
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Tiiiinnnn Tiinnn
Suara klakson panjang terpaksa Reno bunyikan sebab ada seorang wanita yang menyebrang secara sembarangan. Wanita itu bukannya cepat lari justru malah berhenti tepat ditengah jalan sehingga Reno tepaksa membanting setir agar tidak menabrak wanita itu.
" Cari mati atau bagaimana sih wanita itu? Kalau memang mau cari mati kenapa tidak terjun bebas saja dari jembatan penyebrangan itu."Ucap Reno memaki wanita itu.
Reno turun dari mobil dan menghampiri wanita itu, wanita itu terlihat syok dan kaget sampai orang-orang terpaksa mengangkatnya kepinggir jalan agar jalanan tidak semakin macet.
" Bagaimana Pak? Apa wanita itu ada yang luka?."Tanya Reno kepada salah satu bapak-bapak yang membawa wanita tadi kepinggir jalan.
"Tidak ada yang luka mas, mungkin ini tadi mbaknya melamun saat menyebrang terus kaget jadi dia malah berhenti ditengah jalan." Ucap bapak-bapak itu.
" Iya pak. Bahaya kalau menyebrang dengan melamun. Alhamdulillah kalau dia tidak apa-apa."Seru Reno dengan penuh rasa syukur.
Orang-orang yang ada disitupun membubarkan diri, kini tinggal Reno dan perempuan muda yang tadi hampir dia tabrak. Perempuan itu masih saja diam sembari menundukkan kepalanya, sebab dia sangat takut dengan Reno. Dia takut Reno memarahinya dan melaporkannya kepolisi.
" Haii kamu tadi mau bunuh diri atau bagaimana? Kalau mau bunuh diri kenapa tidak sekalian saja jatuhin diri dari jembatan itu. "Seru Reno dengan kesal.
" Maaf pak. Saya tidak mau bunuh diri kok, tadi saya melamun. Maaf."Seru wanita itu meminta maaf dengan tulus serta dia mengakui kesalahannya.
Reno memandang wanita muda itu dan dia merasa kasihan. Reno tidak jadi memarahinya justru Reno akan mengantarkan wanita itu pulang.
" Kamu tadi mau kemana dan darimana?."Tanya Reno dengan ramah dan sopan.
" Mau pulang pak."Jawab wanita itu dengan sopan sembari menunduk malu.
" Saya antar saja,nanti kalau pulang sendiri malah nanti kamu kenapa-kenapa dijalan. Kamu tinggal dimana?." tanya Reno lagi berniat akan mengantarkan wanita itu pulang.
" Tidak perlu pak. Nanti malah merepotkan bapak saja. Saya bisa pulang sendiri, maaf ya pak gara-gara saya perjalanan bapak jadi terganggu."Ucap wanita itu merasa tidak enak dengan Reno.
Reno hanya mengangguk dan tidak akan memaksa jika wanita itu menolak untuk diantar pulang. Mungkin wanita itu tidak nyaman, apalagi mereka tidak saling kenal dan baru saja sekali bertemu.
" Baiklah aku tidak akan memaksa kamu, mbak... " Reno menjeda ucapannya sebab dia tidak tahu siapa nama wanita itu.
__ADS_1
" Cahaya, panggil saja Cahaya pak."Seru Cahaya menyebutkan namanya.
" Cahaya. Hemm nama yang bagus, kalau begitu kita kenalan saya. Nama saya Reno." Seru Reno mengulurkan tangannya.
Dengan pelan dan malu-malu Cahaya menyambut uluran tangan Reno. Selesai berkenalan Cahaya langsung pamit, dia ingin cepat pulang sebab hari sudah semakin siang. Dia tadi baru pulang dari kampus, dan buru-buru pulang sebab dia sakit perut tidak tahunya malah hampir saja tertabrak mobil.
" Aduhh... " Seru Cahaya mengaduh sembari memegangi perutnya yang sakit.
Mendengar Cahaya mengaduh kesakitan membuat Reno berlari mendekati Cahaya.
" Kamu kenapa?." Tanya Reno dengan wajah khawatir.
" Perut saya sakit banget." Seru Cahaya sembari memegang perutnya yang teramat sakit.
* Ini magh ku pasti kambuh makanya sakit begini, tadi aku buru-buru tidak sarapan karena takut telat ke kampus. Makanya aku tidak sarapan nasi, hanya minum teh saja. *Gumam Cahaya dalam batinnya.
Reno pun membawa cahaya masuk ke mobilnya dan akan mengantarkan cahaya untuk pulang. Akhirnya Cahaya menerima tawaran Reno untuk mengantarkan dia pulang. Dia juga sudah sangat kesakitan sehingga ingin segera sampai ke panti dan beristirahat.
" Kamu tinggal di mana?."Tanya Reno ingin mengetahui tempat tinggal Cahaya.
" Panti asuhan kasih bunda."Jawab Cahaya sembari mengusap perutnya yang masih saja terasa sakit.
Reno terdiam dia mengingat nama panti asuhan tempat Dinda mengadakan acara 7 bulanan beberapa hari yang lalu. Panti Asuhan itu sama dengan Panti Asuhan yang baru saja disebutkan oleh Cahaya, namun Reno tidak mau menanyakan lebih kepada Cahaya. Dia hanya mengikuti arahan jalan yang diberikan oleh Cahaya saja.
Namun makin kesini arah jalanan yang ditunjukan oleh Cahaya mengarah kepanti asuhan milik keluarga Satria. Dan ternyata benar panti asuhan yang sama dengan tempat Dinda mengadakan acara tujuh bulanan yang tak lain adalah milik keluarga Satria.
" Loh inikan panti asuhan milik keluarga, Satria?." Tanya Reno.
" Iya, dan aku memang tinggal disini." Ucap Cahaya.
" Beberapa hari yang lalu aku kesini juga loh, ikut acara 7 bulanan Dinda tapi kok tidak melihat kamu?." Tanya Reno lagi.
" Oh aku waktu itu memang tidak ikut acaranya, sebab berbarengan dengan acara dikampus Pak." Jawab Cahaya.
Reno kurang nyaman dengan panggilan Pak dari Cahaya. Namun Reno bisa apa, dia memang sudah bapak-bapak dan bahkan sudah menjadi bapak dari, Joni.
Cahaya dan Reno turun dari mobil, kedatangan Cahaya di sambut oleh ibu Nursi. Dia penasaran siapa yang sudah mengantar Cahaya pulang, seban tidak biasanya Cahaya pulang diantar oleh temannya.
" Assalamualaikum bu." Sapa Cahaya dengan sopan.
" Waalaikumsalam." Jawab ibu Nursi dengan ramah dan lembut.
__ADS_1
Cahaya dan Reno menyalami ibu Nursi, ibu Nursi merasa tidak asing dengan wajah Reno. Dan dia pun teringat jika Reno adalah kakak dari Dinda, dan baru beberapa hari yang lalu dia ikut datang kepanti.
" Ini kakaknya, Dinda kan?." Tanya ibu Nursi.
" Iya bu, saya Reno kakaknya Dinda. Maaf ya bu saya sudah lancang mengantarkan anak ibu pulang." Seru Reno dengan sopan.
" Ibu sudah kenal dengan kak Reno?." Tanya Cahaya dengan heran.
" Iya Cahaya. Dia ini kakak dari Dinda istrinya, Satria. Baru juga kemarin lusa mereka kesini, kebetulam memang kamu tidak ada." Jawab ibu Nursi.
Ibu Nursi mempersilahkan Reno untuk masuk terlebih dahulu, namun Reno menolak dengan halus. Sebab dia harus segera kembali ke toko, mobil akan dipakai untuk mengantarkan pesanan pelanggan. Reno pun berpamitan untuk segera pulang.
" Kok kamu bisa pulang bareng nak Reno? Memangnya di antara kalian ada hubungan sesuatu? Hanyo mengaku saja sama ibu?".Tanya ibu Nursi.
" Apaan sih Bu, iya jelas tidak ada dong. Cahaya saja baru bertemu sekali ini saja. Itupun pak Reno mengantarkan cahaya pulang karena cahaya sakit perut Bu. Sakit magh Cahaya sepertinya kambuh, sebab tadi pagi cahaya tidak sarapan. Kebetulan saat jalan pulang bertemu pak Reno."Jawab cahaya sedikit berbohong. Dia tidak mau mengatakan soal insiden yang dia hampir saja tertabrak mobil Reno.
" Ya sudah kamu sekarang makan, setelah makan sholat terus minum obat dan istirahat saja."Ucap Ibu Nursi.
" Iya Bu. Adik-adik dan yang lainnya masih pada tidur siang ya Bu."Tanya Cahaya yang mendapati keadaan panti dalam keadaan sepi, sudah pasti anak-anak sedang ada di kamarnya untuk tidur siang.
Ibu Nursi menganggukan kepalanya pertanda mengiyakan perkataan cahaya. Sedangkan di tempat lain saat ini Reno baru saja sampai di tokonya dan dengan segera dia masuk ke toko untuk menemui Akbar, Reno menanyakan barang yang akan dikirim ke pelanggan.
" Maaf ya Bar. Aku baru sampai, tadi ada insiden sedikit di jalanan."Seru Reno mencoba menjelaskan keterlambatannya dia datang ke toko.
" Iya Pak tidak apa-apa. Tadi barang juga sudah Akbar antarkan memakai motor, tetapi harus bolak-balik sampai tiga kali, Pak." Jwab Akbar sembari tersenyum menunjukkan deretan giginya.
" Ya ampun maaf ya tadi itu benar-benar ada masalah di jalan. Ya sudah kalau begitu kamu lanjutkan pekerjaan kamu, sudah pada makan siang dan sholat kan?." Tanya Reno memastikan.
" Sudah pak. Kami tadi bergantian kok."Jawab Akbar.
Reno mengangguk lalu kembali kemeja kasir, untuk saat ini Reno masih ikut turun tangan langsung menjaga dibagian kasir bersama Cika. Saat Reno sedang berada di meja kasir, dia melihat kearah luar. Ada sebuah mobil yang dia sangat hafal betul pemiliknya, sebab dulu Reno juga pernah mengendrai mobil itu.
*Mau apalagi wanita itu datang kesini? Atau jangan-jangan dia sudah tahu kalau toko ini milikku dan dia datang untuk mengganggu hidupku lagi.* Gumam Reno dalam batinnya.
Sarah masuk ketoko dengan menggandeng mesra pria yang usianya terlihat lebih muda dari Reno. Reno yakin jika pria itu adalah pacar Sarah, bukan suami Sarah. Reno tahu pekerjaan Sarah seperti apa sehingga dia tidak yakin jika Sarah mempunyai suami.
" Sayang, kamu mau belanja apa sih?." Seru Sarah sembari merangkul manja lengan pria yang ada disampingnya tanpa tahu jika ada Reno yang terus memperhatikannya.
" Aku mau mencari kebutuhan mandiku, sabun, shampo dan yang lainnya. Kebetulan semuanya habis dan Sinta tidak mau membelikannya. Sinta masih marah karena kejadian kemarin lusa, oh iya sayang apa kamu mau beli sesuatu?." Tanya Hakim sambil mencubit manja dagu Sarah.
Hakim dan Sarah sama sekali tidak punya malu, mempertontonkan kemesraannya di tempat umum. Seakan mereka berdua yang mempunyai pasangan.
__ADS_1
* Menjijikan sekali, dikira mereka sendiri apa yang punya pasangan. Apa tidak malu bermesraan di tempat umum seperti ini.*Gumam Reno dalam batinnya.
*********