
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
" Hati - hati ya Hana, kalau ada apa - apa kamu harus segera hubungi Tante dan Om. Maaf tante tidak bisa ikut mengantar kamu. Soalnya tante belum diperbolehkan ikut penerbangan yang terlalu lama. " Ucap Dinda yang kini sudah berada di bandara mengantarkan Satria dan Hana yang akan berangkat ke Jerman.
Satria sendiri yang akan mengantarkan Hana, sekaligus dia ada pertemuan bisnis dengan Tuan Abraham. Sebenarnya ingin sekali Satria mengajak istrinya ikut dan jalan - jalan keluar negeri tetapi memang keadaan Dinda yang sedang hamil muda dan tidak memungkinkan untuk terbang terlalu lama.
" Iya tante, maaf ya om Satria nya harus repot - repot mengantarkan Hana." Ucap Hana sungkan sebab sudah banyak merepotkan Hana dan Satria.
" Om Satria sekalian ada perjalanan bisnis juga kok Hana. Jadi sekali jalan saja, oh iya sekarang kita segera masuk saja. " Seru Satria.
" Sayang mas tinggal dulu ya, pokoknya selama seminggu ini mas tidak bisa menemanimu . Kamu jaga kesehatan dan jangan capek - capek. Hallo anak papa, jangan nakal ya. Pokoknya selama papa di luar negeri kamu harus menjaga mama kamu." Seru Satria sembari mengusap perut Dinda dengan lembut.
" Iya papa " Jawab Dinda sembari menirukan suara anak kecil.
Setelah berpamitan Satria dan Hanapun masuk ke Bandara. Dinda menunggu sampai pesawat yang membawa mereka mengudara. Setelah 40 menit akhirnya pesawat yang membawa Hana dan Satri sudah mengudara, Dindapun pulang bersama pak sopir nya. Namun Dinda pulang ke Cafe sebab ada pelanggan yang ingin merayakan pesta ulang tahunnya di Cafe dan Dinda harus mengontrol apa saja yang akan dipersiapkan.
" Ke Cafe ya Mbak?" Tanya sopir Dinda.
" Iya pak kita ke Cafe saja. Nanti bapak tinggal saja ya, nanti kalau sudah selesai saya telepon bapak." Ucap Dinda dengan ramah.
Pak sopir melajukan mobil menuju Cafe dengan kecepatan sedang. Baru juga sampai di tengah perjalanan Dinda mendapatkan telepon dari Sinta. Sebenarnya Dinda malas mengangkat telepon dari Sinta , sebab Sinta pasti akan menanyakan keberadaan Hana dan Dinda paling malas untuk menjelaskan kepada Sinta.
[ Hallo mbak, assalamuakaikum] Seru Dinda menjawab panggilan telepon dari Sinta.
[ Haaii kamu sembunyikan kemana Hana ? Kenapa kamu menguasai Hana ? Aku ini ibunya dan aku yang lebih berhak atas diri Hana. Kembalikan Hana kepadaku kalau tidak aku akan laporkan kalian kepolisi atas kasus mengintimidasi anak dibawah umur.]
Deg
Dinda tertegun dengan apa yang dikatakan oleh Sinta. Khawatir jika Sinta akan nekat untuk membawa masalah ini kepolisi. Jika sampai masalah sampai di meja polisi pasti akan semakin rumit, apalagi untuk seminggu kedepan Satria tidak ada.
__ADS_1
[ Maaf mbak, bukannya dulu mbak sendiri sudah setuju saat Hana ingin tinggal dengan kami. Dan kami tidak memaksa Hana loh mbak, Hana sendiri yang mau tinggal dengan kami. Kalau mbak main lapor polisi ya silahkan tapi apa mbak tidak takut jika kasus ini berdampak buruk kediri mbak? Jangan main - main lapor polisi mbak, pasti kamu juga yang akan rugi.]
Sinta terdiam setelah mendengar kata - kata pamungkas dari Dinda. Sepertinya dia takut dengan apa yang dikatakan oleh Dinda. Apa yang dikatakan Dinda ada benarnya, jika dia melaporkan masalah Hana ke polisi pasti Polisi akan mencaritahu alasan Hana tidak mau tinggal dengan mamanya. Dan praktek haramnya akan diketahui oleh polisi.
[ Kemana Hana? Aku hubungi tidak bisa juga, pasti dia sudah selesai semesteran kan?.]
[ Belum mulai semesternya. Hana tidak mau pakai ponsel, sekarang dia masih ada kegiatan disekolahnya. Mungkin sekitar seminggu kedepan.]
Dinda sengaja bicara seperti itu agar dalam seminggu ini Sinta berhenti mencari dan menanyakan Hana. Tunggu sampai Satria pulang dari luar negeri dan biar Satria yang mengungkap semuanya.
[ Jangan bohong kamu !]
[ Aku tidak bohong. Sudah ya mbak aku masih ada urusan yang harus segera aku selesaikan. Nanti kalau Hana sudah pulang aku kasih tahu. Jadi mbak bisa telepon Hana lewat ponselku.]
[ Sombong ]
Tut Tut Tut
Secara sepihak Sinta mematikan sambungan teleponnya dan membuat Dinda hanya menggelengkan kepalanya. Benar - benar heran dengan kelakuan kakak iparnya itu yang tidak pernah berubah. Bukannya berubah tetapi justru semakin parah dan semakin tidak terarah lagi.
" Terus kita mau makan apa mas ? Beras saja tinggal untuk makan siang ini saja, bahan makanan juga tidak ada. Ibu kamu yang bodoh itu juga sok banget sih. Bukannya meminta stok bahan makanan malah sok - sokan mau beli sendiri. Kalau beginikan kita tidak bisa meminta stok bahan makanan lagi. Meminta uang juga tidak dikasih." Ucap Sarah mengomel tidak jelas membuat Reno semakin pusing.
Mendengar omelan Sarah justru membuat Reno semakin pusing dan semakin tidak betah berada di dalam rumah. Mau keluar rumah pun tidak ada uang, sehingga terpaksa tetap berdiam diri di rumah sembari mendengarkan omelan dari Sarah.
" Bagaimana kalau mobil kita jual saja, lagi pula mobil itu juga sudah hampir 5 bulan tidak kita servis. Takutnya terjadi apa-apa dan kita tidak punya uang untuk membetulkannya."Ucap Reno memberikan saran agar mobil dijual.
" Enak saja jual mobil ! Lalu kalau mobil itu dijual kita mau kemana-mana naik apa?"Tanya Sarah sambil berkacak pinggang.
" Nanti kalau mobil itu sudah laku terjual kita bisa beli motor Sarah. Jadi kita mau kemana-mana, kita bisa pakai motor saja. Ingat Sarah, sekarang kita itu sudah jatuh miskin! Hanya karena rumah kita besar sama kita punya saja kita masih dipandang kaya sama tetangga dan orang-orang sekitar. Padahal aslinya kita sudah miskin Sarah. Kita itu sudah miskin dan tidak punya apa-apa lagi, lihat isi rumah juga sudah semakin berkurang." Seru Reno bicara cukup keras.
Nafas Sarah semakin tersengal-sengal setelah mendengar penjelasan dari Reno. Seharusnya Reno sebagai kepala keluarga bisa memberikan nafkah secara layak untuk anak dan istrinya. Bukan malah menjadi pengangguran setia, dengan mengandalkan uang tabungan yang tidak seberapa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mungkin saja jika tidak mengambil bahan makanan dari rumah Ibu Rahayu, uang tabungan mereka sudah habis dari bulan-bulan kemarin.
" kamu itu harus mencari pekerjaan Mas jangan menjadi pengangguran setiap begini kamu kira dengan kamu menjadi pengangguran beras dan sembako yang lainnya bisa datang di depan pintu begitu saja tutur Sinta dengan emosi yang mulai meluap meluap
" Kamu kira selama ini aku hanya diam saja? Ingat Sarah, kamu itu juga yang menghambur-hamburkan uangku. Bahkan aku sampai korupsi juga sebagian uang ada di tangan kamu. Mana uang yang selama ini aku kasih, apa ada yang kamu tabungkan? Uang yang aku kasih selama ini justru habis sama selingkuhan kamu. Tidak ingat apa ? jika kamu itu selalu menghamburkan uang pemberianku dengan selingkuhan kamu di luar sana. Jadi sekaranh jangan banyak menuntutku, aku seperti ini juga karena ulahmu sendiri."Ungkap Reno dengan amarahnya. Dia tidak terima Sarah selalu menyalahkan dirinya yang menjadi pengangguran.
__ADS_1
Sarah terdiam dia tidak mau jika Reno sampai mengungkap masa lalunya lagi. Apalagi membahasnya lagi yang justru akan membuat mereka berantem semakin parah. Sarah sudah mengakui semua kesalahannya, namun bukan berarti Reno harus selalu memperdebatkan masalah yang sudah berlalu.
" Kenapa diam ? Apa kamu takut jika anak kita tahu kalau mamanya tukang selingkuh!" Bentak Reno dengan kesal.
Selama ini dia sudah cukup diam dan mengalah dengan apa saja yang dilakukan oleh Sarah. Dia mengalah bukan berarti tidak berani, karena dia tidak mau berdebat dan ribut saja. Sehingga Sarah juga akan murka, terlebih rumah dan mobil semua atas nama Sarah meskipun mereka beli memakai uang mereka berdua.
" Kamu mengungkit masalalu mas?" Tanya Sarah tidak kalah berani.
" Iya . Kenapa ? Apa ada yang salah dengan apa yang aku katakan tadi? Memang benar kan kamu itu tukang selingkuh, jadi tidak perlu lagi kamu pertanyakan."Jawab Reno sambil tersenyum sinis ke arah Sarah.
" Jahat kamu mas. Kamu sudah mengorek kesalahanku lagi tetapi kamu tidak bercermin juga pada dirimu sendiri. Kamu sekarang itu hanya pria pengangguran yang tidak punya apa - apa. Kala aku meninggalkan kamu , kamu akan tinggal dimana? Ingat rumah dan mobil ini atas namaku, jadi kapanpun aku bisa mengusirmu begitu saja.!" Seru Rena dengan lantang. Sama sekali tidak ada rasa hormatnya sama suami.
Plaaakk Plaaakk
Dua tamparan berhasil melayang dipipi Sarah. Reno sudah lepas kendali sehingga dia berani menampar Sarah. Sarah memang sudah sangat keterlaluan, dia berani bicara keras dan membentak dengan suaminya sendiri. Sebagai seorang lelaki dan seorang kepala keluarga, tentunya Reno tetap ingin dihargai dan dihormati bagaimanapun keadaan Reno saat ini.
" Kamu menamparku mas?" Tanya Sarah sambil memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari suaminya.
" Iya aku baru saja menamparmu. Apa masih kurang ? Atau kamu mau aku tampar lagi?" Tanya Reno dengan masih dikuasai oleh amarah yang memuncak.
" Kamu sudah main tangan mas. Kamu sudah keterlaluan, dasar suami tidak berguna. Menyesal aku menikah denganmu !!" Teriak Sarah sambil menangis
" Mama ! Papa ! Berhenti. Suara kalian itu terdengar sampai luar rumah." Bentak Joni anak Sarah dan Reno yang baru saja pulang sekolah.
Mata Reno dan Sinta langsung memandang kearah dimana saat ini anaknya berdiri. Sarah maupun Reno tidak menyadari kehadiran Joni, mereka berdua saling melempar pandang apakah tadi Joni melihat semua perdebatan mereka.
" Joni kamu masuk kamar. Ini urusan papa dan mama, lebih baik kamu masuk kamar dan ganti baju lalu tidur." Ucap Reno menyuruh anaknya masuk kamar.
Joni langsung menurut apa yang dikatakan papanya,tidak mau membantak perkataan papanya. Sebenarnya Joni adalah sosok anak yang sangat manja kepada kedua orang tuanya terutama kepada Sarah. Apapun yang Joni minta biasanya akan segera Sarah turuti. Namun akhir-akhir ini Joni lebih banyak diam dan mengurung diri dikamarnya.
" Sudah jangan ribut lagi dan jangan memancing amarahku Sarah. Dirumah ada Joni, tidak baik jika dia melihat kita ribut dan saling adu mulut." Seru Reno memilih mengakhiri perdebatan yang belum selesai. Sebab tidak mau jika anaknya tahu kedua orang tuanya sedang berantem.
Sarah tidak menjawab, namun dia hanya langsung masuk ke kamarnya dan mengunci kamar sehingga Reno tidak bisa masuk. Reno sendiri memilih untuk segera keluar rumah agar terhindar dari perdebatan yang tidak semakin sehat.
**************
__ADS_1