
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Dinda dan Cahaya datang kerumah sakit bersama dengan di antarkan oleh sopir pribadi Dinda. Mereka sama-sama ingin memeriksakan kandungannya.
Usia kandungan Dinda saat ini masuk bulan ke 3 dan kandungan Cahaya sudah masuk bulan ke 6. Kandungan mereka hanya selisih 3 bulan saja. Mereka sama-sama berharap mendapatkan bayi perempuan. Cahaya sendiri memang sudah mengetahui jenis kelamin anaknya, yaitu perempuan. Dan untuk Dinda baru hari ini akan melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin anaknya.
" Mbak Cahaya sudah belanja perlengkapan bayi belum?."Tanya Dinda saat mereka duduk di kursi antrian.
" Belum. Kata ibu tunggu sudah 7 bulan nanti. Ya sudahlah ikuti saja apa kata orang tua, terkadang mereka juga ada benarnya, Din."Jawab Cahaya dengan senyum lembutnya.
" Iya juga sih mbak. Tidak ada salahnya untuk mengikuti apa kata orang tua. Kadang apa yang mereka katakan itu ada benarnya juga, mereka juga berkata seperti itu tidak sembarangan."Ucap Dinda juga menyetujui apa kata ibunya.
" Ibu Cahaya." Suster memanggil nama Cahaya.
Giliran Cahaya masuk ke ruang pemeriksaan, dengan segera Cahaya bangkit dan berjalan lalu masuk. Kini tinggallah Dinda yang sedang menunggu giliran, masih ada beberapa ibu-ibu juga yang sedang menunggu antriannya. Ada yang di antar suaminya, anaknya, saudaranya dan ada juga yang datang sendirian.
" Kamu Dinda kan? Anaknya pak Karim dan ibu Rahayu?." Tanya seorang ibu paruh baya menghampiri Dinda.
Ibu paruh baya yang tadi duduk di depan Dinda kini sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan sulit untuk di artikan. Dinda sama sekali tidak mengenali wanita paruh baya yang berdiri didepannya itu.
" Iya benar. Maaf ibu siapa ya?." Tanya Dinda dengan sopan.
" Saya Rahmi, ibu dari Tono. Masih ingat Tono kan? Lelaki yang di penjarakan suami kamu gara-gara dia cemburu karena Tono mendekati kamu. Dulu Tono mendekati kamu karena keluarga kamu mendukung, jadi apa alasan suami kamu memenjarakan anakku? Beruntung anakku tidak jadi menikah sama kamu, begitupun si Alfin anak bu Risma itu. Mungkin jika Tono atau Alfin jadi menikah sama kamu, hidup mereka akan menderita karena keluarga kalian itu gila harta, apalagi ibu kamu itu." Seru ibu Rahmi dengan ketus.
Pplaakk
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi tua ibu Rahmi. Dinda benar-benar marah saat ibu Rahmi bicara tanpa bukti. Seenaknya saja mulut nya bicara yang tidak-tidak.
" Kamu menamparku?."Seru ibu Rahmi dengan tatapan mata nyalang.
__ADS_1
" Kenapa aku tidak berani? Memangnya ibu siapa? Ibu jika ingin bicara, tolong cari tahu kebenarannya terlebih dahulu jangan asal bicara. Asal Ibu tahu, anak ibu yang bernama Tono itu di penjara bukan karena suami saya yang cemburu karena dia mendekati saya. Akan tetapi karena dia sudah korupsi !! Dia korupsi uang perusahaan, jadi orang yang suka korupsi lebih pantas dipenjarakan daripada dia berkeliaran di luar sana."Ucap Dinda dengan tegas. Sehingga Ibu Rahmi pun tercengang dengan apa yang dijelaskan oleh Dinda.
Ibu Rahmi tidak tahu jika selama ini Tono sudah berbohong kepadanya. Sebenarnya dia dipenjara karena sudah korupsi uang perusahaan, bukan karena Satria yang cemburu karena dia mendekati Dinda.
" Kamu jangan sembarangan bicara, Dinda. Sudah jelas-jelas Tono itu tidak bersalah dia tidak korupsi. Dia dipenjarakan suami kamu karena suami kamu punya dukungan yang lebih di perusahaan itu. Sehingga dengan alasan korupsi anak saya bisa dipenjarakan, padahal dia hanya cemburu karena Tono mendekati kamu. Dan itu semua juga karena kedua Kakak kamu yang si4l4n itu, yang sudah memaksa Tono untuk mendekati kamu. Rudi dan Reno si penggila uang itu saja yang bodoh ! Sudah tahu adiknya bersuami tapi di jodohkan dengan Tono."Ucap Ibu Rahmi tetap bersih kukuh jika Tono tidak bersalah.
Dinda semakin kesal karena Ibu Rahmi membawa-bawa nama kedua Kakaknya. Terlebih saat ini Rudi sudah almarhum. Dinda paling tidak suka mengungkit masa lalu, akan tetapi kali ini dia akan memberitahu semuanya secara gamblang kepada Ibu Rahmi agar ibu Rahmi tidak salah paham. Dan tidak salah sangka lagi, dan nama baik keluarganya pun menjadi bersih.
" Suami saya punya hak di perusahaan itu. Lagi pula yang namanya tukang korupsi ya harus dipenjara. Suami saya tidak mungkin memenjarakan Tono Jika dia tidak bersalah, Bu. Hanya karena soal cemburu, tidak mungkin hal itu bisa membicarakan Tono. Asal Ibu tahu, perusahaan tempat Tono bekerja waktu itu adalah milik suami saya. Satria Perkasa Wardoyo, itu nama panjang suami saya. Jadi dari namanya saja Ibu sudah tahu jika suami sayalah pemilik perusahaan itu kan."Ucap Dinda dengan tegas.
Deeggghhh
Ibu Rahmi terkejut saat Dinda mengatakan jika perusahaan tempat Tono bekerja dulu itu adalah milik Satria. Terlebih saat mendengar nama panjang Satria, jantung Ibu Rahmi tiba-tiba berdegup dengan kencang. Dia tidak menyangka jika selama ini dia sudah salah paham, ternyata Satria memang benar pemilik perusahaan itu. Jadi apa yang selama ini dia pikirkan itu salah besar.
" Jadi Satria yang dimaksud orang-orang itu adalah Satria suami kamu? Dia pemilik perusahaan tempat dulu Tono bekerja."Tanya ibu Rahmi dengan serius.
" Ibu benar sekali. Jika ibu tetap tidak percaya, ibu bisa tanya langsung sama Tono. Jika dia tidak mau mengaku juga. Biar di tambah lagi masa hukumannya."Ucap Dinda mengancam sedikit.
" Bu, sudah malu di lihat orang. kita duduk lagi dan jangan mengungkit masalah ini lagi. Mungkin memang Tono yang salah, jadi sudah sewajarnya dia di penjara. Dinda maafkan ibu saya ya." Ucap wanita yang perutnya buncit itu
Dinda tidak peduli dengan pandangan mata para ibu-ibu yang saat ini sedang menunggu di ruang tunggu. Ada salah satu ibu hamil mendekati Dinda dan memberikan botol air menirel yang masih bersegel kepada Dinda.
" Minumlah mbak, biar lebih tenang. Jangan emosi lagi, ingat saat ini mbak sedang hamil. Kasihan janinnya kalau sampai dibawa stress."Ucap ibu itu sambil mengusap punggung Dinda dengan lembut.
" Terimakasih bu."Jawan Dinda mengambil air mineral itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Bukan tanpa alasan, saat ini Dinda teringat dengan kakaknya, Rudi. Kenapa masalah ini diungkit saat Rudi sudah tiada, padahal jeda waktu Tono masuk penjara dengan Rudi meninggal itu lumayan lama, ada sekitar 1 tahun. Kenapa kesalah pahaman ini tidak dari dulu diungkap,kenapa harus sekarang?
" Jangan menangis."Ucap Ibu itu dengan lembut.
" Iya, maaf air minumnya jadi saya minum."Ucap Dinda merasa tidak enak.
" Sudah tidak apa-apa. Sekarang sudah lebih tenangkan, bagimana kalau kamu duduk di kursi sebelah sana saja biar tidak berhadapan langsung sama ibu itu."Ucap wanita itu dengan sopan.
" Tidak perlu bu, terimakasih. Ini sebentar lagi giliran saya kok. Biar saya disini saja, nanti kakak ipar saya nyariin saya."Jawab Dinda dengan senyum mengembang ramah.
__ADS_1
Ibu itu pun mengangguk ramah, dia kembali ke tempat duduknya semula dimana suaminya juga sudah memintanya untuk duduk kembali. Sebelum gilirannya tiba, Dinda meminta maaf terlebih dahulu kepada ibu-ibu yang sedang menunggu antrian. Dinda meminta maaf karena sudah membuat kekacauan dan keributan, beruntung sekali mereka semua memakluminya. Tidak sedikit ibu-ibu yang berbisik-bisik membicarakan ibu Rahmi.
" Giliran kamu, Dinda." Ucap Cahaya yang baru keluar.
" Iya mbak." Jawab Dinda singkat.
Dinda masuk ke ruang pemeriksaan dan gantian Cahaya yang menunggu di luar.
*******
" Alhamdulillah, terimakasih Sinta. Terimakasih kamu sudah menerima lamaranku ini. Secepatnya aku akan membawa orang tua dan keluargaku untuk melamar mu secara langsung dan resmi." Seru Ardi dengan senang.
Sore itu, Sinta sudah memberi jawaban atas lamaran Ardi. Dia menjawab sesuai dengan yang diinginkan Ardi. Sinta juga sudah memikirkan jawabannya secara matang-matang dan sudah meminta saran juga dari Dinda dan Hana. Dan akhirnya iya memutuskan iya, menerima Ardi.
" Tidak perlu mas. Aku sudah tidak mempunyai keluarga lagi, saat ini keluargaku hanya anakku yang saat ini tinggal di Jerman sedang menempuh pendidikan disana."Ucap Sinta dengan jujur.
" Lantas aku harus melamarmu secara langsung dan resmi kemana? Apa ke mantan mertua kamu?."Tanya Ardi serius.
" Jangan mas, jangan libatkan mereka. Aku tidak mau membebani mereka, mas. Aku cukup malu sama mereka, dulu aku tidak pernah bersikap baik dengan mereka. Meskipun sekarang hubungan kami baik-baik saja. Tapi aku tidak mau mereka terbebani, Mas. Saat acara pernikahan saja nanti mereka aku undang."Ucap Sinta yang memang tidak mau membebani mantan mertuanya.
" Baiklah kalau itu mau kamu. Bagaimana kalau besok malam, aku bawa ibu ku datang kerumah mu. Aku hanya punya ibu saja, papa ku sudah meninggal 4 tahun yang lalu."Ucap Ardi serius.
" Iya mas, begitu juga lebih baik."Jawab Sinta setuju dengan usul Ardi.
Kali ini Ardi memang sengaja datang kerumah Sinta sendiri tanpa mengajak Bagas. Sebab tadi Ardi tidak ada rencana untuk kerumah Sinta, tapi tidak tahu kenapa saat diperjalanan pulang dari kantor, tiba-tiba Ardi melajukan mobilnya kearah rumah Sinta. Dan ternyata dia mendapatkan jawaban dari Sinta sore ini juga.
" Kalau begitu. Nanti kita langsung tentukan tanggal pernikahan kita saja."Ucap Ardi ingin sekali secepatnya menghalalkan Sinta.
" Tapi aku tidak mau diadakan resepsi ya mas. Kita menikah secara sederhana saja, lagipula ini juga bukan yang pertama untuk kita masing-masing. Cukup acara sederhana saja, undang kerabat dan teman dekat saja, Mas." Ucap Sinta yang tidak mau mengadakan pesta.
" Bagaimana baiknya saja. Kamu jangan lupa undang keluarga mantan suami kamu. Bagaimanapun diantara kalian ada Hana yang otomatis hubungan keluarga memang masih ada. Suatu saat jika Hana menikah saudara laki-laki dari pihak ayah kandungnya lah yang bisa menjadi walinya. Jadi jaga baik-baik hubungan kekeluargaannya."Ucap Ardi mengingatkan Sinta.
* Alhamdulillah ya Allah, engkau berikan aku calon imam yang sholeh dan baik budi pekertinya. Sama sekali tidak melarang ku dan anakku untuk tetap berhubungan baik dengan keluarga mantan suamiku. Semoga Mas Ardilah jodoh ku sampai ke akhirat nanti.* Gumam Sinta dalam hatinya.
Hari semakin sore, Ardi pun pamit pulang terlebih dahulu. Dia sudah berjanji jika besok lusa akan datang bersama ibu dan keluarganya ke rumah Sinta. Dan Sinta juga sudah menyetujuinya.
__ADS_1
********