Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Diterima Cahaya


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Di usia kehamilannya yang sudah masuk 8 bulan membuat Dinda sudah mengurangi aktifitasnya. Butik dan Cafe sudah dia serahkan kepada orang kepercayaannya semua. Hanya kuliahnya saja yang masih tetap berjalan dengan dosen yang datang kerumahnya.


Malam ini Reno akan datang kepanti asuhan untuk melamar Cahaya. Satria dan Dinda juga akan ikut, begitupun dengan nenek Murni. Dia tidak mau ketinggalan moment lamaran Cahaya, apalagi memang nenek sudah menganggap Cahaya cucunya sendiri.


Joni setuju dengan wanita pilihan Reno, meskipun Joni belum bertemu dengan Cahaya. Hanya sebuah foto yang ditunjukan oleh Reno kepada Joni.


"Mas Reno sudah memberitahu Cahayakan kalau malam ini kita datang untuk melamar Cahaya?."Tanya Dinda memastikan.


"Sudah. Tapi aku tidak memberitahu kalau mau melamar, aku cuma bilang kalau malam ini kita mau datang."Seru Reno memberitahu Dinda.


"Tapi mas bilangkan kalau bapak dan ibu ikut datang?."Tanya Dinda lagi.


"Tidak ! Mas cuma memberitahu jika mas sama Satria mau datang gitu saja, mas fikir kalau sudah bawa nama Satria dia pasti akan paham."Seru Reno.


Haaaaahhhhhh


Dinda terlihat membuang nafas dengan kasar, dia heran kenapa kakaknya lemot begini. Seharusnya memberitahu jika memang keluarga mau datang, sehingga saat mereka datang tuan rumah sudah tidak terkejut lagi. Dinda mengakui memang Reno dari dulu kalau soal perempuan kurang pintar, yang dia tahu hanya bucin saja. Beruntung kali ini dia bucin dengan Cahaya, orang yang tepat.


"Ya sudah kita berangkat saja nanti keburu malam."Ucap Satria mengajak rombongan untuk segera berangkat.


Mereka berangkat jam 7 malam dan memakai dua mobil, mobil Satria dan mobil Reno. Dinda, ibu Rahayu dan nenek Murni ikut dengan mobil Satria. Sedangkan Reno ikut dengan mobilnya yang dikendarai oleh Beni. Di mobil yang dikendarai Beni ada Beni, pak Karim, Reno dan Joni. Rena dan kedua anaknya tidak ikut, sebab pulang mereka pasti akan malam dan kasihan Gibran dan Tiara besok masih harus bersekolah. Kalau Joni memang besok libur, dia habis ujian praktek.


"Kalau Reno nanti di tolak sama Cahaya bagaimana ya, Din? Pasti dia akan terpukul dan sedih, kamu tahu sendiri Reno itu duda anak satu sedangkan Cahaya masih muda dan yang pasti dia masih muda."Seru ibu Rahayu khawatir jika Reno akan ditolak.


"Mas Reno biarpun seorang duda, dia masih tampan dan gagah loh bu. Baru juga 35 jalan 37 tahun bu, jadi tidak tua-tua amat bu."Seru Dinda sembari tersenyum.


"Doakan saja yang terbaik untuk Reno bu. Siapa tahu Cahaya nanti menerimanya."Ucap nenek Murni ikut buka suara.


"Aamiin."Semua yang ada dalam mobil mengaminkan ucapan nenek Murni.


Empat puluh lima menit mereka dalam perjalanan, mobil yang dikendarai Satria dan Beni masing-masing sudah sampai di halaman panti. Nampak ibu Nursi dan Cahaya ada di teras menunggu kedatangan Reno dan Satria, anak-anak yang lain pasti saat ini sedang mengaji di mushola yang ada di bagian belakan panti.

__ADS_1


Ibu Nursi dan Cahaya kaget saat melihat kedua orang tua Reno juga ikut. Terlebihnya Cahaya, dia merasa aneh kenapa Reno datang membawa rombongan, bahkan nenek Murni juga sampai ikut.


*Kenapa 1 keluarga ikut semua? Bukannya pak Reno bilang hanya datang bersama Kak Satria? Dia bilang ada yang ingin dibicarakan dengan ibu, makanya datang malam-malam menunggu waktu kak Satria senggang. Ada apa ini?.*Gumam Cahaya dalam batinnya.


Meskipun mereka berdua heran dengan kedatangan tamu nya yang rombongan. Cahaya dan ibunya mentambut mereka dengan ramah dan sopan.


"Maaf ya bu, kalau kedatangan kami bikin repot."Seru ibu Rahayu saat mereka sudah berkumpul di ruangan yang lebih privat.


Nenek Murni meminta Ibu Nursi untuk mengajak semua rombongan keruangan yang privat, ruangan yang biasa dipakai untuk menerima tamu atau para donatur yang datang kepanti.


"Iya bu tidak apa-apa. Jarang-jarang juga kita berkumpul seperti ini."Jawab ibu Nursi dengan ramah.


Sedangkan Dinda saat ini bersama dengan Cahaya dan dua petugas dapur menyiapkan makan malam. Dinda tadi sudah membawa makanan yang cukup banyak.


"Kak Dinda, kalau tadi mau datang ramai begini pasti Cahaya akan siapkan makanan. Pak Reno bilangnya dia sama kak Satria, jadi Cahaya ya tidak menyiapkan makanan."Seru Cahaya merasa tidak enak sebab Dinda tamu tapi harus repot-repot bawa makanan.


"Sudah tidak apa-apa, kami memang sengaja bawa makanan agar bisa makan malam bersama disini. Sudah yuk panggil yang lainnya, kita makan dulu. Setelah makan nanti kita ikut bergabung dengan mereka."Ucap Dinda semgari tersenyum ramah.


Cahaya mengangguk, lalu memanggil Nenek Murni dan yang lainnya untuk makan malam. Kini mereka semua sudah berkumpul untuk makan malam, Cahaya dan ibu Nursi terpaksa ikut makan malam lagi, padahal tadi mereka sudah makan malam bersama anak-anak yang lainnya.


Selesai makan malam mereka semua berkumpul di tempat semula. Cahaya dan Dinda juga ikut bergabung dengan yang lainnya.


"Sebelumnya kami minta maaf karena kedatangan kami sudah mengganggu waktunya ibu Nursi dan Cahaya. Kami datang bersama rombongan karena memang kami ada maksud tertentu, kami ingin menyambung silahturahmi kita."Ucap Pak Karim memulai obrolan yang serius.


"Kami datang kesini berombongan karena ingin melamar putri ibu, Cahaya. Untuk anak saya, Reno."Seru Pak Karim menyampaikan kedatangannya.


Deggghhhh


Jantung Cahaya terasa berhenti berdetak, tentu saja dia kaget dengan apa yang dikatakan pak Karim barusan. Bagaimana bisa mereka datang untuk melamarkan Cahaya untuk Reno. Sebelumnya di antara Reno dan Cahaya tidak ada obrolan apapun, bahkan diantara mereka memang tidak ada hubungan yang lebih selain sebagai teman.


"Melamar anak saya?."Seru ibu Nursi kaget.


"Iya bu. Maaf sebelumnya saya tidak memberitahu Cahaya ataupun ibu terlebih dahulu."Jawab Reno dengan berani menjawab pertanyaan ibu Nursi.


Ibu Nursi memandang kearah Cahaya, Cahaya terlihat tenang dan mencoba menguasai dirinya agar tidak terlihat gugup.


"Cahaya, apa kamu mau menerima lamaranku. Mungkin ini memang terlalu cepat, apalagi diantara kita tidak ada hubungan yang lebih. Bahkan kita bertemu juga baru beberapa kali. Namun aku serius ingin menjadikan kamu istriku. Aku memang seorang duda anak satu, dan ini Joni anakku."Ucap Reno penuh keyakinan sembari mengenalkan Joni yang duduk disamping kanannya.


Cahaya masih diam, dan belum bisa memberikan jawaban. Dia tidak mau salah langkah, apalagi mereka memang belum lama kenal.

__ADS_1


"Nak Cahaya. Nenek minta kamu jawab sesuai dengan perasaan dan hati kamu. Nenek tidak mau kamu menjawab karena terpaksa, sebab tidak enak dengan nenek atau Kak Satria. Jawablah dengan jujur jangan karena terpaksa ya Nak."Ucap nenek Murni sembari menggenggam tangan Cahaya.


"Saya tidak bisa menjawab pinangan dari nak, Reno. Sebab ini adalah kehidupan Cahaya, jadi saya serahkan semuanya kepada Cahaya."Seru ibu Nursi bicara dengan ramah dan sopan.


Semua orang terdiam dan memandang kearah Cahaya, mereka sangat berharap Cahaya mau memberikab jawabab sesuai dengan yang diharapkan oleh Reno. Cahaya terlihat gugup, sebab semua orang memandang kearahnya. Tidak dapat dipungkiri, Cahaya memang mulai menyukai Reno namun dia masih ragu dengan Reno. Terlebih Reno pernah menikah dan bercerai, Cahaya khawatir dia juga akan mengalami hal yang sama.


*Bismillah. Ya Allah semoga saja ini pilihan yang terbaik untuk semuanya.*Gumam Cahaya dalam batinnya.


Huuufffff


Sebelum Cahaya menjawab pinangan Reno, terlihat Cahaya menghela nafas dengan panjang untuk menetralkan pikirannya, agar jawaban yang dia berikan tidak salah.


"Insya Allah, Cahaya menerima lamaran pak Reno."Seru Cahaya penuh keyakinan.


Alhamdulillah


Semua orang yang ada diruangan itu berseru mengucapkan alhamdulillah. Reno tampat tersenyum dengan bahagia.


"Terimakasih Cahaya."Jawab Reno.


"Iya pak Reno. Semoga pak Reno bisa menjadi imamku dan bisa membimbingku untuk jauh lebih baik lagi."Ucap Cahaya dengan yakin.


"Insya Allah."Jawab Reno yakin.


Dengan diterimanya lamaram Reno oleh Cahaya, saat ini para orang tua sedang membicarakan soal hari pernikahan dengan Reno dan Cahaya. Akhirnya diputuskan 1 bulan lagi Cahaya dan Reno akan menikah. Ibu Nursi tidak mau jika Cahaya dan Reno berpacaran lama-lama yang ditakutkan akan mengundang fitnah.


"Satu bulan lagi Cahaya dan Reno akan menikah, dan akad nikah akan diadakan dipanti."Ucap ibu Nursi.


"Jika Cahaya mau diadakan resepsi atau pesta pernikahan, saya akan menyanggupinya."Seru Reno.


"Tidak pak Reno. Akad nikah saja sudah cukup."Jawab Cahaya dengan tulus.


"Masa iya memanggil calon suami masih pak? Wah payah kamu ini, Cahaya. Panggil mas dong biar mesra, mas Reno ini masih 35 tahun loh jadi belum tua-tua benar."Seru Satria memprotes panggilan Cahaya kepada Reno.


Cahaya hanya tersenyum sembari tersipu malu. Gadis 24 tahun itu bingung harus memanggil Reno dengan panggilan apa. Tidal mungkin dia akan memanggil Reno dengan panggilan Pak terus menerus.


*Kak Satria benar juga. Heemm masak iya aku panggil pak Reno, kan tidak lucu. Mungkin panggilan mas jauh lebih baik daripada pak.*Gumam Cahaya dalam batinnya.


Selesai dengan tujuan awal mereka, kini para rombongan sudah bersiap untuk pulang. Jam yang tergantung di dinding sudah menunjukan pukul sepuluh lewat lima menit. Semuanya berpamitan pulang, dan terlihat Reno sudah bisa tersenyum dengan lebar.

__ADS_1


Tunggu ya Reno , satu bulan lagi kamu akan segera bersanding dengan Cahaya. Kira-kira kalau Sarah tahu siapa calon istri Reno??.


************


__ADS_2