Suami Yang Dianggap Miskin

Suami Yang Dianggap Miskin
Sarah jadi malu


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Ardi sudah berdiri di samping Sinta, dan Sarah memandang tidak suka. Sarah masih belum sadar juga jika Ardi adalah suami Sinta padahal sudah jelas-jelas Bagas memanggil Sinta dengan panggilan mama.


" Kalian sudah selesai mengobrolnya?."Tanya Ardi dengan sopan.


" Oh sudah mas. Mas Ardi mau pergi kemana lagi sekarang?. Bagaimana kalau kita makan, anak didalam sini sudah pengen makan nih."Ucap Sarah dengan suara dibuat manis-manis manja.


Ardi merasa geli dengan suara Sarah yang dibuat-buat itu. Sarah tidak sadar diri, dirinya siapa dan Ardi siapa.


" Maaf mbak Sarah saya sudah janji mau makan siang dengan anak istri saya."Jawab Ardi masih dengan sopan agar Sarah tidak tersinggung.


Sarah langsung berubah kikuk, dia melirik kearah Sinta yang bersedekap sambil tersenyum tipis. Kini kebohongan Sarah sudah tidak bisa di tutupi lagi.


" Ohhh suami istri itu panggilan nya, mbak ya? Jadi yang benar siapa nih? Bukannya tadi kamu bilang kalau mas Ardi ini suami kamu? Terus kenapa barusan mas Ardi bilang dia sudah janji makan sama anak istrinya. Kamu bohong ya? Ngaku-ngaku menjadi istrinya mas Ardi. Duhh malu banget sih ketahuan bohonnya."Ucap Sinta sambil terkekeh.


" Sayang ini maksud nya bagaimana?." Tanya Ardi belum paham betul maksud perkataan Sinta.


Haaahhh ? Sayang?


Sarah kaget saat Ardi memanggil Sinta dengan panggilan sayang. Sepertinya kali ini Sarah akan malu semalu-malunya.


" Begini loh mas, Sarah ini tadi bilang kalau mas itu suaminya. Dan dia sudah berbangga diri bisa menikah dengan pria tampan dan mapan seperti mas Ardi. Ehh tidak tahunya dia hanya bohong, dia tidak tahu saja ternyata pria yang dia pamerin sebagai suaminya itu adalah suami sah ku. Haaahhhaaa.. Lucu kan mas."Ucap Sinta semakin membuat Ardi terkejut.


Ardi langsung menatap tajam Sarah, padahal tadi dia sudah berusaha baik kepada Sarah. Tapi ternyata kebaikan Ardi di salah gunakan oleh Sarah. Sudah pasti Ardi marah, Sarah mengaku-ngaku istri Ardi didepan istri sahnya.


" Papa ini kan tante yang ganjen waktu itu kan? Bagas tidak suka sama tante ini."Ucap Bagas dengan ketus.


" Memangnya Bagas sudah bertemu dengan tante Sarah ini? Tante Sarah ini temannya mama, dia baik kok. Tapi memang kelakuannya kadang bikin orang tidak suka."Ucap Sinta sambil melirik sinis Sarah yang belum juga pergi dari situ.


Sepertinya wajah Sarah memang setebal tembok, sehingga dia masih saja berani berdiri diantara mereka berlama-lama.


" Maaf ya mbak Sarah. Saya tidak suka dengan tindakan mbak Sarah tadi yang mengaku-ngaku saya ini suami mbak Sarah. Beruntung istri saya tidak cemburu dan salah paham, jika sampai tadi istri saya salah paham pasti saya akan menuntut anda. Sebelumnya kita ini tidak saling kenal, kita hanya pernah bertemu itupun saat itu anda hampir menabrak mobil saya. Setelah ini tolong jangan ganggu aku ataupun istriku lagi. Apapun masalalu mbak dan istri saya itu hanya masalalu dan tidak akan terulang lagi. Permisi, kami harus pergi."Seru Ardi lebih memilih menjauhi Sarah.


" By tukang kibul."Seru Sinta sambil melambaikan tangannya.


Sarah mengepalkan kedua tangannya, dia kesal dengan Sinta. Ternyata hidup Sinta lebih baik dari dirinya. Sinta menikahi pria yang sudah menjadi incarannya. Benar-benar membuat Sarah muak, seandainya tidak di tempat umum pasti Sarah sudah berteriak dan memaki Sinta.


" Awas kamu Sinta !! Kamu tidak boleh bahagia di saat aku hidup seperti ini."Ucap Sarah kesal.


Tidak menunggu lama, Sarah juga meninggalkan mall itu. Dia memilih pulang, kondisi badannya mulai lelah kembali. Seharusnya hari ini jadwal Sarah kontrol kandungan namun dia abaikan. Bahkan kesehatannya dan penyakitnya sendiri tidak dia pikirkan lagi, kontrol menurutnya hanya buang-buang uang saja.


* Kenapa aku sekarang mudah lelah lagi, padahal aku juga tidak bekerja lagi. Badan ku semakin kurus juga, dan area sensitif sering terasa nyeri dan gatal. Apa penyakitku itu belum hilang juga ya.*Gumam Sarah sambil mengendarai mobilnya.


********


Selesai makan siang, Ardi dan Sinta mengajak Bagas ke taman kota. Disana banyak anak seusia bagas yang sedang bermain. Bagas pun ikut bergabung dengan anak-anak itu sehingga ada kesempatan Ardi dan Sinta untuk bicara berdua.


" Jadi Sarah itu orang yang hampir menabrak mobil mas Ardi, yang waktu itu pernah mas Ardi ceritakan?." Tanya Sinta antusius.

__ADS_1


" Iya dia orang yang hampir saja menabrak mobil ku saat aku pulang menjemput Bagas dari rumah, Sayang. Oh iya memangnya hubungan kalian itu tidak baik ya ?." Tanya Ardi ingin tahu.


Hhhhuuufffff


Sinta menarik nafas terlebih dahulu, dia pun mulai menceritakan Sarah di masalalunya. Yang mana Sarah pernah mengganggu rumah tangganya dengan Hakim. Bahkan tak segan-segan Sarah tidur dan menguras uang Hakim yang sebenarnya itu juga uang Sarah.


" Jahat sekali sih Sarah itu."Ucap Ardi sambil menggelengkan kepalanya.


" Yah seperti itulah dia. Dari zaman dia masih menjadi istrinya Reno, dia memang hobi selingkuh. Sudah berapa kali saja dia gonta-ganti teman pria. Ahh sudahlah mas, jangan bahas Sarah lagi."Ucap Sinta tidak mau terus menerus membahas Sarah.


" Iya sayang, maaf ya. Oh iya kapan kita mau menginap di rumah mama ? Mama katanya ingin merasakan masakan anak menantunya tuh."Ucap Ardi langsung mengganti topik pembicaraan mereka.


" Emm.. Lusa bagaimana mas?."Tanya balik Sinta.


" Ok deh istriku yang cantik. "Jawab Ardi sambil mengacungkan jempol tangannya.


Saat mereka berdua sedang asik bercerita, tiba-tiba Bagas berlari dan menghampiri mereka berdua. Bagas sudah puas bermain, dan dia pun mengajak untuk pulang.


" Waah sudah lelah nih jagoan papa?." Tanya Ardi sambil tertawa.


" Iya pa. Lelah banget."Jawab Bagas dengan lesu.


Sepertinya Bagas memang sudah kelelahan, Sinta pun sigap menggandeng tangan Bagas. Mereka sudah berada di dalam mobil, tidak menunggu lama Bagas pun tertidur di mobil.


" Sepertinya dia kelelahan Mas."Ucap Sinta sambil melihat Bagas yang duduk di kursi belakang.


" Bagaimana tidak lelah,Sayang. Tadi di Mall juga sudah bermain lama banget, mana kata mama dia bangun dari sebelum subuh karena begitu antusius saat ingin kita jemput."Seru Ardi.


Mobil Ardi terus melaju membelah jalanan. Dia sebenarnya masih memikirkan perihal Sarah. Bisa-bisanya dia percaya diri dengan mengaku-ngaku istrinya.


Sementara itu saat ini, dirumah Satria. Dinda sedang bersama Raja, Raja sudah mulai belajar berjalan dan hal itu membuat Dinda dan Satria bahagia.


" Ayo Raja sayang sini peluk papa."Ucap Satria sambil merentangkan tangannya.


" Pa - pa - pa."Ucap Raja dengan kaki mulai melangkah mendekati Satria.


" Horreeee. Anak mama sudah bisa berjalan, terima kasih sayang. Mama sangat bangga sama Raja. Raja sekarang sudah 11 bulan dan sudah bisa berjalan, dan sebentar lagi Raja akan punya adik. Terima kasih kakak Raja."Ucap Dinda penuh haru.


Bagaimana tidak haru dan bangga, diusianya yang 11 bulan Raja sudah bisa berjalan. Bicara juga sudah lumayan bisa dimengerti dan sebentar lagi juga akan punya adik.


" Anak papa dan mama memang anak yang pintar. Kelak jadi kakak yang baik dan bisa melindungi adiknya ya sayang. Mama dan papa akan selalu sayang kalian berdua. I love you Raja ."Ucap Satria memeluk anak laki-lakinya itu.


Nenek Murni yang sedari tadi melihat interaksi keluarga kecil itupun ikut meneteskan air mata. Dia berharap semoga anak-anak Satria kelak tidak ada yang mengalami hal yang sama dengan masa kecil Satria.


" Nenek harap keluarga kalian akan selalu bahagia."Ucap Nenek Murni pelan.


Tiba-tiba di depan rumah Satria terjadi keributan. Ada seorang pengemis yang ingin masuk ke rumah, meskipun sudah di berikan uang oleh Satpam. Pengemis itu tetap memaksa dan berontak sambil berteriak-teriak memanggil nama Satria.


" Sepertinya di depan ada keributan. Mas lihat dulu ya sayang, kamu jaga Raja."Seru Satria menyerahkan Raja kepada Dinda.


" Iya mas. Jangan sampai main kekerasan ya, mas." Ucap Dinda mengingatkan Satria.


" Coba cepat kamu lihat kedepan Satria, lihat apa yang sedang terjadi."Ucap nenek ikut khawatir dengan keributan di depan.


Salah satu penjaga di rumah itupun masuk dan memberitahu jika ada pengemis yang memaksa masuk untuk bertemu dengan Satria. Tanpa menunggu lama, Satria pun keluar untuk menemui pengemis itu. Siapa tahu memang ada hal yang penting ingin di sampaikan kepada Satria.

__ADS_1


" Lepaskan dia pak, dan biar dia masuk."Ucap Satria berdiri di teras rumah.


" Baik pak."Jawab kedua Satpam bersamaan.


Pengemis itu tersenyum miring saat dia di persilahkan masuk. Dengan cepat dia berjalan menuju Satria saat ini berdiri. Satria merasa tidak asing dengan pengemis yang lusuh, kurus dan kotor itu.


" Hakim !!." Seru Satria dengan kaget mendapati keadaan Hakim yang sangat-sangat memprihatinkan.


" Iya ini aku. Apa kamu tidak mau mempersilahkan aku masuk? Apa orang kumuh sepertiku tidak boleh masuk ke rumah mewah mu ini?." Tanya Hakim masih saja terdengar angkuh.


Satria sangat prihatin melihat keadaan adiknya itu, keadaan Hakim benar-benar sangat memprihatinkan. Rambutnya pun gondrong, dan brewokan hampir saja Satria tidak mengenalinya. Ingin sekali Satria memeluk adiknya itu, namun dia urungkan.


" Masuklah."Jawab Satria pelan.


" Terima kasih kak."Jawab Hakim sambil menganggukan kepalanya lemah.


Dddeeggghh


Suara Hakim kini terdengar sangat lemah dan dia juga memanggil Satria dengan panggilan Kak.


Hakim mengikuti Satria dari belakang, Satria membawa Hakim keruang tengah dimana saat ini Dinda dan nenek Murni berkumpul. Dinda dan Nenek kaget saat melihat Satria justru mengajak pengemis itu masuk sampai keruang keluarga.


" Mas."Seru Dinda heran.


" Tidak apa-apa sayang, dia bukan pengemis. Tapi dia Hakim."Ucap Satria memberitahu Dinda.


" Hakim."Seru nenek pelan.


Ternyata orang yang tadi dikira pengemis adalah Hakim, cucu keduanya. Nenek syok melihat keadaan Hakim yang jauh dari kata layak dan bersih.


" Duduklah."Seru Satria meminta Hakim untuk duduk.


Hakim hanya mengangguk, namun dia tidak duduk di sofa. Melainkan duduk di lantai, Hakim takut jika tubuhnya mengotori sofa mahal yang ada di rumah Satria.


" Aku kotor, biar aku duduk dibawah saja."Ucap Hakim.


" Duduklah di atas, kotor tidak masalah."Seru Satria berusaha bicara dengan tegas, padahal dalam hatinya dia sangat sedih melihat keadaan Hakim.


" Mas, bagaimana kalau Hakim bersih-bersih saja dulu. Maaf jangan tersinggung ya, kamu lihat anakku. Dia takut melihatmu seperti ini, ada baiknya kamu bersih-bersih saja dulu biar nanti kita juga lebih sama-sama nyaman saat berbicara."Ucap Dinda memberi Saran agar Hakim bersih-bersih atau mandi lebih dulu.


" Iya, Dinda benar. Sebaiknya kamu mandi saja dulu, agar penampilan mu lebih segar dan lebih baik. Kamu bisa mencukur brewok kamu itu, agar anakku tidak takut. Brewokan tidak masalah, asalkan rapi."Ucap Satria setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dinda.


" Baiklah, aku pinjam kamar mandinya. Tapi aku tidak ada pakaian ganti, Kak."Jawab Hakim.


" Ada pakaianku."Ucap Satria singkat.


Satria mengantarkan Hakim ke kamar tamu, lalu dia kekamarnya untuk mengambilkan pakain ganti untuk Hakim. Sedangkan di ruang keluarga, Nenek menteskan air matanya melihat keadaan cucu keduanya yang sangat memprihatinkan itu.


" Nek, jangan bersedih. Sepertinya Hakim selama ini tidak hidup dengan baik, Nek. Dan sepertinya dia datang kesini karena dia merindukan keluarganya. Kita terima Hakim dengan baik ya nek, Dinda juga kasihan melihat keadaan adik ipar Dinda seperti itu."Ucap Dinda berkata dengan jujur.


Nenek tidak bisa berkata-kata lagi, dia hanya bisa menangis terisak sambil memeluk Dinda. Beberapa hari yang lalu saat dia keluar rumah dia memang melihat pengemis yang ada di dekat rumahnya, namun saat nenek ingin mendekatinya pengemis itupun lari seakan tidak mau bertemu dengan nenek.


Dan hari ini nenek tahu jawabannya, ternyata pengemis itu adalah Hakim, cucunya sendiri.


*************

__ADS_1


__ADS_2