Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Rena yang salah paham


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Baru juga pulang dari bekerja bukannya disambut dengan baik. Justru Beni disambut dengan amarah dan amukan dari Rena, bahkan anaknya sampai sesore ini belum pulangpun Rena tidak mencarinya. Bahkan dia juga tidak tahu jika Tiara dan Gibran tidak ada dirumah. Rena mengira kedua anaknya itu sedang tidur dari siang sampai sore.


" Siapa wanita itu mas ?." Tanya Rena menyambut kepulangan Beni sang suami.


" Wanita ? Wanita siapa Rena ?." Tanya Beni balik, sebab dia tidak paham dengan apa yang ditanyakan oleh Rena.


" Wanita yang tadi sama kamu?. Kamu selingkuh mas? Tega kamu ya mas mengkhianati aku dan anak - anak. Kurang apa aku mas ?." Tanya Rena dengan lantang.


* Wanita siapa yang dimaksud Rena. Aku seharian di Kantor bahkan saat makan siangpu tadi tidak jadi makan diluar.? Ohh apa jangan - jangan karena tadi aku membonceng mbak surti OB dikantor yang pulang kesorean dan ketinggalan angkot. Tapi mbak Surti itu sudah punya suami dan 2 anak, kebetulan tadi searah jadi aku memboncengnya. * Gumam Beni dalam hatinya.


Rena semakin marah saat Beni hanya diam saja. Dia paling tidak suka dengan pengkhianatan. Dia berniat akan mencari tahu siapa wanita yang tadi diceritakan oleh Lisa, sang teman kompornya.


" Oh mungkin yang kamu maksud mbak Surti ? Dia bekerja sebagai OB di.... " Belum juga Beni menjelaskan dengan lengkap Rena sudah memotong ucapan Beni.


" Oh Jadi wanita kampungan itu bernama Surti. Namanya saja kampungan jadi wajar dong kalau orangnya juga kampungan. Jadi apa yang dikatakan Lisa tadi benar kalau kamu lagi dengan dengan wanita yang bernama Surti itu?. Aku tidak menyangka mas jika selera kamu wanita kamlungan." Seru Rena menyeringai dengan sinis.


Beni baru paham jika biang masalahnya adalah Lisa. Beni juga baru ingat jika Lisa adalah teman SMA Rena, Lisa juga terkenal biang gosip dan kompor meleduk dikalangan para karyawan. Rena sudah kemakan berita yang sudah digosok oleh Lisa.


* Tapi tadi saat aku pulang Lisa sudah pulang,karena saat aku masih absen pulang tadi dia sudah lebih dulu dan sudah meninggalkan perusahaan. Jadi wanita mana yang dimaksud Rena. Apa jangan - jangan Dinda tadi siang ? Iya apa Dinda juga yang dimaksud Lisa.?* Gumam Beni dalam hatinya.


" Mas kamu pilih aku atau wanita selingkuhan mu itu ?." Tanya Rena dengan lantang.

__ADS_1


" Sudahlah Rena, kamu jangan percama dengan mulut kompor nya Lisa. Mungkin yang dia maksud itu Dinda, tadi siang Dinda yang datang ke kantor dan ribut dengan Lisa. Mungkin Lisa mengira Dinda itu pacarku, karena Dinda tadi meminta tolong aku untuk mengantarkan ke ruangan Satria." Ucap Beni menjelaskan.


Rena terdiam dan memikirkan apa yang dikatakan Lisa tadi saat ditelepon, jika wanita yang dimaksud Lisa tadi namanya bukan Surti tapi Dina. Namun Beni mengatakan jika wanita itu Dinda. Rena semakin pusing dibuatnya, namun dia tetap yakin jika Beni sudah berselingkuh Surti, Dinda atau Dina ,Rena tidak perduli.


" Jangan buat aku marah Ren. Aku ini baru pulang kerja, aku capek. Mana anak - anak ? Tumben aku pulang dia tidak menyambutku?." Tanya Beni melihat kesekeliling ruangan namun tidak menemukan keberadaan kedua anaknya.


Deg...


Rena baru teringat dengan kedua anaknya, sedari tadi siang dia tidak melihat anaknya. Dia hanya mengira anaknya tidur sehingga dia tidak begitu menghawatirkannya.


" Tidur " Jawab Rena dengan ketus.


" Sudah sesore ini mereka masih tidur ? Atau jangan - jangan mereka tidak tidur ?" Tanya Beni lalu berjalan menuju kamar kedua anaknya.


Dikamar Gibran kosong, kamar Tiara juga kosong. Dengan penuh amarah Beni menghampiri Rena kembali. Dia menanyakan keberadaan Tiara dan Gibran. Rena hanya bisa menggelengkan kepalanya saja karena dia juga tidak tahu anaknya ada dimana. Yang dia tahu mereka ada dikamar.


" Mereka tadi itu ada dikamar. Mungkin mereka main keluar, mereka sekarang tambah bandel dan sering keluar rumah tanpa berpamitan." Ucap Rena masih dengan nada marah.


Saat Beni sedang marah-marah, tiba-tiba terdengar suara motor dari halaman rumah mereka. Beni dan Rena langsung melihat siapa yang datang. Ternyata yang datang adalah pak Karim dengan kedua anaknya. Tiara dan Gibran turun dari motor lalu langsung berlari menghampiri Beni, serta menyalami dan mencium tangan Beni.


Beni menyambut kedatangan mertuanya dengan hangat, dia menyalaminya dan mencium tangan mertuanya. Berbeda dengan Rena, dia hanya berdiri diambang pintu dengan menatap tajam kedua anaknya.


" Tiara , Gibran ! Kalian darimana saja ? Kalau keluar rumah itu izin dulu jangan main keluar begitu. Bapak juga kalau mengajak anak - anak itu bilang dulu sama Rena jangan main ajak saja." Ucap Rena tidak ada sopan santunnya dengan orang tua.


Beni mengajak Pak Karim untuk masuk ke dalam rumah dan bicara di dalam saja. Namun karena sudah sore Pak Karim tidak mau. Dia memilih berbicara di teras rumah saja karena setelah berbicara dia akan langsung pulang.


" Kamu itu kalau bicara dipikir dulu Rena, kedua anak kamu tidak Bapak ajak pergi kemana - mana. Mereka sendiri yang datang ke rumah panas-panasan, di saat siang bolong. Mereka kelaparan makanya mereka kerumah untuk minta makan. Kamu sebagai orang tua tidak perduli dengan kedua anak kamu, membiarkan anak kamu kelaparan begitu saja. Beruntung rumah bapak itu dekat kalau rumah bapak jauh mereka mau minta makan dimana?." Ucap pak Karim dengan tegas.


Deg...

__ADS_1


Beni langsung menatap tajam Rena. Sedangkan Rena hanya menunduk ketakutan, dia baru ingat jika tadi setelah menjemput Tiara sekolah dia langsung sibuk dengan ponselnya. Dia bertelepon dengan Lisa membahas wanita yang bernama Dina yang dia curigai selingkuhan Beni. Karena sebab itulah dia marah, emosi dan mengunci pintu kamarnya tanpa membelikan anaknya makan.


" Jadi anak - anak kelaparan ? Apa kurang nafkah yang sudah aku berikan kepada kamu Rena ? Uang 5 juta kamu habiskan dalam 2 minggu saja. Dan dua minggu ke depan aku memberikan kamu uang 100 ribu per harinya, dan apa semua itu masih kurang? Kamu ini kurang bersyukur Rena." Ucap Beni dengan tegas.


" Lima juta habis 2 minggu. Untuk apa uang itu Rena. Kamu itu boros, kasihan suami kamu Rena. Apalagi anak - anak tadi sampai kelaparan begitu. Dan kata Tiara dan Gibran kamu tidak pernah memasak, tapi kamu selalu pesan makanan secara online dan itu pemborosan." Ucap pak Karim juga ikut geram dengan kelakuan Rena.


" Kok Bapak nyalain Rena sih? Salahin saja mas Beni, dia itu sudah selingkuh makanya tadi Rena tidak memasak atau beli makanan untuk anak-anak karena Rena lagi kesal!." Ucap Rena membela diri.


Beni menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Rena dan mendengar apa yang dikatakan Rena. Padahal tadi Beni sudah menjelaskan secara detail tetapi Rena masih saja menganggap Beni selingkuh dengan wanita lain. Beni tidak enak dengan pak Karim, apalagi saat ini sudah semakin sore.


Beni meminta kedua anaknya untuk segera masuk ke kamarnya masing-masing dan segera mandi. Melihat suasana yang sudah tidak membaik pak Karim akhirnya memilih untuk pulang saja dan meminta Beni segera menyelesaikan masalahnya dengan Rena. Pak Karim yakin jika Beni tidak selingkuh seperti yang dituduhkan Rena.


" Bapak pulang dulu ya Ben, kamu selesaikan dulu masalah kamu. Tapi ingat ada kedua anak kalian, jangan sampai kalian berantem dihadapan anak kalian. Tiara itu sudah mulai mengerti apa yang terjadi dengan kalian. Kamu yang sabar menghadapi Rena. Rena itu sifatnya keras kepala seperti ibu mertuamu." Uapa pak Karim memberi semangat Beni.


" Iya pak. Terimakasih atas nasehatnya, maaf sudah merepotkan Bapak sampai harus mengantar Tiara dan Gibran. " Ucap Beni tidak enak dengan bapak mertuanya.


Rena melengos begitu saja , dia kesal dengan suami dan bapaknya. Bapaknya menurutnya lebih memilih membela Beni padahal sudah dikatakan jika Beni selingkuh. Rena masuk kamar dan tidak mau membantu Gibran untuk mandi.


Setelah Pak Karim pulang, Beni segera masuk kamar dan menghampiri Rena. Sepertinya kali ini Beni benar-benar marah sehingga dia membuka pintu kamar dengan kasar lalu menarik Rena dan menamparnya.


Plaaakkk


Baru kali ini Beni sampai menampar Rena, menurutnya Rena sudah sangat keterlaluan. Selama ini Beni selalu mengalah dan tidak mau ribut dengan Rena. Namun tidak untuk kali ini, sebab Rena sudah menelantarkan anak - anaknya.


" Kamu berani menamparku mas ?" Tanya Rena sambil memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh Beni.


" Sejak kapan aku tidak berani menamparmu ? Selama ini aku bukan tidak berani menamparmu, tetapi aku lebih memilih diam karena aku tidak mau ribut dengan kamu. Tetapi makin ke sini kamu dibiarkan semakin kurangajar. Tidak tahu diri ! Sudah boros, tidak becus mengurus anak , cemburuan. Aku capek Rena, capek menghadapi sikap kamu yang seperti ini.!" Seru Beni dengan kesal.


Beni meluapkan amarahnya yang selama ini dia pendam. Dia sampai lupa jika saat ini ada kedua anaknya yang masih ada di kamarnya masing-masing. Nafas Beni tersengal - sengal karena menahan amarah yang sudah meluap.

__ADS_1


*******


__ADS_2