ini bisa jadi karena ibu Dinda sedang hamil muda. Sama seperti saya dulu, juga seperti ibu begini."Ucap Mimi beranggapan jika Dinda memanglah sedang hamil.
Ddeegghh
Dinda langsung terdiam setelah mendengar penjelasan dari Mimi. Dinda juga baru teringat jika bulan ini dia memang belum kedatangan tamu bulanannya, bahkan sudah lewat 2 minggu.
"Apa aku hamil, Mi? Aku memang sudah terlambat datang bulan. Tapi semenjak selesai nifas waktu itu haid ku tidak seberapa lancar, Mi. Tapi masa iya aku hamil? Raja baru mau 7 bulan loh, Mi."Seru Dinda dengan raut wajah terlihat sangat khawatir.
Bagaimana dia tidak khawatir, jika dia benar-benar hamil sedangkan Raja saja baru berusia 7 bulan. Dinda memang belum KB, mungkin dia lupa atau memang sengaja untuk tidak KB.
"Mi, tolong kamu belikan alat tes kehamilan di apitik. Tapi jangan bilang-bilang dulu ya sama yang lain, terutama suamiku. Aku hanya ingin tahu pastinya terlebih dahulu. Kerikannya sudah saja, cepat kamu ke apotik. Ini uangnya."Seru Dinda sambil memberikan uang selembar merah yang dia ambil dari kantong bajunya kepada Mimi.
Mimi mengangguk dan menerima uang dari Dinda. Tanpa menunggu lama, Mimi segera pergi ke apotik dengan mengendarai motor milik pak Satpam.
Jarak apotik dari rumah tidaklah terlalu jauh, hanya butuh 10 menit perjalanan dengan mengendarai motor sudah sampai. Mimi membeli dua alat tes kehamilan yang berbed. Dia sengaja membeli dua agar lebih menyakinkan saja saat dipakai nanti.
*********
Sudah 3 hari dari kejadian di mall waktu itu, Sinta kembali di sibukkan dengan usaha barunya yaitu membuka toko pakaian muslimah. Saat ini Sinta sudah mempunyai dua karyawan dan semuanya perempuan.
Yang dimaksud di samping adalah rumah Sinta. Tadi tamunya datang ke toko, namun berhubung toko tidak ada tempat untuk menunggu jadi Lilis mengalihkan ke teras rumah.
"Siapa Lis? Aku tidak ada janji dengan siapa pu ?." Tanya Sinta yang memang merasa tidak punya janji dengan siapa pun.
"Lilis juga tidak tahu, Bu. Dia laki-laki dewasa dan seorang anak kecil. Coba ibu lihat dulu siapa tahu ibu mengenalnya, biar pekerjaan ibu ini saya yang melanjutkan."Ucap Lilis sopan.
"Hemm baiklah, kamu lanjutkan packingan ini dan tolong yang teliti jangan sampai ada kesalahan. Alamat serta barang yang dibeli sudah ada di catatan ini semua ya, Lis."Ucap Sinta mengingatkan Lilis agar tidak salah packing.
Selain melayani Offline, toko Sinta juga menjual dan melayani secara Online. Peminat online cukup banyak, sehingga Sinta sering terjun langsung untuk packing. Sedangkan 2 karyawannya bertugas melayani pelanggan yang datang.
"Iya bu." Jawab Lilis dengan yakin.
AlSetelah pekerjaannya digantikan oleh Lilis, Sinta pun keluar dari toko dan melangkahkan kakinya menuju rumahnya yang berada tepat di samping toko. Dia sangat penasaran dan terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sebenarnya siapa orang yang datang mencarinya. Sebab dia merasa tidak mempunyai janji dengan siapapun.
" Pak Ardi, Bagas !!."Seru Sinta saat mengetahui siapa tamu yang mencarinya.
Ternyata Bagas dan papanya yang datang menemui Sinta. Sinta benar-benar melupakan jika dia pernah memberi tahu alamat toko miliknya kepada, Bagas.
" Assalamualaikum, Mbak Sinta. Maaf jika kedatangan kami mengganggu pekerjaan Mbak Sinta."Ucap Ardi dengan sopan, dia merasa tidak enak sudah mengganggu kesibukan Sinta.
" Waalaikumsalam, Pak Ardi. Saya tidak merasa terganggu kok, tadi hanya membantu karyawan saja."Jawab Sinta tidak berkata jujur jika dia memang tadi sedang sibuk packing barang yang akan di ambil kurir sore nanti.
__ADS_1
Bagas langsung tersenyum bahagia saat bertemu dengan Sinta kembali. Dia cepat menghampiri Sinta dan menyalami Sinta dan mencium tangan Sinta dengan takzim, sudah seperti dengan mamanya sendiri.
"Tante Sinta, Bagas senang sekali bisa bertemu lagi dengan tante Sinta. Dari kemarin Bagas mengajak Papa untuk ke rumah tante Sinta. Tetapi Papa tidak mau terus, katanya sibuk terus sama pekerjaanya."Ucap Bagas bicara dengan polosnya.
" Iya sayang, tante Sinta juga senang Bagas mau berkunjung ke rumah tante Sinta. Oh iya sebentar ya, tante Sinta bikinkan minuman dulu untuk kalian. Pasti kalian haus kan?."Seru Sinta dengan ramah.
" Tidak perlu repot-repot Mbak, Sinta." Ucap Ardi merasa tidak enak sudah merepotkan Sinta.
" Sama sekali tidak direpotkan kok pak, Ardi. Tunggu sebentar ya, saya buatkan minuman dulu."Ucap Sinta dengan senyum ramahnya lalu dia masuk ke rumah untuk membuatkan minuman tamunya.
Sinta sengaja tidak mengajak Ardi dan Bagas masuk ke rumahnya, dan tetap membiarkannya duduk di teras. Sinta hanya tidak mau jika kedatangan Ardi menjadikan bahan fitnah oleh para tetangganya. Apalagi Sinta seorang janda dan dia mengenal Ardi juga baru. Diantara mereka juga tidak ada hubungan apa-apa.
" Silakan diminum. Maaf ya hanya es teh saja yang bisa saya siapkan." Seru Sinta dengan ramah.
" Asik ada es teh ."Seru Bagas berseru kegirangan.
Bagas memang sangat menggemari minuman teh. Terlebih itu es teh atau teh dingin, Bagas juga bukan tipe anak yang pemilih makanan dan minuman.
" Tidak apa-apa mbak, Sinta.Terima kasih ya mbak." Jawab Ardi sambil melirik Bagas yang sudah lebih dulu meminum es tehnya.
Sinta hanya mengangguk dengan pelan. Kini dia justru merasa canggung hendak membicarakan apa dengan Ardi. Sedangkan anak kecil yang ada di sampingnya sedang sibuk dengan es teh dan makanan ringan yang di suguhkan oleh Sinta tadi.
"Mbak Sinta sudah lama buka toko baju muslimah ini ?."Tanya Ardi memecah keheningan diantara mereka.
" Baru sekitar 2 bulan ini, Pak".Jawab Sinta dengan jujur.
" Kalau bisa tolong Mbak Sarah Jangan panggil saya dengan memakai Pak. Panggil saja nama saya, Ardi."Ucap Ardi meminta Sinta untuk memanggilnya nama saja tanpa ada embel-embel pak.
"Baik, pak.. Eh Ardi."Jawab Sinta gugup.
Bagas sudah meletakkan gelas es tehnya yang tinggal setengah dan berhenti memakan makanan ringan. Sepertinya mulut anak itu sudah lelah mengunyah, sebab yang Sinta suguhkan keripik singkong jadi lelah juga mulut jika berlama-lama mengunyah.
"Tante Sinta mau tidak jadi mamanya, Bagas."Ucap Bagas dengan lancar.
Ardi dan Sinta sama-sama terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Bagas. Ardi takut jika Sinta akan marah mendengar pertanyaan Bagas tadi. Sebelumnya, Bagas tidak ada bilang apa-apa dengannya. Namun tiba-tiba saja dia meminta Sinta untuk menjadi mamanya.
"Bagas kenapa bicara seperti itu?." Ucap Ardi sedikit meninggikan suaranya.
Dia tidak mau jika Bagas bersikap tidak sopan dan bicara dengan seenaknya.
"Papa, aku mau tante Sinta jadi mamanya, Bagas. Mamanya Bagas kan sudah di surga, jadi apa Bagas tidak boleh punya mama lagi?."Tanya Bagas dengan sorot mata yang seperti hendak menangis.
Sinta hanya diam saja, dia masih bingung harus birsikap bagaimana. Permintaan Bagas tadi memang tidak masuk akal. Bagaimana bisa dia meminta Sinta untuk menjadi mamanya sedangkan mereka kenal juga baru 3 hari yang lalu dan ini pertemuan kedua mereka.
********
__ADS_1