
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
" Sarah kenalkan ini suamiku, Hakim. Mas kenalkan ini Sarah mantan adik iparku." Ucap Sinta mengenalkan Hakim kepada Sarah.
Sarah terpesona dengan suami baru Sinta, Hakim masih terlihat muda dan gagah. Tampannya juga tidak kalah dari Satria, dengan segera Sarah mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Hakim.
" Sarah. "
" Hakim ." Seru mereka bersamaan saling menyebutkan nama mereka masing - masing.
Hakim melepaskan tangan sarah lalu merangkul pinggang Sinta dengan mesra membuat Sarah memicingkan matanya. Hubungan Sinta dan Hakim saat ini memang sangat baik, sebab Hakim sudah memberikan ide usaha dan menghasilkan uang yang banyak. Sehingga membuat Sinta semakin mencintai Hakim, Sinta benar - benar mencintai Hakim.
" Mas tadi ke sini mau belanja juga? Kalau begitu kita belanja sama-sama saja ya. Sarah juga mau belanja, Oh iya mas Sarah mulai malam ini dia akan bergabung sama kita. Dia sudah bosan hidup miskin, makanya dia mau kerja sama dengan kita."Seru Sinta sambil melirik ke arah saya lah yang hanya diam saja.
" Oh ya? Bagus dong berarti karyawan kita akan bertambah dan penghasilan pun akan bertambah. Tenang saja Sarah, jika kamu dapat tamu setengahnya untuk kamu dan setengahnya untuk kami. " Ucap Hakim sambil menyunggingkan senyum jahilnya kearah Sarah.
* Duhh sialan banget sih si Sinta ini? Dia kenapa bisa hidup enak begini sih ? Aku yang capek - capek bekerja melayani para pria dia yang terima uangku setengahnya. Mana suami dia juga ganteng banget lagi. Huuhh siapa tahu Hakim nanti juga mau dengan ku, tidak dapat Satria dapat adiknya juga bisa.* Gumam Sarah dalam batinnya.
" Oke tidak masalah, aku terima berapapun yang aku dapat."Jawab Sarah sambil tersenyum ke arah Hakim.
Kini mereka bertiga mulai berbelanja, Hakim sibuk dengan barang yang dia cari, sedangkan Sinta hanya mengikutinya sembari menggandeng lengan tangannya dengan mesra. Sedangkan Sarah dia berbelanja sendiri sembari melirik ke arah Sinta dan hakim yang terlihat begitu mesra.
__ADS_1
" Kenapa sih hidupnya Sinta semujur itu, anaknya sudah di sekolahkan ke luar negeri oleh Satria dan sekarang dia mempunyai usaha yang menghasilkan banyak uang. Dan mempunyai suami yang tampan, gagah dan menghasilkan banyak uang juga. Sedangkan suamiku pria miskin, yang saat ini cuma pengangguran yang menjadi beban untukku saja."Ucap Sarah dengan kesal.
" Sudah dapat barang yang kamu cari Sarah."Tanya Sinta menghampiri Sarah yang diam saja belum memilih baju sama sekali.
" Belum mbak, aku bingung mau belanja yang seperti apa. Menurut kamu yang seperti apa yang bagus? Tentunya kamu lebih tahu pakaian seperti apa yang disukai oleh para pria yang datang ke tempatmu."Tanya Sarah sedikit malas
" Oh begitu yang penting kamu memakai baju yang seksi saja mereka pasti akan menyukainya. Ya sudah kalau begitu aku coba cari untuk kamu."Ucap Sinta mulai mencari baju yang cocok untuk Sarah.
Sarah memilih beberapa pakaian yang cocok dipakai oleh Sinta saat nanti bekerja di panti pijatnya. Tentunya pakaian yang terlihat lebih seksi dan menarik yang dipilih oleh Sinta. Sarah tidak masalah memakai pakaian seperti itu, lagi pula memang sudah seharusnya memakai pakaian yang seksi. Sinta menghampiri Sarah lalu memberikan beberapa pakaian yang sudah dia pilih.
" Ini cocok semua sama kamu. Kamu bayar sendiri ya, tadi kan kamu sudah aku berikan uang 15 juta. Yang 10 juta sebagai hitung hutang kamu, terus yang 5 juta aku berikan untuk kamu. Dan bisa kamu gunakan untuk berbelanja kebutuhan kamu."Ucap Sinta.
" Iya iya aku bayar sendiri.",Jawab Sarah dengan kesal.
Sarah membawa beberapa pakaian yang sudah di pilihkan oleh Sinta ke kasir dan segera membayarnya. Selesai membayar Sarah menunggu Sinta dan Hakim yang belum selesai. Setelah menunggu sekitar 30 menit Sinta dan Hakim menghampiri Sarah yanv terlihat cemberut sebab terlalu lama menunggu Hakim dan Sinta.
" Iya terserah kalian saja. Sudah yuk sekarang makan dulu, aku lapar banget nih. Kita cari makanan disekitar sini saja, keburu aku sakit perut nih." Ucap Sarah sembari mengusap perutnya.
" Ya sudah yuk kita makan. Nanti sarah pingsan kita juga yang repot sayang." Seru Hakim membuat Sarah tersenyum senang. Seolah dia diperhatikan oleh Hakim.
Mereka bertiga mencari tempat makan yang berada didalam Mall. Akhirnya mereka menemukan tempat makan yang sesuai dengan lidah mereka bertiga. Sepanjang mereka makan, Sarah terus curi - curi pandang kearah Hakim. Hakim tahu apa yang dilakukan oleh Sarah, namun dia pura - pura tidak tahu.
* Sepertinya wanita ini berani juga dan lebih menantang daripada Sinta. Hemmm bolehlah aku icip-icip dulu sebelum di cicip sama pelanggan yang lainnya.* Gumam Hakim dalam batinnya.
" Mas Hakim ! Kok melamun sih ? Kamu melamunkan apa?." Tanya Sinta.
" Oh tidak sayang, mas tidak sedang melamun tetapias hanya memikirkan bagaimana bisa Sarah bekerja sama kita sedangkan dia itu masih mempunyai suami."Ucap Hakim mencari alasan.
__ADS_1
Sarah semakin melayang - layang seperti diperhatikan oleh Hakim. Sarah bertekat akan mencoba mendekati Hakim dan jika bisa direbut pasti akan dia rebut.
" Oh itu tidak masalah mas, soalnya suamiku itu seorang pengangguran dan tidak bisa menghasilkan uang untuk menafkahiku dan anakku. Jadi tidak ada salahnya aku bekerja mencari nafkah, daripada aku hanya duduk sendiri dan mengandalkan suamiku yang tidak tahu entah kapan mendapatkan uang. Jika dia tidak setuju dan dia marah dengan apa yang aku kerjakan, ya aku akan menuntut cerai saja. Lagi pula untuk apa mempertahankan pria pengangguran seperti dia."Ucap serah bicara panjang lebar menjelekkan keadaan suaminya.
Hakim hanya menganggukkan kepalanya seperti seolah-olah dia menanggapi apa yang dikatakan oleh Sarah. Padahal dalam hatinya dia sama sekali tidak peduli dengan rumah tangga Sarah, yang terpenting Sarah bisa bekerja dengannya dan menghasilkan uang.
" Oh baiklah kalau begitu." Jawab Hakim singkat.
Merekapun kembali melanjutkan makan siangnya, tanpa mereka ketahui ada dua pasang mata yang saat ini sedang memperhatikan mereks bertiga. Satria dan Indra ada di tempat yang sama, dan saat ini sedang memandang kearah mereka bertiga.
" Boss sepertinya Sarah sudah ikut bergabung dengan mereka. Kalau seperti itu dua kakak ipar perempuan kamu itu tidak ada yang benar. Satunya tukang jual jasa pemuas para pria yang satunya pasti jadi alat pemuasnya. Huh benar - benar keluarga yang kacau, bukannya dia itu masih mempunyai suami kan?." Tanya Indra dengan miris.
Satria juga tidak menyangka jika Sarah akan berbuat seperti itu lagi. Satria mengira Sarah sudah insaf dan tidak mau melakukan perbuatan kotor itu lagi. Satria kasihan kepada anak Sarah yang saat ini tentunya pasti tidak akan terurus.
" Aku tidak tahu juga, Ndra. Keluarga dia memang sudah rusak pasti juga akan semakin rusak. Apalagi Sarah itu memang sudah dari dulu suka berselingkuh tapi aku kira dia sudah insaf. Tapi ternyata juga sama saja, kalau begitu aku justru kasihan kepada anaknya. Bagaimana kalau kamu Mas Reno tahu jika Sarah terjun kedunia haram itu." Ucap Satria.
Satria tidak akan pernah menyangka jika rumah tangga kakak iparnya akan seperti itu. Dulu kedua kakak iparnya dan para istrinya yang bersemangat untuk menghinanya dan mencacinya disaat dia masih menjadi pedagang cendol keliling. Mereka selalu menghina jika Satria dan Dinda tidak akan pernah menjadi orang kaya, dan tidak akan mempunyai masa depan yang cerah. Namun ternyata semua yang mereka ucapkan berbalik kepada mereka sendiri, rumah tangga mereka berantakan dan bahkan saat ini mereka mencari uang dengan cara yang tidak benar.
* Dulu mereka menghina dan mencaciku tidak akan pernah hidup bahagia dan aku tidak mempunyai masa depan. Ternyata justru sekarang merekalah yang merasakan apa yang mereka katakan terhadap ku dulu. Kehidupan mereka berubah sisaat aku kembali menjadi Satria yang sesungguhnya. Apa aku salah jika aku melalukan ini semua, mbak Sinta kembali kedunia nya saat mas Rudi masuk penjara dan sekarang semakin menjadi. Mbak Sarah pasti tidak mau terus-terusan hidup miskin sebab mas Reno pengangguran akibat aku pecat.* Gumam Satria dalam batinnya.
" Sudah jangan kamu fikirkan urusan mereka. Ingat dulu bagaimana dulu mereka menghina kamu dan istrimu. Sekarang mereka hidup blangsat dan mencari uang dengan cara yang tidak baik. " Seru Indra mencoba menasehati Satria.
" Heemmm... Ya sudah yuk kita pergi dari sini. Aku malas Hakim melihatku ada disini, nanti pasti dia akan menghampiri kita dengan menunjukan wajah songongnya itu." Seru Satria lalu bangkit dan melangkah menuju pintu keluar.
Dengan segera Indra membayar tagihan makanan mereka lalu berlari mengikuti Satria.
*************
__ADS_1