Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Menghadapi Sarah


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


"Bu, pak. Satria titip Dinda ya pak, ada hal yang ingin Satria urus diluar. Kalau Dinda sudah siuman tolong segera kabari Satria."Seru Satria menitipkan Dinda kepada kedua mertuanya.


Pak Karim dan ibu Rahayu hanya menganggukkan kepalanya saja. Setelah berpamitan dengan kedua mertuanya, Satri keluar dari ruang rawat Dinda. Dia berjalan dengan buru-buru, sebab dia sudah tidak Sabar ingin memberi Sarah pelajaran.


"Satria, kamu mau kemana? "Tanya Reno yang berpapasan dengan Satria di lobby rumah sakit.


Tadi Reno memang keluar membeli makanan untuk bapak dan ibunya. Sebab sudah sore kedua orang tuanya belum makan siang juga.


"Aku ada urusan, Mas. Tolong jaga Dinda sampai aku datang lagi."Seru Satria dengan tegas.


"Kamu pasti mau menemui, Sarah? Ingat Satria, boleh bersikap kasar tapi jangan sampai kelewatan dan jangan sampai ketahuan oleh polisi. Nanti kamu malah yang akan dapat masalah sudah memperlakukan wanita dengan tidak baik."Seru Reno mengingatkan agar Satria bisa mengendalikan emosinya.


"Iya mas. Aku berangkat."Seru Satria dengan segera dia menghampiri mobilnya yang terparkir di parkiran Rumah sakit.


Hati Satria memanas saat melihat rekaman Cctv cafe yang dikirim oleh menejer Cafe. Disana terlihat sekali jika Sarah sengaja mendorong dan mencelakai Dinda. Sampai Dinda membentur pot bunga yang besar, Satria memang jarang marah dan jarang sekali dia mau menghakimi seorang wanita. Tetapi kali ini Satria sudah tidak bisa mengendalikan emosinya, apa yang dilakukan Sarah sudah sangat keterlaluan.


Mobil yang dikendarai Satria menuju rumah sederhana yang dulu pernah ditempati oleh Hakim dan orang tuanya. Rumah yang Satria berikan untuk orang tuanya, dan akhirnya Satria ambil lagi karena orang tuanya sudah keterlaluan.


"Haaii lepaskan !! Kalian itu siapa dan mau apa? Percuma kalian menculikku, tidak akan yang menenusku ! Aku ini seorang janda, heeeiii lepaskan ikatan tangan dan kakiku.!"Teriak Sarah terus meronta meminta untuk segera dilepaskan.


"Diam !! Kalau kamu tidak mau diam akan aku robek mulut kamu. Atau kamu mau aku siram pakai teh dan kopi panas ini?."Seru dua anak buah Satria yang bertugas menjaga Sarah.


Nyali Sarah langsung menciut, sepertinya dia benar-benar takut dengan ancaman dua pria yang sama-sama berambut gondrong dan berwajah seram. Apalagi kopi dan teh itu masih mengepulkan asapnya, pasti akan membakar kulit jika mengenai kulitnya.


"Kalau kamu diam beginikan telingaku tidak sakit."Ucap si Bone sembari mengepulkan asap rokoknya tinggi-tinggi.


"Iya nih Bon, sakit telingaku dari tadi mendengar wanita ini berteriak. Makanya kalau tidak mau dihukum jangan buat masalah, kamu belum tahu siapa lawan kamu. Jangankan cuma 1, 20 wanita sepertimu saja lawanmu itu bisa menghancurkan hidupmu."Seru Wardi teman dari Bone.


Tak Tak Tak


Terdengar langkah kaki mendekati ruangan dimana Sarah disekap. Kedua pria itu waspada, khawatir yang datang teman dari Sarah yang akan menyelamatkannya. Begitupun dengan pemikiran Sarah, dia juga mengira jika itu Hakim atau Heri teman kencan barunya.


Bone keluar dari ruangan untuk memastikan siapa pemilik dari langkah kaki itu.

__ADS_1


"Boss ! Seru Bone saat mengetahui jika Satria yang datang.


"Apa wanita itu didalam sini?." Seru Satria sembari menunjuk kearah pintu yang ada dihadapannya.


"Iya Boss. Wanita itu sangat berisik dan tidak tahu diri, bisanya marah-marah dan teriak terus Boss."Seru Bone melaporkan apa saja yang dilakukan Sarah.


"Hemm, ayok masuk. Aku ingin segera memberi dia pelajaran. Gara-gara dia istriku pendarhan dan sampai saat ini belum siuman. Dan terpaksa anakku dilahirkan lebih cepat!."Seru Satria geram sembari mengepalkan kedua tangannya.


Satria masuk lebih dulu dan diikuti Bone dari belakang. Melihat pintu yang kembali terbuka, membuat Sarah langsung memandang kearah pintu. Seketika nafasnya seperti terhenti dan tenggorokannya terasa sakit. Dia ketakutan, dan sangat takut melihat wajah Satria yang sangat mengerikan.


"Satria."Seru Sarah pelan namun masih bisa didengar oleh telinga Satria.


"Krnapa? Takut? Sejak kapan kamu takut sama aku? Bukannya kamu itu tidak takut dengan siapapun, bahkan dengan senangnya kamu mendorong istriku sampai istriku kesakitan!!." Bentak Satria lantang.


Plaaakkk Plaaakkk


Dua tamparan mendarat sempurna di kedua pipi Sarah. Sarah terhuyung sampai dia jatuh dari kursi tempat duduknya. Dengan kasar Satria menghampiri Sarah yang ada dilantai.


"Maaf, aku tidak sengaja, Satria. Tolong maafkan aku, aku bersedia membiayai pengobatan Dinda. Tetapi tolong maafkan aku dan lepaskan aku."Seru Sarah dengan suara terbata-bata.


Cuiihhhh....


Satria menekan kedua pipi Sarah menggunakan tangan kanannya sampai Sarah kesakitan. Sarah mengeluarkan air matanya, tetapi Satria tidak akan iba sedikitpun.


"Gara-gara kamu anak dan istriku saat ini ada di rumah sakit, bahkan istriku sampai detik ini belum siuman juga. Dan gara-gara kamu, anakku harus terlahir secara prematur!! Lihat saja jika terjadi sesuatu dengan keduanya, aku pasti akan membunuhmu, Sarah. Jangan kamu kira aku tidak bisa berbuat lebih kejam dari ini."Seru Satria sembari menghempaskan Sarah.


"Aaaaowww.... Aa.. Aku tidak sengaja, Satria."Seru Sarah tetap membela dirinya.


Plaakkk Plaaakk


Satria kembali melayangkan tamparannya dipipi Sarah. Dia semakin marah, sebab Sarah masih saja mengelak dan tidak mengakui kesalahan yang sudah dia perbuat.


"Apa kamu kira aku ini orang bodoh ! Kamu lupa jika di Cafe itu ada puluhan CCTV, apa kamu itu sudah tidak bisa berfikir secara jernih. Kamu salah cari lawan, Sarah."Seru Satria menyeringai dengan sinis.


"Ampun, ampun Satria. Tolong jangan pukul aku lagi, sakit Satria. Aku seperti itu karena istri kamu yang memulai duluan, dia yang menghinaku. Jadi aku tidak salah kalau membela diri. Kamu sebagai suami harus bisa mengajari Ieru Sarah masih saja membela dirinya.


Bonee... Wardi...!!


Seru Satria dengan lantang memanggil kedua anak buahnya. Bone dan Wardi langsung mendekat kearah Satria.


"Iya Boss."Seru mereka bersamaan.

__ADS_1


"Kamu urus wanita ini, jangan beri dia makan jika dia masih saja tidak mengakui kesalahannya. Tapi jangan kamu mainkan wanita ini, sejahat-jahatnya aku. Aku tidak suka ada pria yang mempermainkan wanita."Seru Satria menatap tajam kearah kedua anak buahnya.


"Baik Boss."Seru Wardi dan Bone bersamaan.


"Jahat kamu, Satria! Jangan mentang-mentang kaya, kamu bisa berbuat semaumu seperti ini. Lihat saja aku akan melaporkan perbuatan kamu ini ke polisi, biar kamu di penjara dan istri kamu itu akan menderita. Dasar keluarga sombong!!"Teriak Sarah dengan lantang.


Sarah sudah dirasuki dan dikuasai oleh amarah, sehingga dia tidak takut lagi dengan Satria. Bahkan dia mungkin lupa jika saat ini sedang menjadi tawanan Satria.


Kreekkk Krekkkkk


Bone langsung bergerak, dia melakban mulut Sarah agar tidak berisik dan terus beteriak. Teriakan Sarah akan mengundang warga datang, dan itu akan membuat masalah semakin runyam.


"Jika kamu mau melaporkan aku kepolisi aku tidak akan takut ! Sama saja kamu menyerahkan diri kamu sendiri kepada polisi. Dasar wanita, Bodoh!." Seru Satria penuh penekanan.


Eeemmmm.. Emmmmm


Sarah memberontak, berharap lakban yang menutup mulutnya bisa terbuka. Melihat itu Satria hanya tertawa dengan licik, Satriapun meninggalkan ruangan itu dan meminta kedua anak buahnya untuk menjaga Sarah.


"Jangan sampai kalian macam-macam. Kalian boleh memukul dan menghajarnya jika dia terus seperti tadi. Tapi jangan sampai kalian lampiaskan nafsu kalian samq wanita itu. Paham!"Seru Satria tegas.


"Paham Boss."Seru Bone dan Wardi bersamaan.


Satria kembali menghampiri mobilnya dan menuju kerumah sakit kembali, untuk melihat keadaan istrinya. Saat dalam perjalanan kerumah sakit, adzan magrib berkumandang. Satria membelokkan mobilnya ke masjid untuk sholat magrib terlebih dahulu.


Setelah selesai sholat, Satria masuk mobil dan hendak melajukan mobilnya. Namun tiba-tiba ponselnya berdering ada panggilan masuk dari Reno. Dengan segera Satria mengangkatnya, khawatir terjadi sesuatu dengan Dinda.


[Hallo mas? ]


[ Iya, hallo Satria. Kamu dimana? Cepat kamu datang kerumah sakit.]


[Aku lagi dijalan mas. Bagaimana? Apa terjadi sesuatu dengan anak dan istriku?.]


[Tidak ada apa-apa. Ini Dinda baru saja siuman, dia mencari keberadaanmu. Cepat kamu kerumah sakit.]


[Alhamdulillah. Baik mas, aku kesana sekarang.]


Klik


Sambungan telepon langsung Satria akhiri begitu saja. Dia senang mendengar kabar istrinya yang sudah siuman, dengan segera Satria melajukan mobilnya keluar dari pekarangan masjid. Disepanjang jalan menuju rumah sakit, tak henti-hentinya Satria mengucapkan syukur karena istrinya sudah siuman. Tinggal kondisi anaknya saat ini yang membuat Satria khawatir.


************

__ADS_1


__ADS_2