
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Sudah hampir 1 minggu Sarah tidak diketahui keberadaannya oleh Sinta dan Hakim. Mereka tidak pernah absen untuk datang kerumah Sarah, namun tetap saja hasilnya nihil. Usaha Sinta pun mulai sepi, sebab pra pria selalu mencari Sarah dan mau dilayani oleh Sarah. Sarah memang pembawa hoki bagi usaha Sint, semalam Sarah bisa melayani 2 pria hidung belang dengan bayaran yang cukup besar. Untuk Sarah di hargai paling rendah 10 juta.
Selama ini Sarah sudah banyak menghasilkan uang untuk Sinta. Sinta dan Hakim tetap mencari keberadaan Sarah dan pada akhirnya mereka melaporkan berita orang hilang ke kantor polisi.
Siang itu, sekitar jam 1 siang Sinta dan Hakim datang ke kantor polisi untuk melaporkan hilangnya Sarah.
"Mas, sekalian jenguk orang tua kamu saja kalau begitu?."Seru Sinta.
"Orang tua ku tidak disini, Sayang. Dia ada di rutan kantor XX sana, soalnya mereka sudah selesai sidang dab tinggal menjalani masa tahanan nya saja. Tahanan yang disini biasanya hanya kelas rendah, kalau mama dan papakan memang kasusnya besar jadi dia sudah tinggal di rutan."Jawab Hakim menjelaskan.
"Oh begitu."Seru Sinta hanya ber oh ria saja.
Hakim dan Sinta sedang menunggu di ruang tunggu, sebab di ruang lapor masih ada orang yang sedang melaporkan kehilangan motor. Sehingga Sinta dan Hakim menunggu antirian. Setelah menunggu 30 menit Sinta dan Hakim pun mendapat gilirannya. Mereka masuk dan mulai menyampaikan laporan yang akan mereka utarakan.
"Jadi bapak dan ibu ingin melaporkan berita orang hilang?." Tanya polisi memastikan.
"Iya pak. Sudah seminggu ini teman saya itu tidak ada kabar, ponselnya juga tidak aktif. Jika dia pergi pasti dia akan bilang sama saya, sebab dia juga kerja sama saya pak. Tolong cari teman saya ya pak, sebab dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi."Ucap Sinta mendramayisir keadaan agar laporannya segera diproses.
"Baik, ibu sebutkan saja ciri-ciri dan data teman ibu yang hilang itu. Saya akan ketik sebagai surat laporannya terlebih dahulu."Ucap pak polisi dengan ramah.
Sinta menyebutkan nama Sarah, data diri serta ciri-ciri Sarah. Setelah selesai diketik oleh polisi, polisi itupun meminta foto Sarah agar memudahkan untuk proses pencariannya.
__ADS_1
"Ini fotonya ?."Tanya polisi itu memandang kearah Sarah dan Hakim secara bergantian.
Polisi itu merasa tidak asing dengan wanita yang ada di dalam foto yang ada ditangannya. Polisi itupun yakin wanita dalam foto itu adalah Sarah, salah satu tahanan wanita yang ada di penjara polsek tempat Sinta membuat laporan.
"Iya pak."Jawab Sinta dengan singkat.
"Kalau wanita ini saya tahu ada dimana, apa kalian tidak tahu jika teman kalian itu saat ini ada disini? Dia ada di penjara sini atas kasus mencoba mencelakai seorang wanita hamil sampai wanita itu melahirkan secara prematur."Ucap Pak polisi menjelaskan.
Haaaahhhhh
Sinta dan Hakim saling melemapar pandangannya, dia berhari-hari mencari keberadaan Sarah namun ternyata Sarah ada di penjara. Sama sekali tidak pernah terlintas didalam pikiran Hakim dan Sinta.
"Bapak serius ? Apa hanya mirip saja? Kalau memang teman saya ada disini, tolong antarkan saya menemu dia pak."Seru Sinta.
"Baiklah. Nanti biar kalian diantar oleh teman saya."Jawab polisi itu dengan tegas.
Sinta dan Hakim akhirnya di antarkan untuk menemui Sarah. Mereka berdua kini ada di ruang tunggu khusus untuk menunggu dan menemui narapidana. Tidak sampai 5 menit Sarah sudah ada diantara Hakim dan Sinta.
"Berhari-hari kami mencari mu, ternyata kamu ada disini. Sebenarnya apa yang terjadi? Sampai kamu mendekam dipenjara seperti ini?." Tanya Sinta langsung pada pokok permasalahan yang dihadapi oleh Sarah.
Hhhuuuuffff
Terdengar Sarah menghela nafas dengan berat, Sarah harus menceritakan kejadiannya kepada Sinta dan Hakim agar mereka mau membantu mengeluarkannya. Sarah sudah tidak tahan tidur didalam sel tahanan yang hanya beralaskan kasur lantai yang tipis tanpa ada bantal dan guling.
"Semua ini gara-gara Satria dan Dinda. Mentang-mentang mereka punya uang, mereka bisa seenaknya memenjarakanku. Padahal masalahnya hanya sepele dan tidak terjadi apa-apa dengannya."Seru Sarah menganggap apa yang dia lakukan adalah hal dan masalah yang kecil.
"Satria? Kamu cari masalah dengan Satria?."Tanya Hakim tidak habis fikir. Sudah berapa kali dia mengingatkan jangan cari masalah dengan Satria kalau tidak mau semakin runyam.
"Memangnya apa yang kamu lakukan?."Tanya Sinta ingin tahu apa yang terjadi.
__ADS_1
"Aku tidak sengaja menabrak Dinda sampai Dinda terjatuh, lalu perutnya sakit. Kabarnya dia masuk rumaj sakit dan melahirkan prematur. Tapi itukan tanpa aku sengaja, tapi mereka justru memenjarakanku. Sekarang aku mohon sama kamu, Sinta. Tolong kamu keluarkan aku dari sini, aku tidak mau dipenjara."Seru Sarah bercerita bohong sambil memelas agar Sinta maupun Hakim iba dan mau mengeluarkan dia dari penjara.
Sinta dan Hakim dilema, jika dia mengeluarkan Sarah dari penjara pasti suatu saat nanti akan berurusan dengan Satri. Akan tetapi jika tidak di keluarkan, Sinta juga yang akan rugi. Sebab para pelanggannya selalu saja mencari Sarah dan tidak mau diganti dengan yang lainnya.
"Memang kamu punya uang?."Tanya Hakim dengan ketus.
"Uang kalian pasti banyak, apalagi selama ini aku sudah menghasilkan uang banyak untuk kalian. Jadi sekarang kalian harus berkontrubusi untuk aku dong, dengan cara membebaskan aku aku menjamin aku keluar dari penjara ini. Lagipula, pasti kalian juga sangat membutuhkan aku kan untuk usaha kalian."Seru Sarah sedikit berbisik agar tidak didengar oleh polisi yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka duduk.
"Tapi menjamin kamu bebas itu butuh uang banyak, Sarah. Pasti butuh sampai 200 juta, aku punya sih uang segitu. Tapi sayang saja kalau uang 200 juta aku keluarkan secara cuma-cuma untuk kamu."Seru Sinta tersenyum licik kearah Sarah.
"Kurangajar kamu, Sinta. Kamu perhitungan sekali dengan ku, apa kamu tidak ingat jika aku ini setiap malamnya bisa menghasilkan uang antara 10 sampai 50 juta. Kamu tidak perlu takut, anggap saja itu hutang ku. Dan jika aku sudah keluar nanti pasti akan aku bayar. Dengan cara aku cicil seperti biasa, tentunya kamu tidak akan pernah rugi."Seru Sarah mencoba menyakinkan Sinta agar mau menjaminnya.
Sinta belum bisa memastikan bisa atau tidak dia mengeluarkan Sarah dari penjara. Bukan masalah uang, tetapi masalahnya ada dengan Satria. Sinta hanya tidak mau jika Satria mengganggu dan menghancurkan usahanya.
"Bukan masalah uang nya, Sarah. Akan tetapi Satria ! Aku tidak mau Satria tahu jika aku yang menjamin kebebasan kamu. Aku tidak mau Satria menghancurkan usaha ku."Seru Sinta menjelaskan sedikit berbisik.
"Satria itu nanti yang akan menjadi urusanku, yang penting sekarang kalian bebaskan aku dulu. Sebab setelah keluar dari penjara ini, aku akan memberi Satria perhitungan."Seru Sarah sembari mengepalkan tangannya.
Polisi menghampiri Sarah untuk mengantarkannya kedalam sel penjara lagi, sebah waktu yang diberikan sudah habis. Perbincaraan mereka terpaksa terhenti sebelum ada kesepakatan iya atau tidak dari Sinta. Sinta dan Hakim juga ikut keluar dari kantor polisi, mereka segera meninggalkan kantor polisi dimana tempat Sarah sipenjara.
"Menurut kamu bagaimana, Mas?."Tanya Sinta meminta pendapat dari Hakim.
"Terserah kamu saja."Jawab Hakim tidak tahu harus menjawab apa.
"Dimintain pendapat kok malah jawabnya terserah. Memangnya kamu tidak kasihan melihat Sarah terus mendekam dalam penjara. Bukannya selama ini kalian masih berhubungan kan?." Seru Sinta penuh selidik.
"Jangan memulai, Sin. Aku hanya khilaf, semua itu tidak akan terjadi lagi. Kita makan siang dulu ya, perutku sudah lapar sekali, ini bukan makan siang lagi. Sudah mau jam 3 ya sama saja makan sore."Seru Hakim sambil terkekeh.
Sinta diam dan tidak mau menjawab apa yang sudah dikatakan oleh Hakim. Dia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Antara iya atau tidak untuk membebaskan Sarah dengan uang jaminan.
__ADS_1
***********