Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Undangan dari Sinta


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Tok


Tok


Tok


Pintu kamar Dinda di ketuk dari luar oleh Nenek Murni. Nenek memanggil Dinda untuk keluar, sebab ada Sinta yang datang berkunjung.


Ceklekkk


Pintu terbuka dan terlihat Dinda tersenyum dengan nenek.


" Ada apa Nek? Apa Raja bangun ya?." Tanya Dinda serius.


" Raja masih tidur, itu di ruang tengah ada Sinta. Dia datang mencarimu, sepertinya dia ada perlu dengan kamu. Coba kamu temui dia dulu, Nak."Ucap Nenek dengan lembut.


Dinda mengerutkan keningnya, dia heran kenapa Sinta datang tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Biasanya dia akan mengirim pesan ataupun telepon.


" Maaf ya nek, jadi mengganggu istirahat nenek. Nenek repot-repot memanggil Dinda."Ucap Dinda merasa tidak enak dengan nenek.


" Tidak apa-apa. Nenek juga tadi sekalian mau pamit sama kamu, Din. Nenek mau ketemu sama teman-teman nenek. Biasa mau arisan, biarpun sudah tua tapi tetap jiwa muda dong."Ucap Nenek sambil memakai kaca mata hitamnya.


" Iya deh iya."Ucap Dinda sambil terkekeh.


Dinda dan nenek Murni beriringan menuruni anak tangga. Nenek langsung pamit dan keluar rumah.


" Mbak Sinta kok datang tidak kasih kabar dulu?." Tanya Dinda yang sudah duduk di samping Sinta.

__ADS_1


" Iya maaf sudah ganggu istirahat siang kamu. Tadi aku ke Cafe, tapi kamu tidak ada. Kata siapa aku tidak kasih tahu, aku sudah chatt dan telepon tapi tidak kamu respon."Ucap Sinta memberitahu sambil terkekeh.


Plaaakkk


Dinda menepuk keningnya sendiri, dia memang sedari tadi tidak memegang ponselnya. Dan dia juga tidak tahu dimana dia meletakkan ponselnya. Sepulang periksa kehamilan tadi dia hanya mengurung diri dikamar, bisa jadi ponselnya masih ada di dalam tas selempangnya.


" Heheee aku lupa meletakkan ponselku dimana. Oh iya ada apa mbak Sinta datang kesini, apa mau kasih undangan pernikahan?."Tanya Dinda asal bicara.


" Emm iya ini Din. Aku datang untuk mengantarkan undangan pernikahan ku dan mas Ardi yang akan dilaksanakan seminggu lagi. Hanya acara sederhana, aku harap kamu dan Satria mau datang ya."Ucap Sinta dengan serius.


" Haah seriusan mbak?." Tanya Dinda seolah tidak percaya.


Dinda mengambil undangan yang di letakkan Sinta di atas meja dan segera membukanya. Dinda tidak menyangka jika guyonan dia tadi ternyata kenyataan.


" Alhamdulillah selamat ya mbak, Sinta. Semoga acara nya lancar sampai hari H nya. Aamiin." Ucap Dinda penuh harap.


" Aamiin. Terima kasih banyak atas doa dan harapannya, Dinda. Untuk Hana, dalam minggu ini dia izin pulang. Maaf aku yang meminta Hana untuk pulang, sebab aku ingin Hana menyaksikan pernikahan ku secara langsung."Ucap Sinta merasa tidak enak sebab Hana sekolah juga semua biaya dan fasilitas dari Satria.


" Kenapa meminta maaf mbak? Tidak masalah Hana pulang , lagipula yang mau menikahkan mama kandung Hana. Pokoknya mbak Sinta tidak usah mikir yang aneh-aneh deh, bagaimanapun mbak Sinta itu lebih berhak soal Hana."Ucap Dinda dengan lembut.


" Mbak Sinta mengundang bapak dan ibu juga kan?." Tanya Dinda.


" Iya dong, Din. Bapak sama ibu, Reno sama Rena juga aku undang. Aku hanya punya kalian yang sudah aku anggap seperti keluarga ku sendiri. Jadi sudah pasti aku mengundang kalian semua. Mas Ardi juga tidak keberatan, justru dia yang nemintaku untuk mengundang kalian semua."Ucap Sinta dengan jelas.


" Sstt.. Mbak Sinta ini bicara apa sih. Kita ini memang saudara dan sampai kapanpun akan tetap menjadi saudara."Ucap Dinda lagi.


Sinta meneteskan air mata nya, dia tidak tahu lagi harus berterima kasih dengan cara apa. Terkhusus Dinda dan Satria, yang sudah mau memaafkannya dan masih mau menganggap nya saudara meskipun kesalahan masalalunya seakan tidak bisa termaafkan.


*******


Sarah uring-uringan, pertemuannya dengan seorang pria yang pernah hampir bertabrakan dengannya itu selalu membuat dia selalu ingin terus bertemu dengannya.


" Sebenarnya aku ini kenapa ya? Apa aku jatuh cinta dengan pria itu? Padahal namanya saja aku tidak tahu, tapi kenapa aku sudah sangat merindukan nya. Apa jangan-jangan pria itu pakai ajian pemikat ya? Aku benar-benar seperti orang yang gila saja."Ucap Sarah bermonolog sendiri.


Siang ini Sarah makan di cafe untuk menghilangkan penatnya. Dia terus kefikiran pria yang waktu itu pernah bertemu hanya gara-gara hampir bertabrakan. Dia berharap saat ini bisa bertemu dengan pria itu.

__ADS_1


Sepertinya dewi fortuna memang sedang berpihak kepada Sarah. Sarah melihat seorang pria yang duduk bersama seorang anak kecil di cafe tempat dia makan.


" Bukannya itu mas-mas yang aku rindukan? Hemm kira-kira dia datang sama istrinya tidak ya? Coba aku hampiri saja lah." Seru Sarah lalu berjalan mendekati Pria yang dia maksud.


Dengan langkah pasti, Sarah melangkah mendekati meja tempat sang pria dan anaknya duduk. Sarah seakan tidak sadar diri, padahal saat ini dia sedang hamil dan perutnya juga sudah mulai membuncit.


" Maaf, permisi. Apa saya boleh duduk disini?." Tanya Sarah dengan manis.


" Emm.. Bagimana ya mbak? Tapi bukannya masih banyak bangku yang kosong ya?."Ucap sang pria merasa terganggu dengan kedatangan Sarah.


" Iya sih. Sebenarnya saya hanya ingin memastikan jika mas ini pria yang pernah hampir bertabrakan mobil dengan saya beberapa hari yang lalu di jalan XX." Ucap Sarah.


Pria itupun diam dan memikirkan sesuatu, sepertinya dia juga baru menyadari jika wanita yang ada dihadapannya adalah wanita yang hampir bertabrakan dengannya.


" Oh iya. Emm bagaimana mbak? Apa ada yang perlu saya bantu?." Tanya pria itu lagi.


Anak kecil yang sedari tadi sedang sibuk dengan makanannya memandang tidak suka kearah Sarah. Sarah mencoba tersenyum ramah namu dibalas dengan tatapan tidak suka.


" Oh tidak ada apa-apa kok Mas. Saya hanya ingin berkenalan saja, siapa tahu kita jadi teman."Ucap Sarah dengan percaya dirinya.


" Tante ngapain sih duduk disini? Ganggu saja, aku tidak suka dengan tante!." Seru sang anak.


" Bagas, tidak boleh bicara seperti itu sama orang yang lebih tua."Seru sang papa.


Pria dan anak kecil itu ternyata Ardi dan Bagas, calon suami dari Sinta. Sarah tidak tahu jika pria yang dia taksir adalah calon suami rivalnya. Dulu Hakim, sekarang Ardi, dunia seakan sempit.


" Maaf ya mbak..."Ucap Ardi menjeda ucapannya.


" Sarah. Panggil saja Sarah." Ucap Sarah lalu mengulurkan tangannya.


Namun secara spontan Ardi hanya menangkupkan kedua tangannya saja. Dia tidak menjabat uluran tangan Sarah.


" Panggil saja Ardi." Seru Ardi.


* Cihhh si4l4n !! Masa cuma menjabat tangan saja tidak mau, sok suci banget sih.* Gumam Sarah dalam hatinya.

__ADS_1


*******


__ADS_2