Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Permintaan Hana


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Saat libur sekolah, Hana mencoba menghubungi Dinda Karena ada sesuatu yang ingin Hana bicarakan dengan Dinda. Tentunya Hana menemui Dinda tanpa sepengetahuan sinta , jika sinta tahu sudah pasti dia akan melarang Hana bertemu dengan Dinda. Apalagi sinta mempunyai dendam yang sudah mendarah daging kepada Dinda dan Satria.


Hana bersiap-siap menemui Dinda di cafe milik Dinda. Namun saat hana bersiap sinta masuk ke kamar hana dan menanyakan hendak kemana akan pergi. Sebab tidak biasanya Hana pergi di saat hari libur. Hari libur biasanya digunakan Hana untuk belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.


" Mau kemana kamu Hana ? tumben hari libur jam segini kamu sudah tampil beda dan rapi begini , memang ada acara apa dan dimana ?" Tanya sinta ingin tahu anaknya hendak pergi kemana.


" Hana suntuk Ma di rumah terus , sesekali hana juga pengen jalan sama temen-temen Hana. apa Mama mau ngintilin hana juga ?" Tanya hana dengan sikap acuh karena dia masih marah dengan mamanya.


" Tidak ! Ya sudah kalau kamu mau pergi. Mama minta jangan pulang sore - sore. Memang kamu punya uang ? Mama tidak punya uang untuk uang jajan kamu, minta saja sama kakek dan nenek kamu. " Ucap sinta dengan acuh lalu berlalu dari kamar Hana.


Hana menggelengkan kepalanya dengan heran melihat kelakuan ibunya yang sama sekali tidak ada rasa tanggung jawabnya terhadap anaknya sendiri. Selama tinggal dengan kakeknya, Sinta tidak pernah memperhatikan Hana apalagi memberikan hana uang jajan. Semuanya ditanggung oleh kakek dan neneknya, dan uang kakek neneknya juga dia dapat dari Dinda dan Satria.


Setelah selesai bersiap - siap hana keluar kamar dan menemui kakeknya yang ada di teras belakang. Hana meminta izin pada kakeknya jika dia ingin keluar rumah. Sang kakek mengizinkan , dengan catatan Hana tidak pulang terlalu sore. Sebelum Hana pergi kakek memberikan uang 100 ribu untuk ongkos hana. Siapa tahu Hana mau membeli makanan atau jajanan.


" Terima kasih ya kek " Ucap hana sembari mencium tangan kakeknya.


" Iya Nak, pulang jangan sore - sore ya. Kamu sudah izin belum sama mama kamu ?" Tanya pak karim ingin hana berpamitan dengan mamanya terlebih dahulu.


" Mama tadi sudah tahu kok kek kalau hana mau pergi. Tapi ya begitu dia cuek saja tidak mau memberi hana uang jajan. Padahal hana ini anaknya tapi mama pelit banget. Ya susah hana berangkat ya kek, Assalamualaikum. " Pamit hana lagi .


" Waalaikumsalam, hati - hati hana " Ucap pak karim mengingatkan.


Hana mengangguk dan mengcungkan jempol tangannya ke arah sang kakek. Sebenarnya Hana itu anak yang ceria, baik dan penurut . Namun setelah melihat kelakuan papa dan mamanya dia menjadi anak yang pendiam dan tertutup. Hanya kepada orang-orang tertentu saja hana bisa bersikap ceria.


Ojek online yang dipesan Hana sudah menunggu sedari tadi di depan rumah Pak Karim. Hana menghampiri tukang ojek itu dan meminta maaf terlebih dahulu karena terlalu lama menunggu.


" Sesuai aplikasi ya pak " Ucap Hana kepada tukang ojek.


" Baik neng " Jawab tukang ojek dengan ramah.


Setelah menempuh perjalanan hampir 40 menit, sepeda motor yang dikendarai tukang ojek itu sudah berhenti tepat di depan Cafe milik Dinda. Setelah membayar ongkos ojeknya Hana masuk ke cafe dan langsung menuju ruangan Dinda. Sebelumnya Dinda memang sudah berpesan agar Hana langsung menuju ruangannya.


Tok Tok Tok


Hana mengetuk pintu ruangan Dinda , dan dari dalam terdengar suara dinda menyuruhnya untuk segera masuk.


" Assalamualaikum tante Dinda " Sapa hana dengan ramah.

__ADS_1


" Waalaikumsalam keponakan tante yang cantik . Hana duduk dulu ya tante menyelesaikan ini sebentar 10 menit lagi. " Ucap dinda dengan ramah.


" Iya tante " Jawab hana dengan sopan.


Hana duduk di sofa sembari memperhatikan sekeliling ruangan pribadi dinda. Hana takjub dengan ruangan dinda yang terlihat nyaman dan elegant. Membuat betah siapapun yang berada didalamnya. Seorang pelayan masuk dan membawakan makan dan minuman untuk hana dan dinda.


Kehidupan itu seperti roda yang berputar. Kadang kala kita diatas dan kadang kala nya juga kita dibawah. Ada saatnya kita terpuruk ada saatnya juga kita untuk bangkit. Terkadang air mata itu mengalir karena bersedih, namun ada saatnya air mata haru jatuh karena kebahagiaan. Masa inilah yang saat ini pantas digambarkan untuk dinda, dulu dia selalu dihina karena kemiskinannya, dan sekarang dipuji karena kekayaannya.


Dinda sudah selesai dan duduk disamping hana, dinda mulai menanyakan soal hal yang akan dibicarakan oleh Hana.


" Hana sampai datang menemui tante seperti ini pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada tante ? Bicaralah tante akan mendengarkannya dan jangan pernah takut untuk menyampaikan apa yang menjadi keluh kesahmu. " Ucap dinda dengan lembut.


" Emm... tante kira-kira Papanya Hana masih lama tidak menjalani proses hukumnya?" Tanya hana tanpa ragu.


Dinda sudah menebak jika hana akan membicarakan soal Papanya. Bagaimanapun seorang anak pasti ingin dekat dengan orang tuanya.


" Soal itu tante tidak tahu hana, nanti coba tante bicarakan sama Om Satria dulu ya . Memangnya kenapa Hana tanya seperti itu apa anda mau papa hana dibebaskan ? Jikka memang iya, nanti tante Dinda akan bicara sama Om Satria . Agar om Satria mau meringankan hukuman papanya Hana. Dan sebisa mungkin papanya Hana akan cepat bebas. " Ucap dinda yang memang merasa kasihan dengan dinda.


" Tidak Tante ! Hana datang ke sini bukan meminta Papa untuk segera dibebaskan. Tetaapi Hana hanya mau bilang hukum saja papa sesuai prosedur yang ada. Jangan Karena papa itu kakak tante jadi Om Satria memberikan keringanan. Hana mau papa menyadari kesalahannya dan mempertanggung jawabkan kesalahannya tante. " Ucap hana dengan tegas tanpa ada keraguan sedikitpun.


Deg...


Hana kaget dengan pernyataan Hana. Bagaimana bisa seorang anak malah lebih setuju papanya dihukum daripada dibebaskan. Segitu buruknya kah sosok rudi dan sinta dimata hana ? Dinda bisa melihat keseriusan di mata Hana.


Hana pun menceritakan bagaimana tidak sukanya dia terhadap sifat dan sikap buruk mama dan Papanya. sebagai anak Hana merasa malu dengan sikap kedua orang tuanya yang sombong, arogan dan tidak pernah peduli dengan orang lain. Bahkan selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu. Bahkan Hana juga cerita tentang korupsi yang dilakukan ayahnya itu sangat membuat dia terpukul dan merasa malu. Beruntung saja saat itu Satria tidak mengusut korupsi Rudi dan Reno sehingga Hana tidak semakin malu dengan kelakuan papanya.


" Hana hanya ingin mama dan papa itu menyadari kesalahannya Tante. Apalagi mama sampai saat ini masih saja menyalahkan om Satria dan tante atas apa yang dialami papa. Jadi Hana minta biarkan saja papa dipenjara sampai dia sadar atas semua kesalahannya " Ucap Hana dengan sangat yakin.


" Baiklah nanti Tante bicara sama Om Satria dulu ya Hana. Proses hukum ini semua Om Satria yang mengurusnya , tante dinda hanya tahu sedikit saja . Oh iya sekarang sekolah kamu bagaimana Hana ? tetap mendapatkan peringkat kan ? " Tanya dinda mencoba mengalihkan pembicaraan karena dinda tidak mau hsna terus - terusan membicarakan soal orang tuanya.


" Alhamdulillah sekolahan Hana baik tante. Tante ini boleh aku makan kan ?" Tanya hana sambil nyengir kuda.


Dinda mengangguk dan tersenyum hangat kearah hana. Meskipun tadi bicara yang sedih - sedih kini hana sudah kembali ceria. Memang ceria adalah ciri khas hana, hanya saja dia memang kadang suka diam sendirian.


Baru saja Hana dan Dinda mau makan siang , dari arah luar pintu ruangan Dinda, terdengar keributan yang memanggil-manggil Dinda dan Hana.


" Dinda... Dinda ! Keluar kamu, jangan kamu racuni fikiran Hana ! Hana itu masih anak - anak dan tidak tahu apa-apa. Hana keluar nak, ini mama. Kamu jangan mau dekat - dekat dengan Dinda. Dinda itu orang jahat , dia dan suaminya sudah memenjarakan papa kamu. " Ucap sinta dengan lantang .


Hana dan Dinda hanya bisa saling melempar pandangan. Mereka tidak menyangka jika sinta tahu bahwa Hana ada di cafe Dinda. Keributan dan fitnah apalagi yang akan dilakukan oleh Sinta.


" Hana makan saja, biar tante dinda yang menemui mama kamu. Memangnya tadi hana tidak bilang sama mama kalau hana mau menemui tante ?" Tanya dinda ingin tahu.


" Mama tahu hana keluar, tapi mama tidak tahu jika hana mau menemui tante. Maafkan Hana ya tante, gara-gara Hana datang kemari mama juga ikut datang dan marah-marah. Sehingga membuat keributan di cafe tante. Hana tidak tahu jika mama akan mengikuti Hana, maaf. " Ucap hana penuh sesal sambil menundukkan kepalanya.


Dinda hanya tersenyum, diapun bangkit dan berjalan mendekati pintu dan membukanya. Didepan pintu sudah berdiri Sinta yang dibelakangnya ada dua karyawan cafe yang mencoba menghalau sinta. Dinda meminta karyawannya untuk pergi dan meninggalkan sinta.

__ADS_1


" Dasar adik ipar tidak tahu diri ! Gara-gara kamu anakku sekarang jadi pembangkang , pasti kamu yang sudah mencuci pikiran anak saya. Kamu jahat Dinda kamu kejam ! Kalian sudah memenjarakan suami saya dan sekarang anak saya yang kalian cuci pikirannya. Dimana akal sehat kalian ? Hahh..." Bentak sinta dengan kesal.


" Mama !! jangan buat keributan di sini ma. Tante Dinda tidak pernah mencuci pikiran Hana. Hana sendiri yang datang ke sini menemui tante Dinda. Hana muak dengan sikap mama dan papa. Hana mau mama itu berubah , Hana tidak akan seperti ini jika mama dan papa memberikan contoh yang baik terhadap hana. " Seru hana ikut menghampiri mamanya yang masih saja berada didepan pintu ruangab dinda.


" Kamu lihat Dinda ? Lihat ... !! Anakku jadi pembangkang seperti ini, ini semua pasti gara-gara kamu. Kamu yang sudah mengajarkan dia membangkang kepada orang tuanya. " Ucap sinta lagi dengan marah.


Dinda masih diam tidak mau menanggapi ucapan sinta. Dinda memilih berjalan masuk dan duduk kembali di sofa dimana tempat dia duduk tadi bersama Hana. Mau tidak mau sinta juga ikut masuk dan duduk di sofa yang sama begitupun dengan Hana.


" Asal mbak Sinta tahu, aku sama sekali tidak pernah mengajarkan keburukan kepada Hana . Aku tidak pernah mencuci fikiran hana. Aku bukan mbak Sinta yang justru mengajarkan keburukan kepada anaknya. Jadi jangan salahkan Hana, jika Hana membangkang seperti itu mbak " Ucap dinda tetap membela diri.


" Haii... Dinda ! Tahu apa kamu soal anak ? Tahu apa kamu soal mendidik anak ? Kamu itu belum punya anak, atau jangan-jangan kamu itu mandul?. Karena sudah 2 tahun menikah tapi belum ada tanda tanda hamil. " Ucap Sinta dengan marah.


Plaakk Plaakk


Dinda sudah hilang kesabarannya sehingga dua tamparan mendarat di pipi Sinta. Hana juga tidak menyangka jika mamanya akan searogan itu. Apalagi mengatakan Dinda wanita mandul, wanita manapun pasti akan marah dan tersinggung jika dihina seperti itu.


" Selama ini aku cukup bersabar mbak menerima hinaan dan cacian dari kalian semua . Terutama dari kamu mbak !! kita sama-sama perempuan , bagaimana jika kata-kata tadi aku balikan kepada mbak Sinta ? Aku katakan mbak sinta wanita yang mandul. Bagaimana mbak ? Yang pasti mbak juga akan bersedih kan ?" Tanya dinda dengan nafas tersengal - sengal.


Sinta memegangi pipinya yang terasa panas dan sakit akibat tamparan dari Dinda. Sedangkan mata Sinta menatap tajam ke arah Dinda, sorot mata penuh rasa kebencian.


" Kamu sudah berani menamparku Dinda ? Lihat saja suatu saat nanti kamu pasti akan merasakan apa yang saat ini aku rasakan . Dan tamparan ini akan membekas di hatiku Dinda. " Seru sinta dengan tegas.


" Hana pulang ! Mama tidak akan pernah lagi mengizinkan kamu untuk keluar rumah, kecuali hanya untuk bersekolah. Pulang sekarang Hana !" Teriak Sinta dengan lantang.


Sinta sudah tersulut amarah, tanpa ragu sinta menarik kasar tangan hana keluar dari ruangan dinda. Dinda sebdiri tidak berani mencegah sinta , bagaimanapun sinta ibu kandungnya Hana. Dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya Hana akhirnya ikut pulang bersama Sinta.


Hari ini sudah kesekian kalinya Hana malu atas perlakuan mamanya yang tidak ada etika dan sopan santun. Datang ketempat usaha orang langsung marah - marah tidak jelas. Sepanjang jalan keluar semua pasang mata memandang kearah hana dan sinta. Sinta tidak perduli dengan pandangan orang - orang yang ada di cafe itu .


* Semoga saja mbak sinta tidak bersikap kasar terhadap hana. Apalagi hana itu masih anak - anak, baru berusia 15 tahun. Kasihan sekali kamu hana, semoga kamu bisa lebih sabar menghadapi mama mu. Aku harus menghubungi bapak, agar bapak bisa melindungi Hana * Gumam dinda dalam hatinya.


Dinda mengambil ponselnya yang ada diatas meja kerjanya, dan langsung menghubungi pak karim dan menceritakan semuanya yang tadi terjadi di cafe.


[ Baik dinda, terimakasih atas informasinya. Jika sinta sampai menyakiti Hana, papa sendiri yang akan menghajar Sinta. ]


[ Bapak jangan ikut emosi, tolong kendalikan amarah bapak. Ingat pesan dokter pak, Kalau ada apa - apa dengan hana segera hubungi dinda ya pak. ]


[ Iya din. ]


[ Assalamualaikum pak.]


[ Waalaikumsalam ]


********


**********

__ADS_1


__ADS_2