Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Wanita masalalu


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Cahaya panik melihat suaminya yang luka-luka, bahkan ada beberapa yang diperban. Dibagian kepala ada, dilutut juga ada. Cahaya mengesampingkan fikiran negatifnya, saat yang penting suaminya, Reno.


" Mas kamu kenapa bisa seperti ini? Sedari sore aku menghubungi mu tapi tidak kamu angkat, terakhir justru tidak aktif. Aku telepon Chika ksta nya mas sudah pulang dari sore, tapi kenapa jadi seperti ini?." Pertanyaan beruntun terus Cahaya lontorkan.


Melisa sangat merasa bersalah sudah membuat keluarga Reno khawatir. Semua itu gara-gara dia yang mengantuk namun memaksakan untuk mengendarai mobil sendiri. Dan akhirnya terjadilah kecelakaan itu yang mengakibatkan tabrak lari.


" Mas tadi kecelakaan kecil saat jalan pulang dek."Jawab Reno dengan pelan sambil menahan kakinya yang terasa sakit.


" Maaf ya pak, bu. Saya Melisa, yang tadi menabrak mas Reno. Sekali lagi saya meminta maaf."Ucap Melisa dengan tulus.


Cahaya langsung memandang ke arah Melisa, dia ingin memarahi Melisa karena sudah membuat suaminya celaka. Namun dengan cepat, Reno menggenggam tangan Cahaya dan menggelengkan kepalanya. Reno tidak mau membuat Melisa semakin merasa bersalah, Melisa sudah cukup baik dengan sudah bertanggung jawab atas perbuatannya.


" Jadi tadi Reno tertabrak mobil kamu?." Tanya ibu Rahayu memperjelas.


" Iya bu. Maaf, saya tadi tidak sengaja."Ucap Melisa lagi.


" Kenapa tidak dirawat saja sih mas, kamu sepertinya kesakitan banget loh ini. Sampai jalan saja tidak bisa sendiri."Seru Cahaya yang sebenarnya dia kesal karena Reno menahan nya untuk tidak memarahi Melisa.


" Mas tadi sudah dibawa kerumah sakit dek. Ini sudah di perban juga, dan juga sudah dibawakan obat. Cuma ini kaki kiri mas, sepertinya harus di urut. Dia tidak luka tapi sakit banget untuk jalan dan rasanya kaki banget. Apa mungkin kesleo, jadi perlu di urut untuk menyembuhkannya."Seru Reno sembari menggerak-gerakkan kaki kirinya.


Pak Karim langsung keluar rumah memanggil tukang urut yang rumahnya ada di paling ujung. Cahaya masih melirik kesal kearah Melisa, tidak tahu kenapa Cahaya ingin memarahi Melisa. Padahal biasanya Cahaya orang yang sabar dan tidak gampang marah.


Hormon kehamilannya sepertinya membuat dia sedang tidak baik-baik saja. Rasanya ingin marah terus.


" Mas tadi berdua saja sama, mbak Melisa?."Tanya Cahaya.


" Iya dek. Mas mau sama siapa lagi, mau pesan taksi juga ponsel mas mati. Mas tadi keluar dari rumah sakit dibantu perawat dengan kursi Roda, sampai mas masuk mobil."Jawab Reno menjelaskan secara detail agar istrinya itu tidak salah paham.


Reno tahu jika saat ini, Cahaya sedang cemburu. Istri mana yang tidak cemburu melihat suaminya pulang dengan keadaan terluka dan di antarkan oleh wanita cantik dan putih seperti Melisa. Namun secantik apapun Melisa, Reno tidak akan tergoda. Di hatinya hanya ada Cahaya seorang, cinta nya dunia akhirat.


" Emm, kalau begitu saya permisi dulu. Soalnya juga sudah semakin malam. Insya Allah besok saya akan datang lagi untuk melihat keadaan mas Reno dan menyelesaikan soal motor mas Reno yang ada di bengkel."Ucap Melisa berpamitan.


" Melisa, kamu tinggal dimana? Apa kamu sendirian?." Tanya ibu Rahayu.


" Saya tinggal di daerah XX bu." Jawab Melisa.


" Itu lumayan jauh, apa kamu berani pulang sendiri Melisa. Atau kalau mau kamu menginap saja disini, daerah XX itu hampir 1 jam perjalanan loh dari sini. Belum lagi kalau macet, ini juga sudah jam setengah sepuluh." Ucap Cahaya yang cepat sekali dia berubahnya.


Tadi dia berharap, Melisa cepat pulang. Namun sekarang dia justru menawarkan Melisa untuk menginap di rumah. Reno sendiri kaget dan heran dengan sikap sang istri.

__ADS_1


* Wanita hamil itu memang aneh ya, bikin bingung juga. Tadi bilang A dan sekarang sudah B, nanti pasti sudah ganti lagi.* Gumam Reno dalam hati.


" Maaf mbak, tidak perlu dan terima kasih atas tawarannya. Kalau begitu saya permisi, mari Assalamualaikum."Ucap Melisa dengan ramah dan sopan.


Terlihat sekali jika Melisa adalah wanita yang baik dan bertanggung jawab. Padahal tadi bisa saja dia melarikan diri saat menabrak Reno, namun Melisa justru menghampiri Reno dan membawanya kerumah sakit.


" Waalaikumsalam." Jawab Reno dan lainnya.


Baru beberapa menit Melisa meninggalkan rumah, Pak Karim datang dengan membawa mbak Sarmo. Tukung urut yang terkenal sampai kedesa - desa tetangga.


" Aaaoowww sakit, sakit mbah." Teriak Reno saat mbak Sarmo mulai mengurut kakinya.


" Sudah diam saja, kamu mau sembuh tidak? Ini itu kesleo, kalau tidak cepat di urut justru akan semakin sakit dan kamu semakin lama tidak bisa jalan."Ucap mbah Sarmo memarahi Reno.


" Iya mbah tapi pelan-pelan, ini sakit sekali." Ucap Reno sambil memegangi kakinya.


" Kalau tidak mau sakit ya tidak usah di pijit. Sudah diam saja kamu, tahan dulu sebentar."Seru mbah Sarmo lagi.


Tangan mbah Sarmo mulai memijit lagi, Reno masih bisa menahannya saat yang dipijit bukan bagian yang sakit. Tapi saat bagian yang sakit di pijit, Reno kembali teriak-teriak. Rasa sakitnya sampai ke ubun-ubun, dan Reno tidak bisa menahannya.


Aduhhh Aduhhh


Reno terus, mengaduh kesakitan namun mbah Sarmo terus memijit kaki Reno. Setelah 10 menit mbah Sarmo sudah menghentikan pijitannya.


" Coba di gerak-gerakkan dan dibawa berdiri masih sakit apa tidak?." Seru mbah Sarmo.


Reno pun menuruti ucapan mbah Sarmo, Reno menggerakkan kakinya lalu dia berdiri. Benar saja, rasa sakitnya sudah berkurang dan dia juga bisa berjalan meskipun belum sempurna. Lagi pula memang lutut dan betisnya ada yang lecet-lecet bahkan ada yang di perban jadi buat berjalan juga belum maksimal.


" Hemm besok sore ulangi sekali lagi pijitnya, biar benar-benar sembuh. Ya sudah aku mau pulang dulu, Karim antarkan aku pulang lagi." Seru mbah Sarmo.


" Tidak minum kopi dulu mbah?." Seru Cahaya.


" Tidak perlu, mbah sudah mengantuk."Jawab Mbah Sarmo.


Pak Karim segera mengantarkan mbah Sarmo pulang lagi kerumahnya.


******


Kabar Reno yang mengalami kecelakaan sudah di ketahui oleh Satria dan Dinda. Mereka pun datang kerumah pak Karim untuk melihat keadaan Reno. Beni dan Rena juga ada di rumah pak Karim, berhubung hari libur jadi mereka semua bisa datang untuk menjenguk Reno.


" Terus yang menabrak mas Reno mau tanggung jawab tidak?." Tanya Dinda.


" Alhamdulillah, orangnya baik dan mau bertanggung jawab. Motor mas juga masuk bengkel dan dia yang akan menanggung biaya perbaikan. Rumah sakit kemarin juga sudah dia kok yang bayarin."Jawab Reno dengan jujur.


Cahaya datang membawakan minuman dan cemilan untuk teman ngobrol mereka. Sedangkan anak-anak jangan ditanya lagi, pasti mereka sudah bersama Joni bermain di halaman belakang. Halaman belakang sudah di sulap arena bermain yang aman untuk anak-anak oleh Reno. Dia ingin cucu-cucu orang tuanya saat datang bisa berkumpul dan bermain disana.


" Raja mana, Din?." Tanya Rena yang baru saja masuk, sepertinya Rena dari warung. Terlihat dia membawa sekantong plastik belanjaan.

__ADS_1


" Sama Joni mbak. Kenapa mencari Raja?." Tanya Dinda.


" Oh ya sudah kalau sama Joni. Pasti juga ada Gibran sama mereka, biasalah Gibran sudah kangen sama Raja." Seru Rena menjelaskan.


" Sudah di urut mas?."Tanya Beni.


" Sudah, rasanya sakitnya sampai ubun-ubun ben. Malah lebih sakit yang diurut ini daripada yang nyata terlihat terluka. Pokoknya gak lagi-lagi di urut deh, tapi nanti sore masih harus urut sekali lagi." Seru Reno dengan lesu.


Di saat mereka semua sedang asik bernincang, tiba-tiba ada mobil hitam memasuki halaman rumah pak Karim. Reno dan Cahaya sudah tahu jika itu pasti mobilnya Melisa. Sebab sama dengan mobil yang semalam dipakai mengantar Reno.


Melisa turun dari mobil dengan membawa sekantong plastik warna putih yang isinya buah tangan untuk keluarga Reno. Melisa melirik ke arah mobil Satria dan mobil Beni yang terparkir di samping mobilnya semua.


" Hemm kok ada mobil? Apa mungkin ada saudaranya yang datang. Kira-kira sopan tidak ya aku berkunjung. Tapi lebih tidak sopan lagi kalau aku malah pergi, sedangkan mereka sudah tahu jika aku datang. Emm aku masuk sajalah, jika memang didalam ramai, aku tidak perlu berlama-lama."Ucap Melisa pada dirinya sendiri.


Melisa melangkah mendekati pintu utama, meskipun ada rasa canggung Melisa tetap bersikap sewajarnya.


" Assalamualaikum." Seru Melisa dengan sopan.


" Waalaikumsalam." Jawab semua orang yang ada di dalam rumah itu.


Melisa masuk kerumah dengan senyum ramah, namun pandangan maranya tiba-tiba tertuju pada satu orang yang mengingatkan dirinya pada masalalunya.


* Satria.* Gumam Melisa dalam hatinya.


* Melisa.* Hal yang sama juga di alami oleh Satria. Dia bergumam dalam hatinya sendiri.


Sosok Melisa, seorang wanita yang pernah mengisi hatinya di masalalu. Satria dan Melisa sama-sama tidak pernah menyangka bisa bertemu kembali.


* Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi. Aku sekarang sudah punya Dinda dan selamanya hanya Dinda wanita yang akan menemani hidupku. Melisa hanya masalaluku, meskipun ada hal yang sampai sekarang belum terselesaikan.*Gumam Satria dalam hatinya.


Melisa gugup dan canggung saat melihat ada Satria di antara keluarga Reno. Jantungnya berdegup lebih kencang, bahkan seakan melompat dari tempatnya.


" Mbak Melisa sini gabung sama yang lainnya. Bisa sekalian berkenalan sama keluarga mas Reno." Seru Cahaya menyambut Melisa dengan ramah.


" Ohh. Emm iya." Jawab Melisa gugup.


* Ya Tuhan.. Kenapa aku bertemu dengan Satria disini. Aku memang ingin sekali bertemu dengan ya, namun tidak dirumahnya mas Reno begini.* Gumam Melisa.


Melisa duduk tidak jauh dari Satria, Melisa sama sekali tidak berani menatap wajah Satria. Dia takut tidak bisa mengendalikan hatinya.


" Mbak Melisa ini Rena, adik nya mas Reno dan ibu Beni suaminya Rena. Dan yang sedang hamil ini namanya Dinda, dia adik paling bontot dan yang di sebelahnya itu Satria suami dari Dinda. Kalau bapak dan Ibu semalam sudah kenalkan?." Tanya Cahaya sambil terkekeh.


Melisa hanya mengangguk dan tersenyum saja. Hatinya sangat hancur saat tahu ternyata wanita yang ada di samping Satria adalah istrinya. Dia mengira, Satria hanya berkunjung karena dia teman Reno. Ternyata Satria adalah adik iparnya Reno.


" Haii saya Melisa, senang bisa berkenalan dengan kalian semua."Ucap Melisa tersenyum lalu sekilas melirik Satria.


" Salam kenal juga mbak, Melisa. Namanya cantik secantik dengan orangnya." Ucap Dinda memuji Melisa.

__ADS_1


* Kamu juga cantik, sehingga kamu bisa meluluhkan hatinya Satria. Aku tahu, Satria itu sangat susah jatuh cinta. Kamu cantiknya sempurna, Dinda.* Gumam Melis dalam hati.


*************


__ADS_2