Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Masa hukuman


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Hari ini putusan persidangan untuk kedua orang tua Satria. Satria hanya menyimak semuanya dari layar televisi yang mana persidangan kedua orang tuanya memang di siarkan secara langsung oleh televisi lokal. Kedua orang tua Satria dihukum 15 tahun penjara, sedangkan untuk Hakim hanya dihukum selama 3 bulan penjara saja, dan saat ini sudah berjalan satu bulan tinggal 2 bulan lagi hukuman yang akan dijalani oleh Hakim.


Sidang putusan untuk kedua orang tua satria dan hakim terbilang cukup cepat. Hanya dua kali sidang sudah bisa langsung sidang putusan. Satria mengira sidang itu akan berjalan berbulan - bulan. Sebab semua bukti - bukti sudah ada dan mereka sama sekali tidak bisa memungkiri semuanya.


" Kedua orang tua kamu kena hukuman 15 tahun penjara Satria. Apa kamu menyesal dengan semua ini ?"Tanya Indra ingin tahu bagaimana perasaan Satria.


" Aku tidak akan pernah menyesal Indra, semua ini memang layak mereka dapatkan. Kesalahan mereka tidak cuman satu bahkan berlipat-lipat, jika aku mau aku bisa membuatnya lebih lama lagi di penjara. Sekarang biarkan mereka menikmati masa indahnya di dalam penjara sana, itu semua juga karena ulah mereka sendiri. Sebagai anak, suatu saat nanti aku pasti akan datang untuk menjenguk keadaan mereka tapi tidak untuk sekarang."Ucap Satria dengan yakin.


Indra bisa memahami dan mengerti bagaimana perasaan Satria. Waktu 29 tahun bukanlah waktu yang sedikit tentunya Satria butuh waktu untuk menerima semuanya. Selama beberapa bulan ini Satria sudah cukup baik sudah mau menanggung biaya hidup kedua orang tuanya dan adiknya.


Jika bukan Satria mungkin sudah dari awal datang Rahma dan Kandar ditolak dan tidak diperdulikan oleh Satria. Bahkan selama berbulan - bulan Satria sudah cukup diam menutipi kebusukan kedua orang tuanya. Mereka sendiri yang memulai sehingga dengan sangat terpaksa Satria mengungkap semua kasus kedua orang tuanya.


" Apa masalah ini akan berdampak buruk pada perusahaan? Jarena aku sudah memenjarakan orang tuaku sendiri, pastinya orang diluaran sana akan menganggapku anak yang durhaka." Ucap Satria.


" Tidak ! mereka tidak akan menyalahkanmu bahkan semua ini tidak akan mengganggu kerjasama kita dengan perusahaan manapun. Keadaan perusahaan akan tetap aman dan stabil. Kalau kamu tidak percaya baca saja di sosial media bahkan banyak orang yang memberikan komentar selamat dan semangat untuk kamu. Mereka bangga karena kamu sudah berani mengungkap kejahatan kedua orang tua kamu." Ucap Indra sambil terkekeh.


Helaan nafas lega terdengar keluar dari rongga pernapasan Satria. Padahal dia sudah khawatir jika masalah ini akan berakibat buruk untuk perusahaannya, apalagi persidangan itu disiarkan secara langsung di stasiun televisi. Tentunya banyak masyarakat dan kolega bisnisnya yang akan melihat siaran itu.


" Nanti malam aku izin tidak ikut lembur karena aku ada acara dengan seseorang." Ucap Indra meminta izin.


" Mau makan malam dengan Amara kan? Bilang saja tidak perlu sembunyi-sembunyi seperti itu. Baiklah untuk nanti malam aku izinkan kamu tidak ikut lembur, karena aku juga tidak mau lembur. Aku lelah , badanku juga perlu istirahat yang cukup. Akhir - akhir ini fikiran dan tenagaku terkuras habis." Ucap Satria sambil mengulas senyum tipisnya.

__ADS_1


" Heheee... Tahu saja kamu kalau aku mau makan malam dengan Amara. Ya sudah kamu juga harus banyak istirahat, jangan terlalu diforsir kalau bekerja. Lagipula harta dan aset kamu sudah banyak, tidak bekerja satu tahun tidak akan membuat kamu miskin." Ucap Indra sembari tertawa lalu berlari meninggalkan ruangan Satria.


Satria hanya menggerutu sembari mendengus kesal dengan kelakuan Indra. Yang seenaknya memintanya tidak bekerja selama 1 tahun, memang tidak akan miskin sih tetapi pasti akan ada aset yang terjual untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


Tringgg Tringgg


Dua pesan masuk diponsel Satria, dengan segera dia membuka dan membaca pesan itu. Ternyata pesan itu berasal dari Dinda.


[ Mas,dirumah ada mbak Sinta dia ingin menemui Hana, ini Hana juga baru pulang sekolah. Namun mbak Sinta mau mengajak Hana keluar rumah.]


[ Menurut mas bagaimana ? Apa kita izinkan saja, tapi aku khawatir mbak Sinta akan membawa kabur Hana]


Dua pesan beruntun dikirimkan oleh Dinda. Satria dengan cepat membalasnya.


[ Jika memang Hana mau ikut ya tidak apa - apa sayang. Bagaimanapun juga mbak Sinta itu ibu kandungnya, nanti aku tugaskan orang untuk mengikuti kemanapun mereka pergi.]


[ Kamu jangan kasih tahu Hana soal orang yang mas tugaskan untuk mengikuti dia.]


[ Iya mas.]


* Semoga saja mbak Sinta tidak membawa Hana kabur. Tapi kemanapun Hana pergi aku pasti tahu dia ada dimana . Anting yang Hana pakai sudah ada GPS nya, lihat saja ternyata Suami yang kalian anggap miskin ini bukanlah orang lemah.* Gumam Satria dalam batinnya.


Sementara itu saat ini di rumah Dinda, Sinta dan Hana sedang berdebat karena Hana tidak mau ikut dengan Sinta. Jujur saja Hana memang takut jika Sinta membawanya pergi kapanpun saja, Hana tahu betul bagaimana sifat licik dan picik mamanya.


" Hana capek Ma, mams tahu sendirikan Hana baru pulang sekolah. Apalagi Hana juga butuh istirahat, sebab nanti malam Hana harus mengerjakan tugas - tugas sekolah. Lain kali saja kita jalan, tunggu hari libur saja Ma." Ucap Hana menolak secara halus ajakan mamanya.


" Hana, sudah dua minggu kamu tinggal disini dan selama itu mama tidak pernah bertemu sama kamu. Hari ini mama baru ada waktu untuk mengajak kamu jalan." Ucap Sinta mencoba merayu Hana.


" Salah siapa mama tidak mau menjenguk Hana ? Mamakan tahu rumah Om Satria ini ? Mama ini dari dulu memang sibuk dengan dunia mama sendiri, sehingga nama melupakan keberadaan Hana. Dari zaman papa masih hidup pun mama sudah tidak pernah mempedulikan Hana kan? Kenapa sekarang mama baru memperdulikan Hana ?."Ucap Hana membuat Sinta menjadi kesa.

__ADS_1


Dinda yang sedari tadi hanya mendengarkan dari ruangan lain pun ikut merasa kesal dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut Hana. Ternyata memang benar dari dulu Sinta tidak peduli dengan Hana, pantas saja jika Hana tidak mau ikut dengannya. Apalagi Hana tahu Sinta mempunyai niatan buruk terhadap Hana.


" Siapa yang sudah mempengaruhi kamu seperti ini Hana? Siapa yang sudah mengajarkan kamu menjadi anak yang durhaka kepada ibumu sendiri? Kamu tahu saya ini ibu kandung kamu wanita yang kamu panggil mama ini orang yang sudah melahirkan kamu ! Apa ini yang kamu dapatkan selama dua minggu kamu tinggal dengan Satria dan Dinda. Apa mereka yang sudah meracuni pikiran kamu?." Tanya Sinta justru membuat suasana semakin panas.


Dinda yang mendengar Sinta marah-marah di rumahnya membuat Dinda merasa tidak nyaman. Karena Sinta juga sudah membawa-bawa namanya dan suaminya. Padahal Hana bersikap seperti itu karena dia melihat sifat dan kelakuan mamanya sendiri. Saat Dinda hendak keluar menemui Sinta dan Hana, tiba-tiba tangan Dinda di tahan oleh nenek murni. Nenek murni melarang Dinda untuk ikut campur dengan urusan Hana dan Sinta.


" Kamu jangan keluar Dinda, biarkan Hana mengurus mamanya sendiri. Nenek yakin Hana bisa menyelesaikan dan mengatasi semua ini sendiri. Jika kamu keluar dan ikut bicara pasti Sinta akan semakin membencimu, dan dia menganggapmu yang sudah meracuni pikiran anaknya." Ucap nenek murni.


" Tapi nek, kasihan Hana dimarah-marah seperti itu oleh mamanya sendiri." Ucap Dinda tidak tega melihat Hana dimarah oleh Sinta.


" Tidak apa - apa, biarkan Hana menyelesaikannya. Hana harus bisa mandiri, harus bisa menjadi wanita yang tangguh dan kuat. Jika memang Sinta sudah keterlaluan kita baru bertindak. Selagi Sinta tidak melukai fisik Hana, kita diamkan saja." Ucap nenek murni.


Dinda pun mengangguk paham dengan apa yang disampaikan oleh nenek murni. Dinda kembali duduk dan mendengarkan semua perdebatan yang terjadi di ruang tamu antara Sinta dan Hana. baik Sinta dan Hana sepertinya tidak ada yang mau mengalah mereka sama-sama mempertahankan egonya masing-masing.


" Om Satria dan tante Dinda tidak pernah memberikan contoh buruk kepada Hana, Ma. Mereka tidak pernah meracuni pikiran Hana, semua ini terjadi karena mama sendiri. Mama yang sudah memberikan contoh buruk kepada ku sehingga Hana mencontoh apa yang mama lakukan." Jawab Hana dengan tegas.


" kamu ini memang kurang ajar Ana apa kamu sedikitpun Tidak bisa menghormati Mama kamu Aku ini orang yang sudah melahirkan kamu aku melahirkan kamu bertaruh nyawahana bentak Sinta semakin marah.


" Aku sadar dan aku betul jika mama adalah orang yang sudah melahirkan aku. Dan aku ucapkan terima kasih yang sangat amat banyak atas apa yang sudah mama lakukan. Aku tidak pernah memungkiri jika mama orang yang telah melahirkan aku, bahkan jika dinilai dengan uang pengorbanan mama saat melahirkan aku tidak bisa aku bayarkan. Tapi di sini Hana hanya tidak menyukai sikap mama, mama terlalu arogan dan terlalu memaksakan kehendak. Hana capek ma, dan hana ingin istirahat." Ucap Hana ingin menyudahi perdebatannya.


Setelah bicara seperti itu, Hana bangkit dan langsung berjalan meninggalkan Sinta. Hana masuk ke kamarnya dan nengunci pintu kamarnya. Melihat kelakuan anaknya yang menurutnya tidak menghargainya membuat Sinta semakin kesal dan marah.


Padahal tujuannya mendatangi dan mengajak Hana jalan-jalan hanya untuk mendekatkan diri kepada Hana. Supaya rencananya dan Badar yang sudah terencana berjalan dengan lancar, namun semuanya ternyata gagal total.


* Lihat saja kamu Dinda, Satria. Pasti Hana seperti ini karena terpengaruh dengan kata - kata kalian. Kalian sudah meracuni pikiran anakku, jika begini terus bagaimana aku mau mendekatkan diri dan memperlancar rencanaku.* Gumam Sinta dalam batinnya.


Dengan rasa kesal dan emosi yang memuncak, Sinta pergi meninggalkan rumah Dinda. Setelah Sinta pulang, Dinda menuju kamar Hana untuk mengetahui keadaan Hana. Dinda sangat mengkhawatirkan keadaan Hana, pastinya saat ini Hana sedang menangis, perkataan Sinta tadi pasti sudah menyakitkan hati Hana.


*******

__ADS_1


__ADS_2