Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Hadiah yang berharga


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Malam ini semua anak dan cucu serta menantu Ibu Rahayu dan Pak Karim berkumpul di rumahnya, untuk makan malam sebagai perayaan ulang tahun Ibu Rahayu. Tidak lupa nenek Murni juga ikut hadir di acara itu. Ibu Nursi seharusnya bisa ikut hadir namun karena ada halangan beliau tidak bisa datang.


Suasana rumah pak Karim saat ini terlihat sangat ramai. Apalagi saat ini juga sudah ada Raja dan Cahaya di antara mereka, tahun-tahun sebelumnya mereka belum ada. Dan ini juga pertama kalinya nenek Murni ikut merayakan ulang tahun ibu Rahayu,meskipun hanya makan malam keluarga.


"Ayo semuanya pada nambah, jangan malu-malu. Ibu Murni, tambah lagi nasi dan lauknya."Ucap ibu Rahayu dengan ramah.


Ibu Rahayu terlihat sangat bahagia bisa berkumpul dengan anak dan cucu serta menantunya. Acara makan malam ini juga sudah lama sekali tidak terlaksana, dulu Rudi yang paling antusias jika ada acara makan bersama. Namun sekarang Rudi sudah bahagia dan tenang di alamnya sana.


"Iya terimakasih bu. Ini juga belum habis kok, nanti pasti nambah."Jawab nenek Murni dengan ramah.


"Dinda, Cahaya, Rena itu tambah nasi dan lauk untuk suami kalian. Itu nasi nya Beni juga sudah mau habis, tadi ibu memang sengaja masak banyak untuk kalian semua. Ini juga selain merayakan hari lahir ibu, juga merayakan kehamilan Cahaya."Ucap ibu Rahayu terlihat sangat antusius sekali.


"Iya bu."Jawab mereka bertiga bersamaan.


Para anak-anak, ada Joni, Tiara serta Gibran lebih memilih makan di bawah dengan alas karpet. Sebab kursi makan juga sudah penuh dengan para orang dewasa. Raja tidur dengan nyenyak di atas stroller nya.


Acara makan malam berjalan dengan lancar, setelah selesai makan malam mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Terkecuali Rena, Cahaya dan Dinda. Mereka bertiga sedang sibuk mencuci piring dan peralatan makan yang lainnya.


"Mbak Cahaya, kamu buatkan teh dan kopi saja biar ini semua aku dan Dinda yang mencucinya. Itu air panasnya sudah mendidih, maaf ya aku menyuruh mbak Cahaya."Ucap Rena dengan sopan.


"Ok. Tidak masalah. Heheee."Ucap Dinda sambil terkekeh.


Setelah 15 menit, Dinda dan Rena sudah selesai mencuci semua perkakas. Mereka berduapun menyusul Cahaya yang sudah lebih dulu keluar dari dapur dengan membawa nampan isi teh dan kopi dibantu oleh Joni.

__ADS_1


"Bu, mas Satria punya hadiah untuk ibu. Bukan untuk ibu saja, tapi untuk bapak juga."Seru Dinda yang kini memilih duduk tepat di samping ibunya.


"Hadiah apa? Bukannya ibu sudah bilang sama kalian kalau ibu tidak mau hadiah apapun dari kalian. Cukup kalian malam ini datang dan selalu mendoakan ibu, itu sudah hadiah yang luar biasa dan tidak ternilai."Ucap Ibu Rahayu secara gamblang.


"Iya bu. Kami semua tahu dan paham, tapi ini hadiah yang memang ingin mas Satria berikan. Dan bapak serta ibu sangat pantas mendapatkannya."Seru Dinda dengan mengusap lengan ibu Rahayu.


Semuanya penasaran hadiah apa yang akan diberikan oleh Satria. Mereka menerka-nerka jika Satria akan memberikan hadiah rumah.


*Apa Satria akan membelikan ibu rumah? Tapi untuk apa? Ibu dan bapak kan tidak mau pindah dari rumah ini, jadi apa ya hadiah nya?.*Gumam Reno yang sangat penasaran.


Satria menganggukkan kepalanya dengan pelan, sebagai tanda dia meminta Dinda untuk menyerahkan hadiah itu kepada orang tuanya.


Dinda meminta tolong Joni untuk mengambilkan tasnya yang ada di kamarnya. Dengan cepat Joni mengambilkannya, hanya butuh waktu 1 menit kini tas sudah ada ditangan Dinda.


"Pak, bu. Ini hadiah untuk bapak dan ibu."Seru Dinda sembar menyerahkan map yang berwarna merah kepada ibunya.


Didalam map itu ada paspor, tiket serta berkas-berkas yang lainnya yang sudah di urus Satria untuk kedua mertuanya menunaikan ibadah umroh.


"Apa ini, Dinda?."Tanya ibu Rahayu penasaran.


Dengan rasa penasarannya, ibu Rahayu mulai membuka map warna merah itu. Dan dia melihat ada paspor dan yang lainya didalam map itu. Saat mengetahui semua isi nya, tangan ibu Rahayu tiba-tiba bergetar hebat dan matanya juga sudah berkaca-kaca.


"Umroh ? Bapak dan ibu akan berangkat umroh? Ini seriuskan, ibu tidak sedang bermimpi."Ucap Ibu Rahayu.


"Ibu tidak sedang bermimpi ini serius, dan ini nyata. Bapak dan Ibu 3 hari lagi akan berangkat umroh bersama dengan nenek. Dan untuk tahun depan bapak dan ibu juga akan berangkat haji. Ini semua hadiah dari mas Satria untuk bapak dan ibu."Ucap Dinda menjelaskan semuanya.


Selain memberikan hadiah paket umroh untuk kedua mertuanya. Satria juga memberikan hadiah berupa keberangkatan haji untuk kedua mertuanya, yang akan dilaksanakan tahun depan.


" Alhamdulillah."Ucap semua orang yang hadir di ruangan itu.


"Satria bapak dan ibu tidak tahu bagaimana membalas semua kebaikanmu ini. Semua ini kamu berikan kepada kami secara cuma-cuma. Insya Allah berkah untuk kita semua, dan Allah yang akan membalas semua kebaikanmu. Ibu Murni, terimakasih untuk semuanya."Ucap pak Karim tidak lupa juga mengucapkan terimakasih kepada nenek Murni.

__ADS_1


Nenek hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum khasnya. Reno dan Reno sangat senang mengetahui orang tuanya akan pergi umroh dan akan juga pergi haji tahun depan. Satria pasti mengeluarkan uang tidak sedikit untuk mereka.


"Terimakasih, Satria. Kamu sudah baik dan perhatian kepada bapak dan ibu. Aku justru malu dengan diriku sendiri. Dulu kami para kakak iparmu ini sangatlah berkelakuan tidak buruk. Kami bertiga selalu menghina kamu, merendahkan kamu. Bahkan kami merasa malu mengakui kamu sebagai adik ipar kami. Namun sekarang justru kamulah yang mengangkat derajat kedua orang tua kami."Ucap Rena dan mendapat anggukan dari Reno.


Rena dan Reno teringat bagaimana dulu mereka memperlakukan Satria dan Dinda. Begitupun ibu Rahayu, hal terbodoh dan yang paling tidak bisa dia lupakan adalah hal di mana dia meminta Satria untuk menceraikan Dinda, dan akan menikahkan Dinda dengan Tono.


Jika mengingat hal itu, Ibu Rahayu terkadang suka menangis sendiri. Seandainya saat itu Satria benar-benar menceraikan Dinda, sudah pasti saat ini Ibu Rahayu akan menjadi seorang ibu yang sangat bodoh dan menjadi orang yang paling menyesal.


"Aku sudah melupakan semua itu, tolong jangan dibahas lagi ya."Ucap Satria. Dia tidak mau membahas masalalu yang menurutnya sudah tidak perlu lagi untuk dibahas.


Satria tidak mau kehidupan masa depannya masih saja dibayangin masalalu buruk dari keluarga istrinya.


"Ibu Rahayu, pak Karim. Satria benar, tidak perlu membahas hal yang sudah berlalu. Sekarang kita bahas masa depan. Dalam 3 hari nanti kita bertiga akan berangkat umroh bersama, saya harap bapak dan ibu bisa jaga kesehatan nya."Ucap nenek Murni.


"Alhamdullilah, terimakasih bu Murni , Satria. Ini akan menjadi kado terindah dalam hidup bapak dan ibu. Sudah lama sekali kami berdua memang menginginkan datang ke rumah Allah, akan tetapi sampai sekarang tabungan kami belumlah cukup meskipun hanya untuk sekedar umroh. Namun sekarang ini umroh dan haji sudah ada di depan mata, semua ini berkat kebaikan dan ketulusan hati Satria."Ucap Ibu Rahayu merasa bangga mempunyai menantu seperti Satria.


Pak Karim dan ibu Rahayu menghampiri Satria dan memeluknya secara bersamaan. Mereka berdua benar-benar berterimakasih atas apa yang sudah diberikan Satria.


Malam pun semakin larut, Satria dan keluarganya berpamitan pulang. Rena dan Beni juga pamit pulang, kini Beni sudah bisa membeli mobil meskipun bukan mobil baru. Mobil kantor sudah dia pulangkan, sebab dia sudah memiliki kendaraan roda 4 sendiri.


Sementara itu, saat ini di salah satu rumah kontrakan yang tidak terlalu besar. Sarah sedang merasakan sakit luar biasa di area sensitifnya, bahkan tidak henti-hentinya juga dia mual dan muntah efek dari hamil muda.


"Sakit !! Kenapa sakit seperti ini, bahkan buang air kecilpun terasa sakit. Aku masih rutin minum obat dan vitaminnya tapi kenapa belum sembuh juga sakit ini. Jangan-jangan memang tidak bisa sembuh? Ini juga kehamilanku sangat menyiksa." Ucap Sarah bermonolog pada dirinya sendiri.


Hoooeeekkk hoooeeek


Sarah berlari ke kamar mandi dan kembali muntah-muntah. Tubuh Sarah sudah sangat lelah dan lemas bolak-balik kamar mandi. Bahkan apa yang dia muntahkan juga hanya air saja.


Kehamilannya kali ini sangat berbeda, Sarah tidak bisa makan nasi. Jika mencium nasi dia pasti akan mual dan muntah. Makan makanan yang lain bisa, namun saat sudah selesai makan semua akan keluar lagi.


"Jika malam ini aku pingsan pasti tidak ada orang yang tahu. Bagaimana ini, badanku sangat lemas sekali. Aku harus menghubungi siapa untuk menolongku? Di kota ini aku tidak punya saudara ataupun teman. Hanya Bayu saja yang dekat, itupun dia sudah menjauh. Nomor ponsel juga sudah tidak bisa lagi."Ucap Sarah bermonolog pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Sarah keluar kamar mandi dengan merayap sambil berpegangan dengan dinding. Disaat seperti ini dia sangat membutuhkan sosok teman hidup dan keluarganya. Reno dan Joni sudah tidak mungkin lagi dia mintain tolong. Kejadian penyekapan Joni beberapa bulan yang lalu membuat Joni trauma dan tidak mau bertemu dengan Sarah.


************


__ADS_2