Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Bertemu tanpa sengaja


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


"Kamu mau kemana Hana? Kamu kemarin baru datang loh, masa sudah mau main? Apa kamu tidak capek, Nak? Lebih baik istirahat saja dulu."Ucap Cahaya saat mendapati Hana sudah rapi dan siap untuk pergi.


Ibu Rahayu dan pak Karim juga heran melihat cucunya yang sudah rapi dengan hijab instannya. Tidak biasanya Hana pergi dengan memakai hijab.


"Hana sudah tidak capek kok bi, semalaman juga sudah istirahat. Hana mau ke makam papa bi, mumpung masih jam 9 pagi jadi belum terlalu panas. Sudah lama Hana tidak ke makam papa, bolehkan ya Hana pergi?."Tanya Hana memindai kakek dan neneknya serta Cahaya secara bergantian.


Mereka bertiga yang ada di ruangan itu secara serempak menganggukkan kepalanya. Mereka tidak tahu jika Hana akan pergi ke makam papanya, justru mereka mengira jika Hana akan main kerumah teman sekolahnya dulu.


"Boleh. Tapi kamu mau pergi sama siapa?."Tanya pak Karim dengan lembut.


"Hana sendiri berani kok, Kek. Makam papa dekat sini aja kan? Mungkin hanya 10 menit sampai, Hana bisa naik ojek pangkalan yang ada di ujung gang itu Kek."Seru Hana dengan menyunggingkan senyum manisnya.


"Yakin kamu berani? Nenek khawatir ada yang mengganggu kamu, bagaimana kalau ditemani sama bibi Cahaya saja?."Tanya ibu Rahayu memberikan usul.


"Tidak perlu nek, Hana berani kok sendirian. Tante Cahaya bukannya pagi ini juga mau kekampus ya?." Tolak Hana dengan sopan.


Jam 9 ini Cahaya memang harus ke kampus, dia ada urusan di kampus untuk mempersiapkan wisudanya besok lusa. Meskipun dalam masa liburan kampus tetap melaksanakan acara wisuda.


"Ya sudah kalau begitu Hana berangkat ya, Assalamualaikum."Ucap Hana.


"Waalaikumsalam."Seru pak Karim dan ibu Rahayu bersamaan.


Tidak lama dari Hana pergi, Cahaya juga pergi karena dia juga akan ke kampus. Kini dirumah tinggal pak Karim dan ibu Rahayu saja, rumah mulai terasa sepi. Joni ada kegiatan dengan teman-temannya.


Setelah menempuh perjalanan 10 menit dengan di antar oleh tukang ojek pangkalan, Hana sudah sampai di tempat pemakaman umum dimana sang papa di makamkan.

__ADS_1


Hana berjalan menuju pusara sang papa, tidak lupa sebelum masuk area makam tadi Hana sudah membeli bunga untuk ditabur dimakam papanya.


"Assalamualaikum, Pa. Hana hari ini datang ke makamnya papa. Maaf ya pa, sudah lama Hana tidak datang ke makam papa. Bahkan saat Hana pergi 6 bulan yang lalu, Hana tidak sempat ke makam papa dulu. Hana sekarang sekolah di jerman pa, semua itu atas kebaikan om Satria dan tante Dinda. Om Satria benar-benar menjaga Hana seperti anaknya sendiri pa. Papa, Hana rindu pa."Ucap Hana dengan air mata yang berlinangan membasahi pipinya.


Hana menangis sembari memeluk nisan sang papa, siapa pun orang yang melihatnya akan ikut bersedih. Ada hal lain juga yang membuat Hana bersedih, yaitu tentang mamanya, Sinta.


"Pa, Hana masih punya mama tetapi Hana merasa tidak mempunyai mama. Hana harus bagaimana pa? Di satu sisi Hana sangat menyayangi mama, tapi mama yang seharusnya bisa menjadi panutan dan menjadi pelindung Hana, justru dia menjerumuskan Hana. Hana marah, Hana benci dengan mama pa, tetapi Hana tidak mau menjadi anak yang durhaka pa. Jadi Hana harus bagaimana? Om Satria meminta Hana untuk menemui mama dan memaafkan mama."Seru Hana semakin menangis dengan terisak.


Tanpa Hana sadari ada seorang wanita yang saat ini berdiri dibelakangnya, yang hanya berjarak sekitar dua meter saja dari tempat Hana. Wanita itu terdiam dan mendengarkan semua keluh kesah Hana. Wanita itu tanpa terasa ikut meneteskan air matanya, dia terus memandang kearah Hana dengan air mata yang sudah mengalir menganak sungai.


"Pa, Hana hanya dua minggu di Indonesia. Dan Hana nanti bakal kembali ke Jerman lagi, Om Satria juga akan menyekolahkan Hana sampai Hana lulus kuliah. Lihat pa, betapa baiknya om Satria dengan Hana. Dulu papa dan mama sering memusuhi dan mengucilkan om Satria, namun sekarang om Satria yang sudah mengurus dan membiayai pendidikan Hana."Ucap Hana sembari mengusap air matanya.


*Betapa jahatnya aku dengan anakku sendiri. Ya Allah, apa aku masih pantas di panggil mama oleh Hana. Hana, maafkan mama nak.*Gumam wanita yang berdiri dibelakang Hana yang ternyata adalah Sinta.


Sinta memang sengaja datang ke makam Rudi untuk meminta maaf. Namun ternyata justru dia bertemu dengan Hana anaknya yang selama ini dia abaikan dan justru dia jahati.


"Hana."Seru Sinta dengan suara bergetar menahan tangisnya.


Hana seketika langsung terdiam, dia sangat hafal betul siapa pemilik suara yang barusan memanggilnya. Secara perlahan Hana membalikkan badannya dan melihat untuk memastikan jika pendengarannya tidaklah salah.


"Mama."Seru Hana dengan pelan.


Sinta berjalan mendekati Hana, terlihat Hana masih saja diam terpaku di tempatnya. Posisinya masih sama, duduk di samping nisan papanya. Hanya tubuhnya yang menghadap kearah mamanya.


"Kamu ada disini juga, Han. Kamu apa kabar? Kapan kamu pulang dari Jerman?." Tanya Sinta dengan beruntun namun tidak bisa disembunyikan rasa gugupnya.


"Mama, emm Hana kemarin sampainya ma. Kabar Hana baik, Ma."Jawab Hana seperlunya.


"Apa mama boleh memeluk kamu, Han?." Tanya Sinta dengan ragu-ragu.


Sinta tahu betul jika anaknya pasti membencinya dan bahkan tidak mau bertemu dengannya. Namun sebagai seorang ibu, Sinta juga punya rasa rindu dan kasih sayang untuk anaknya. Selama ini dia terlalu egois, dan hanya mementingkan dirinya sendiri.


"Boleh ma."Jawab Hana singkat.

__ADS_1


Sinta langsung memeluk Hana dengan erat dan menumpahkan air matanya dalam pelukan. Sinta sangat menyesali semua perbuatannya yang selama ini sudah menyusahkan Hana. Bukan hanya Sinta yang menangis, Hana pun menangis dalam pelukan Sinta.


"Hana, maafkan mama. Maafkan mama sayang, mama selama ini sudah jahat sama kamu dan sudah terlalu egois sehingga membuat kamj menderita. Tolong maafkan mama, Hana."Ucap Sinta dalam tangisnya.


"Ma, Hana sudah memaafkan mama. Justru Hana juga yang minta maaf karena Hana sudah melupakan mama, Hana pergi tidak bilang sama mama."Seru Hana menangis dalam pelukan Sinta.


"Kamu tidak salah sayang, mamalah yang salah. Mama yang sudah hampir menjerumuskan kamu kedalam jurang kehancuran, beruntung ada Satria yang melindungi kamu. Jika tidak ada Satria mungkin kamu sudah rusak nak, dan mama akan menjadi wanita paling jahat dan bodoh di dunia ini."Ucap Sinta sembari mengusap air mata Hana.


Mereka berpelukan dan saling memaafkan didepan pusara Rudi. Sinta duduk disamping Hana dan mulai memanjatkan doa untuk Almarhum suaminya.


"Mas, maafkan aku. Selama ini aku sudah banyak salah dan banyak dosa sama kamu. Selama menjadi istrimu, aku tidak pernah berbakti dengan baik dan tidak pernah menjadi istri yang bisa kamu banggakan. Mas, aku dan Hana saat ini sudah berbaikan. Hana dengan berbesar hati mau memaafkan ku mas."Seru Sinta sembari mengusap nisan yang bertuliskan nama almarhum suaminya.


"Ma, setelah ini maukah mama ikut Hana kerumah kakek? Hana mau mama meminta maaf kepada Kakek, Nenek dan yang lainnya. Dan Hana ingin mama meninggalkan dunia mama yang haram itu, berubah menjadi seorang mama yang bisa Hana banggakan."Ucap Hana penuh harap mamanya mau meninggalkan bisnis haramnya itu.


Sinta tertegun setelah mendengar perkataan Hana. Sebenarnya Sinta memang ingin meninggalkan dan menutup bisnis haramnya itu. Saat ini untuk panti pijat plus sudah dari kemarin tidak beroperasi, usaha perjudiannya yang masih tetap berjalan. Bahkan Hakim juga masih terjun disana, Sinta belum mengusir Hakim sebab dia belum membuka semua kesalahan Hakim.


"Akan mama coba."Jawab Sinta dengan pelan.


"Tapi mama maukan kerumah kakek?."Tanya Hana lagi.


"Iya mau. Tapi setelah makan siang saja ya, mama siang ini ingin makan siang dengan mu. Apa kamu mau ikut makan siang dengan mama?."Tanya Sinta penuh harap.


Hana terdiam dan memandang wajah Sinta penuh selidik. Dia mencari celah kebohongan di wajah Sinta, namun sepertinya saat ini yang dikatakan Sinta sebuah kejujuran.


"Jangan takut. Mama tidak akan menyakikti kamu ataupun memanfaatkan kamu, Han. Mama tahu kamu takut dan ragu ikut mama. Hana, percayalah mama tidak akan macam-macam denganmu."Seru Sinta seakan tahu apa yang saat ini di fikirkan oleh Hana.


"Emm iya ma, Hana mau makan siang dengan mama."Jawab Hana dengan yakin.


Sinta mengangguk dengan mengulas senyum bahagianya, bagaimana tidak bahagia jika hubungannya dengan sang anak yang selama ini renggang kini bisa membaik.


**********


Maaf ya kak,kemarin tidak bisa up 🙏🙏 Ada insiden yang membuat Author kesusahan membuka Akun MT. 🙏

__ADS_1


__ADS_2