Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Rena Dan Lisa


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Malam hari sepulang Satria dari lembur, Satria mendapati Dinda sudah tertidur. Satria pulang juga sudah jam 10 malam. Satria langsung mandi, selesai mandi dan memakai baju Satria merebahkan tubuhnya disamping Dinda. Merasa ada pergerakan disampingnya membuat Dinda terbangun.


" Mas sudah pulanf?" Tanya Dinda sambil mengucek matanya.


" Iya sayang. Sudah sekarang tidur lagi saja." Ucap Satria.


" Mas tapi aku lapar. Aku tadi belum makan malam karena menunggu kamu pulang." Ucap Dinda sambil memegangi perutnya.


Haaahhhh...


Tentu saja Satria kaget mengetahui Dinda belum makan karena menunggunya pulang. Padahal Satria sendiri sudah memberi kabar Dinda jika dia akan pulang malam. Satriapun bergegas turun dari ranjang dan mengajak Dinda untuk makan malam terlebih dahulu.


" Kenapa tadi tidak makan dulu sayang. Kan mas sudah bilang kalau mas ini pulang malam." Ucap Satria lembut.


" Iya mas maaf. Pengen makan bareng kamu saja mas, tiba - tiba pengen makan telur dadar buatan kamu mas." Ucap Dinda semakin membuat Satria menggelengkan kepalanya.


" Ya sudah kamu duduk saja dulu disini biar mas buatkan telor dadar untuk kamu." Ucap Satria sambil menarik kursi makan dan meminta Dinda untuk duduk.


Dinda menurut apa kata suaminya. Dia duduk di kursi meja makan dan hanya memperhatikan suaminya yang sedang memasak telur dadar untuknya. Tidak tahu kenapa malam ini Dinda sangat ingin makan telur dadar buatan suaminya. Beruntungnya Satria sama sekali tidak menolak permintaannya.


* Kenapa malam ini mas Satria kelihtan sangat menawan dan seksi banget sih. Padahal mas satria berpenampilan seperti biasanya. Bahkan kenapa aku juga tiba - tiba berfikir mesum begini.* Gumam Dinda sambil senyum - senyum sendiri dengan mata tetap memandang kearah Satria yang sedang fokus mengocok telur.


Satria merasa ada yang aneh dengan istrinya karena tatapan mata Dinda berbeda dari biasanya. Seperti sedang menginginkan sesuatu.


" Mas " Ucap Dinda lembut di telinga Satria sampai Satria terlonjak kaget.


" Ehhh... Sayang. Kamu duduk saja, sebentar lagi matang kok telur dadarnya ini baru mau manasin minyak nya dulu." Ucap Satria.


" Aku tidak mau lagi telor dadarnya Mas, tapi aku mau sekarang kita kekamar. Aku menginginkannya sekarang juga mas." Ucap Dinda sambil tersenyum malu - malu.


Satria benar - benar heran dengan istrinya, kenapa malam ini dia sangat berbeda. Minta telur dadar tapi belum juga jadi sudah minta masuk kamar. Yang bikin Satria syok justru Dinda memintanya lebih dulu, padahal biasanya Satria yang akan mengajaknya.


" Kamu serius ? Tidak lagi bercanda kan sayang ?" Tanya Satria sambil memegang bahu Dinda.

__ADS_1


Dinda hanya mengangguk sambil mengerjapkan matanya. Tanpa menunggu lama, Satria mengangkat tubuh Dinda dan membawanya menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada dilantai dua. Satria melupakan telur dadarnya yang sudah siap tinggal dia goreng.


Sesampainya dikamar, dengan pelan Satria merebahkan tubuh Dinda dikasur. Dan mulai melancarkan aksinya, Satria semakin terperangah saat Dinda meminta untuk memegang kendali. Apapun yang dilakukan Dinda , Satria tidak menolaknya. Mereka melakukan apa yang seharusnya memang dilakukan oleh sepasang suami istri.


* Padahal tadi sepulang kerja aku memang ingin meminra jatah tapi saat masuk kamar melihat Dinda sudah tidur ya aku urungkan. Tapi ternyata nasib baik masih berpihak kepadaku. Bahkan istriku sendiri yang memintanya dan memegang kendali permainan.* Gumam Satria dengan senyum terus mengembang mengingat pertempurannya barusan.


Kini Dinda sudah terlelap karena dia kelelahan akibat pertempuran hebat dengan suaminya. Satria mencium kening Dinda lalu mengusap perut Dinda dengan lembut.


" Semoga didalam sini segera tumbuh malaikat kecil kita sayang." Ucap Satria dengan lembut .


Satria turun dari ranjang, lalu menyelimuti Dinda dengan selimut tebal. Dia sendiri kembali masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


*******


" Hari ini aku ada janji dengan teman - temanku. Kamu gantian dirumah jaga Tiara dan Gibran mas." Ucap Rena saat sedang menikmati sarapan nasi uduk yang tadi dibeli oleh Beni.


Hhhuuufffff


Helaan nafas berat terdengar keluar dari saluran pernafasan Beni. Beni tidak mau membantah apalagi bertengkar di meja makan serta dihadapan kedua anaknya. Dengan pelan Beni hanya menganggukkan kepalanya saja. Mungkin memang lebih baik Rena keluar rumah saja biar suasana rumah juga tenang, sehingga Beni bisa beristirahat tanpa gangguan dari Rena .


" Pergilah tapi pulang jangan sore - sore." Ucap Beni tanpa melihat kearah Rena.


" Aku minta uang untuk kesalon. Sudah dua minggu aku tidak perawatan, kulit wajahku mulai kusam dan tumbuh jerawat. Bahkan rambutku juga mulai lepek nih mas. Tidak banyak kok, 1 juta saja cukup untuk kesalon" Ucap Rena dengan entengnya meminta uang asala mengucap saja tanpa tahu bagaimana Beni bingung mengatur keuaangan. Sebab semakin hari Rena semakin boros, belum kedua anaknya juga masih banyak kebutuhan.


Braaakkkk


Seketika itu Rena marah dan menggebrak meja makan dengan kuat. Dia tidak perduli jika ada anaknya juga yang sedang sarapan. Rena terlihat sekali marahnya saat Beni menolak memberinya uang.


" Kamu jangan pelit kenapa sih mas? Apa uang kamu mau kamu berikan kepada wanita selingkuhan kamu itu? Hahhh... !." Bentak Rena dengan beraninya tanpa segan ada kedua anaknya.


" Sekali lagi kamu mengatakan jika aku selingkuh dengan wanita lain, aku akan membuat tuduhanmu itu menjadi kenyataan, Rena!." Seru Beni dengan mencoba mengendalikan amarahnya.


Beni segera meminta kedua anaknya untuk menghabiskan sarapannya agar bisa segera keluar dari rumah. Beni muak dengan kelakuan Rena, jadi hari ini Beni berniat membawa kedua anaknya untuk mengunjungi orang tuanya yang tinggal di desa sebelah. Sudah cukup lama Beni tidak berkunjung kerumah orang tuanya karena kesibukan pekerjaan yang membuat dia sering lelah saat pulang kerja.


Setelah anak-anaknya selesai sarapan, Beni segera mempersiapkan anaknya untuk segera diajak pergi ke rumah orang tuanya. Melihat Beni dan kedua anaknya yang sudah bersiap-siap membuat Rena memicingkan matanya, karena sebelumnya Beni memang tidak bicara jika mereka akan pergi.


" Mau ke mana kamu? Haaah... !! mau ketemu sama wanita selingkuhan kamu itu ? Kalau memang kamu mau bertemu dengan wanita selingkuhan kamu jangan pernah ajak anak-anak." Seru Rena semakin kesal.


" Terserah kamu mau bicara seperti apa yang jelas semua tuduhan kamu itu tidak ada yang benar. Aku mau membawa anak-anak ke rumah orang tuaku, karena sudah lama aku dan mereka tidak datang ke sana. Lagi pula kamu juga tidak pernah mau aku ajak ke rumah orang tuaku." Jawab Beni tidak kalah emosi dari Rena.


Beni menghidupkan motornya dan segera memanggil anak-anaknya untuk segera naik ke motor. Dia pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada Rena, dan tanpa meninggalkan uang yang diminta oleh Rena.

__ADS_1


" Aahhh sial !! Mas Beni benar-benar tidak mau memberiku uang. Lihat saja mas, sampai aku ketemu dengan wanitamu itu aku akan memberi dia pelajaran. Akan aku permalukan dia dihadapan umum. " Ucap Rena sambil mengepalkan kedua tangannya.


Tringgg


Pesan masuk di ponsel Rena , segera Rena membuka pesan itu. Ternyata pesan dari Lisa sang sahabat bodohnya.


[ Jam 10 nanti aku jemput, jangan lupa siapkan tenaga untuk menghajar pelakor itu.]


Dengan cepat Rena membalas pesan itu.


[ Ok siap. Aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah pelakor kampungan itu.]


[ Tunggu saja, sebentar lagi kamu akan bertemu dengan nya ]


[ Baiklah kalau begitu aku bersiap dulu ]


[ Ok, dandan yang cantik dan tunjukan sama pelakor itu jika kamu itu lebih dari dia.]


[ Sipp deh ]


Setelah berkirim pesan dengan Lisa, Rena masuk ke kamarnya dan mulai bersiap-siap. Hari ini Rena ingin sekali memberikan pelajaran kepada wanita selingkuhan Beni. Padahal belum tentu Beni itu berselingkuh seperti tuduhannya selama ini. Rena hanya termakan ucapan dari Lisa, padahal Beni sendiri sudah menjelaskan jika wanita itu adalah Dinda yang datang ke perusahaan ingin bertemu Satria. Beni hanya menolong mengantarkan Dinda ke ruangan Satria saja.


* Tunggu saja pelakor, aku akan memberimu pelajaran sampai kamu malu .* Gumam Rena dalam hatinya.


Waktu semakin bergulir dan sekarang sudah jam 10 pagi, mobil Lisa juga sudah berhenti di halaman rumah Rena. Tanpa menunggu lama, Rena langsung masuk ke mobil. Lisa sendiri segera mengemudikan mobilnya menuju Cafe XX di mana tempat wanita itu bekerja. Lisa juga sudah tahu jika wanita itu saat ini sudah berada di cafe.


" Kira - kira wanita itu sudah ada di Cafe belum ya Lis ? Aku takut dia pergi sama mas Beni sebab mas Beni tadi keluar. Dia beralasan mengajak anak - anak kerumah orang tuanya." Ucap Rena penuh kekhawatiran.


" Wanita itu ada di cafe kok, tadi sebelum aku kerumahmu aku sudah mengintainya terlebih dahulu. Sepertinya dia hari ini tidak dapat waktu libur jadi dia ada di Cafe. " Ucap Lisa dengan penuh percaya diri.


" Terimakasih Lis, kamu memang teman terbaikku. Kalau tidak ada kamu pasti aku tidak akan pernah tahu jika mas Beni berselingkuh." Ucap Rena penuh rasa terima kasih kepada Lisa.


" Sama-sama Ren, sudah tenang saja. Aku ini teman kamu dan aku tidak mau kamu disakiti oleh suami kamu." Jawab Lisa ok bijaksana.


Setelah 45 menit mobil yang dikendarai Lisa sudah sampai di depan Cafe XX. Lisa dan Rena segera turun dari mobil dan mencari tempat duduk yang masih kosong. Cafe terlihat sangat ramai mungkin karena hari minggu jadi banyak anak muda-mudi yang memilih menghabiskan waktunya di Cafe itu apalagi memang sebentar lagi jam makan siang.


" Kita duduk disana saja ya Ren. Tempatnya strategis dan enak untuk kita mempermalukan pelakor itu." Seru Lisa. Lisa memang tidak menyukai Dinda sejak pertama kali dia bertemu di minimarket, jadi saat dia mengetahui Dinda dia tuduhkan sebagai selingkuhan Beni, Lisapun memanfaatkan Rena untuk meluapkan amarahnya kepada Dinda.


Rena hanya mengangguk pelan sambil menyunggingkan senyum tipisnya. Dia baru ingat jika Cafe XX ini milik Dinda.


* Apa kira - kira Dinda tahu ya kalau ada salah satu karyawannya yang menjadi pelakor.* Gumam Rena dalam hatinya.

__ADS_1


*********


__ADS_2